[Special FF Freelance] Sementara Kapan Aku Menunggumu? ( present for Suga’s birthday )

Sementara-Kapan-Aku-Menunggumu

deergalaxy0620 || Sad, Slice of Life || Min Yoon Gi a.k.a Suga, Min Yoon Ji ( Suga’s twin ) || PG-15 || Ficlet || Cepat atau lambat, Yoon Gi enggan menghitung.

 

FF ini murni karya author. And this is the present for celebrate Suga’s birthday.

 

 

Suasana di gereja gelap dan sunyi tanpa ada seorang pun yang sedang sembahyang disana. Ini sudah waktunya untuk seluruh warga tidur, tetapi Min Yoon Gi tampak enggan melangkah pulang ke rumahnya. Jemarinya saling melipat, terselip doa yang berbisik penuh hayatan. Jemarinya yang terlipat itu gemetaran, pertanda dirinya buncah. Bagaimana tidak, Yoon Gi selalu dilanda kecemasan setelah kepergian seorang wanita yang juga kekasihnya ke luar negeri. Wanita itu juga tak kunjung kembali di mata Yoon Gi. Itulah sebabnya Yoon Gi selalu berdoa di gereja agar kekasihnya itu segera kembali.

“Aku berharap semoga dia cepat kembali, meskipun aku enggan menghitung tahun.” Gumam Yoon Gi yang mulai mengerutkan keningnya. Tidak lama kemudian dia mengakhiri doanya, memandang patung salib yang tak jauh darinya. Yoon Gi menalan sukar salivanya, terus bimbang hatinya.

“Saya tidak pernah menghitung waktu kapan dia segera kembali. Tetapi, saya menghitung berapa lama dia pergi.” Bilamana Yoon Gi kembali memutar kembali ingatannya saat harus berpisah dengan kekasihnya. Perpisahan yang penuh air mata, sakit rasanya dengan perpisahan yang pedih tersebut. Yang harus membuat Yoon Gi menunggu setelah selang beberapa tahun. Kemanakah kabar sang wanita itu? Yoon Gi sudah terlanjur kecewa sehingga dia enggan menghitung berapa lama kekasihnya, yang bernama Hong Hae Hee, itu kembali.

***

Dalam perjalanan pulang, pikiran Yoon Gi mulai kosong. Seakan-akan dia tak mendengar kebisingan pengendara, seakan-akan semuanya melebur menjadi hampa. Pandangan Yoon Gi cukup menakutkan. Tak memedulikan orang berandalan yang tengah merampas uang rakyat yang tergolong sangat memprhatinkan. Menangis pilu penuh penderitaan, harus bagaimana lagi mereka yang harta paling berharga itu dirampas orang berandalan. Yoon Gi tetap saja mengosongkan pikirannya hingga seseorang dari belakang mengagetkan lelaki bersurai hitam itu. Sayangnya Yoon Gi enggan menebak siapa dalang yang sudah mengacaukan kehampaannya.

Dia yang mengagetkan Yoon Gi tak lain adalah kembarannya, Min Yoon Ji.

“Apa yang kamu lakukan disini?” tanya Yoon Ji tersenyum lebar, bertolak belakang dengan perasaan Yoon Gi.

“Mengapa kamu diam saja? Ayo, kita pulang ke rumah.” Yoon Ji langsung menarik tangan Yoon Gi untuk pulang ke rumah bersama. Yoon Gi masih enggan berkata, lain kali saja dia mulai bincang. Sungguh dia benar-benar enggan menghitung waktu untuk berbicara. Namun Yoon Ji tak hentinya terus bercerita mengenai kehidupannya sebagai mahasiswi tingkat akhir. Meski demikian, Yoon Gi menghitung waktu untuk mendengar celotehan Yoon Ji tanpa jeda sedikit. Pikiran Yoon Gi masih terngiang dengan kekasihnya yang terus membuatnya menunggu. Dan waktu terus berhitung untuk membuat Yoon Gi terus menunggu, tetapi lelaki itu masih enggan menghitung waktu kekasihnya itu kembali.

***

Sesampainya di rumah, Yoon Gi langsung melangkah ke kamarnya untuk berbenah. Menghilangkan segala pikirannya yang terus bernilai negatif. Stigma negatifnya terus melekat di tubuhnya, bahkan membutuhkan waktu yang lama untuk melepaskan pikiran negatif sekaligus kecemasan. Berharap esok menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Yoon Gi enggan untuk terus menghitung berapa banyak pikiran negatif yang telah dia lakukan.

Setelah berbenah, Yoon Gi segera tidur agar seluruh tenaganya terkumpul untuk aktivitas esok. Akan tetapi, Yoon Jin menyahut Yoon Gi untuk segera keluar dari kamarnya. Yoon Gi merasa terganggu dan ingin memukul kembarannya itu. Dengan menyeret bantal tidurnya, Yoon Gi segera memukul wajah Yoon Ji yang tengah menonton televisi. Namun lelaki bermata sipit itu urungkan niatnya setelah ekspresi Yoon Ji kian berubah.

“Ada apa kamu memanggilku?” tanya Yoon Gi saat matanya beralih ke layar televisi berukuran besar. Ada sebuah berita duka terpampang di layar televisi.

Disiarkan berita duka yang terjadi karena kecelakaan pesawat dari London menuju Seoul. Dalam waktu sekejap Yoon Gi mematung saat mata sipitnya itu menangkap salah satu korban kecelakaan pesawat yang juga tewas. Iya, kekasih Yoon Gi termasuk salah satu penumpang pesawat yang telah tewas. Sekilas wajahnya bersimba darah dan tubuhnya telah diselimuti kain putih. Jasadnya akan segera dibawa ke ambulans untuk segera melakukan tindakan lebih lanjut. Sayangnya wanita bernama Hong Hae Hee telah tewas setelah sampai di ambulans, terlebih tak diketahui lokasi kejadian.

Mendengar kabar duka yang tersiar di berbagai berita televisi lokal, Yoon Gi terduduk lemas dan tubuhnya bergemetaran. Sementara Yoon Ji terkejut, melihat kembarannya itu tampak syok. Berusaha untuk menenangkan Yoon Gi, tetapi Yoon Gi mulai menangis histeris hingga memeluk dirinya di lantai. Yoon Ji tak tinggal diam dengan cara memeluk Yoon Gi agar kembarannya itu mulai tenang. Namun hasilnya sia-sia dan Yoon Gi tak berhenti menangis yang semakin histeris.

Seperti kehilangan orang yang dicintai. Yoon Gi mengalami hal yang menyakitkan karena janjinya tak ditepati oleh kekasihnya itu sendiri. Sebuah janji untuk segera kembali untuk saling bertamu sapa dengan Yoon Gi. Namun justru membuat Yoon Gi harus menunggu terlalu lama hingga sebuah kabar duka tersiar. Tak ada pelipur lara dalam diri Yoon Gi, justru hatinya semakin kalut dan bimbang tatkala ia harus menunggu Hong Hae Hee kembali. Sayangnya janji dari Yoon Gi telah melebur dan menjadi abu yang tak terlihat setelah Hae Hee dinyatakan tewas kecelakaan pesawat, seperti Yoon Gi kehilangan belahan jiwanya yang paling berharga itu.

***

Entah harus sampai kapan lagi Yoon Gi menunggu Hae Hee, bahkan saat wanita itu telah dikebumikan di pemakaman besar di Seoul. Memandang batu nisan yang dibentuk menjadi salib, Yoon Gi merasakan tenggorokannya disekat sesuatu. Tak bisa berbicara sementara waktu dan hanya menyisakan air mata yang menetes ke pipi. Bersebelahan dengan Yoon Ji yang hanya menaburkan bunga di atas pemakaman Hae Hee. Beberapa kerabat dekat Hae Hee menangis histeris, seolah-olah mereka tak ikhlas melepaskan Hae Hee ke jalan yang lebih jauh.

Setelah semuanya bubar dan kembali ke rumah masing-masing, hanya Yoon Gi yang masih berdiam diri di pemakaman. Memandang foto Hae Hee yang memiliki paras cantik, sayang hanya sekadar foto. Yoon Gi hanya terus duduk di pemakaman hingga Hae Hee kembali. Enggan kembali untuk menghitung kapan kehampaan terus terjadi. Tetapi, Yoon Gi hanya bisa menghitung kapan Hae Hee akan kembali, padahal Hae Hee telah tiada untuk selama-lamanya tanpa kembali bersua dengan Yoon Gi.

“Aku sudah menghitung berapa lama aku menunggumu. Aku tak akan menyebutkan hitungan tiap tahun, tiap bulan, tiap hari, tiap jam, tiap menit dan tiap detik. Sementara kapan aku menunggumu?” tutur Yoon Gi sembari meratakan taburan bunga di tanah pemakaman.

“Terima kasih karena kamu sudah setia denganku. Jangan pernah kamu melupakan aku karena aku yang telah menunggumu terlalu lama. Aku mencintaimu, Hong Hae Hee.” Lanjutnya yang kembali menitikkan air matanya. Melepaskan Hae Hee yang kini telah hidup bahagia di surga. Hae Hee sudah sangat bahagia disana, sementara Yoon Gi terus menunggu Hae Hee hingga akhir hayat. Berharap Hae Hee segera menemukan titik terang untuk dapat bertemu dengan Yoon Gi.

END

9 Maret 2017

22.14 WIB

#HappySugaDay

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s