[BTS #WINGS] Episode 4 : First Love

first-love

deergalaxy0620 || Romance, Sad, Fluff || Min Yoon Gi a.k.a Suga ( blind-student ), Ryu Shin Hee ( OC ) ( Yoon Gi’s first love ), Lee Tae Hee ( Shin Hee’s best friend ) ( Min. cast ) || PG-15 || Oneshoot || Di balik kesempurnaan Yoon Gi, ada satu kelemahan yang memperkuat cintanya.

 

 

Tepuk tangan yang riuh dan meriah memecahkan suasana aula sekolah yang luas. Terdapat beberapa siswa, serta orang tua mereka, yang hadir dalam acara semi-formal itu, yakni ulang tahun sekolah Seoul Music High School. Senyum merkah dan pujian diri dari beberapa penonton dari kalangan orang tua, berbisik kepada siswa di sampingnya dengan pemikiran yang positif. Mendapat respon positif dari orang tua, mendukung siswanya untuk terus memberikan dukungan terhadap seorang siswa yang tengah duduk tegap. Senyum tipis dan manisnya yang mampu mendebarkan hari para siswa, terutama siswi.

Memulai penampilannya yang memukau. Duduk berhadapan dengan sebuah piano besr, jemari lelaki bersurai hitam itu bersiap menyentuh beberapa tuts piano. Lelaki itu juga memamerkan suaranya yang cukup swag dan diiringi dengan piano yang dimainkan olehnya. Dia melakukan rap sembari memainkan piano yang berhasil memukau para siswi. Bernyanyi penuh emosional dan wajah seriusnya yang mampu menegangkan suasana aula sekolah. Dalam benaknya, betapa susahnya dia harus menulis cipta lagu karya dirinya sendiri tanpa mencuri karya orang lain. Menangis, frustasi, bahkan hampir melakukan aksi bunuh diri karena dirinya terus merasa gagal untuk menulis lirik lagu, serta mencipta lagu.

Kini, lelaki bernama Min Yoon Gi, dia selalu dilirik beberapa panitia acara untuk tampil di atas panggung yang cukup mewah. Usaha dan jerit payah Yoon Gi tak berpengaruh terhadap satu buah kelemahannya, yakni buta. Iya, kesempurnaan Min Yoon Gi yang hampir sempurna itu terhalang oleh matanya yang buta. Hal inilah yang menyebabkan dia selalu merasa gagal untuk menjadi penulis dan pencipta lagu yang handal sebagai cita-citanya. Dia juga ingin membuktikan bahwa kebutaan terhadap matanya tak pernah melemahkan hobinya sebagai penulis dan pencipta lagu. Akan tetapi, Yoon Gi harus memulainya dari awal hingga dirinya hampir mengambang populer di sekolah.

🎵 BTS – First Love ( Suga’s Solo ) 🎵

 

Yoon Gi telah mengakhiri nyanyian rapnya, diakhiri dengan tepuk tangan yang meriah. Dalam batin lelaki itu tersenyum tipis hingga dia merasa sangat bahagia. Meskipun buta, Yoon Gi berhasil melancarkan segala urusannya dengan penampilan. Memerhatikan bayangan hitam-putih dalam bola matanya, menangkap seorang siswi yang ikut bertepuk tangan dengan perasaan bahagia dan senang. Perlahan bibir tipis Yoon Gi melebarkan senyumnya saat seorang gadis bersurai cokelat tua itu bertepuk tangan.

Sungguh membahagiakan perasaan seorang Min Yoon Gi hingga merasakan euforia setelah menampilkan unjuk bakatnya yang luar biasa.

***

Setelah acara ulang tahun sekolah telah usai, Yoon Gi ternyata duduk termenung di tempat tata rias. Seisi aula sekolah telah kosong, kecuali ruang belakang panggung yang hanya menyisakan Yoon Gi. Memerhatikan setiap pantulan cermin yang terdapat bayangan tentang dirinya. Jemarinya meraba pelan matanya yang terlahir buta. Sedikit miris. Begitulah batin Yoon Gi saat dirinya terpaksa dilahirkan sebagai lelaki buta, tetapi bakatnya luar biasa. Terlebih lagi orang tuanya telah tiada akibat sebuah peristiwa yang menimpa mereka. Ayahnya yang terlebih dahulu menghembuskan napas terakhirnya karena serangan jantung saat manggung. Sementara ibunya menyusuli ayahnya, lantaran beliau mengalami stres berat hingga memilih bunuh diri sebagai jalan satu-satunya. Dan Yoon Gi yang tersisa dari keluarganya tanpa saudara, kakek, dan nenek.

Telinga Yoon Gi mendengar samar-samar langkah seseorang dari belakang. Yoon Gi tak bisa menebak siapa orang itu, tetapi ia menghafal derap langkah setiap orang. Iya, Yoon Gi mengetahui bahwa Ryu Shin Hee menghampirinya dari belakang. Shin Hee melangkah pelan, dengan menutupi mata buta Yoon Gi dengan tangannya. Dengan jahil dan nakal, gadis itu berbisik penuh horor. Tetapi, Yoon Gi tak merasakan bulu kuduknya merinding dan menganggap itu semua hanya lelucon.

“Kamu tidak asyik sekarang,” Shin Hee mulai ketus dan sedikit menjauh saat Yoon Gi tertawa kecil.

“Benarkah aku orang yang tidak seasyik itu?” tanya Yoon Gi sedikit berpura-pura lupa.

“Berhentilah kamu bergurau,” jawab Shin Hee sedikit memukul lengan Yoon Gi, disusuli dengan tawa kecil Yoon Gi yang dapat membuat Shin Hee rindu. Lelaki berkulit putih itu segera memutarkan kursinya dan kini ia berhadapan dengan Shin Hee yang kini merangkung.

Yoon Gi dapat melihat bayangan hitam-putih wajah Shin Hee yang cantik dan manis. Dia adalah kekasih Yoon Gi, yang juga merupakan cinta pertamanya saat pertama masuk sekolah di tahun pertama. Shin Heelah yang pertama menyukai Yoon Gi karena kesempurnaannya yang dapat memudarkan kelemahan fisiknya. Tak peduli jika Yoon Gi itu buta yang telah melemahkan pembelajarannya, tetapi Shin Hee menyukai bakatnya yang luar biasa dan ketampanannya yang melumpuhkan hati para siswi. Selama mereka berkencan, Shin Heelah yang memberikan semangat untuk Yoon Gi dalam hal apapun. Tak pernah keluh dan menyerah dalam menyemangati lelaki yang dicintainya itu.

“Mengapa kamu belum pulang, sayang?” tanya Yoon Gi prihatin.

“Aku hanya ingin menemanimu pulang karena aku merasa khawatir denganmu.” Jawab Shin Hee dengan memamerkan sedikit wajah manis dan cantiknya, membuat hati Yoon Gi ikut berdebar.

“Mengapa kamu tak pulang sendiri saja? Aku masih harus disini hingga petugas mengusirku dari tempat ini.” Yoon Gi tampak tak ingin menyusahkan Shin Hee dengan menemani lelaki itu pulang.

“Kamu itu buta, sementara aku merasa cemas jika kamu pulang sendirian dengan ditemani tongkatmu itu.” Shin Hee sedikit melirik tongkat abu-abu yang tertera di meja rias Yoon Gi.

“Aku serius bisa pulang sendiri,”

“Jika kamu ditabrak mobil, apa yang harus kamu lakukan?”

“Jangan sampai hal itu terjadi,”

“Jika itu terjadi, apa yang harus kamu lakukan?”

“Aku harap kamu tak usah mencemaskanku hanya karena aku memiliki satu kekurangan.”

Shin Hee mulai mengatupkan bibir tipisnya saat Yoon Gi mengatakan suatu hal yang membuatnya semakin cemas. Sebagai kekasih dari Yoon Gi, sekaligus mentornya dalam bermain piano, Shin Hee harus menjaga Yoon Gi baik-baik hingga tua nanti. Siapa yang akan menjaga Yoon Gi jika bukan Shin Hee? Orang tua lelaki itu telah tiada, sementara Shin Hee adalah satu-satunya yang dicintai Yoon Gi sebagai beban dari bagian hidupnya. Shin Hee tak mau dan enggan jika Yoon Gi menolak permintaannya. Itu semua demi kebahagiaan Yoon Gi dan juga karena Shin Hee mencintai Yoon Gi tanpa memandang bulu dan sebelah mata satu kekurangan dari Yoon Gi.

“Min Yoon Gi,” ucap Shin Hee sedikit memelankan suaranya, sementara Yoon Gi hanya memandang lurus ke depan karena dirinya tengah buta, “Kau tahu bahwa aku harus menjagamu dalam segala hal apapun. Biarkan beban memberatkanku, demi kamu. Biarkan aku selalu di sampingmu hingga dokter berhasil mendapat donor mata untukmu. Setelah itu, kamu boleh bebas pergi kemana saja untuk memperkenalkan kembali dunia padamu.” Jelasnya sedikit merasa sakit dan pilu. Memandang nanar wajah tampan Yoon Gi yang hanya memandang lurus ke depan.

“Jika kamu memang masih ingin bersikeras untuk pulang sendiri,” ujar Shin Hee melupakan wajah sedih yang terukir di wajahnya, “Aku akan pulang sendiri juga.” Lanjutnya sebelum dia bangkit, kemudian hendak melangkah. Belum satu langkah Shin Hee bertapak, tangan putih Yoon Gi meraih telapak tangan Shin Hee hingga gadis itu terkejut dan tubuhnya terjatuh. Lelaki itu ikut menjajarkan tubuhnya dengan ikut terduduk di lantai bersama Shin Hee. Sementara gadis itu membelakkan sedikit mata sipitnya, terkejut dengan kekuatan Yoon Gi yang tak pernah dia ketahui sebelumnya.

“Apa yang kamu lakukan, Yoon Gi-ya?” tanya Shin Hee sedikit terkejut.

“Aku tak ingin kamu meninggalkanku sendirian disini.” Jawab Yoon Gi dengan meraba setiap wajah Shin Hee, terutama pipinya.

“Aku tahu kamu sedikit kecewa karena keinginanku untuk pulang sendirian. Aku memang bisa pulang sendirian karena aku hanya ingin saja. Tetapi, aku tak ingin kehilangan dirimu.” Lanjut lelaki itu saat jemarinya berpindah menuju bibir tipis Shin Hee. Sayangnya gadis itu menepis pelan tangan Yoon Gi, kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Yoon Gi.

“Maafkan aku, Ryu Shin Hee,” ujar Yoon Gi, “Aku selalu mencintaimu agar aku masih ingin hidup di dunia ini.” ujarnya sebelum Yoon Gi menempatkan bibirnya ke bibir Shin Hee. Hanya sekadar menempel saja tanpa ada unsur paksaan. Yoon Gi masih hafal setiap wajah Shin Hee, dari mata sipitnya hingga bibir tipisnya. Bibir Shin Hee yang membuat Yoon Gi rindu saat lelaki itu berciuman. Bibir Shin Hee yang membuatnya candu dan menenangkan pikiran dan hati, serta mendebarkan setiap detak jantung Yoon Gi.

Sementara Shin Hee dapat merasakan detak jantung kekasihnya itu berdegup sangat kencang, perlahan membalas ciuman yang sekadar menempel itu dengan sedikit lumatan. Yoon Gi mulai mengikuti alur ciuman Shin Hee dengan menambah tempo lumatan setiap bibir sepasang kekasih. Mereka akan merindukan ciuman ini, terlebih Yoon Gi yang terlahir dengan mata buta.

Aku masih bisa bersyukur memilikimu di dunia ini, meski aku tanpa penglihatan dan kerabat keluargaku. Batin Yoon Gi sebelum akhirnya lelaki itu menikmati ciumannya di bibir Shin Hee. Tenggelam penuh keromantisan, ciuman yang membuat mereka semakin bersatu dalam cinta. Dan Yoon Gi akan setia mencintai Shin Hee.

***

Yoon Gi tak masalah berapa lama ia harus mendapat donor mata dari dokter. Menunggu bukanlah masalah yang tepat untuknya, melainkan menunggu kapan dirinya kembali memperkenalkan dunia. Dengan bantuan Shin Hee, cinta pertamanya sekaligus kekasihnya, Yoon Gi dapat tersenyum bahagia dan semangat dalam menggarap lagu karyanya sendiri. Tak hanya Shin Hee, beberapa sahabat Yoon Gi juga turun tangan dalam membantu lelaki tunanetra itu. Mereka tertawa, bahkan bergurau terhadap Yoon Gi. Dengan lelucon yang mereka beberkan tentang kehidupan sehari-hari, Yoon Gi dapat tertawa dengan dihibur para sahabatnya. Bagi Yoon Gi, mereka sudah seperti saudara sendiri di sekolah.

“Yoon Gi-ya!” di sekitar koridor sekolah, saat Yoon Gi bertapak bersama tongkat tuna netranya, dari belakang Yoon Gi mendengar sahutan Shin Hee. Gadis itu berlari menghampiri kekasihnya, menimbulkan tanda kebingungan dari para siswa sekitarnya. Tak jauh dari Yoon Gi, beberapa siswi berbisik tentang hubungan antara lelaki itu dengan Shin Hee. Mereka yang berbisik itu, penuh cemburu sekaligus turut senang.

“Hei, Min Yoon Gi!” Shin Hee akhirnya memutarkan tubuh Yoon Gi, menghadapnya dengan wajah berseri-seri. Tangan kanannya menggenggam ponsel canggihnya, tertera sebuah pesan misterius yang membuat Shin Hee bahagia. Pesan tersebut ditujukan kepada Yoon Gi, mendapatkan sinyal hijau untuk lelaki bersurai hitam yang tengah kebingungan itu.

“Doktermu telah menemukan donor mata yang cocok untukmu. Kita harus memberikan izin tak melanjutkan pembelajaran kita untuk kamu operasi!” Shin Hee merasa heboh sekaligus bahagia dengan berita yang dia dapatkan dari salah seorang dokter yang berhasil mendapatkan mata yang cocok untuk menggantikan mata Yoon Gi.

“Benarkah?”

“Benar! Apa yang kamu tunggu? Kita harus segera ke rumah sakit sebelum para suster ganti pekerjaan!” Shin Hee langsung meraih tangan Yoon Gi beserta tongkat tuna netranya, tetapi Yoon Gi sendiri tak kunjung melangkah. Ada hal yang ingin Yoon Gi sampaikan kepada Shin Hee.

“Selama aku di operasi mata, jangan lupa untuk selalu berdoa untukku. Jangan pernah lari dariku sebelum operasi berakhir.” Ujar Yoon Gi, yang kemudian dibalas Shin Hee dengan senyuman.

“Aku janji tidak akan bakalan kabur saat kamu dioperasi.” Ucap Shin Hee dengan senyum yang manis dan membuat hati Yoon Gi berdetak sangat kencang. Tidak lama kemudian, mereka pun melangkah menuju ruang guru untuk mendapatkan izin agar Yoon Gi bisa segera dioperasi. Setelah mendapatkan izin, mereka pun segera meninggalkan halaman sekolah dan berangkat menuju rumah sakit menggunakan mobil taksi.

Sejujurnya, ada satu hal yang membuat Yoon Gi takut setelah dioperasi. Entah apa yang dia takuti, namun Yoon Gi tak ingin berkata apapun kepada Shin Hee, mengenai ketakutannya setelah operasi. Yoon Gi hanya berharap agar Shin Hee selalu ada di sampingnya, bagaimanapun kondisinya saat operasi. Shin Hee hanya bisa berdoa agar operasi mata untuk Yoon Gi berjalan dengan lancar. Tak pelik gadis bersurai cokelat tua sebahu itu tak pernah meninggalkan kewajibannya untuk berdoa kepada tuhan. Sementara Yoon Gi memiliki satu ketakutan yang mungkin akan terjadi setelah dioperasi.

***

Sebelum Yoon Gi dioperasi, Shin Hee menggenggam tangan Yoon Gi sembari berdoa dalam hati. Yoon Gi dapat membaca pikiran Shin Hee melalui batinnya. Terbaring di atas ranjang operasi sembari menunggu dokter dan para suster, lelaki itu membalas genggaman Shin Hee yang semakin lama semakin kuat. Pandangannya selalu ke atas karena dirinya masih buta, namun jantungnya selalu berdebar karena gugup untuk dioperasi.

Sebentar lagi Yoon Gi akan kembali perkenalkan kepada dunia bahwa dirinya berbakat dalam hal apapun. Seluruh dunia dapat melihat bagaimana Yoon Gi bermain piano sembari menyanyi rap, meskipun dalam kondisi buta. Yoon Gi yang kehilangan penglihatannya sejak lahir, kini dalam waktu dekat akan mendapatkan donor mata dari orang lain. Entah siapa orang itu, tetapi Yoon Gi tak sabar untuk dapat melihat sekitarnya. Melihat betapa indahnya lingkungan di sekitarnya sekaligus bersemangat dalam menggarap lagu untuk dia rilis dalam bentuk album mixtape.

“Yoon Gi-ya,” bisik Shin Hee saat Yoon Gi tengah melamun, “Aku mencintaimu.” Ucapnya dengan intonasi yang manis, namun lirih.

“Aku juga mencintaimu, Ryu Shin Hee,” balas Yoon Gi sembari mengukir senyum simpulnya, “Jangan pernah lari dariku saat aku dioperasi.” Ujarnya sebelum beberapa dokter dan suster telah datang, meminta kepada Shin Hee untuk menunggu di luar. Hal ini mengundang kekhawatiran dalam benak Yoon Gi. Dalam batin ia berkata untuk tidak lari darinya, teruntuk Shin Hee. Dalam batin juga ia akan menangis jika Shin Hee telah menghilang darinya, entah dalam alasan apapun. Dan kini saatnya Yoon Gi dibawa para dokter dan suster ke dalam ruang operasi, menjauhi Shin Hee yang kini berakhir dengan air mata di hati. Berharap operasi mata untuk Yoon Gi berjalan dengan lancar. Itulah satu doa dari Shin Hee saat lampu ruang operasi telah menyala dari dalam.

Aku akan selalu di sisimu, Yoon Gi-ya. Batin Shin Hee yang tak mampu meninggalkan Yoon Gi sendirian saat operasi.

***

Lima jam setelah operasi telah berlalu. Kini, mata Yoon Gi telah ditutupi perban putih yang melilit di sekitar matanya. Menunggu waktu yang ditentukan untuk segera membuka perban perlahan-lahan. Terduduk lemas di atas ranjang, Yoon Gi tengah ingin digenggam Shin Hee, kekasihnya itu. Yang ada hanya seorang suster yang tengah melirik jam di tangannya, menunggu waktu untuk segera melepaskan perban yang melilit di sekitar mata Yoon Gi. Membutuhkan waktu yang sangat lama untuk dapat membuka perban tersebut, tetapi Yoon Gi hanya ingin melihat lingkungan di sekitarnya sekaligus gadis yang tercinta, yakni Ryu Shin Hee. Perban yang menutupi mata Yoon Gi itu membutuhkan waktu tiga hari agar mendapatkan hasil yang maksimal.

Selang satu hari, Yoon Gi tak merasakan kehadiran Shin Hee, padahal gadis itu sudah berjanji untuk selalu di sampingnya. Mungkin gadis itu tengah bersekolah untuk mengejar pelajaran yang tertinggal dari kemarin. Sayangnya raut kecewa dan wajah sedih terukir dari wajah Yoon Gi. Menganggap Shin Hee telah mengingkari janjinya untuk selalu setia di samping Yoon Gi dalam kondisi apapun.

Kau tahu bahwa aku harus menjagamu dalam segala hal apapun. Biarkan beban memberatkanku, demi kamu. Biarkan aku selalu di sampingmu hingga dokter berhasil mendapat donor mata untukmu. Setelah itu, kamu boleh bebas pergi kemana saja untuk memperkenalkan kembali dunia padamu.

Yoon Gi teringat dengan perkataan Shin Hee setelah tampil pentas di belakang panggung. Entah mengapa perasaan Yoon Gi begitu tak enak, tetapi Yoon Gi tak pernah melupakan setiap perkataan Shin Hee yang keluar dari bibirnya. Meminta kepada Yoon Gi untuk tidak menyendiri dalam kondisi apapun hingga dokter berhasil mendapat donor mata untuk Yoon Gi. Begitu juga dengan Yoon Gi, meminta kepada Shin Hee untuk tidak memberatkan bebannya untuk menemaninya, meskipun lelaki itu bisa pulang sendiri dan dibantu tongkat tuna netranya. Akan tetapi, siapa yang terlebih dahulu mengingkari.

Esoknya, setelah dioperasi dua hari yang lalu, Yoon Gi akhirnya dapat melihat dunia. Salah seorang suster tengah melepaskan perbannya dalam hitungan detik. Setelah melepaskan lilitan perban dari mata Yoon Gi, lelaki itu perlahan membuka matanya. Mencoba mengedip, mengamati sekitar kamar pasien, Yoon Gi hampir menangis terharu. Dalam batin ia berterima kasih karena diberi kesempatan untuk melihat sesuatu yang indah, terutama wajah seorang suster yang bagaikan malaikat di surga. Yoon Gi tersenyum tipis dan mengucapkan terima kasih kepada seorang suster, atas kerja kerasnya bersama para dokter dan suster lainnya untuk mendonorkan mata untuknya.

Akan tetapi, senyum manis Yoon Gi kian memudar, lantaran Shin Hee masih belum datang dan tampak menghilang. Yoon Gi merasa heran sekaligus cemas, lantaran juga Shin Hee tak bersua dan bersuara selang tiga hari berlalu. Entah apa yang terjadi dengan gadis itu, tetapi Yoon Gi kembali dilanda kecemasan sekaligus kekhawatiran. Shin Hee benar-benar menghilang dari mata Yoon Gi, padahal gadis itu berjanji untuk selalu di sisinya setelah Yoon Gi dioperasi.

Satu minggu, pasca Yoon Gi harus beristirahat akibat operasi mata, lelaki itu kembali tak menemukan Shin Hee di sekolah, bahkan di kelas mereka pun tak menunjukkan batang hidungnya. Yoon Gi tampak khawatir, lantaran juga Shin Hee tak membalas pesan singkatnya sekaligus panggilan telepon. Sementara salah seorang sahabat Shin Hee, yakni Lee Tae Hee, tampak murung setelah Shin Hee dikabarkan tak masuk sekolah sejak satu minggu lebih. Yoon Gi merasa ada sesuatu yang tak terungkap dari Shin Hee.

“Tae Hee-ya,” panggil Yoon Gi saat Tae Hee tengah meninggalkan kelasnya, masih dalam ekspresi lesu dan sedih, “Apakah kamu tahu dimana Shin Hee?” tanyanya hingga membuat Tae Hee menangis. Tangisan Tae Hee, bahkan, cukup histeris hingga memeluk Yoon Gi. Entah ada apa di balik tangisan gadis bersurai hitam keriting itu, Yoon Gi tampak kebingungan sekaligus keheranan terhadap sikap Tae Hee yang selalu murung itu.

“A… ada apa dengan… Shin Hee?” tanya Yoon Gi keheranan.

“Apakah kamu tak pernah tahu betapa beruntungnya kamu setelah berkencan dengan Shin Hee?” Tae Hee malah kembali bertanya dengan tangisan yang sesegukan.

“A… aku… aku memahami hal itu. Tetapi, tangisanmu itu… jangan membuatku bingung. Katakan saja kepadakau dimana Shin Hee berada.” Yoon Gi segera merogoh saku celananya dan mengusap pelan air mata yang mengalir di pipi tembam Tae Hee.

“Shin Hee… dia… dia…”

“Ada apa dengan Shin Hee?”

“Aku bingung harus berkata apa kepadamu.”

“Katakan saja kepadaku apa yang terjadi dengan Shin Hee!” Yoon Gi merasa kembali dilanda stres dan kecemasan, meskipun mentalnya siap untuk mendengar kabar baru dari Tae Hee, terutama mengenai Shin Hee yang kian menghilang saat Yoon Gi dioperasi satu minggu yang lalu.

“Dia justru berbalik kepadamu. Aku tak tahu harus bagaimana dengan sahabatku itu.” jawaban dari Tae Hee justru membuat Yoon Gi bingung sekaligus tak mengerti. Terlihat dahinya yang mengerut, mencoba untuk memahami setiap jawaban Tae Hee.

“Berbalik kepadaku maksudmu apa?”

“Shin Hee yang justru mengalami kebutaan saat kamu dioperasi.”

JDER!

Awalnya, perkataan seseorang yang keluar dari bibirnya itu hanya sekadar bersenda gurau saja, begitu juga dengan Yoon Gi. Lelaki itu hanya tertawa kecil sembari mengusap pelan air mata Tae Hee dengan sapu tangannya, tetapi justru tangisan Tae Hee semakin kencang dan tak kuasa menahan air matanya.

“Shin Hee dikabarkan mengalami kecelakaan mobil saat dia sedang membelikan sesuatu untukmu setelah operasi. Kabar tersebut tersiar dari pihak rumah sakit tempat kamu mendapat donor mata dari orang lain. Apa yang harus aku lakukan untuk membalas kebaikanmu sebagai kekasih Shin Hee?”

Tangisan Tae Hee semakin histeris dan menghebohkan seisi lorong sekolah. Tak ada yang lain selain memeluk Tae Hee dengan ekspresi terkejut dan syok. Yoon Gi merasa syok dengan kabar badai tersebut. Entah bagaimana dia harus berkata, tetapi kabar tersebut justru memutar keadaan antara dirinya dan Shin Hee. Kini, Shin Heelah yang harus mengalami kebutaan akibat kecelakaan mobil.

“Maafkan aku karena aku tak menyiarkan kabar ini kepadamu. Aku merasa khawatir jika kamu merasa syok sekaligus trauma karena dia itu sungguh mencintaimu.” Tae Hee menambahkan sembari melepaskan pelukan dari Yoon Gi, kemudian merebut sapu tangan dari tangan lelaki itu untuk mengusap air matanya sendiri.

“Kalau aku boleh tahu…” Yoon Gi masih tak bisa berbicara dengan lancar setelah kabar buruk telah mengubah nasib Shin Hee, “Dimana gadis itu dirawat?” tanyanya.

“Dia ada di rumah sakit tempat kamu dioperasi, tetapi…”

“Tetapi apa?”

“Tetapi dokter tak ingin kamu tahu karena kamu adalah kekasihnya yang paling tulus dan setia. Beliau juga merahasiakan kondisi Shin Hee dari dunia, terutama neneknya yang tengah mengalami penyakit jantung kronis.” Tae Hee tak bisa menahan tangisnya saat dirinya telah terlanjur memberikan kabar buruk kepada Yoon Gi. Terlebih lagi lelaki itu telah mendapatkan donor matanya dari orang lain.

Sekarang, apa yang akan Yoon Gi lakukan?

***

Di sebuah rumah sakit, tempat dimana Yoon Gi dioperasi, Yoon Gi berlari kencang dengan air mata membasahi pipinya. Menerobos beberapa pengunjung dan pasien yang tengah menapak, Yoon Gi tengah mencari sosok yang dia sayangi, yakni Shin Hee. Sebelum itu, Yoon Gi menghampir meja informasi untuk bertanya mengenai kondisi terakhir Shin Hee. Seorang informan mengatakan bahwa Shin Hee tengah berada di ruang pasien nomor 300. Yoon Gi langsung mengucapkan terima kasih dan kembali berlari untuk mencapai ruang pasien nomor 300 itu. Pada akhirnya, Yoon Gi menemukan lift yang akan naik menuju lantai tiga, dimana kamar pasien Shin Hee adalah nomor 300.

Mengapa kamu tak bilang ini kepadaku, Shin Hee-ya? Kamu sudah mengingkari janjimu padaku. Apakah aku harus memaafkanmu setelah kamu yang justru buta? Batin Yoon Gi menahan rasa sakitnya dan tak kuasa menahan air matanya setelah dirinya sampai di depan kamar pasien nomor 300. Mencoba untuk mengatur napas sejenak, Yoon Gi tak bisa menyeimbangkan tubuhnya akibat terlalu banyak berlari. Tak hanya itu, demi bertemu dengan Shin Hee, Yoon Gi harus berlari dari sekolahnya yang jaraknya tak jauh menuju rumah sakit. Bahkan lelaki itu tak memedulikan keringat yang mengucuri wajahnya, demi bertemu dengan Shin Hee.

Setelah semuanya tenang, akhirnya Yoon Gi membuka pintu kamar pasien tanpa mengetuk terlebih dahulu. Memandang Shin Hee yang tengah terduduk lemas di ranjang pasien, dengan pandangan selalu lurus ke depan. Yoon Gi mulai memejamkan matanya, mencoba kembali tenang setelah melihat kondisi Shin Hee yang justru kehilangan penglihatannya sekaligus kepalanya yang diperban. Sementara Shin Hee tengah melipatkan kakinya ke dadanya, tampak mematung dengan pandangan selalu lurus ke depan. Memandang hitam-putih sebuah televisi yang terus menyala.

“Ryu Shin Hee,” ucap Yoon Gi sedikit meninggikan suaranya, memandang Shin Hee yang akhirnya bereaksi tanpa menoleh ke arah kekasihnya itu, “Ini aku. Min Yoon Gi, kekasihmu yang selalu di sampingmu.” Tambahnya sembari melangkah pelan menuju ranjang pasien. Shin Hee justru tak memberi respon sedikit saat Yoon Gi kini hadir dengan suara dan derap langkahnya. Ekspresi gadis itu menunjukkan rasa bingung sekaligus kecewa. Bingung bagaimana Yoon Gi bisa mengetahui dirinya yang berada di rumah sakit, sementara dirinya juga kecewa karena dirinya yang menerima nasib untuk hidup dengan mata buta.

“Aku sudah tahu kabarmu, bahkan setelah aku dibebaskan dari rumah sakit ini.” ujar Yoon Gi saat lelaki itu kini duduk di samping Shin Hee, yang masih tak mengubah posisi duduknya di ranjang.

“Sudah kukatakan kepadamu untuk tidak kabur saat aku dioperasi dalam kondisi apapun. Tetapi, justru kamu kabur dan kondisimu berbalik padaku.” Yoon Gi mencoba untuk tidak marah atau kecewa kepada Shin Hee. Cukup hatinya yang menjadi kalut.

“Aku hanya ingin membelikanmu sesuatu sebagai hadiah terindah untukmu karena dapat melihat orang-orang yang kamu anggap asing, tetapi mereka mengetahui bahwa kamu adalah Min Yoon Gi yang berbakat.”

“Mengapa tidak setelah aku dioperasi?!” rasa sabar Yoon Gi telah memudar, diganti dengan perasaan marah sekaligus kesal kepada Shin Hee. “Kau tahu bahwa aku selalu khawatir saat kamu tak memberiku kabar setelah aku dioperasi! Ini sudah satu minggu lebih kamu tak menunjukkan batang hidungmu! Sekarang?! Justru kamu yang merasa buta?! Ini semua salahmu karena kamu tak mendengar perkataanku sebelum aku dioperasi! Jika saja bukan karena…”

“Sudah cukup!” Shin Hee menyela perkataan Yoon Gi penuh depresi dan kesal. Tak lama kemudian, gadis itu menangis pilu dan menahan rasa sakit yang amat pedih di hati. “Aku memang merasa bersalah karena aku yang buta dan aku yang ceroboh! Aku tahu kamu tak ingin aku lari darimu dalam kondisi apapun! Tetapi…” gadis bersurai cokelat tua itu mulai menangis, “Aku hanya berharap kamu dapat melihat wajahku, tetapi harapanku telah pupus karena kecelakaan. Aku hanya ingin tahu seberapa besar kamu mencintaiku dalam melawan kekhawatiran dan kecemasan. Dan mata yang kamu kenakan sekarang…” tangisah Shin Hee semakin menjadi saat Yoon Gi harus menahan amarahnya sekarang.

“Mata yang dokter donorkan kepadamu adalah mataku, bukan mata orang lain. Karena kecelakaan yang aku alami, aku terpaksa mendonorkan mataku kepadamu agar kamu bisa melihat dunia dengan mataku. Sementara aku? Dengan tega dokter mendonorkan matamu yang lama kepadaku hingga membuatku buta seperti ini. Bahkan dokter mengatakan bahwa aku tak bisa melihat lagi hingga tua. Aku yang mendonorkan mataku ini kepadamu karena khawatir mata orang lain tak cocok denganmu, terlebih sebenarnya usianya sangat tua. Alasan aku yang mendonorkan mataku ini kepadamu adalah karena aku mencintaimu sebagai cinta pertamaku.” Jelas Shin Hee dengan tangisan yang histeris hingga Yoon Gi akhirnya sadar dengan penjelasan kekasihnya itu. Perlahan lelaki itu memeluk Shin Hee untuk menenangkan gadis itu.

Entah bagaimana perasaan Yoon Gi, tetapi lelaki itu ikut menangis karena mata yang dia kenakan, agar dapat melihat kembali, ternyata adalah mata Shin Hee. Memutar posisi mereka yang justru menjadi sebaliknya, membuat perasaan Yoon Gi menjadi pahit, sangat pahit. Menepuk pelan punggung kekasihnya itu untuk tenang dan tak lagi menangis, padahal Yoon Gi juga menangis setelah mengetahui kebenarannya.

Setelah memeluk tubuh Shin Hee, Yoon Gi segera menangkup wajah Shin Hee agar dapat menatap wajah gadis itu. Wajah Shin Hee yang cantik dan manis, Yoon Gi dapat mengetahui wajah Shin Hee saat lelaki itu tengah buta. Menghapus air mata yang mengalir dari mata Shin Hee yang buta itu, kemudian Yoon Gi memajukan wajahnya mendekati mata gadis itu. Mengecup pelan mata Shin Hee lama, kemudian ciuman tersebut berpindah tertuju kepada bibir gadis itu. Sebuah ciuman yang dirindukan Shin Hee, menyalurkan segala perasaan Yoon Gi kepada Shin Hee yang penuh kepahitan. Tanpa ada unsur paksaan dibalik ciuman itu, Yoon Gi hanya sekadar menempel bibir Shin Hee sebagai pelampiasan untuk menguatkan hati Shin Hee. Kini, Shin Heelah yang merasakan air mata Yoon Gi mengalir, sebagai bentuk permintaan maaf sekaligus bentuk kecintaannya terhadap gadis bersurai cokelat tua itu.

Maafkan aku, Ryu Shin Hee. Aku akan mencintaimu hingga kita menikah. Tak peduli apa kata dunia terhadap kekuranganmu, aku tak akan memandang kekuranganmu yang membuatku menjauh darimu. Aku sungguh tak tega jika aku meninggalkanmu sendirian. Jadi, biarkan aku menjadi sandaranmu hingga kita menikah dan usia kita bertambah tua. Batin Yoon Gi yang akhirnya menggerakkan bibirnya untuk melumat pelan bibir tipis Shin Hee. Kembali menyalurkan perasaannya yang dilanda kegundahan yang mendalam.

Yoon Gi-ya, maafkan atas segala kekuranganku. Aku boleh menjadi sandaranmu dan siap dinikahi olehmu. Dunia pasti memaafkanku karena kamu adalah lelaki yang tulus dan berbakat, sekaligus cinta pertamaku yang telah membuatmu bersyukur terlahir di dunia ini. Shin Hee membalas batin Yoon Gi dengan membalas ciuman Yoon Gi yang terkesan lembut dan halus. Hingga mereka menikah pun, mereka dapat hidup bahagia, meskipun Shin Hee terpaksa hidup dengan buta seumur hidup.

Setidaknya melihat wajah Yoon Gi untuk pertama kali pun sudah bersyukur, begitu juga dengan Yoon Gi. Setidaknya dapat membayangkan wajah cantik dan manis Shin Hee pun sudah membuat Yoon Gi bersyukur dapat melihat Shin Hee dengan penglihatan yang membaik, bukan tuna netra lagi.

END

Advertisements

One thought on “[BTS #WINGS] Episode 4 : First Love

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s