[BTS #WINGS] Episode 3 : Stigma

stigma

deergalaxy0620 || Suspect, Slice of Life || Kim Tae Hyung a.k.a V, Byun Baek Hyun as teman sepenjara Tae Hyung, Kim Nam Joon as teman seperjuangan Tae Hyung ( minor cast ) || PG-17 || Oneshoot || Di penjara, Tae Hyung ingin mengubah jati dirinya. Di sisi lain, dirinya selalu dicurigai atas kasus pembunuhan selama ditahan.

Anda boleh menuduhku bahwa akulah yang membunuh seorang pria bernomor 5.000.

Pukul 00.00 KST…

In Gangwon-do…

Malam sunyi disertai angin sepoi-sepoi yang menemani sunyinya malam. Tidak untuk Kim Tae Hyung, seorang lelaki bangsat, yang tengah menyuntik obat narkoba di lengannya. Menahan sakit yang akan menghancurkan seluruh organ tubuhnya, demi membahagiakan hidupnya yang penuh kesialan. Tak hanya menyuntik obat narkoba saja, melainkan meminum beberapa butir pil penenang yang dapat membuatnya kecanduan. Tae Hyung merasa lega hidupnya damai dan tenteram tanpa ada yang mengganggunya, bahkan Kim Nam Joon, teman seperjuangan Tae Hyung, telah membantunya untuk mengusir masa lalunya yang tersembunyi. Lelaki bersurai hitam itu pun tak pernah menyesal atas perbuatan keji yang dia lakukan di masa lalunya. Hanya untuk berfoya-foya, dengan menghamburkan uang hasil rampokan dari seluruh bank, hidupnya penuh kesenangan yang hedonis. Merampok adalah tujuan terbaiknya untuk menghasilkan uang dan Nam Joon telah membantunya. Dan sekarang, Tae Hyung menyuntik obat bandar narkoba yang justru membahayakan organ tubuhnya dan berujung kematian. Dirinya mengakui bahwa ini bukan jalan menuju kematian, melainkan kesenangan yang berlebihan, sebut saja dirinya hedonis. Tetapi, ini bukanlah salah satu hobinya karena ini hanya bertujuan untuk menenangkan sekaligus kebahagiaan.

Setelah menyuntik obat narkoba, Tae Hyung keluar dari rumah kecilnya dan bertemu dengan teman seperjuangannya, yakni Kim Nam Joon. Dengan menggotong tas ransel yang berat, berisi lima cans dengan warna yang berbeda, Tae Hyung sudah memiliki rencana untuk membahagiakan dirinya sendiri. Nam Joon mengeluarkan senyum sinisnya dan mengetahui niat Tae Hyung setelah menyuntik obat narkoba. Mereka pun segera melangkah menuju suatu tempat untuk mengembangkan bakat Tae Hyung, padahal Nam Joon hanya sekadar menemani Tae Hyung dengan satu puntung rokok.

Disinilah mereka memulai satu kekacauan dari Tae Hyung, yakni membuat graviti di depan pintu ruko orang lain. Dengan tawanya yang bahagia secara berlebihan, Tae Hyung tak memedulikan suasana malam yang sunyi, meskipun terganggu dengan asap rokok Nam Joon. Nam Joon hanya menjaga teman seperjuangannya, untuk jaga-jaga saja jika ada seseorang melihat kelakuan mereka yang mendekati kriminal. Tae Hyung mengeluarkan senyum sinisnya saat melihat hasil karyanya.

“Mereka pasti akan terkejut dengan satu teror dariku, hyung,” ujar Tae Hyung saat menoleh ke arah Nam Joon ke belakang. Lelaki berperawakan tinggi itu mengabaikan ujaran Tae Hyung dan sibuk memerhatikan sekitarnya.

“Aku rasa tidak ada polisi di sekitar kita,” Nam Joon melaporkan saat Tae Hyung kembali mencoret pintu ruko orang lain yang terbuat dari besi itu, “Cepat selesaikan sekarang sebelum kita…”

Belum selesai Nam Joon bercerita, tiba-tiba mereka mendengar sesuatu yang mengejutkan. Sebuah sirine telah mengejutkan Nam Joon hingga lelaki itu menarik Tae Hyung untuk segera meninggalkan tempat tersebut, tetapi dari belakang empat orang polisi mengejar mereka. Tae Hyung yang belum sempat mengakhiri karyanya itu, terkejut bahwa polisi telah mengejarnya dan Nam Joon, bahkan kaleng cans itu tertinggal di ruko orang lain. Demi menghindari kejaran polisi, Nam Joon dan Tae Hyung segera bersembunyi di balik bus dan membekap mulut mereka satu sama lain. Telinga mereka mendengar samar-samar langkahan polisi yang hampir mendekat, tetapi polisi lain berseru untuk segera mencari di tempat lain. Alhasil, dua orang polisi itu telah menjauh dari bus bercorak abu-abu itu, tempat Nam Joon dan Tae Hyung bersembunyi. Langkahan dua orang polisi telah menghilang, tetapi bukan saatnya Nam Joon dan Tae Hyung untuk bersantai.

“Hyung,” panggil Tae Hyung terengah-engah setelah berlarian menjauh dari kejaran polisi, “Aku belum sempat menyelesaikan gravitiku, padahal karya tersebut…”

“Ini semua demi kebahagiaanmu, Tae Hyung-ah,” potong Nam Joon cepat, “Bagaimana jika kamu tertangkap polisi jika kamu sibuk dengan gravitimu yang konyol dan kuno itu?” tanyanya sembari mengeluarkan kembali sepuntung rokok dan macis, kemudian menyalakan macis dan mendekatkan api yang menyala itu ke ujung rokoknya.

“Bukankah hyung juga terkena imbasnya karena membantuku selama tiga tahun terakhir ini?” tanya Tae Hyung dengan suara bisikan, terdengar lelaki itu mendengus kesal.

“Aku pasti dibebaskan, Tae Hyung-ah,”

Ani, hyung juga terkena imbasnya. Jadi, hyung tak mungkin bisa menghindari kejaran polisi dan berakhir di penjara yang penuh kumuh dan penjahat elit itu.”

“Pak! Kami telah menemukannya! Ayo, kejar mereka!”

Shit! Umpat Tae Hyung kesal dan segera berlari bersama Nam Joon, menghindari kejaran polisi yang kembali mengejar mereka dengan kecepatan yang sama dengan Tae Hyung dan Nam Joon. Belum sempat mereka mencari minuman sebagai penghilang dahaga, tiba-tiba saja teriakan cempreng polisi bertubuh gemuk itu sudah berseru saja hingga sampai ke telinga Tae Hyung dan Nam Joon. Masih belum berakhir aksi kejaran antara polisi dan Kim’s Friends – Tae Hyung dan Nam Joon – tiba-tiba saja Tae Hyung tersandung batu hingga tubuhnya terjatuh. Melihat lelaki itu terjatuh, Nam Joon segera membantu Tae Hyung untuk bangkit, namun Tae Hyung malah menolak bantuan Nam Joon untuk bangkit. Ada satu pesan yang ingin Tae Hyung sampaikan untuk teman seperjuangannya.

“Hyung,” sebelum polisi mengejar mereka dalam waktu dekat, “Berlarilah dan bersembunyilah di rumahku. Biar aku saja yang ditangkap.” Ujarnya sedikit meringis kesakitan di bagian lututnya. Nam Joon terkejut dengan perkataan Tae Hyung barusan.

“Mengapa kamu…”

“Aku tak ingin hyung ikut berakhir di penjara. Karena aku melakukan banyak tindakan kriminal, lebih baik aku menyerahkan diri saja. Sementara hyung hanya menemaniku saja hingga membuat hidupku banyak berubah.” Tae Hyung menyela perkataan Nam Joon yang belum terselesaikan, kemudian mengukir senyum pasrahnya.

“Aku telah membunuh ayahku, ibuku, kakak kandungku, adik kandungku, menjadi perampokan dengan menghasilkan uang yang banyak, menyuntik bandar narkoba selama tiga tahun dan memicu keributan karena karya gravitiku yang tak disukai masyarakat. Aku mungkin menjadi setan yang jahat di mata hyung, tetapi hyung telah bersedia untuk menemaniku. Jadi, mulai sekarang, hyung berlari sekencang-kencangnya dan hidup bahagia dengan rumahku. Kalau bisa, jika aku telah dibebaskan dari penjara, hyung segera membersihkan rumahku menjadi rumah yang layak untuk tempat tinggal kita.” Pesan Tae Hyung cukup panjang, namun Nam Joon menggeleng kuat – menolak permintaan Tae Hyung.

“Kamu masih muda, Tae Hyung-ah. Jika tanpa hyung di penjara, siapa yang akan menjagamu?”

“Aku berharap mendapatkan teman sepenjara denganku, yang memiliki kasus yang sama denganku. Jadi, lebih baik hyung terus berlari dan relakan aku dijebloskan ke penjara.” Tae Hyung meminta sekali lagi dengan menitikkan air matanya, membiarkan Nam Joon untuk menghindarinya agar dapat menggantikan posisinya di rumah kecil. Di satu sisi, Nam Joon menolak permintaan Tae Hyung karena dirinya menemani teman seperjuangan itu. Di sisi lain, Nam Joon memang ingin hidup layaknya orang normal dan tak ingin terkena kejahatan yang telah merusak kebahagiaan orang tuanya.

“Aku mohon, hyung. Pergilah.”

“Ba… baiklah… hyung akan pergi. Jaga dirimu baik-baik, Tae Hyung-ah.” Nam Joon pasrah untuk melepaskan Tae Hyung, menyisakan rasa tak rela dalam hatinya dan berat untuk meninggalkan Tae Hyung sendirian. Tetapi, Nam Joon telah menemani Tae Hyung dan menganggap dirinya tak bersalah. Semuanya demi kebahagiaan Tae Hyung untuk menghapus segala peristiwa yang menimpanya beberapa tahun yang lalu.

Tidak lama kemudian, Nam Joon melihat beberapa polisi hendak menangkap mereka. Tidak memikirkan terlalu lama, Nam Joon segera berlari dan menghindari kejaran polisi yang mengejarnya. Sementara Tae Hyung berhasil dilumpuhkan polisi dengan memborgolkan tangannya ke belakang. Tae Hyung tertawa keras dan penuh kegilaan karena rencana untuk kedepannya lenyap ditelan bumi. Membiarkan langkahan kakinya memijak untuk segera masuk ke dalam mobil polisi. Menoleh sejenak ke belakang, Nam Joon sudah tak terlihat di matanya, Tae Hyung justru dipaksa polisi untuk fokus ke depan. Dalam hatinya, ia marah dan kecewa karena tertangkap polisi, meskipun dirinya rela menyerahkan diri.

Namaku Kim Tae Hyung. Aku adalah seorang lelaki bangsat yang telah menghancurkan kebahagiaan orang tuaku di surga. Iya, aku telah membunuh mereka, juga saudara kandungku.

***

Mengejar untuk menghindari polisi tidak mudah, kecuali jika ada suatu tempat persembunyian yang dapat menghalau polisi untuk berpencar. Namun, sewaktu-waktu mereka kembali tertangkap jika saja polisi masih ingat dengan wajah mereka yang berbau kriminal. Ada tipe orang yang dapat bebas kembali dari kejaran polisi dan salah satunya adalah berpura-pura bukan dirinya. Sayangnya, hal ini tak ampuh untuk bebas dari kejaran polisi. Mereka, bahkan, dilumpuhkan agar terlihat lemah di mata polisi dan berakhir di penjara.

Kasus seperti Tae Hyung sudah dianggap membahayakan jati dirinya dan mungkin akan dikenakan hukuman terberat. Saat dirinya tertegun di ruang interogasi, membayangkan bagaimana dan betapa sadisnya dirinya setelah membunuh ayahnya yang hendak memperkosa adik kandungnya. Tak lama setelah dirinya kabur untuk menghindari kejaran polisi dan bersembunyi di hutan, Tae Hyung justru membunuh ibunya saat sedang melakukan perampokan di bank dengan pistol. Meskipun berhasil membawa uang dengan hampir miliaran won, Tae Hyung ternyata sadar bahwa dirinya salah sasaran dan telah membunuh ibunya secara tak sengaja. Entah dia harus bagaimana untuk menghapus segala kesalahannya sekaligus ingatannya, lelaki berpakaian kaos polos hitam lengan pendek itu, dengan ditutupi dengan jaket bomber hijau, merasa sakit hati dan hampir terkena gangguan mental akibat kesalahannya dalam menembak. Dan tak lama setelah pemakaman ayah dan ibunya, Tae Hyung justru melakukan aksi kriminalnya dengan meracuni saudara kandungnya dengan memasukkan cairan obat nyamuk ke dalam gelasnya. Menghapus segala bukti yang membenarkan Tae Hyung adalah pelakunya dan segera mencari jati dirinya di Gangwon-do.

Disanalah ia bertemu dengan Nam Joon dan selalu menemaninya hingga Tae Hyung ditangkap polisi.

 “Siapa namamu?” tanya pak polisi yang bernama lengkap Cho Kyu Hyun.

“Kim Tae Hyung.” jawab Tae Hyung singkat dan dingin, disusuli dengan Polisi Cho yang mengetik nama lengkap Tae Hyung. Jemarinya cepat mengetik nama Tae Hyung di layar laptop.

“Berapa usiamu?” tanya Polisi Cho lagi.

“21 tahun.” Jawab Tae Hyung singkat, yang kembali disusul dengan jemari cepat Polisi Cho. Sementara Tae Hyung terus menunduk, menghindari kontak mata dengan Polisi Cho, terus merenungi kesalahannya yang sudah berlalu itu. Tetapi, menghisap bandar narkoba dan menyuntik obat terlarang masih terus terngiang dalam benaknya.

“Orang tuamu?” tanya Polisi Cho yang telah membuyar sejumlah renungan Tae Hyung. Lelaki itu tak menjawabnya, mengingat dirinya menjadi dalangnya. Membunuh orang tuanya dengan jumlah dosa yang besar. Pertanyaannya kembali terngiang dengan benaknya. Saat-saat ia membunuh ayahnya untuk melindungi adik kandungnya, kemudian membunuh ibunya karena salah sasaran. Pasti semua masyarakat tahu bahwa dirinyalah yang membunuhnya.

“Dimana orang tuamu?” Polisi Cho kembali bertanya dengan nada tegas.

“Aku tak punya mereka.” Jawab Tae Hyung sedikit kesal. Tak lama kemudian, Polisi Cho justru menggebrakkan mejanya dengan perasaan sedikit emosi.

“Kalau ditanya itu jangan diam saja seperti patung!” bentak polisi bertubuh gemuk itu, tetapi Tae Hyung tak menanggapinya. Persetan dengan bentakan Polisi Cho yang tak berguna itu. umpat Tae Hyung dalam hati.

Setelah dua jam mereka diinterogasi, akhirnya Tae Hyung diseret bersama seorang sipir untuk membawanya ke penjara. Tae Hyung akan dipenjara seumur hidup hingga masa tahanannya diperpendek. Semua kasus yang dilakukan Tae Hyung, telah dia ungkapkan dan mendapatkan hukuman yang lebih berat suatu saat nanti. Entah hukuman apa yang dilakukan mereka, Tae Hyung sudah siap untuk menjalaninya. Tak hanya hukuman, Tae Hyung tak diperbolehkan untuk kabur dari tempat penjara dengan alasan apapun, bahkan untuk bertemu dengan orang penting pun dilarang. Orang penting siapa? Tae Hyung tak punya siapa-siapa selain Nam Joon.

Di dalam penjara, Tae Hyung hanya menyendiri di tempat tidur yang keras. Kembali merenungkan kejadian yang sudah menjadi dalangnya, menangis karena menyesal atas perbuatannya. Tae Hyung mencintai ayahnya, namun ayahnya sangat kejam terhadap keluarga hingga tega memperkosa adik kandungnya. Tae Hyung mencintai ibunya, namun ibunya lebih mementingkan ekonomi dan uang daripada keluarga. Tae Hyung juga mencintai saudara kandungnya, tetapi mereka tak menganggap Tae Hyung ada di keluarga karena masalah sepele. Dan siapa lagi Tae Hyung cintai? Nam Joon mungkin saja menyayangi Tae Hyung karena masalah kelamnya yang kini menjadi teman seperjuangan.

Enam tahun kemudian, Tae Hyung kembali kedatangan narapidana yang menjadi teman satu penjaranya. Selama enam tahun, Tae Hyung menyendiri dan tak mau berbicara kepada teman-teman narapidana lainnya. Yang Tae Hyung lakukan hanya menghadiri bakti sosial, makan, mandi dan tidur. Namun, ingatan terus membekas dalam pikiran Tae Hyung dan dirinya merasa sakit hati sekaligus gangguan mental hingga merusak beberapa fasilitas yang ada di penjara. Dirinya merasa bersalah dan ingin sekali jika ada yang memeluknya. Sayangnya, orang yang dia cintai telah mati, kecuali Nam Joon. Andai Nam Joon ikut dijebloskan ke penjara, dialah yang selalu ada untuk Tae Hyung. Dan penyesalan selalu datang terakhir.

Kini, Tae Hyung tak sendirian semenjak hadirnya seorang narapidana baru. Identitas dari polisi adalah dia seorang lelaki berwajah manis, tetapi tiga tahun lebih tua dari Tae Hyung. Jika mereka amati, wajahnya mirip dengan Tae Hyung, hanya jika senyum lebarnya saja. Dia juga merupakan seorang perampok elit dan masuk ke dalam Daftar Pencarian Orang selama satu tahun. Dia akan ditahan selama 20 tahun penjara dan bisa jadi diperpendek jika berhasil membersihkan kasusnya. Dia bernama Byun Baek Hyun.

“Hei, anak bocah,” panggil Baek Hyun saat Tae Hyung terus menunduk, “Kalau dipanggil itu harus menyahut. Jangan diam saja seperti patung.” Ujarnya ketus. Tae Hyung perlahan mendongak, memandang wajah Baek Hyun yang sekilas mirip wajah monster.

“Siapa namamu?” tanya Baek Hyun yang kini duduk di tepi ranjang keras Tae Hyung.

“Kim Tae Hyung.” jawab Tae Hyung kembali singkat, seperti enam tahun yang lalu saat dirinya diinterogasi.

“Mengapa kamu sungguh jutek sekali?” Baek Hyun mendengus kesal seraya melipatkan tangannya di depan dada. Tae Hyung memandang tajam wajah manis Baek Hyun. Tak kalah manisnya dengan wajahnya. “Aku tak pernah menemukan orang yang lebih jutek sepertimu. Semua orang sangat berteman denganku karena aku ini seorang perampok elit dan berkelas.” Lanjutnya sedikit mendecak kesal.

“Aku akan membunuhmu jika kamu terus tampak mengejekku.” Ancam Tae Hyung setengah mengerikan.

“Lihatlah dirimu. Dimana letak kesopananmu terhadap orang yang lebih tua? Apakah dari kecil kamu tak diajari orang tuamu untuk bersikap sopan?” tanya Baek Hyun sedikit meninggikan intonasinya.

“Orang tuaku memang tak mengajariku cara bersikap sopan santun. Mereka semua setan. Itulah sebabnya aku membunuh mereka dengan tanganku sendiri.” Mendengar pernyataan yang keluar dari bibir tipis Tae Hyung, menuai perasaan terkejut dari wajah Baek Hyun, seolah-olah Tae Hyung benar-benar monster.

“Tunggu sebentar, tunggu sebentar. Mengapa kamu jadi…”

“Orang tuaku memang mengajariku cara membunuh orang lain! Mengapa?! Kamu sedang ingin mencari masalah untukku sehingga aku bisa membunuh orang lain lagi?!” Tae Hyung sudah mulai marah saat Baek Hyun belum sempat menyelesaikan perkataannya.

“Tunggu sebentar. Mengapa kamu malah marah-marah kepadaku?”

“Lalu apa salahnya kamu bertingkah sok dewasa seperti itu?!”

“Aku hanya mengingatkanmu saja mengapa kamu…”

“Tidak usah banyak omong!”

Tae Hyung langsung memukul wajah Baek Hyun hingga sudut bibirnya berdarah. Baek Hyun yang tidak tahu letak kesalahannya, langsung menghajar Tae Hyung hingga terjadi keributan antara mereka berdua. Tidak lama kemudian, dua orang sipir datang dan berlari menghampiri Tae Hyung dan Baek Hyun. Menghalangi dua orang narapidana untuk tidak saling menghajar satu sama lain. Tae Hyung sudah hampir kehilangan akalnya dan terus ingin memukul wajah Baek Hyun, tetapi tangannya dihalang seorang sipir berperawakan tinggi. Dan yang menyaksikan pertengkaran antara Tae Hyung dan Baek Hyun tidak hanya dua orang sipir, melainkan beberapa narapidana mencoba untuk keluar dari penjara dan kabur karena keributan yang terdengar hingga ke seluruh penjuru gedung tahanan. Sayangnya, percobaan untuk kabur selalu gagal karena pintu penjaranya dikunci beberapa orang sipir lain.

***

Di tengah malam, setelah keributan tersebut telah berakhir, Tae Hyung dan Baek Hyun saling duduk di pojok ruangan. Mereka tengah berdamai, bahkan tak lagi memicu keributan. Tetapi, Tae Hyung selalu memasang ekspresi yang menyeramkan dan tajam, sementara Baek Hyun mengusap kasar surai cokelatnya yang kusut karena frustasi. Entah topik apa yang akan mereka bicarakan, padahal ini baru pertama kalinya Tae Hyung satu penjara dengan Baek Hyun. Dan baru saja Baek Hyun berkenalan diri kepada Tae Hyung, tiba-tiba mereka telah memulai keributan. Jika tanpa salah seorang sipir di luar ruang penjara, mereka mungkin akan berakhir mati di penjara karena pukulan setiap kepalan.

Tae Hyung tahu dirinya menyesal karena dialah yang memicu keributan. Lagipula Baek Hyun baru pertama kali dipenjara, tetapi Tae Hyung sudah menjadi kambing hitam terlebih dahulu karena perkataan Baek Hyun, yang menurut Tae Hyung, menyakitkan.

“Namaku Kim Tae Hyung. Usiaku 21 tahun. Alasan aku dipenjarakan adalah karena membunuh ayahku, ibuku, saudara kandungku, menghisap narkoba, menjadi perampokan dan membuat keonaran di toko orang lain dengan membuat graviti di tengah malam. Ada lagi yang mau kamu tanyakan?” Tae Hyung, lagi-lagi, tak menggunakan kata hyung karena Baek Hyun lebih tua darinya. Tetapi, Baek Hyun memakluminya karena mereka masih belum akrab.

“Wah, ternyata kasusmu lebih parah dariku? Luar biasa,” Baek Hyun malah memberi respon takjub seraya ia bertepuk tangan pelan, sementara Tae Hyung hanya melirik tangan Baek Hyun yang bertepuk itu. “Kamu adalah anak muda yang menjadi ciri stigma paling tinggi. Biasanya, mereka yang berciri khas stigma tinggi adalah mereka yang selalu berbuat onar hingga menimbulkan kriminal. Masyarakat pasti membenci mereka yang berbuat kasus kriminal karena telah mengacaukan negara mereka sendiri, terutama seorang perampok…”

“Lantas, anda juga dipenjara karena kasus kriminal, kan?” Baek Hyun langsung tertegun, berpikir bahwa dirinya juga telah melakukan kasus yang serupa dengan Tae Hyung, tetapi kasus mereka sangat berbeda.

“Aku memang dilahirkan untuk menjadi perampokan hingga masuk ke dalam Daftar Pencarian Orang. Alasannya adalah…” Tae Hyung mulai tertarik dengan curahan hati Baek Hyun sebagai narapidana, “Ibuku sakit, sementara ayahku juga sakit keras. Mereka sama-sama sakit keras hingga tagihan rumah sakit mencapai dua puluh juta Won. Tetapi, aku justru mengakhiri hidup mereka dengan cara membunuh, dengan tanganku sendiri. Pisau yang sangat berkarat, aku telah membunuh mereka agar aku dapat menjual organ tubuh mereka. Tetapi, aku telah dikejar-kejar polisi karena berhasil membawa uang hasil jual organ tubuh mereka. Apakah aku sungguh kejam?” Baek Hyun menutup ceritanya dengan decakan kagum dari Tae Hyung, meskipun wajahnya tetap dingin dan menahan emosinya.

“Sekarang, apa yang harus kita lakukan? Kabur dari sel tahanan ini?” tanya Baek Hyun.

“Jika saya menjadi anda, mungkin saya dapat membunuh seisi ruangan ini.” jawab Tae Hyung cukup sadis melalui ucapannya.

“Kau terdengar cukup sadis. Alangkah lebih baiknya jika kita harus disini hingga polisi membebaskan kita.”

“Tidak, aku segera membunuh mereka karena telah menangkapku hingga dijebloskan ke penjara.”

“Hei, anak muda,” Baek Hyun menegaskan, “Apa gunanya jika kamu membunuh polisi? Apakah kamu akan mengulang kesalahanmu, seperti kamu membunuh orang tuamu dan saudara-saudaramu sendiri?”

“Itu bukan urusan anda.”

“Kita harus mencari jati diri kita disini, Kim Tae Hyung.”

Tae Hyung hampir meninggikan emosinya sebelum penjara ini kembali dibuat keributan setelah pertengkaran mereka. “Siapa yang akan menemani Nam Joon jika kamu terus dipenjara?”

Mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir tipis Baek Hyun, Tae Hyung mulai terdiam hingga nyawanya hampir terbang ke atas. Kepalan tangannya mulai melemah, tubuhnya mulai bergemetaran. Tae Hyung kembali teringat bagaimana Nam Joon telah menemaninya setelah melarikan diri dari kasus pembunuhan. Ekspresinya berubah menjadi sedih, terus merindukan Nam Joon yang kini bebas entah kemana dia pergi.

“Hyung… mengenali Nam Joon hyung?” tanya Tae Hyung dengan bibir ikut gemetaran.

“Dia sudah seperti adikku sendiri semenjak orang tuanya telah tiada. Dia juga sangat mengenali kamu sehingga dia selalu berbagi cerita kepadaku saat aku harus bersembunyi di rumahnya untuk sementara. Pada saat itu, statusku masuk ke dalam Daftar Pencarian Orang.” Baek Hyun menjawab sembari melanjutkan ceritanya, membuat tubuh Tae Hyung kian menegang. Mengetahui bagaimana Baek Hyun harus hidup sementara saat dirinya sedang dicari-cari polisi. Bersyukurlah lelaki itu masih hidup, meskipun berakhir di sel tahanan.

“Lupakan saja masa lalu kita. Aku tahu, kamu masih tak ingin teringat kembali masa lalumu. Itulah sebabnya aku mengajakmu untuk menemukan kehidupan baru. Tak peduli seberapa kasar narapidana lain saat harus berteman dengan mereka. Yang penting adalah bagaimana untuk membebaskan diri kita dari sini.” Baek Hyun pun mengeluarkan senyum kecilnya sebelum ia menghampiri ranjang untuk segera istirahat. Membiarkan segala masa lalunya memudar, meskipun semuanya tentang kriminal. Tetapi, Tae Hyung kembali membayangkan kesadisannya saat membunuh orang tuanya serta saudara kandungnya. Menggunakan pisau yang sudah berkarat, demi melindungi dirinya sendiri tanpa sentuhan senjata tajam. Tak tanggung-tanggung ia segera lari dari tempat insiden pembunuhan untuk menghindari kecurigaan polisi. Jika tidak, hukuman terberat telah melayang di atas udara dan nyawanya telah dihabisi karena masa hukuman berat itu.

Tae Hyung hanya ingin mencoba untuk membebaskan diri dari tempat sel tahanan yang penuh keji dan neraka. Meskipun Baek Hyun merupakan narapidana dengan kasus kriminal yang hampir sama dengannya, Tae Hyung ternyata enggan untuk menemukan jati dirinya disini. Sudah enam tahun semenjak ia ditahan di sel tahanan, tetapi narapidana lain menganggapnya ia adalah narapidana yang paling mengerikan. Dengan segala kasus yang dia lakukan, hal inilah yang membuat narapidana yang lain mencemoohnya, bahkan mencaci maki dengan segala perkataan kotor dan pedas. Tae Hyung pikir tempat ini akan menyembuhkan kejiwaannya sekaligus trauma yang dia alami selama enam tahun terakhir, namun ternyata menambah beban yang dia tanggung dan membuatnya stres berkepanjangan. Mengabaikan segala caci maki dari narapidana lain saja tak mampu membuatnya tenang, mengingat dialah yang memiliki kasus kriminal terbesar di Korea.

“Aku tak mengharapkan diriku untuk bebas dari tempat ini,” gumam Tae Hyung setengah menunduk, “Tetapi aku mengharapkan diriku dapat mati dengan tenang disini.” Lanjutnya sebelum pada akhirnya ia tertidur di pojokan sel tahanan.

***

Keesokan harinya, Tae Hyung dan Baek Hyun melangkah menuju restoran narapidana untuk sarapan. Bertemu kembali dengan narapidana lainnya yang terus berbisik, tampak kembali mencemoohkan Tae Hyung hingga melemparkan tatapan ke arahnya penuh kebencian. Baek Hyun tahu situasi selama Tae Hyung di penjara selama enam tahun. Adapula beberapa narapidana memandang Baek Hyun penuh ketegangan, mengingat Baek Hyun memiliki tatapan mata yang cukup tajam. Mereka berbisik-bisik, bukan untuk mencemooh Tae Hyung, melainkan mereka merasa bingung dengan penampilan Baek Hyun yang tampan, tetapi memiliki wajah yang cantik. Entah bagaimana mereka menemukan seorang narapidana yang tampan dan cantik. Bagi mereka, narapidana untuk ukuran seperti Baek Hyun sangat jarang, bahkan sangat banyak narapidana untuk ukuran lelaki bertubuh gemuk dan lebam, serta berkulit putih langsat.

“Abaikan saja mereka yang mencemoohkanmu.” Tae Hyung dapat mendengar bisikan Baek Hyun sesaat mereka melirik beberapa narapidana yang mencemooh Tae Hyung.

“Mereka tengah mencemoohku.”

“Mencemooh orang lain adalah hukuman yang paling berat di mata tuhan daripada dihukum pancung. Jadi, teruskanlah kamu melangkah dan ambil saja sarapan yang ada disana.”

Hyung,”

“Kenapa? Apakah kamu takut untuk berjalan sendirian disana?”

Tae Hyung dilanda ketakutan karena wajah narapidana sangat menyeramkan di matanya, “Aku benar-benar takut terhadap mereka.” Balasnya sedikit merinding dan tegang.

“Apakah kamu adalah seorang lelaki yang masih bocah? Lebih baik kamu pergi kesana sendirian.” Baek Hyun hanya ingin memastikan seberapa berani Tae Hyung untuk terus berjalan melawan cemoohan dan caci maki narapidana. Ini tidak mudah untuk terus kedepan, mengingat Tae Hyung dikenal lelaki paling pengecut.

Dengan terpaksa Tae Hyung melangkah sendirian, menghampiri tempat makan prasmanan yang hanya dihidangkan beberapa aneka lauk sederhana dan ala kadarnya. Saat Tae Hyung hendak meraih satu mangkuk nasi, kemudian mengambil satu biji telur dadar, tiba-tiba seorang narapidana berseragam nomor 4.900 itu memanggil dan menyahut nama Tae Hyung. Mereka, bahkan, mengeluarkan senyum sinisnya saat lelaki bertubuh pendek itu menghampiri Tae Hyung. Memerhatikan wajah Tae Hyung dengan saksama, kemudian beralih ke wajah Baek Hyun dari jauh, tepatnya di belakang Tae Hyung.

“Beruntung sekali anda memiliki teman baru yang sangat dekat dengan narapidana berseragam nomor 5.500 itu. Apakah dia teman dekatmu?” tanya narapidana bersurai mohak itu, penuh sinis. Tae Hyung hanya terdiam, mengabaikan pertanyaan yang keluar dari bibir tebal narapidana itu. Sementara Baek Hyun hanya mendecak kesal, mengingat Tae Hyung sebentar lagi akan di-bully narapidana yang lain.

“Hei. Saya hanya ingin bertanya kepadamu, satu buah pertanyaan saja. Dan anda wajib menjawab dengan jujur,” narapidana berseragam nomor 4.900 itu berpikir sejenak satu buah pertanyaan yang Tae Hyung jawab, “Aku melihat seorang narapidana berseragam nomor 5.000, sejak satu minggu yang lalu, dibunuh oleh seorang narapidana termuda di sel tahanan ini. Apakah anda yang membunuhnya?”

Tae Hyung mematung saat dirinya hendak mengambil sayur bayam di dekatnya. Suasana menjadi tegang saat pertanyaan itu menjurus ke arahnya, terutama pada kasus pembunuhan antar narapidana. Iya, satu minggu yang lalu, seorang narapidana berseragam nomor 5.000 dibunuh oleh seorang narapidana lain. Berita itu menyebar cepat hingga sampai ke telinga beberapa polisi dan sipir dan akan ditindaklanjuti tentang kasus pembunuhan itu. Entah apa motif dibalik pembunuhan itu.

Mengapa Tae Hyung yang ditanya tentang kasus pembunuhan itu? Baek Hyun menyipitkan sedikit matanya, mencoba memahami apa yang dibicarakan seorang narapidana berseragam nomor 4.900 itu. Sementara Tae Hyung segera menaruh pelan piring makan yang terbuat dari keramik itu, kemudian mencoba menjawab pertanyaan dari sang narapidana bersurai mohak itu. Tetapi, ekspresi Tae Hyung menunjukkan bahwa ia bukanlah pelaku pembunuhan narapidana berseragam nomor 5.000 itu.

“Saya tidak membunuhnya,” jawab Tae Hyung tegas, tetapi dalam waktu sekejap narapidana berseragam nomor 4.900 itu tertawa keras. Memecahkan suasana ruang makan yang menimbulkan tanda tanya dari kepala narapidana lainnya, terutama Baek Hyun. Tawa kerasnya dan renyahnya sungguh mengerikan bagi Tae Hyung, tetapi lelaki itu bukanlah pria pengecut, seperti yang dikatakan Baek Hyun.

Tak lama kemudian, narapidana berseragam nomor 4.900 itu berhenti tertawa. Memasang kembali ekspresi wajahnya yang sinis dan penuh ketegangan.

“Kau bohong.” Ucap narapidana bertubuh pendek itu, menghebohkan seisi ruang makan narapidana dengan kalimat yang keluar dari bibir narapidana yang berhadapan dengan Tae Hyung itu, terutama Baek Hyun.

“Saya serius,”

“Tak usah berbohong kepada saya!” narapidana berseragam nomor 4.900 itu telah membuat kekacauan dengan menendang kuat tubuh Tae Hyung hingga terjatuh ke lantai.

“Mengaku sajalah jika anda yang membunuh narapidana bernomor 5.000 itu! Mengaku saja!” lelaki bertubuh gemuk itu hendak menendang kembali tubuh Tae Hyung hingga beberapa teman-temannya juga turut membantu. Tetapi, belum siap mereka hendak menendang Tae Hyung, tiba-tiba saja Baek Hyun berteriak untuk berhenti. Sesaat suasana kembali tenang hingga Tae Hyung meringis kesakitan. Dalam hatinya, ia menangis dan air mata ikut mengalir.

“Kenapa kalian malah menuduh anak muda itu? Jelas-jelas bukan dia pelakunya!”

“Hei, anak baru! Tidak usah banyak bicara!”

“Justru kalian yang diam sambil menemukan bukti yang akurat jika memang dia pelakunya!”

“Oh iya? Anda siapa? Teman dekatnya anak ini?!”

“Bukan,” Baek Hyun diam-diam mengeluarkan sesuatu dari saku celana oranye itu, “Aku adalah malaikat pencabut nyawa kalian semua!”

Baek Hyun langsung saja menghabisi beberapa narapidana itu hingga mereka semua terkapar di lantai keramik. Sementara Tae Hyung merasa terkejut dan terpana, dengan apa yang dilakukan Baek Hyun selama dia menyerang beberapa narapidana. Lantai keramik itu mengeluarkan banyak sekali darah dari beberapa tubuh narapidana itu, termasuk lelaki berseragam nomor 4.900 itu. Tae Hyung hendak memundurkan tubuhnya tepat saat seorang narapidana berseragam nomor 3.928 itu langsung tergolek ke lantai keramik, dengan banyak mengeluarkan darah dari perutnya. Tubuhnya bergemetaran hebat saat menyaksikan Baek Hyun masih menyerang beberapa narapidana hingga penghabisan titik darah mereka.

Ternyata, Baek Hyun telah membunuh hampir seisi narapidana dengan dua pisau di tangannya. Hal itulah yang menyebabkan beberapa narapidana yang masih hidup terkejut dan syok, terutama Tae Hyung. Entah bagaimana Baek Hyun menghabisi beberapa narapidana yang hendak menyiksa Tae Hyung. Tae Hyung, bahkan, memerhatikan dua pisau di tangan Baek Hyun mulai terjatuh ke lantai keramik, menyisakan banyak darah menempel di ujung pisau.

Dalam benak Tae Hyung, Baek Hyun mungkin yang membunuh narapidana berseragam nomor 5.000 sejak seminggu yang lalu, tepat sebelum Baek Hyun ditangkap dan dijebloskan ke penjara.

“Hyu… hyung…”

Belum selesai Tae Hyung berbicara kepada Baek Hyun, tiba-tiba datanglah beberapa polisi menuju ruang makan. Mereka sangat terkejut saat memandang seisi ruang makan yang berubah menjadi ruang horor. Baek Hyun tampak tertegun, dengan memerhatikan beberapa polisi dari jauh.

“Apa… apa yang…”

“Maafkan saya, pak,” Baek Hyun mulai menyadari bahwa Tae Hyung tampak memohon kepada beberapa polisi, “Saya yang membunuh mereka semua, terutama… lelaki berseragam nomor 5.000 itu.” ungkapnya dengan menyalahkan dirinya.

“Kim Tae Hyung…”

“Saya yang membunuh mereka semua karena mereka telah menyiksaku hingga menimbulkan keributan di ruang makan ini.”

“Kim Tae Hyung…”

“Baek Hyun hyung telah menjadi saksi mata disini. Tak hanya dia…”

“Kim Tae Hyung! Berhentilah kamu berbicara omong kosong!”

“Aku memang membunuhnya, hyung!”

“Apa yang kamu bicarakan?! Apakah kamu sedang mabuk?!”

“Berhentilah kalian berdebat!” Suasana yang awalnya kembali riuh akibat perdebatan, kini menjadi tenang saat ketua polisi berteriak marah. Tae Hyung dan Baek Hyun mulai tertegun dengan menahan napas mereka. Tak hanya itu, Tae Hyung kembali memerhatikan beberapa narapidana yang tewas terbunuh.

“Kalian berdua silakan ikut kami di ruang interogasi!” perintah ketua polisi bertubuh gendut itu tegas.

***

Lagi-lagi Tae Hyung duduk tertegun di ruang interogasi, bersamaan dengan Baek Hyun. Dengan ruang interogasi yang gelap dan mendapat sedikit pencahayaan, mereka memerhatikan seorang polisi yang tengah membolak-balik kertas dengan ekspresi serius. Baek Hyun merasa kesal sekaligus marah kepada Tae Hyung karena menyalahkan dirinya atas kasus pembunuhan sejak tadi. Lihatlah apa yang telah Baek Hyun perbuat terhadap beberapa narapidana yang tewas itu. Tae Hyung telah menyaksikannya, begitu juga dengan beberapa narapidana yang masih hidup. Baek Hyunlah yang seharusnya dalang dibalik semuanya, bukan Tae Hyung.

“Apa yang telah kamu lakukan selama enam tahun terakhir, Kim Tae Hyung?” tanya seorang polisi bertubuh kurus itu.

“Aku hanya berdiam diri di penjara. Tidak mau makan, ikut bakti sosial, atau kegiatan lainnya yang wajib dilakukan narapidana.” Jawab Tae Hyung sedikit dingin.

“Lalu kamu,” sorotan mata polisi itu beralih menuju Baek Hyun yang memiliki penampilan yang paling buruk daripada Tae Hyung, “Apakah kamu yang membunuh beberapa narapidana itu?” tanyanya.

“Benar, saya yang membunuhnya, Pak.” Jawab Baek Hyun tegas dan jujur, tetapi Tae Hyung hendak menyanggah perkataan Baek Hyun.

“Itu tidak benar, Pak. Saya yang membunuhnya, Pak, bukan dia.”

“Berhentilah kamu omong kosong, Kim Tae Hyung!” bentak polisi berperawakan tinggi itu dengan wajah sangar, membuat Tae Hyung akhirnya bungkam.

“Mengapa kamu membunuhnya, Byun Baek Hyun?” tanya polisi itu lagi kepada Baek Hyun.

“Karena saya melindungi Kim Tae Hyung ini. Dia sedang tersiksa dengan narapidana berseragam nomor 4.900 itu sejak tadi.” Jawab Baek Hyun yang lagi-lagi hendak disanggah Tae Hyung. Untungnya Baek Hyun langsung menyorot ke wajah Tae Hyung dengan tatapan tajam.

“Apakah mungkin…” polisi itu sejenak berpikir, “Anda telah membunuh narapidana berseragam nomor 5.000 itu seminggu yang lalu dan sebelum anda dijebloskan ke penjara?” tanyanya. Baek Hyun mulai tertegun dengan pertanyaan itu.

“Kalau narapidana berseragam nomor 5.000 itu, bukan saya pelakunya.” Jawab Baek Hyun dengan meyakinkan polisi itu penuh percaya diri.

“Jadi, Kim Tae Hyung, andalah yang membunuh narapidana berseragam nomor 5.000 itu?” polisi bermarga Han itu melemparkan pertanyaannya ke Tae Hyung, sementara Tae Hyung mulai terdiam dengan pertanyaan itu. Entah apakah dia memang pelakunya atau bukan.

“Jika saya menjawab pertanyaan anda dengan jujur, apakah anda akan meringankan hukuman saya?” Tae Hyung malah kembali bertanya.

“Itu akan menjadi pertimbangan ketua. Untuk hukuman, hakimlah yang memutuskan hukuman untuk kalian berdua.” jawab polisi bermarga Han itu.

“Kalau begitu, memang benar bahwa saya yang membunuh narapidana berseragam nomor 5.000 itu.” jawab Tae Hyung secara terbuka, menimbulkan rasa terkejut dari ekspresi Baek Hyun.

“Lalu? Pernyataan yang anda katakan sejak kita berada di ruang makan itu? Apakah kamu memang…”

“Hyung mungkin merasa yakin dengan kejujuranku. Anda boleh saja menuduhku bahwa akulah yang membunuh narapidana berseragam nomor 5.000 itu. Memang pada kenyataannya bahwa aku yang membunuhnya.” Tae Hyung mulai membuka topengnya dengan ekspresi yang cukup mengerikan.

“Apa alasan anda membunuh narapidana itu?” tanya polisi itu kembali.

“Tak ada alasan saya membunuh dia.” Jawab Tae Hyung sedikit menghela napas panjang. Merasa tak peduli dengan keputusan sang pengadilan suatu saat nanti, Tae Hyung meyakinkan dalam hati bahwa hukuman mati mungkin sangat cocok untuk ukuran kasus terbanyak seperti Tae Hyung.

“Saya akan bertanya satu pertanyaan lagi kepada kalian,” ujar polisi sedikit memerhatikan wajah Tae Hyung dan Baek Hyun yang telah kotor karena perbuatan dan kasus mereka, “Apakah kalian siap dihukum mati secara langsung dan tanpa memberikan kabar kepada media?” tanyanya yang sedikit mengejutkan Baek Hyun dan Tae Hyung. Menunggu menit yang menjawab waktu mereka. Baik Tae Hyung dan Baek Hyun, wajah mereka menunjukkan bahwa mereka siap untuk dijatuhi hukuman mati tanpa embel-embel dipanggil perwakilan dari keluarga. Itu sudah menjadi hukuman yang setimpal untuk mereka yang telah melakukan kasus.

“Kami bersedia dijatuhi hukuman mati.” Ungkap mereka tanpa memikirkan pertimbangan antara nyawa dan mati. Tae Hyung mungkin akan menangis karena tak bisa melihat Nam Joon, begitu juga dengan Baek Hyun yang harus menemukan jati diri bersama Tae Hyung.

“Baiklah. Setelah ini, kalian ikut saya ke halaman belakang gedung sel tahanan. Silakan kalian menikmati hukuman mati dari kami.” Tutup polisi bertubuh kurus itu, yang tak lama kemudian langsung melangkah keluar dari ruang interogasi. Hanya tersisa Tae Hyung dan Baek Hyun yang masih enggan bergerak keluar dari ruang interogasi.

“Mengapa kamu membunuh narapidana berseragam nomor 5.000 itu?” tanya Baek Hyun sedikit ada rasa penyesalan dalam hidup.

“Karena aku ingin mati dengan segera mungkin,” Jawab Tae Hyung dengan mengeluarkan senyum penuh penyesalan, “Dosaku telah terkumpul sangat banyak di tangan tuhan. Dan aku tak bisa melarikan diri dari perbuatan stigma. Aku memang sangat berdosa di mata tuhan. Itulah sebabnya aku segera mati di kemudian hari.” lanjutnya yang pada akhirnya menitikkan air matanya. Baek Hyun mulai terdiam dengan pernyataan yang keluar dari bibir tebal Tae Hyung itu.

“Kalau begitu, aku pergi menyusulmu,” ujar Baek Hyun yang menimbulkan tanda tanya dari kepala Tae Hyung, “Aku tak ingin hidup di dunia. Aku ingin mati bersama orang lain yang juga ingin mati dihukum dengan kasar.” Lanjutnya dengan senyum pahitnya.

Dan beberapa jam kemudian, mereka diikat gantung dihadapan banyak prajurit dan polisi. Dua orang polisi lainnya tengah bersiap untuk menembak Tae Hyung dan Baek Hyun, tepat dihadapan mereka. Mata Tae Hyung dan Baek Hyun ditutup kain. Napas mereka terengah-engah saat mengetahui jarak antara mereka dengan pistol sangat dekat. Dua polisi bertubuh gemuk itu menarik pelatuk pistol, siap menembak Tae Hyung dan Baek Hyun.

Selamat tinggal, Kim Nam Joon hyung. Aku pamit. Batin Tae Hyung yang kini tewas ditembak dalam posisi menggantung, begitu juga dengan Baek Hyun. Nyawa mereka kini terbang ke atas, menuju surga. Bukan surga, lebih tepatnya, melainkan mungkin neraka bagi orang-orang yang memiliki dosa yang paling setimpal. Kebaikan mereka telah terhapus dengan keburukan. Membiarkan mereka akan disiksa dengan setimpal pula tanpa ampun.

END

Advertisements

One thought on “[BTS #WINGS] Episode 3 : Stigma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s