10 Day Blog Challenge : One Confession

5c93141a6e43fda328a6070eb860725b

Selamat malam, semuanyaaa!!!

 

Satu utang dari Mbak Yen untuk menuntaskan tantangan yang paling berat ini *apaan*. Rencananya kan mau memposting ini sejak siang hari, tetapi ternyata kesempatan ini diganti dengan menonton Hwarang *curhat*. Setelah nonton Hwarang, seharusnya mau buat postingan ini, eh malam koneksi WiFinya lemot banget, gak tau kenapa. Jadinya, aku tinggal tidur siang deh.

Nah, malam ini aku akan menyelesaikan challenge ini. Topiknya adalah satu pengakuan. Waduh, Mbak Yen, ini sebenarnya paling berat bagiku daripada tantangan yang lainnya. Aku mau mengakui ini ke siapa pun aku malu-malu kucing nih, mbak *yihiy*. Mukaku langsung merah gini gara-gara membuat tantangan ini.

Oke, langsung saja aku mulai tantangan ini. Ini untuk seseorang yang aku sukai sejak masuk SMA, padahal aku dan dia satu SMP. Aku gak akan sebutin siapa namanya, yang pasti dia itu laki.

Untuk seseorang yang sampai sekarang aku rindukan.

 

Bagaimana kabarmu disana? Sehat, kan? Aku berharap kamu dalam kondisi sehat jasmani maupun rohani. Aku sudah masih menyukaimu semenjak kita bareng-bareng masuk SMA, walaupun sejak SMP kita masih terasa canggung.

Kamu tahu, tidak, semenjak SMP kamu yang selalu memerhatikan aku saat aku harus menunggu abi asrama untuk memberikan kunci asrama karena itu sudah menjadi kewajiban aku? Kamu suka bertanya kepadaku, untuk apa aku harus menunggu abi asrama hanya untuk memberikan kunci asrama? Aku pikir semua anak laki-laki pulang bersama abi asrama. Jadi, aku harus menunggu mau tak mau sampai jam mandiku sedikit lewat. Aku masih ingat, loh, kamu terkadang suka bertanya seperti itu kepadaku. Yaa agak encer saja sih suasananya, berkat kamu.

Waktu SMA, aku kaget loh karena tiba-tiba saja kita kembali satu SMA. Bagaimana dengan sekolah luarmu sampai kamu tiba-tiba ada di depan mataku selama tiga tahun? Aku gak pernah bertanya seperti ini karena malu dengan diriku. Iya, khawatir kalau aku mengacaukan perasaanmu setelah salah satu adik kelas kita, ternyata punya pacar. Saat itu, kamu cemburu berat sama dia sampai kamu menganggap mereka itu musuh. Tetapi, di sisi lain, aku emang cemburu sampai aku pura-pura menyembunyikan perasaan cemburuku ini. Tetapi, aku benci jika kamu menganggap mereka itu musuhmu. Kalau itu hidup mereka, biarkan mereka hidup bahagia, walaupun sekarang sudah putus. Ngapain kamu mengungkit mereka lagi? Bukannya aku cemburu loh, tetapi bermusuhan itu gak baik dalam Islam.

Semenjak kamu kini punya pacar, sejak kelas 10, disitulah letak aku cemburu. Terkadang, aku menganggap pacarmu itu sebagai rival aku karena dia memang cantik dimatamu, bahkan sempurna. Wajahnya emang cantik karena badannya mungil. Itulah mengapa kamu terlanjur terpikat kecantikannya hingga kamu dan dia berpacaran. Aku selalu saja curhat seperti ini ke temanku karena aku butuh saran, bukan butuh teman untuk menyakitinya. Ada satu momen yang ingin sekali aku hapusi banget. Aku gak butuh lagi apa itu momennya, tetapi aku harap ini menjadi sejarah yang membekas dalam pikiranku.

Waktu aku dengar kamu diputusin sama pacarmu, mungkin aku masih ada kesempatan kedua untuk memikat hatimu. Sayangnya, semuanya mungkin masih bergantung padaku. Melihatmu dari jauh saja sudah senang, tetapi hatiku masih saja sakit setiap kamu terkadang cuek sama lingkungan. Kamu, yang sekarang, selalu mementingkan game daripada cita-citamu menjadi dokter. Kok aneh ya bagiku? Terkadang saja aku curhat pada diriku sendiri, bahkan hingga teman-temanku menggodaku karena aku terlalu menyukaimu sampai pada akhirnya aku jatuh cinta. Iya, cinta buta. Aku gak tau perasaanmu setelah tahu aku menyukaimu. Mungkin, kamu masih menginginkan mantanmu, tetapi setidaknya MOVE ON dan anggaplah dia itu temanmu yang telah membantumu, menemanimu, atau curhat padamu. Kamu yang masih mengejar-ngejar dia sampai mau masuk ke asrama perempuan, padahal peraturan disana adalah laki-laki dilarang masuk ke dalam asrama perempuan, apapun alasannya. Kalau kamu mau izin ingin bertemu dengan dia, itu mana boleh! Abi asramamu pasti marahlah padamu!

Oke, ini berlebihan banget cara aku mengejarmu. Tetapi, aku sudah melupakan hal ini sejenak semenjak kita duduk di kelas 12, yakni masa dimana kita berjuang mati-matian menghadapi UN dan masuk ke universitas impian. Aku gak mau mengganggu kehidupanmu lagi, meskipun pada kenyataannya aku masih menyukaimu. Jujur, agak menyakitkan sih. Ya sakitnya itu di hatiku sendiri karena aku terlalu pengecut untuk mengutarakan perasaanmu sekali lagi biar dia peka. Sayangnya, kamu emang gak terlalu peka dan terus membuatku menunggu kapan, kapan, dan kapan. Bahkan, kamu yang lebih dahulu meninggalkanku, demi UN dan juga meninggalkan asrama, tepat empat hari sebelum UN. Aku sendirian di asrama, setidaknya ajari aku Matematika karena aku emang benci pelajaran itu *apaan ini*. Selama UN pun aku selalu ditemani umi asrama. Kalau itu aku masih bersyukur banget karena mereka itu perempuan dan cukup akrab denganku. Kalau ada kamu, mungkin aku gak bisa fokus dan nilai UN aku bakal anjlok.

Momen sedih itu aku sudah berjanji kepada teman-temanku bahwa aku bakalan datang wisuda bulan Mei. Tetapi, janji aku sudah sirna dan melebur karena aku gak bisa meninggalkan kewajibanku untuk terus bimbel di Yogyakarta. Setelah UN itu aku pindah ke Yogyakarta dan sedihnya itu aku gak bisa melihat kamu dari jauh. Lebih sedih lagi kalau kamu datang wisuda, sementara aku gak bisa datang. Alasan aku ingin datang wisuda itu karena ingin banget foto berdua sama kamu dan menjadikan foto itu sebagai kenangan termanis. Bukan semanis teh, melainkan ada sedikit sentuhan bahagia di dalamnya.

Sekarang? Kamu mungkin hidup bahagia banget di Bandung, sementara aku di Yogyakarta. Aku masih belum bisa berkomunikasi lagi denganmu karena emang dari dulu aku jarang komunikasi denganmu. Aku harap sih kamu lebih sukses dengan kehidupan baru disana. Aku juga disini sehat-sehat kok, walaupun kadang aku jatuh sakit. Aku juga sudah merasa hidup bahagia disini. Iya, tanpamu. Aku sudah bisa move on, walaupun gak terlalu banget.

Maafkan aku yang dulu seorang siswi yang pemalu. Mungkin kita malah kembali menjadi lebih canggung saat SMP. Semoga kamu sukses untuk menjadi dokter.

Terima kasih.

 

Yey! Jangan dibaca ya, guys, isi pengakuan aku *apaan*. Intinya itu aku sudah bisa move on, walaupun gak terlalu move on banget. Di Jogja itu masih saja ada hal yang membuatku baper hingga nyaris gagal move on. Yang penting itu aku sudah menyelesaikan challenge ini.

Terima kasih sudah membaca postingan terakhir ini. Terima kasih juga untuk Mbak Yen yang telah memberi kita challenge. Semoga Mbak Yen sukses!

Salam kecup hangat dari Jin :*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s