[BTS #WINGS] Episode 2 : Lie

lie

 

deergalaxy0620 || Romance, School-Life, Thriller || Park Ji Min, Ahn Jin Roo ( OC ) || PG-15 || Oneshoot || Ji Min mengulang kembali waktu ia bertemu dengan Jin Roo sebelum pada akhirnya dijebloskan ke rumah sakit jiwa.

Park Ji Min membuka pelan matanya saat sinar matahari menembus kamar serba putih. Memandang langit-langit atap putih dengan membayangkan sesuatu dari mimpinya. Sebuah mimpi yang telah membangunkannya, menjadi sebuah siluet yang misterius. Di dalam mimpinya itulah yang membuat sikap Ji Min, yang awalnya selalu memancarkan senyum indahnya dan semangat, berubah menjadi lelaki yang dingin dan pembangkang. Senyum indahnya yang sekarang tak pernah ditunjukkan dari seulas bibir tipis, menunjukkan sikapnya yang berhati gelap dan selalu tak acuh dengan saran orang lain. Hal ini sudah lama terjadi karena sebuah peristiwa yang menyayat hati dan berakhir di sebuah kandang putih.

Salah seorang suster tengah melangkah masuk ke kamar pasien untuk mengecek kondisi mental Ji Min. Hanya Ji Min dan suster berperawakan pendek yang berada di dalam kamar, memastikan jika tak terjadi suatu keributan yang menjadi masalah besar. Konflik mental yang selalu mengganggu kehidupan Ji Min, mengganggu seluruh pasien yang memiliki kelainan yang sama dengannya. Pada saat itu, Ji Min tengah duduk melamun di lorong rumah sakit. Memandang seorang gadis yang tengah bermain boneka dengan perasaan riang yang berlebihan, sementara pasien yang lain hanya melakukan aksi gilanya. Ji Min merasa terganggu dengan merebut boneka dari tangan pasien, kemudian memarahinya hingga mendorong pasien itu sampai terjatuh ke lantai. Melihat hal itu, beberapa pasien yang lain tengah menahan Ji Min untuk tidak mengeroyok, tetapi Ji Min malah memukul beberapa pasien hingga brutal. Tak lama kemudian, seorang dokter menyeret Ji Min menuju ruang isolasi dan mengurung lelaki bersurai silver itu selama satu tahun.

Ingatan tersebut kembali membuat Ji Min mulai menitikkan air matanya. Memandang susternya yang duduk di sampingnya, padahal wanita itu harus kembali mengerjakan beberapa pasien lain. Duduk dengan memerhatikan wajah Ji Min yang hatinya terluka akibat ingatan lama yang membuat mentalnya berubah menjadi monster. Makhluk yang ditakuti beberapa pasien, termasuk dokter dan suster.

“Apakah kamu merasa terluka hari ini?” tanya seorang suster lembut, menyentuh hati Ji Min yang terus terluka. Sayangnya lelaki itu enggan untuk menjawab, memilih menangis daripada bercerita.

“Apakah ini karena kekasihmu?” Ji Min sedikit terkejut dalam hati bahwa suster mengetahui dia memiliki kekasih. Lelaki itu segera mengusap kasar air matanya.

“Apakah aku berhalusinasi?” bibir tipis Ji Min terbuka pelan, mengeluarkan suara paraunya. Pandangannya teralihkan kepada sebuah figura yang menampilkan seorang kekasihnya yang memiliki paras cantik. “Mengapa dia selalu datang, lalu pergi? Dia terlihat di mataku, tetapi orang lain tak bisa melihatnya.” Ujarnya dengan bibir tipis bergemetaran, menunduk pelan untuk menyembunyikan air matanya.

“Apakah kalian saling bertemu satu sama lain?”

“Aku memang bertemu dengannya sudah lama sejak aku masih di sekolah. Dia adalah kekasihku dan kami selalu berkencan di rumah karena dia anaknya tertutup. Tetapi, saat aku mengajaknya keluar untuk berkencan di pasar malam, aku tak dapat melihatnya sekarang. Dan saat aku kembali ke rumah untuk istirahat, dia kembali muncul,” Ji Min sedikit bercerita bagaimana mentalnya terganggu karena masa lalunya yang penuh kesedihan, bahkan untuk tinggal di rumah sakit jiwa untuk rehabilitasi saja sulit.

“Setelah itu, apa yang terjadi dengan kalian?”

“Aku memarahinya hingga menimbulkan keributan yang besar. Kami beradu mulut dengan mempertahankan keegoisan yang mendarah daging. Namun, yang terjadi setelah kami adu mulut adalah dia…” Ji Min tak bisa melanjutkan perkataannya karena sebuah ingatan kembali terngiang dalam pikirannya, memutar kembali waktu saat-saat ia kembali berkencan dengan kekasihnya. Ingatan tersebut terus berjalan untuk membuat Ji Min ingat sebelum ingatan tersebut terhapus oleh angin.

Flashback :

Setelah terjadi pertengkaran adu mulut, dengan mempertahankan ego sepasang kekasih masing-masing, Ji Min menunduk dan turut menyesal. Menghindari kontak mata dengan kekasihnya yang juga menyesal atas perbuatan egonya yang kini mengalahkan Ji Min. Mereka sama-sama saling diam dan bungkam, bibir mereka bahkan tak mampu untuk mengungkapkan kebencian satu sama lain. Yang ada hanyalah penyesalan yang datang terakhir. Entah bagaimana adu mulut itu terjadi, hal ini dipicu karena Ji Min tak bisa melihat kekasihnya saat pasar malam, padahal kekasihnya ingin sekali menaiki beberapa wahana di pasar malam. Yang lebih miris adalah Ji Min dilanda ketakutan terhadap hantu yang tiba-tiba muncul di depan matanya saat perjalanan menuju pulang, padahal dia adalah lelaki yang tangguh dengan lengan kekarnya. Sikapnya justru seperti wanita yang selalu ketakutan, pengecut untuk Ji Min.

Ahn Jin Ro, kekasih Ji Min, mulai melangkah menghampiri Ji Min, kemudian memeluknya erat dan penuh penyesalan. Dalam pelukan, Jin Roo menangis dan tak ingin adu mulut tersebut kembali menyulut di antaranya. Memohon dalam hati agar semuanya menjadi tenang tanpa terjadi pertengkaran. Memohon juga agar Ji Min dapat tenang saat ia berangkat ke sekolah untuk menuntut ilmu menjadi seorang idol. Meskipun cita-cita tersebut sangat besar, namun tak menutup kemungkinan cita-cita tersebut tak tercapai. Dan Ji Min tak ingin menjadi seorang idol, melainkan menjadi dokter.

Disela-sela suasana yang menegangkan, berubah haluan menjadi sedih, Ji Min dapat merasakan kemejanya basah akibat tetesan air mata Jin Roo, tepatnya di dadanya. Gadis yang memeluknya itu menangis, menimbulkan perasaan yang memilukan dari lubuk hatinya. Ji Min, pada akhirnya, merasakan hal yang sama dengan Jin Roo. Ikut menitikkan air matanya saat tahu gadis itu menangis, padahal berjanji untuk tidak menangis dalam kondisi apapun.

“Tolong jangan membuatku takut dengan kemarahanmu, Ji Min-ah,” pinta Jin Roo penuh memohon, “Aku juga meminta padamu untuk tidak menyeretku keluar. Aku takut dengan dunia sosial yang penuh gosip.” Ujarnya yang dibalas dengan anggukan Ji Min. Sayangnya lelaki itu kembali enggan untuk mengeluarkan satu kata apapun untuk Jin Roo. Hanya melepaskan pelukannya, kemudian melangkah menuju kamar tidur untuk membersihkan segala kekacauan yang penuh kotor.

Jin Roo, kemudian, menangis terduduk. Menangis dengan tangisan cukup mengerikan, seperti seorang wanita menangis saat berubah menjadi Kuntilanak. Wajahnya tertutup surai hitamnya yang panjangnya sepinggang, membiarkan tangisannya dilihat makhluk gaib karena dirinya selalu menghantui Ji Min untuk mengajaknya berkencan. Ini semua demi kebahagiaan Jin Roo untuk membuat Ji Min senang dan dapat hidup sebagai manusia selamanya. Sayangnya, semuanya melebur menjadi debu jika saja bukan karena Jin Roo menghindari kontak sosial dengan para pengunjung pasar malam.

***

Sebuah ingatan gelap kembali membangunkan Ji Min tengah malam. Napasnya tak beraturan dengan keringat bercucuran di dahinya yang ketutupan poni. Suhu kamarnya cukup panas, padahal pendingin ruangan selalu berfungsi setiap malam. Ji Min merasa cukup ketakutan karena mimpinya selalu gelap dan aneh. Entah bagaimana itu bisa terjadi, mimpi tersebut selalu menghantui Ji Min setiap malam untuk membuat lelaki itu merasa insomnia. Ji Min sejenak merenung, menunduk dengan memejamkan matanya. Membiarkan semua mimpi buruknya hilang.

Tak lama kemudian, Ji Min melangkah keluar dari kamarnya dengan mengenakan jaket tebal dan celana dasar. Melewati ruang keluarga dan ruang tamu, Ji Min membuka pelan pintu rumahnya, kemudian mengenakan sepatu tali yang tertera di rak sepatu. Setelah itu, Ji Min melangkah keluar dari rumah, meninggalkan rumahnya yang minimalis menuju suatu tempat yang tak orang lain ketahui. Membiarkan dirinya tak mengajak Jin Roo karena tak ingin gadis itu mengetahui kepergiannya.

Suasana jalanan di tengah malam sungguh menyeramkan. Membiarkan Ji Min tetap melangkah pelan tanpa menghiraukan hantu yang selalu melangkah dari belakang. Sesekali pandangannya teralihkan ke sekitar jalanan. Tak ada mobil ataupun motor yang melintasi jalanan kecil karena semua pengendara sedang istirahat untuk mengumpulkan segala tenaga mereka. Ji Min bahkan melihat anjing bertengger di depan pagar rumah tuan rumah. Memandang hewan tersebut penuh dingin dan kosong, kemudian kembali mengedarkan pandangan ke depan. Seperti biasa jalanan selalu sepi. Hanya Ji Min dan hantu itu yang berjalan menuju suatu tempat.

Kini, Ji Min telah sampai di suatu tempat yang cukup angker. Anehnya, sang hantu yang mengenakan pakaian serba putih itu ketakutan hingga ia kabur dari tempat terangker itu. Ji Min sudah tak bisa merasakan hantu bergentayangan di belakang. Tangan mungilnya itu tergerak, membuka pelan pintu rumah yang sudah rapuh digigit rayap. Melangkah pelan memasuki ruangan yang tak mendapatkan sedikit pencahayaan, tetapi Ji Min dapat mengetahui langkah setiap langkah. Lantai rumah angker itu sangat kotor dipenuhi tanah dan percikan air lumpur. Ji Min tetap mengabaikan sepatunya yang kotor karena lumpur. Untuk menemukan suatu ruanglah yang paling penting untuk Ji Min.

Saat lelaki itu telah sampai di satu ruang kosong, Ji Min membuka pelan pintu ruang kosong itu. Sempit dan pengap serta ada banyak sekali tikus mati berkeliaran. Bukan Ji Min yang membunuhnya, entah siapa yang membunuh tikus-tikus itu. Tetapi, ruang itu mendapatkan pencahayaan yang terang dari sinar lampu. Ji Min segera melangkah masuk ke dalam ruangan itu, terutama menghampiri suatu benda yang tertutup tirai merah. Kini, Ji Min berdiri menghadap benda misterius itu. Pandangannya tetap dalam keadaan kosong. Tangannya mulai bergerak menyingkap tirai merah itu. Menampilkan sebuah patung yang sudah berkarat. Patung seorang gadis.

Ji Min segera melipatkan tangannya, berdoa dalam hati kepada Tuhan agar segalanya berjalan lancar. Memejamkan matanya dengan menggerakkan bibir tipisnya pelan dalam doa. Berhadapan dengan patung berkarat, Ji Min masih melantunkan doanya hingga tak sadar dirinya sedang diintip dari belakang. Namun Ji Min tak mengacuhkan orang yang mengintipnya, melainkan dengan tenang ia berdoa dalam hati. Tak lama kemudian, Ji Min telah selesai berdoa dan membuka pelan matanya yang kini berhadapan dengan patung seorang gadis.

“Kau tahu bahwa betapa kejamnya kamu sekarang. Setiap malam, aku selalu bermimpi buruk karenamu. Setiap malam, aku terus mengalami hal yang mencekam karenamu. Dan setiap malam, aku selalu diincar karenamu. Apakah kamu terus-terusan berada di rumahku, kemudian hanya berkencan di rumahku? Kamu pikir aku siapanya dirimu. Pamanmu? Ayahmu? Tuhanmu? Lalu, mengapa kamu selalu begini padaku setiap aku berangkat sekolah? Semua orang menganggapku gila karenamu. Menganggap aku sudah tidak memiliki mental yang baik dan menganggap juga aku selalu mencari masalah. Padahal, aku selalu tersenyum karena memikirkanmu sebelum hidupku mulai berubah karenamu. Apakah aku terus dihantui karenamu? Aku benci denganmu.” Perkataan Ji Min yang sarkasme ini terdengar hingga ke telinga seseorang. Memandang Ji Min yang terus tenang berhadapan dengan patung.

“Apakah setiap aku mengalami mimpi buruk, aku terus menciummu?” tanya Ji Min seraya mendekatkan wajahnya ke patung, mengulurkan tangannya untuk menyentuh surai patung gadis itu. “Aku menciummu agar hidupku tenang, tetapi semuanya bohong. Haruskah aku menghancurkanmu agar kamu tak lagi mengusikku di rumah? Aku tak ingin dikatakan lelaki halusinasi karenamu. Sementara kamu hanyalah gadis yang telah merusak kehidupanku yang penuh senyuman.” Lanjutnya menahan amarah yang mendidih dalam hati. Sayangnya patung itu enggan membuka mulutnya, enggan mengeluarkan pepatah apapun.

“Ini yang terakhir untukmu. Jangan pernah lagi kamu berada di rumahku untuk mengajakku berkencan. Aku benci dengan usikanmu.” Tutup Ji Min sebelum pada akhirnya lelaki itu mengecup pelan bibir patung gadis itu. Membiarkan bibirnya menempel agar semuanya menjadi tenang. Ji Min tak mau terus dilanda kegelapan hanya karena hidupnya selalu diusik seseorang lain. Berharap suatu hari nanti, Ji Min mulai berubah menjadi lelaki yang penuh senyum. Mengutuk patung itu untuk segera menjauh dari kehidupannya, demi kebebasan.

***

Saat di sekolah, hidup Ji Min akhirnya mulai berubah menjadi sosok yang paling kuat dan tangguh. Dirinya tak lagi dirasuki roh lain yang selalu mengganggunya selama ia berada di luar rumah. Beberapa temannya keheranan dengan sikap Ji Min yang murah senyum dan baik. Lagi-lagi rumor mulai menyebar bahwa Ji Min telah mengembalikan senyum indahnya dan membuat semua gadis berteriak histeris karena senyuman Ji Min yang mampu melelehkan hati mereka.

Mungkin setelah Ji Min mulai berciuman dengan patung, untuk mengusir segala kehidupannya yang gelap, lelaki itu mulai mengembalikan kehidupannya dari nol. Melupakan segala kehidupannya yang suram yang kini menjadi debu. Akan tetapi, di sela-sela Ji Min tengah bermain basket bersama teman-temannya, tiba-tiba sosok gadis kembali bergentayangan dihadapan Ji Min hingga lelaki itu tak sadar bahwa ia kembali melihat gadis itu. Gadis bersurai hitam itu tersenyum penuh kemenangan, secara tak langsung gadis itu langsung saja memukul kuat dahi Ji Min hingga tubuhnya terpental ke belakang. Menabrak tiang basket yang terbuat dari besi itu hingga meninggalkan jejak darah.

Ji Min tak tahu bahwa dirinya kembali melihat sosok gaib yang mengganggunya. Telinganya mendengar jeritan histeris dari teman-teman gadisnya, teriakan penuh ketakutan hingga teman-teman satu grupnya itu kebingungan. Beberapa siswa merasa keheranan dengan kondisi Ji Min yang secara tak nyata dibunuh makhluk gaib. Pertandingan basket telah ditunda secara dadakan dan Ji Min akan dilarikan ke ruang UKS untuk mendapatkan pengobatan untuk menutupi lukanya di bagian dahi dan ubun.

Saat Ji Min dibawa ke ruang UKS, sosok gadis yang mendorongnya itu tersenyum penuh kemenangan. Dengan menggenggam tangan kosong yang dapat membunuh Ji Min, gadis itu tertawa keras dan penuh kemenangan. Tawanya sungguh menyeramkan karena balas dendamnya telah berhasil.

***

Setelah Ji Min mendapatkan perawatan, Ji Min akhirnya diperbolehkan untuk pulang ke rumah lebih awal untuk istirahat. Beberapa temannya menjemputnya untuk pulang dalam keadaan selamat. Sejenak Ji Min kembali memutar ingatannya saat bermain basket bersama teman-temannya. Entah bagaimana itu bisa terjadi, Ji Min secara tak langsung dibunuh makhluk gaib. Teman-temannya, bahkan, benar-benar tak melakukannya untuk menghancurkan hidup Ji Min. Semuanya bersih dan tak ada yang membunuh Ji Min, bahkan melukai lelaki itu.

Selama di perjalanan, Ji Min kembali melihat sosok makhluk gaib yang berjalan di samping temannya. Ji Min langsung berteriak ketakutan karena makhluk gaib itu mengeluarkan sakunya dari belakang punggungnya. Tetapi, teman-temannya itu memandang Ji Min keheranan, bahkan menganggap Ji Min masih tak bisa mengubah hidupnya yang menjadi gelap. Ji Min terus berteriak, meminta kepada makhluk gaib itu untuk segera pergi dari hidupnya, tetapi teman-temannya malah ketakutan dan segera melaporkan kejadian tersebut kepada pihak yang menanganinya, yakni rumah sakit jiwa.

Ji Min terus berteriak dengan melemparkan batunya ke arah makhluk gaib bersurai hitam panjang itu. Tetapi, hal yang terjadi justru batunya terlempar mengenai kepala temannya hingga pingsan. Ji Min merasa terkejut karena temannya pingsan akibat ulahnya.

“Apa yang kamu lakukan, Ji Min-ah?! Kamu sudah mulai tak waras sekarang!” seru lelaki berperawakan tinggi itu penuh kemarahan. Tak lama kemudian, ia segera memukul wajah Ji Min dengan dibantu dengan teman-teman lainnya. Tak ada yang membantu Ji Min untuk dapat lolos dari pertengkaran, bahkan makhluk gaib itu tertawa puas.

Dan tak lama kemudian, sebuah ambulans datang dan para dokter keluar dari ambulans untuk menyeret Ji Min menuju rumah sakit jiwa. Ji Min terus meronta-ronta karena dirinya masih waras, tetapi dokter tetap memaksanya untuk masuk ke dalam ambulans. Semuanya kembali menjadi tenang saat seorang suster berhasil menyuntik Ji Min dengan obat bius hingga lelaki itu pingsan dan tertidur. Sementara teman-teman dekatnya itu segera pergi kembali menuju sekolahnya dan menggotong salah seorang teman lain yang pingsan akibat lemparan batu Ji Min.

Saat mobil ambulans mulai meninggalkan sekitar sekolah, makhluk gaib itu tersenyum penuh kemenangan. Membenarkan surai hitamnya yang telah menutupi wajahnya. “Ji Min-ah,” panggil makhluk gaib itu, “Terima kasih atas ucapan romantismu beberapa tahun yang lalu. Sayangnya, aku telah merencanakan segalanya untuk membuat hidupmu terus gelap karenaku. Aku memang anti sosial, bahkan berkontak mata dengan beberapa pengunjung saja sudah membuatku takut. Tetapi, aku meninggalkanmu karena aku memang sengaja untuk meninggalkanmu. Patung yang telah kau cium itu, sebenarnya melambangkan bahwa hidupmu akan terus gelap selamanya, bahkan hingga kamu mati pun aku terus menghantuimu.

Pesan terakhir dariku adalah jangan pernah kamu meninggalkan sosok gadis yang kamu cintai yang terakhir kalinya karena cara kamu meninggalkannya sangat kejam. Kamu memperkosanya, kemudian membunuhnya. Sebagai gantinya, aku akan mengganggu kehidupanmu hingga hidupmu berakhir dengan kegilaan yang tak tersembuhkan. Bahkan kamu menyesal pun aku tak akan mengampunimu. Selamat tinggal, Park Ji Min, cinta terakhirku yang penuh kegelapan.” Ucap makhluk gaib sebelum ia menghilang di muka bumi.

Dan makhluk gaib itu adalah Ahn Jin Roo.

***

Flashback End.

Seorang suster telah menyimak kisah gelap yang dilakukan Ji Min hingga dirinya berakhir di rumah sakit jiwa. Ji Min terus menatap kosong dan menunduk, membuat sang suster merasa iba dengannya. Meskipun terdengar menyeramkan dan tragis, setidaknya Ji Min tak ingin hidupnya terus diganggu sang makhluk gaib sekaligus kekasihnya, Ahn Jin Roo. Semenjak Jin Roo berada di mata Ji Min untuk pertama kali, hidup Ji Min mulai berubah menjadi lelaki yang penuh senyum. Tetapi, itu hanyalah sesaat karena Jin Roo secara diam-diam memulai rencana jahatnya untuk membuat hidup Ji Min penuh gelap dan sengsara.

“Sayangnya aku tak bisa melihat kekasihmu, Ji Min-ah.” ucap seorang suster terdengar jujur. Ji Min mengangguk pelan.

“Aku mungkin mengalami halusinasi saat hidupku mulai gelap. Anda mungkin tak percaya dengan kisahku yang penuh tawa dan kebohongan. Setidaknya aku memiliki teman yang menjadi pendengar yang baik.” ujar Ji Min yang kemudian menoleh ke wajah sang suster.

“Lupakan kejadian itu, Ji Min-ah. Ini saatnya untuk melakukan tindakan rehabilitas. Bersiap-siaplah untuk ke ruang rehabilitasi.” Sang suster langsung bangkit dari kursinya, kemudian melangkah keluar dari ruang isolasi. Meninggalkan Ji Min yang masih tertegun di ranjang pasien.

Ji Min justru memandang lurus ke depan karena ada sosok yang selalu menunggunya setiap hari. Berdiri berhadapan dengan Ji Min, mengeluarkan senyuman penuh kemenangan. Kali ini pakaiannya berubah menjadi gaun putih yang menutupi tubuh langsingnya itu. Untuk hari ini, sosok gadis itu tak lagi mengganggu Ji Min karena lelaki itu telah berakhir di rumah sakit jiwa, tempat yang cocok untuknya.

“Terima kasih sudah membuat hidupku seperti ini, Ahn Jin Roo,” ucap Ji Min cukup dingin, “Tetapi, perlu kamu ketahui bahwa aku selalu membayangmu dalam mimpiku. Aku terus mengingatmu karena hatiku tak bisa bohong untuk mencintaimu, meskipun kamu sudah menusukku dari belakang. Segala kejahatanmu telah membuatku sengsara disini. Haruskah aku lebih membencimu dari sekarang?” lanjutnya.

“Kamu telah membuat cinta pertamamu itu mati karenamu. Maka dari itu, aku segera membalas dendam padamu, Ji Min-ah. Bersenang-senanglah dengan kandang putih ini. Kewajibanku telah selesai dan aku akan pergi untuk memburu manusia bodoh sepertimu.” Ucap Jin Roo yang dalam sekejap menghilang dari mata Ji Min. Menghilang untuk menemukan sosok yang lebih bodoh dari Ji Min. Sementara Ji Min mulai tertawa kecil karena dirinya terbilang manusia bodoh. Tawanya seketika berubah menjadi tawa yang gila, tetapi tak lama kemudian ekspresinya mulai datar karena sang suster memanggilnya untuk segera meninggalkan ruang isolasi untuk direhabilitasi.

“Ingatlah suatu hari nanti, aku akan bebas dari tempat ini, Jin Roo-ya. Aku harap kamu akan segera mati dibunuh oleh makhluk lain.” ungkap Ji Min sebelum meninggalkan ruang isolasi.

END

Advertisements

One thought on “[BTS #WINGS] Episode 2 : Lie

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s