[BTS #WINGS] Episode 1 : Begin

begin

 

deergalaxy0620 || Thriller, Slice of Life || Jeon Jung Kook, Lee Min Hyuk ( Monsta X ) as kindnapper || PG-15 || Oneshoot || Jung Kook terpaksa mencari jati diri setelah diculik segerombolan penculik.

This fanfiction is MINE. Jung Kook is belong to BigHit and V *ups*

Helaan napas kukeluarkan saat lelah. Keringat tak hentinya bercucuran di seluruh tubuhku, membuatku terpaksa melepaskan pakaian lengan panjang dan hanya menyisakan kaos lengan pendek yang melekat di tubuhku. Aku menyibak poniku yang telah basah akibat keringat. Pandanganku tak pernah teralihkan dari segala penjuru lapangan, hanya mengunci pada lawan pemainku yang rata-rata memiliki tubuh yang bongsor, sepertiku. Telingaku menangkap teriakan riuh dari para gadis. Mereka histeris, bahkan rela pita suara mereka putus karena teriakan. Seolah-olah mereka berada di antara para penggemar yang ikut berteriak histeris dengan meninggikan lightstick berwarna-warni. Menyuarakan namaku dengan kompak, membuat detak jantungku berdegup kencan. Aku hanya bisa menahan senyum malu karena suruhan salah seorang teman satu timku untuk fokus.

Aku adalah pemain bulutangkis yang handal dan dapat menarik perhatian para gadis. Mereka menyebutku sebagai lelaki yang populer dan dimanjakan para gadis. Aku merasa optimis akan hal itu, begitu juga dengan teman-teman terdekatku yang langsung menyetujui keoptimisanku ini. Ada satu – dua, tiga, empat, lima hingga tak terhitung – gadis yang berlarian saat aku bergegas untuk pulang ke rumah. Meminta tanda tangan, mengajakku ber-selfie ria, menyanyikan satu lagu untuk para gadis dan sebagainya. Aku tersenyum bahagia sekaligus senang, ternyata. Aku sendiri tak menyadari sunggingan yang terukir dari bibirku. Apakah sebentar lagi, aku akan menjadi seorang idol? Sungguh percaya diriku tinggi.

Akan tetapi…

Entah mengapa, saat aku melangkah keluar dari halaman sekolah, melangkahkan kakiku menuju rumah, sesuatu yang menyakitkan itu terasa sekali di bagian tengkukku. Seolah-olah aku dipukul benda keras hingga tubuhku kian ambruk. Tak hanya dipukul, melainkan bibirku dibekap sesaat tubuhku tersungkur ke tanah. Indera penciumanku telah bekerja 24 jam hingga mataku terpejam. Sementara indera pendengaranku menangkap segerombolan pria yang tengah berbisik-bisik penuh kejahatan. Dan tiba-tiba saja, mereka menyeret tubuhku hingga aku tergolek di bagian jok mobil. Tak hanya itu, bibirku dibekap dengan selotip hitam, meskipun aku dalam keadaan tak sadarkan diri. Telingaku kembali menangkap tawa renyah dari sang penculik itu. Mengapa mereka begitu senang setelah menculikku? Apakah aku memiliki kesalahan terhadap mereka? Sungguh kejam! Oh damn!

Suasana menjadi sunyi, ditambah lagi dengan suara mesin mobil yang menyala. Dalam hatiku, berharap ada saksi mata yang menyaksikan kasus penculikan ini. Penggemarku pasti menangis dan menjadi tak bersemangat. Aku masih optimis, meski keadaan yang mencekam.

***

Jam 19.00 KST…

Di rumah kosong…

 

Mataku perlahan terbuka setelah sebuah cahaya membias penglihatanku. Aku pun segera membelakkan sedikit mataku, karena aku berada di suatu ruangan yang cukup horor. Semua ruangan penuh debu yang mengganggu alat pernapasanku. Belum lagi ruangan ini sangat sempit dan gelap, bagaikan aku berada di ruang isolasi penjara. Pengap, dan sangat pengap, hingga rongga pernapasanku tak dapat berfungsi. Dimanakah aku berada sekarang? Ini sungguh menyiksakan batin.

Beruntungnya aku saat sepasang mataku tertuju kepada tas punggung sekolahku. Sang penculik ternyata diam-diam menaruh iba padaku sebagai pelajar, yang sebentar lagi lulus dengan nilai sempurna. Mereka pasti tak akan mengutik-utik isi tasku karena… u know that I’m smartest student. Dan semua isi tas hitamku adalah buku pelajaran Matematika – pelajaran yang paling benci di sekolah. Sang penculik mudah mengambau jika pelajaran di sekolahku ini sungguh getir, terutama Matematika. Perlukah aku mengajari mereka untuk belajar Matematika?

Sayang sekali, mereka bukanlah orang yang kukenal selama di sekolah. Mereka adalah orang asing yang sulit aku kenal. Ingat. Mereka adalah penculik, bukan guru tercantik di sekolahku, bahkan guru populer yang ‘seharusnya’ pantas menjadi seorang idol. Seorang penculik bukanlah penculik abal-abal. Mereka – yang merupakan seorang penculik – memiliki alasan serius dalam hal menculik seseorang. Jangan pernah kalian bermain-main dengan sang penculik karena mereka seolah-olah berada di kandang binatang buas. Dan kalian akan diterkam olehnya.

Bagaimana denganku? Aku harus bagaimana?

Akh!

Aku baru menyadari kepalaku terasa sakit, terutama bagian tengkuk. Tubuhku masih tertanam obat bius. Jika bukan penculik yang menenangkanku dengan obat bius, mungkin saja aku selamat. Sayangnya waktu telah berlalu dan aku berdiam diri di sebuah ruangan yang hampa, sunyi, pengap dan sempit. Seolah-olah aku berada di ruang isolasi yang ada di rumah sakit jiwa. Tak ada seseorang lagi selain aku. Hanya aku, yang terisolasi oleh sang penculik.

Telingaku menangkap sang penculik sedang berbicara dengan entah siapa yang dia bicara. Aku berpikir sang penculik itu sedang berbincang-bincang dengan segerombolan penculik lain. Apakah mereka berencana untuk membunuhku? Ya Tuhan, usiaku masih panjang dan masih muda. Sekejam itukah mereka akan membunuhku? Ingin rasanya aku menangis dan memeluk kakak kandungku yang sedang bekerja lembur di luar Seoul. Bulu kudukku sudah merinding dan aku tak bisa menghilangkan ketakutan ini.

“Harus kita apakan bocah muda itu?” hanya pertanyaan itu yang aku tangkap di antara segerombolan penculik. Jika benar mereka akan membunuhku, aku mungkin tak bisa hadir acara wisuda, menghabiskan masa hidupku hingga tua, apalagi mencintai seorang gadis yang aku taksir sampai sekarang. Benar-benar terasa menyeramkan suasana ini.

“Biar aku saja yang mengurusnya. Kalian lebih baik pulang ke rumah saja,” ujar sang penculik lainnya disaat aku segera mengobrak-abrik isi tas sekolahku dan mengeluarkan buku pelajaran Matematika – aku lebih menyukai angka daripada nalar. Jantungku tak hentinya berdetak tak karuan, apalagi jika sang penculik itu memiliki urusan denganku. Dan sialnya! aku tak menemukan ponselku di tas. Pasti mereka telah mengembat barang berhargaku.

Seketika firasatku menjadi tak enak. Dan telingaku kembali menangkap langkah seseorang menuju ruangan ini. Sementara para penculik lainnya telah pulang. Telinga kiriku menangkap deru mobil yang mulai berjalan meninggalkan lokasi penculikan ini. Aku pikir, dengan seperti ini, semuanya akan lolos jika aku diam-diam kabur. Tak peduli bagaimanapun caranya, namun aku harus bisa kabur. Jika ada seutas tali di dekatku, alat itulah yang dapat membuatku kabur dari lokasi ini.

Jangan bermimpi! Melarikan diri dari sini tidaklah mudah untukku. Tak ada apa-apa di ruangan ini selain aku dan tas punggungku. Tak lupa ada ranjang kecil yang membuat tubuhku kian remuk. Itu bukanlah sekadar ranjang yang ada di rumah mewah maupun hotel bintang lima, melainkan ranjang yang seperti gubuk – yang terbuat dari bambu atau kayu. Keras. Iya, sangat keras.

Tiba-tiba, aku berteriak dan terlonjak kaget hingga aku menutupi telingaku saat sang penculik itu membuka pintu cepat. Batinku mulai menangis dan aku ketakutan. Menutup mataku agar tak memandang wajah seram dan dingin sang penculik. Aku membayangkan bagaimana ekspresinya dengan membawa pisau yang telah dia asah sebelum menculikku. Aku masih dilanda ketakutan, bahkan saat aku dikurung seperti ini. Membayangkan juga bagaimana nasib orangtuaku yang kini tinggal di Incheon. Mereka panik dan cemas menjadi satu. Ibuku akan menangis saat mendengar kabar buruk dariku.

“Tolong jangan bunuh saya! Usia saya masih muda dan saya harus mengejar impian saya menjadi seorang dokter! Saya ingin cepat lulus dari sekolah dan menghabiskan waktu keberasamaan saya dengan orangtua saya sembari kuliah! Saya ingin hidup di dunia dan menjadi lelaki yang bertanggung jawab terhadap ayah saya dan masyarakat! Tetapi, tolong jangan bunuh saya seperti ini! Apa salah saya terhadap kalian hingga kalian membunuh saya?!”

Aku menghentikan sejenak perkataanku yang lantang. Namun, tak ada respon dari penculik.

“Bayangkan bagaimana perasaan orang tua anda jika anda menculik dan membunuh orang yang tak bersalah?! Dengan tujuan anda ingin mendapatkan uang yang penuh kesedihan dan kesuraman! Sementara saya hanyalah manusia normal yang hanya berangkat sekolah dan pulang ke rumah, kemudian mengerjakan tugas dari guru, belum lagi saya harus hadir bimbingan belajar untuk persiapan ujian nasional! Jadi, tak ada alasan untuk anda membunuh saya karena saya tak merasa bersalah!”

Aku terus berteriak dan dilanda ketakutan. Masih dalam posisi yang sama – menutup mata dan telingaku. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Entahlah. Sang penculik mungkin tak peduli dengan perkataanku. Tak salah jika aku harus mengemukakan pendapatku sendiri mengenai insiden penculikan ini.

“Apa yang kamu bicarakan?”

Aku tertegun. Pertanyaan itu keluar dari bibir sang penculik, seolah-olah dia tak mengerti atas pembicaraanku. Perlahan aku membuka pelan mataku dan telinga. Memandang ekspresi sang penculik yang datar sekaligus dingin. Aku ikut merasa heran dengannya.

“Saya menculikmu bukan untuk membunuhmu. Untuk apa saya menculikmu jika saya tak berniat membunuhmu?” tanya lelaki bersurai blonde itu sedikit menahan kekesalan.

“Jika anda tidak segera membunuh saya, untuk apa anda menculikku?”

“Saya menculikmu karena saya memiliki alasan tersendiri.”

“Apa alasan anda menculik saya? Semua orang pasti punya alasan anda melakukan hal itu.”

“Lebih baik anda diam dan saya akan membantu anda jika anda mengalami kesulitan.”

Aku memutar pikiranku sejenak. Menculik seseorang tanpa menjelaskan alasannya. Itu terasa konyol, bahkan aku menahan gelak tawa renyah sebelum dia mungkin akan membentakku. Insiden penculikan seperti apa ini.

“Perkenalkan. Nama saya Lee Min Hyuk dan sayalah yang menyuruh bawahan saya untuk menculikmu. Alasan saya menculikmu adalah agar saya ingin tahu seberapa kuat anda terhadap saya dan ingin mengetahui jati dirimu disaat anda diculik dalam keadaan seperti ini.”

Wah, aku tak menyangka bahwa insiden penculikan ini tidak seperti mereka membunuh orang tak bersalah. Dan sang penculik itu – yang bernama Lee Min Hyuk – tampaknya benar-benar berniat menculikku, hanya ingin mengetahui jati diriku? Ini bukanlah penculikan, man. Dalam benakku, penculikkan itu seseorang yang telah merampas orang lain dan membawanya ke suatu tempat yang asing dan tak berpenghuni. Sang penculik itu memiliki hak untuk membentak, bahkan menyakiti orang lain dengan senjata tajam. Dengan tujuan ingin mendapatkan uang dari orang terdekat yang berpenghasilan tinggi atau rendah.

Kembali kepada insiden penculikan sekarang. Aku diculik segerombolan pria berpakaian serba hitam dan membawaku ke ruangan yang hampir mirip dengan ruang isolasi. Bukankah mereka seharusnya berencana untuk membunuhku, bukan malah mengetahui jati diriku? Sungguh konyol. Aku benar-benar ingin tertawa sebelum dia mungkin marah padaku.

“Saya lapar. Maukah kamu menemani saya makan jika kamu mau?” Aku justru enggan menjawab pertanyaan yang bodoh itu – dari mulut Min Hyuk hyung. Ekspresiku kian berubah menjadi dingin dengan kerutan alisku.

“Saya tak butuh makan, melainkan saya ingin pulang ke rumah dengan selamat dan berhentilah anda menguji saya dengan insiden penculikan yang konyol ini. Sungguh tak lucu dan tak berarti untuk saya.” Aku menjawab sedikit lantang dengan tetap menjaga kesopanan dalam tutur kata. Tetapi, Min Hyuk hyung malah tersenyum kecil dan seolah-olah dia meremehkan perkataanku.

“Anda boleh pulang ke rumah dengan selamat, tetapi saya harus menunggu seseorang untuk menjemputmu.” Begitulah lelaki berperawakan tinggi itu menjawab. Aku mungkin harus bersabar. Namun, aku tak memiliki orang terdekat yang dapat menjemputku ke rumah. Otakku mulai bertanya-tanya siapa dia?

“Apakah anda melaporkan insiden ini kepada orangtua saya?” tanyaku penasaran.

“Tak mungkin saya menghubungi orangtuamu untuk menjemputmu dengan selamat.” Jawab Min Hyuk hyung dengan gaya berkacak pinggang.

“Lantas, dimana ponsel saya? Anda pasti merampas benda itu dari tas saya, kan?” aku kembali teringat dengan hilangnya ponselku dari tasku. Jika bukan karena Min Hyuk hyung, aku sudah pasti merampas kembali ponsel tersebut.

“Saya memang merampas ponselmu, tetapi saya tak mengabarkan kasus penculikan ini kepada orangtuamu.”

“Lantas, untuk apa anda merampas ponsel saya?”

“Untuk mengetahui seberapa kuatkah anda tak menggenggam ponsel setiap hari hanya untuk bermain game, mengobrol dengan gadis cantik di sekitarmu, update sesuatu di media sosialmu dan lain-lain.” Memang ada benarnya bahwa aku selalu bermain ponsel hanya untuk bermain game, mengobrol dengan gadis cantik yang aku taksir selama di sekolah, update sesuatu, selfie ria bersama teman-temanku dan lain-lain. Batinku hanya bisa menyengir dan aku merasa malu.

“Lebih baik, kamu menemani saya untuk makan malam. Setelah itu, kamu bebas untuk melakukan apa saja. Tetapi, jika saya mengetahui bahwa kamu kabur dari lokasi ini, saya tak segan-segan untuk membunuhmu dengan tangan saya sendiri. Apakah kamu bisa mengerti?” Min Hyuk hyung tampak mengancamku jika saja aku melangkah sedikit saja keluar dari lokasi ini sebelum ‘seseorang’ yang dia sebut tadi telah datang.

“Mengapa kamu diam saja?! Apakah kamu hendak melawan perkataan saya?!” Lamunanku kian pecah akibat bentakan Min Hyuk hyung.

“Ba… baiklah, hyung…”

“Bagus. Sekarang, kamu siap-siap untuk berganti pakaianmu. Saya sudah menyiapkan pakaian yang layak kamu pakai sekarang. Dalam waktu 10 menit, kamu sudah siap dengan pakaian yang telah saya sediakan di lemari kecil. Tidak ada toleransi keterlambatan dan tak ada alasan yang mengganggumu.” Aku memandang Min Hyuk hyung yang melangkah keluar dari ruang isolasi, memandangnya penuh kekesalan yang hampir memuncak kemarahan. Seketika tanganku terkepal kuat dan menahan tangisanku. Terasa sakit perkataan Min Hyuk hyung, bagaikan dia adalah pembina orientasi siswa.

Baiklah, ini memang penculikan yang sebenarnya. Aku diculik dan harus mengikuti apa yang Min Hyuk hyung lakukan. Setelah itu, aku bebas melakukan apa saja, tetapi tidak untuk meninggalkan lokasi sebelum ‘seseorang’ yang Min Hyuk hyung sebut itu menjemputku. Sebenarnya, mengapa dia menculikku selain ingin mengetahui jati diriku? Apakah tak ada alasan diluar alasannya? Ini benar-benar tak masuk akal bagiku. Dan ini bukanlah sekadar penculikan yang ada di dunia nyata.

Tak perlu aku pendam amarahku dan segera melangkah menuju lemari kecil yang sedikit rapuh dan kusam. Aku benci terhadap debu karena dapat membuatku sesak napas. Tanganku mulai tergerak, membuka pintu lemari kecil, dan ada kemeja putih dan celana dasar hitam. Mengapa harus pakaian yang di lemari, bukan seragamku? Min Hyuk hyung adalah lelaki anti irit terhadap pakaian. Tetapi, jika aku tak segera berganti pakaian dengan pakaian yang disediakan Min Hyuk hyung, mungkin saja aku telah dibunuh dengan satu sayatan pisau.

Hampir 10 menit aku berganti pakaian. Mengapa aku sungguh lama? Biarkan aku jelaskan setelah aku dibebaskan dari insiden penculikan ini. Tak perlu aku tuturkan sekarang dan memikirkan siapa yang akan menjemputku.

***

Aku pun melangkah keluar dari ruang isolasi saat Min Hyuk hyung duduk tenang dihadapan hidangan makan malam. Perutku keroncongan akibat lapar. Iya, sejujurnya, aku belum sarapan hingga sekarang. Ini bukan karena aku diet, melainkan ini sudah menjadi kebiasaanku yang cukup beresiko. Padahal, tubuhku sudah bongsor dan aku bangga dengan kondisi tubuhku sekarang.

Hidangan makan malam yang dihadapan Min Hyuk hyung adalah dua mangkuk nasi, nakji bokkeum – olahan seafood yang dimasak dengan rasa pedas – satu mangkuk besar, satu piring kimbap – nasi yang dibungkus dengan rumput laut – sebanyak 10 biji dan soju – minuman distilasi asal Korea. Melihat hidangan itu saja sudah membuatku tergiur akan makanan, mengingat aku belum sarapan hingga wajahku sedikit pucat. Yang aku pikirkan sekarang adalah siapa yang menyiapkan semua hidangan ini? Aku pikir Min Hyuk hyung.

“Duduklah dan makan bersamaku, Jeon Jung Kook-ssi.” Tiba-tiba saja pikiranku pecah saat Min Hyuk hyung berbicara padaku. Mengapa aku selalu melamun dan memikirkan sesuatu yang mengenakkan? Lupakan saja atau Min Hyuk hyung akan menyayat tubuhku dengan pisau. Dia sungguh menyeramkan. Meski demikian, aku harus menuruti segala perkataan Min Hyuk hyung.

Saat kami makan malam bersama, Min Hyuk hyung sejenak memerhatikan cara aku makan. Apa yang dia perhatikan saat aku merasa cara makanku sopan, sesuai dengan adat di Korea? Bahkan, saat aku membalas pandangan, Min Hyuk hyung malah beralih kembali ke mangkuk makan. Apakah ada yang merasa ganjil dengan sikapnya? Aku sungguh penasaran dengannya, alasan dia menculikku selain ingin mengetahui jati diriku.

“Mengapa kamu lambat sekali jika makan?!” lagi-lagi pikiranku kian pecah karena Min Hyuk hyung membentakku dengan mulut masih mengunyah makanan. Ingin rasanya aku menghajar wajahnya dengan tanganku sendiri. Aku bukanlah siput yang selalu lamban jika berjalan.

“Maafkan saya,” ucapku pura-pura ketakutan agar Min Hyuk hyung terjebak batman selanjutnya.

“Atau saya akan membunuhmu jika kamu kembali melakukan kesalahan besar! Apakah kamu bisa dimengerti?” aku hanya bisa menjawab, “Baik, saya mengerti.” Itu saja yang keluar dari mulutku. Tak selang kemudian, dia membalas dengan berkata, “Bagus. Setelah ini, kamu bebas untuk melakukan apa saja yang kamu lakukan sekarang. Dan saya akan terus memantau keseharianmu agar kamu tak bisa lari dari lokasi penculikan ini.”

Berapa kalikah Min Hyuk hyung harus mengatakan ini? Telingaku terasa jenuh untuk mengulang perkataannya. Aku harap dia tak mengulangi perkataan itu. Selain jenuh, justru aku terasa penasaran dan masih menjadikan misterius, hingga membuatku harus memecahkan teori yang ada di sekolahku. Pelajaran Matematika mungkin atau Fisika, dua pelajaran yang membuat otakku menjadi keriting, namun mengasyikkan untuk menjawab. Sayangnya, aku tak bisa bebas menjawab karena bersifat alamiah. Mengapa aku malah membahas pelajaran di sekolah, bukan sang penculik yang bernama Lee Min Hyuk hyung?

Mungkin, aku juga terasa jenuh untuk terus dijaga ketat Min Hyuk hyung hingga ‘seseorang’ menjemputku. Entah siapa dia. Tetapi, aku harus beraktivitas seperti biasa karena Min Hyuk hyung ingin mengetahui jati diriku.

***

Di ruang isolasi yang sempit dan pengap, aku hanya bisa duduk berhadapan dengan meja yang telah kusediakan buku pelajaran Matematika. Tanganku bergerak setiap aku memecahkan teka-teki soal tersebut. Limit Angkalah yang membuat seluruh tubuhku menjadi kering kerontang. Sejak materi tersebut dibahas guruku – Guru Matematika yang tampangnya seperti Min Hyuk hyung – semua murid berpura-pura mencatat penjelasan dari beliau. Sementara aku selalu fokus kepada papan tulis sembari mencicipi satu soal yang menghebohkan seluruh kelas. Mereka protes, mengeluh, bahkan menyerah, kecuali aku. Banyak sekali yang iri terhadapku karena dianggap ‘sempurna’ di mata teman-temanku.

Aku terlalu eksesif di dalam hati. Kenyataannya bahwa aku hanyalah lelaki biasa. Kekayaan yang tercukupi, berpenghasilan yang lumayan tinggi, lelaki yang hanya dapat melakukan apa saja demi kebaikan dan lain sebagainya. Apakah aku salah sesungguhnya di mata mereka? Beruntunglah ada beberapa orang yang telah menjadi sahabatku. Mereka yang mengajakku makan bersama, belajar bersama, saling membantu dan lain-lain, layaknya di kehidupan nyata. Dan aku tak pernah melupakan momen tersebut.

Apakah ini menjadi alasan Min Hyuk hyung menculikku, dengan suruhan segerombolan pria bersetelan serba hitam? Kesempurnaan di mata orang lain mungkin akan mencelakaiku dengan berbagai cara. Namun, aku tak mungkin berpikir negatif karena akan membuatku stres. Otakku terus menelaah alasan dibalik insiden penculikan ini. Aku pikir ini hanyalah sebuah candaan saja untuk menguji seberapa kuat dan sabarkah hatiku.

Sepasang mataku kembali melirik ke arah pintu yang sedikit terbuka. Memandang dari jauh Min Hyuk hyung yang tampak mengintipku dengan mata elangnya. Aku merasa sedikit risih dengan intipan tersebut. Mengapa harus Min Hyuk hyung yang menculikku? Bahkan, aku belum dapat akrab dengannya karena akan berujung kematian. Min Hyuk hyung tampak seperti seorang psikopat, yang mengalami kesulitan dalam bergaul sehingga berperilaku menyimpang. Dan juga, tak lupa dia menggenggam pisau di belakang punggungnya. Tampak benar-benar akan membunuhku, namun dia enggan membunuhku jika aku menuruti segala perintahnya. Dia sangat aneh, membuatku semakin gemas terhadap sikapnya.

“Min Hyuk hyung,” panggilku saat Min Hyuk hyung masih memandangku dengan tatapan yang… er… cukup menyeramkan. “Mengapa hyung harus menjagaku seketat ini?” tanyaku karena ada banyak sekali mesin sensor di depan pintu sekaligus CCTV yang terpasang di pojok ruang isolasi.

Bukannya Min Hyuk hyung menjawab, justru dia melangkah masuk ke ruang isolasi.

Aku segera menghentikan aktivitasku ini saat Min Hyuk hyung melangkah kian mendekat. Ada rasa ketakutan yang kembali melanda di pikiranku. Dia, kini, sedang berhadapan denganku, layaknya kita akan berbicara empat mata. Aku benar-benar ketakutan pada saat itu.

“Sudah kukatakan padamu bahwa aku hanya ingin mengetahui jati dirimu.” Min Hyuk hyung sedikit menekan perkataannya, membuatku terpaksa menunduk. Bahuku kian terasa nyeri saat Min Hyuk hyung menggenggam bahuku kuat. Sangat kuat. Sejenak aku menggigit pelan bibir bawahku, menahan ketakutan saat tatapan Min Hyuk hyung kian menyeramkan.

“Apa alasan anda ingin menghindari saya?! Apakah karena saya menyuruh bawahan saya untuk menculikmu, seolah-olah kamu tampak tak bisa bebas dengan segala kehidupanmu?! Kamu sungguh konyol!” tubuhku secara tiba-tiba tersungkur ke lantai kayu karena dorongan Min Hyuk hyung yang sangat kuat. Kemarahannya tampak hampir memuncak dan entah mengapa dia bertingkah semakin aneh. Dan kini, dia duduk berjongkok dihadapanku.

“Mengapa kamu selalu bertanya dengan pertanyaan yang sama dengan sejak tadi?! Kamu sudah benar-benar membuat saya marah! Apakah kamu ingin dibunuh?!”

DEG!

Aku mulai ketakutan dan tangisanku kian meledak. Min Hyuk hyung mulai meninggikan pisaunya yang tajam. Sementara aku terus menangis ketakutan karena aku benar-benar tak memiliki kesalahan terhadapnya. Bahkan, aku tak mengenalnya karena aku tak pernah bertemu dengannya. Dan di sisi lain, Min Hyuk hyung tampak tak mengindahkan perasaanku. Dia berjongkok di hadapanku dan mulai mengacungkan pisau tajam di dekat leherku.

Jika ada kejadian seperti ini, napasku mulai tak karuan akibat dilanda ketakutan. Seseorang yang tinggal di dekat lokasi ini, tolonglah aku. Dia tampak menyeramkan untukku dan aku hampir menangis. Min Hyuk hyung mulai mengiris pelan leherku hingga mengeluarkan sedikit berdarah. Aku pun mulai menitikkan air matanya. Dia seperti iblis untukku.

“Tingkahmu saja seperti perempuan, padahal dirimu laki-laki! Mengapa laki-laki tampak ketakutan dengan saya?!” bentak Min Hyuk hyung dengan perkataan sarkasmenya.

“Alasan yang anda lontarkan kepada saya, itu semua tak mungkin! Anda tak mungkin mengetahui jati diri saya jika anda sendiri sebenarnya tahu kenyataannya!” aku membalas bentakan Min Hyuk hyung yang lantang, bukan lemah seperti perempuan.

“Anda sedang melawan terhadap saya?!”

“Benar! Itu semua karena anda tak memiliki hak untuk menculik seseorang hanya karena ingin mengetahui jati diri saya! Terlebih lagi, menculik seseorang merupakan hal yang buruk karena hanya menambah dosa yang ada di dalam diri anda!”

Min Hyuk hyung mulai emosi dengan menyayat leherku hingga darah mengucur sedikit demi sedikit. Pisau yang digenggamnya, sedikit terkena darah akibat menyayat leherku. Mungkin selanjutnya, dia menusuk perutku hingga nyawaku tak tertolong. Tampaknya juga dia benar-benar berniat membunuhku. Emosinya yang meluap, bahkan meredakan saja sudah tak bisa. Aku benar-benar ketakutan setengah mati. Terlebih lagi leherku terluka karenanya.

“Kau benar. Saya memang menculikmu bukan karena ingin mengetahui jati dirimu. Tak ada alasan bagi saya untuk menculikmu, namun ini semua karena aku tak menyukaimu. Kepopuleranmu yang terpampang di koran harian, saya benar-benar tak menyukai ini!” aku melihat pisau yang digenggam Min Hyuk hyung terlempar ke lantai, jauh dari jangkauanku, menimbulkan sedikit bercak darah di lantai.

“Asalkan kamu tahu, saya juga tak dapat dipungkiri bahwa kepopuleranmu itulah yang justru menambah rasa iri di hati saya. Setiap hari, di lingkungan perkampusan saya, mereka semua selalu membicarakan tentangmu, layaknya kamu seorang artis papan atas yang mendapat pujian dari penggemar. Saya juga ingin sama denganmu, namun orangtua saya menentang ini. Saya benar-benar benci dengan kehidupan saya yang suram ini! Dan ini semua salahmu!” emosi yang meluap di ubun-ubun Min Hyuk hyung tak dapat dipungkiri lagi. Kaki kanannya menendang tubuhku hingga aku kembali tersungkur dalam keadaan lemah. Aku pun kembali menangis karenanya. Hanya saja, Min Hyuk hyung tak melanjutkan tendangan tersebut, sesaat setelah aku kembali menangis dan ada upaya untuk bangkit kembali. Sayangnya, aku kembali tersungkur, tepat saat Min Hyuk hyung kembali menendangku. Kali ini mengenai wajahku hingga ujung bibirku berdarah.

Dia benar. Aku adalah lelaki yang lemah, seperti perempuan. Kekuatanku sudah terkuras karenanya. Untuk bangkit saja aku sudah tak bisa dan tubuhku selalu tersungkur ke lantai. Sesaat Min Hyuk hyung meninggalkanku penuh luka sekaligus emosi yang masih mendidih. Lantas dia tampak menyalahkanku yang jauh lebih populer darinya. Dia patut menjadi lelaki penuh iri hati dan dengki. Menyulik seseorang hanya karena kepopuleran saja tak wajar untukku.

Perlukah aku melaporkan ini kepada polisi?

***

Di tengah malam setelah penderitaanku akibat Min Hyuk hyung. Wajahku penuh luka karenanya dan tak terlalu banyak perban yang aku tempelkan. Air mata telah membuat lukaku menjadi perih, seperti Min Hyuk hyung menendangku dengan luapan emosi. Tak hanya luka saja, melainkan hatiku sungguh remuk. Tak bisa aku tahan tangisanku yang sudah hampir menjadi histeris. Sebentar lagi, aku akan menjadi lelaki yang tak normal karena kekerasan ini.

Insomnia telah menyerangku, bahkan di ruangan yang sempit ini. Untuk memejamkan mata saja tak bisa, apalagi untuk memikirkan apa yang terjadi selanjutnya. Aku benar-benar tak ingin hidup dalam keadaan seperti ini. Ah… bahkan dia sangat mengerikan, seperti seekor anjing yang telah menyerang siapapun yang mengganggunya. Liar dan sungguh seperti penculikan yang sesungguhnya. Mungkin setelah ini, dia akan membentakku jika aku tak menuruti kemauannya. Cukup, membentakku saja sudah membuatku hendak memberontak. Tetapi, cara seperti itu malah semakin menjadi pada kenyataannya.

Lupakan saja, Jeon Jung Kook. Kau bisa melakukannya. Untuk hari ini, aku lebih baik tidur saja.

***

Keesokan harinya, telingaku mendengar samar-samar bunyi sirine di dekat jendela ruang isolasi ini. Perlahan mataku terbuka dan sinar telah membias penglihatanku. Tak hentinya suara tersebut berbunyi. Derap langkah orang asing terdengar sedikit samar dan menuju ruangan isolasi ini. Di sisi lain, beberapa orang membuka seluruh pintu ruangan dan menyahut kepada yang lainnya bahwa ruangan tersebut kosong.

Entah apa yang terjadi dengan situasi sekarang, aku masih sedikit lemah karena tidurku yang cukup nyenyak. Seluruh tubuhku masih terasa menegang akibat pukulan dari Min Hyuk hyung. Bahkan sudut bibirku terasa sedikit pedih dan mataku cukup membengkak. Ini merupakan dampak aku menangis tadi malam sebelum tidur, memikirkan nasib kehidupanku selanjutnya mungkin. Tanganku sulit untuk bergerak, begitu juga dengan kakiku dan penglihatanku yang telah menyiksaku.

BRAK!

Seorang polisi mendobrak pintu ruang isolasi ini. Aku cukup terkejut dengan kehadiran tuan berseragam polisi tersebut – mengenakan kemeja putih dengan dasi bermotif dan jas polisi hitam di luar pakaian tersebut. Entah situasi seperti apa sekarang – sekaligus selanjutnya – beliau memerhatikanku dengan serius dan menoleh ke arah lain, yakni teman seperjuangannya. Beliau berteriak bahwa ada aku di ruangan ini. Sementara aku tertegun dan mencoba membelakkan sedikit mataku. Ada apa dengan pak polisi ini? Apakah mungkin…

“Apakah kamu baik-baik saja?” seorang polisi – yang sejak tadi memerhatikanku – berjalan mendekatiku, bahkan beliau sudah berjongkok dihadapanku. Aku pun mengangguk pelan. Namun, aku tak melihat kehadiran Min Hyuk hyung.

“Saya datang kesini untuk menyelamatkanmu karena kamu dilaporkan diculik oleh seorang pemuda.” Ujar seorang polisi yang memiliki nama Choi Si Won. Aku masih belum menjawab, bahkan bertanya keberadaan Min Hyuk hyung. Hanya bangkit dari ranjang dan dibantu Polisi Choi membawaku keluar dari ruangan isolasi. Mataku kembali menangkap dua polisi lain yang menghampiri ruang isolasi untuk meraih tasku dan membawanya dengan mengikutiku dan Polisi Choi. Melangkah pelan agar aku tak terkejut dengan situasi yang kian berubah.

Tiba-tiba, seorang polisi yang lain menyahut setengah berteriak, seperti ada seseorang yang tewas di dalam ruangan yang lain. Suara tersebut berasal dari kamar mandi. Polisi Choi secara mendadak berlari meninggalkanku bersamaan dengan polisi lain. Aku penasaran dengan orang yang tewas di kamar mandi tersebut. Jarak antara depan ruang isolasi dengan kamar mandi cukup jauh sehingga aku setengah berlari untuk sampai di tempat. Dan kini, aku melihat segerombolan polisi, terutama Polisi Choi dan dua polisi lain, tengah melihat orang yang tewas itu. Aku penasaran siapa yang tewas. Sekilas darah mengalir sangat banyak dan ada tiga tusukan di bagian tubuh korban, menurut seorang polisi yang juga menjadi saksi mata dalam peristiwa tersebut.

Aku pun akhirnya berhasil melihat orang yang tewas di kamar mandi tersebut. Bau darah menyengat dan mengganggu indera penciumanku. Tetapi, aku sangat terkejut dan terpana saat melihat seseorang yang tewas di kamar mandi. Dengan darah yang mengalir sangat banyak dan ada tiga tusukan pisau yang menancap di bagian tubuh yang berbeda, yakni perut, jantung, dan dada. Entah bagaimana reaksiku sekarang, namun aku benar-benar terkejut hingga tubuhku nyaris terjatuh ke lantai. Untungnya seorang polisi berkulit putih menggenggam bahuku dan mengetahui kondisiku sekarang. Aku pucat dan ketakutan. Takut bukan karena dia mati dengan cara tragis, melainkan aku takut dengan darah, padahal cita-citaku menjadi dokter. Wajahnya juga memutih pucat serta bibirnya yang membiru. Sepertinya, dia membasahi tubuhnya terlalu lama, kemudian membunuh dirinya dengan tiga tusukan pisau. Terbukti bahwa air dari shower mengalir terus dan membasahi tubuhnya.

Min Hyuk hyung tewas!

***

Kini, aku berada di ruang interogasi bersama Polisi Choi setelah insiden yang tragis tersebut. Fakta bahwa Min Hyuk hyung telah menculikku masih terlintas dalam benakku. Dan Polisi Choi selalu bertanya kepadaku karena aku telah menjadi korban penculikkan. Bertanya bagaimana bisa Min Hyuk hyung menculikku, padahal aku tak ada bersalah sedikitpun terhadapnya. Rentetan pertanyaan terus keluar setelah aku menjawab dengan jelas dan cukup singkat. Dan tak hentinya Polisi Choi bertanya,

“Apakah dia memiliki rencana untuk membunuhmu sebelum dia bunuh diri?” begitu Polisi Choi bertanya kepadaku, namun aku tak dapat memutar balik kejadian sebelumnya.

“Dia hanya mengancam saya saja, bukan melakukannya sekarang.” Dan beginilah jawabanku sebelum Polisi Choi mengetik cepat jawabanku di layar laptopnya. Jemariku bergerak menyatu, namun aku memisahkan mereka karena kegugupanku sekaligus ketakutanku yang terus melanda dalam jiwaku.

“Apakah dia telah memperlakukanmu dengan baik?” tanya Polisi Choi dengan menatapku intens.

“Dia memang memperlakukan saya dengan baik, namun itu hanya sesaat saja karena seterusnya dia membentak saya dan mengancam saya untuk membunuh saya.” Jawabku dengan apa adanya, kemudian beliau kembali mengetik jawabanku.

“Apakah anda memiliki hubungan dengan penculikmu?” lagi-lagi Polisi Choi bertanya.

“Saya dan dia seperti hubungan kakak dan adik kelas, tetapi saya jarang melihatnya di sekolah karena sering membolos.” jawabku sedikit lengah karena berkali-kali aku ditanya dengan suasana serius. Bahkan Polisi Choi kembali menatapku dengan intens.

“Apakah tewasnya penculikmu memiliki hubungan keterkaitan denganmu?” tanyanya yang membuatku mematung. Lidah dan bibirku kelu untuk mengatakan yang sebenarnya. Entah bagaimana untuk menjawabnya, namun aku bersumpah bahwa aku tak melakukan apa-apa, bahkan untuk membunuhnya saja tak tega.

“Dia mungkin tertekan dengan kepopuleran saya di sekolah. Saya sadar diri karena dia telah mengungkapkan alasan dia menculik saya. Saya rasa itulah yang membuatnya bunuh diri.” Aku hanya menjawab seadanya saja dan tak peduli bagaimana reaksi Polisi Choi setelah mendengar jawabanku. Beliau terus mengetik jawabanku dengan fokus menatap layar laptop. Sementara aku hanya bisa menghela napas panjang. Berharap akan ada suatu keajaiban yang datang.

“Kamu tahu? Orangtuamu sangat mencemaskanmu setelah berita penculikan dirilis media. Bahkan, mereka terus menelepon kami untuk menemukanmu karena kamu diculik seseorang. Untuk sekarang, kamu dapat menunggu kedatangan orangtuamu. Sementara kami harus mengejar anak buah orang yang telah menculikmu atas suruhan dari orang yang tewas bunuh diri.” Polisi Choi merespon kesimpulan dari jawabanku. Mempersila aku untuk keluar dari ruang interogasi untuk menunggu kedatangan orangtuaku. Mereka pasti cemas sekaligus khawatir bagaimana kondisiku sekarang. Sayangnya, mereka pasti menangis karena wajahku penuh luka dan memar, terutama ibuku. Satu minggu yang lalu, beliau baru saja sembuh dari serangan jantung. Situasi beliau kian berubah mungkin setelah aku dikabarkan diculik Min Hyuk hyung beserta anak buahnya.

Saat aku melangkah keluar dari gedung kepolisian, ada orangtuaku yang berdiri dari kejauhan. Aku melihat mereka yang berlari kecil menghampiriku, membawa satu tupperware tahu putih goreng untukku. Mengapa mereka membawaku kudapan seperti itu? Aku bukan narapidana. Batinku tertawa, namun wajahku malah menunjukkan ekspresi sedih. Sedih karena khawatir orangtuaku mencemaskanku.

“Jung Kook-ah,” ucap ibuku saat ayahku menyodorkan satu bontot tahu putih goreng, “eomma dan appa sangat khawatir denganmu. Lihatlah. Wajahmu terluka. Apakah dia telah menghajarmu?” tanyanya. Aku sedikit tersenyum tipis.

“Aku baik-baik saja, eomma.” Jawabku sembari menerima sodoran tahu putih goreng dari ayahku. Tak perlu menunggu terlalu lama, aku segera melahap tahu tersebut. Aku merasakan tangan ibuku mengusap lembut surai hitamku. Aku tahu beliau sangat mencintaiku.

“Ayah telah mengirimkan surat izin selama lima hari kepada kepala sekolah karena ibu tahu kamu masih trauma atas penculikan tersebut. Jangan khawatir, ibu juga akan menjagamu.” Ibu, aku bukan anak kecil lagi. Aku, Jeon Jung Kook, yang telah beranjak dewasa, meski wajahku tak setara dengan usiaku.

“Terima kasih, eomma.” Ucapku sedikit menitikkan air matanya. Kemudian, orangtuaku memelukku dari samping. Aku merasa kesulitan untuk makan karena pelukan mereka.

Untuk Min Hyuk hyung, aku tahu dia seharusnya menjadi narapidana. Dia yang menculikku dan dibantu dengan anak buahnya, dia juga yang telah menghajarku hingga babak belur. Tetapi, bagaimana aku harus berterima kasih kepadanya karena dia mengajakku untuk makan malam bersama dan memerhatikanku dari kejauhan. Sayangnya, semuanya hanya dalam sekejap saja karena dibalik semuanya, dia mengubah situasiku menjadi akal sehat yang berubah-ubah dalam diriku. Tangisan yang aku tangisi, hilang pikiran yang aku hilang, dan kesenanganku telah hilang karenanya. Sayangnya, semuanya berputar saat Min Hyuk hyung ditemukan tewas bunuh diri. Jujur, mungkin karena alasannya ia menculikku. Aku memang populer di sekolah dan dia merasa iri padaku. Itulah sebabnya dia menculikku.

Semoga hyung tenang disisi hyung.

END

Advertisements

One thought on “[BTS #WINGS] Episode 1 : Begin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s