[Special FF Freelance] White Christmas ( present for Jin’s birthday )

ff-white-christmas

deergalaxy0620 || Tragedy, Sad|| Kim Seok Jin a.k.a Jin, Kim Tae Hyung a.k.a V ( Seok Jin’s young-brother ) || PG-15 || Oneshoot || Seok Jin telah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan Tae Hyung.

Saengil chukkahamnida, hyung!” seorang lelaki bersurai hitam, yang tengah tertidur di kasurnya, membuka pelan matanya dan memandang orang asing yang tengah membawa kue tar, dengan dihiasi lilin yang berbentuk angka 25. Perlahan bibirnya membentuk senyuman dan terduduk lemah saat orang disampingnya itu berjongkok. Sembar menyodorkan kue ulang tahun yang masih dinyalakan lilin, tampak seorang lelaki muda yang melebarkan senyum indahnya.

“Semoga hyung panjang umur dan sehat selalu. Silakan berdoa dalam hati di hari ulang tahun hyung ini.” ujar Kim Tae Hyung, adik kandung lelaki yang masih terduduk lemah di ranjang, dengan kembali menyodorkan kue ulang tahun itu tepat di depan mata kakak kandungnya, yakni Kim Seok Jin. Menunggu harapan dan doa yang ada dalam setiap kata dari Seok Jin. Lirih dan penuh penghayatan, berharap bertambah usianya dan hidup bahagia bersama pujaan hatinya. Setelah berdoa, Seok Jin meniup lilin itu dan doanya akan terkabulkan di kemudian hari.

Gomawo, Tae Hyung-ah,” ucap Seok Jin sedikit terharu, “Semoga doamu juga selalu terkabulkan untukmu.” Lanjutnya.

“Terima kasih, hyung, padahal ulang tahunku masih lama.”

“Tidak apa-apa karena doamu juga untuk dirimu juga.”

Tae Hyung sedikit senang dengan perkataan Seok Jin tersebut. Mereka kemudian saling berbagi potongan kue yang berukuran kecil itu, bahkan saling menyuapi satu sama lain. Sebelum itu, Seok Jin yang tengah memotong kue itu, Tae Hyung tengah mengambil foto melalui ponselnya. Kemudian, dia menyebarkan foto tersebut ke seluruh media sosial, dengan berharap semua orang akan menyampaikan ucapan ulang tahun secara tidak langsung kepada Seok Jin, terutama sosok misterius yang sudah lama tak terlihat batang hidungnya. Tak lupa Tae Hyung menyebarkan foto pribadi Seok Jin yang dia anggap jelek dan aneh, membuat Seok Jin merasa kesal dan ketus dengan merebut ponsel Tae Hyung untuk membatalkan. Meskipun demikian, mereka akhirnya saling menyicipi kue ulang tahun Seok Jin dan hanya mereka saja yang merayakannya.

Orang tua mereka telah tiada sejak Seok Jin masih duduk di bangku sekolah dasar, sementara Tae Hyung baru duduk di bangku taman kanak-kanak. Hal inilah yang membuat mereka akhirnya hidup bersama nenek dari ibu mereka hingga beranjak dewasa. Di usia mereka yang telah dewasa ini, membuat mereka memutuskan untuk tinggal di rumah berdua dengan jarak rumah mereka yang sangat dekat dari rumah nenek mereka. Jika nenek membutuhkan bantuan, mereka tak segan segera membantu wanita lanjut usia itu. Tae Hyung ungkapkan bahwa ia tak ingin hidup berpisah dari nenek, begitu juga dengan Seok Jin yang sudah banyak membantu nenek mereka kala beliau sakit keras.

Sayangnya, beberapa hari sebelum ulang tahun Seok Jin, seluruh kampung halaman mendengar kabar yang menggemparkan. Badai menerpa berita duka yang tersebar hingga ke telinga Seok Jin dan Tae Hyung. Entah apa yang terjadi dengan nenek mereka, namun tiba-tiba salah seorang tetangga menemukan wanita lanjut usia itu tewas dengan pisau menancap sempurna di perutnya. Hingga sekarang pelaku yang diduga membunuh nenek Kim’s Sibling itu – Tae Hyung dan Seok Jin – belum ditemukan karena tak ditemukan sidik jari oleh pihak kepolisian. Tetapi, dari pihak kepolisian berjanji akan menemukan pelaku pembunuhan itu dan akan membuatnya jera.

Tampaknya, kematian nenek sejak beberapa hari silam masih menyisakan rasa duka yang terdalam dari Tae Hyun dan Seok Jin. Kehidupan mereka yang sulit untuk menemukan pekerjaan dan harus pindah menuju daerah perkotaan untuk mengubah nasib mereka. Dan kini, mereka telah menemukan tempat yang layak untuk memulai kehidupan baru. Meskipun demikian, justru Tae Hyunglah yang masih kesulitan dalam menemukan pekerjaan setelah Seok Jin sukses direkrut sebagai pemain gitar dalam sebuah grup band, sementara Tae Hyung tidak. Bukan suatu keberuntungan yang ajaib karena pihak agensi merekrut Seok Jin karena ketampanan dan kemahirannya dalam bermain gitar. Dan honor yang Seok Jin dapatkan sudah melewati cukup untuk membiayai hidupnya dan Tae Hyung. Hal ini patut Tae Hyung syukuri karena memiliki kakak yang baik dan dermawan, seperti Kim Seok Jin.

***

Malangnya Seok Jin tak bisa tidur akibat ulang tahunnya dirayakan tengah malam hingga lupa dirinya harus kembali tidur. Sementara Tae Hyung juga harus izin pamit dari rumah karena ada urusan pribadi yang tak bisa Seok Jin ketahui. Entah apa yang dilakukan Seok Jin selama di rumah, selain menulis lirik lagu sembari bermain gitar. Menahan kantuk yang masih tersisa dalam tubuh Seok Jin, berjuang untuk melawan kantuk tersebut, demi menyelesaikan lirik lagunya untuk dia nyanyikan sebelum hari natal.

Alih-alih mata bulatnya teralihkan, tertuju kepada ponselnya yang tergeletak di meja kecil. Seok Jin tertegun saat ponselnya bagaikan padang pasir yang tak berpenghuni. Sunyi dan jenuh. Dalam benak Seok Jin, kekasihnya yang tercinta itu tak kunjung memberi kabar, bahkan mengucapkan ulang tahun untuknya pun tidak. Alih-alih Seok Jin merasa gelisah dan sedikit khawatir jika gadis itu mengalami kejadian yang tak mengenakkan. Bahkan panggilannya tak diangkat sang kekasihnya itu, membuyarkan pikiran Seok Jin dengan sendirinya untuk menyelesaikan hasil cipta liriknya.

Eodiya?” Ucap Seok Jin sedikit khawatir dan gelisah. Tak mungkin dia berselingkuh dari belakang tanpa membawa kabar buruk untuk Seok Jin. Tak mungkin juga gadis itu mengkhianati Seok Jin karena hubungan mereka lancar tanpa hambatan maupun pertengkaran. Tak mungkin juga gadis itu dinikahi orang lain karena orang tuanya memberikan kabar terakhir untuk Seok Jin sebelum gadis itu menghilang tanpa membawa kabar. Kabar terakhir dari orang tua gadis itu melegakan Seok Jin dan mereka masih saling mengobrol satu sama lain. Untuk bertemu saja mereka masih menunjukkan hubungan asmara, yang sebelumnya ditentang penggemar dan pihak agensi Seok Jin. Namun, sekarang, hubungan mereka bagaikan butiran debu.

Untuk menghilangkan kegelisahan dan kegundahan, sebelum berakhir menjadi gila dan kesepian, Seok Jin segera keluar dari apartemen untuk pergi ke rumah kekasihnya itu. Dengan jarak yang cukup jauh, Seok Jin lebih memilih berjalan dan berlari daripada mengemudi. Baginya, mengemudi merupakan hal yang sedikit sial karena selalu terjebak macet. Di sisi lain juga Seok Jin menelepon Tae Hyung untuk membantunya menemukan kekasihnya yang menghilang, akan tetapi adik kandungnya justru mengabaikan teleponnya. Seok Jin sedikit menggerutu dan kesal, kemudian menelepon Tae Hyung kembali. Namun, hasilnya nihil. Meskipun begitu, Seok Jin cuek saja dan tetap berlari menuju rumah kekasihnya.

***

Sesampainya di depan rumah kekasih, Seok Jin segera mengetuk pelan pintu rumahnya, namun tak kunjung respon selang beberapa detik. Lelaki bersurai hitam itu kembali mengetuk pelan kembali rumah kekasihnya itu, tetapi tetap saja tak ada respon dari sang pemilik rumah tersebut. Bahkan rumahnya gelap gulita, seperti rumah tak berpenghuni. Seok Jin pun segera mendobrak pintu rumah tersebut hingga terbuka dalam keadaan engsel rumah rusak. Kemudian, lelaki itu melangkah masuk ke dalam rumahnya sembari menyalakan lampu ruang tamu. Tiba-tiba, Seok Jin merasa sangat terkejut saat melihat sesuatu yang menggemparkan dan mengejutkan. Matanya tak salah melihat orang tua dari kekasihnya yang tewas terbunuh oleh seseorang yang tak terduga. Ini menimbulkan kemarahan yang sedikit memuncak di ubun kepala Seok Jin.

Lelaki itu segera melangkah kembali ke ruang lain, yang ternyata keadaan semakin kacau. Ruang keluarga rumah kekasih Seok Jin itu berantakan dan banyak pecahan kaca yang menyebar di lantai, membuat Seok Jin harus berhati-hati dalam melangkah. Tak jauh dari jarak ruang keluarga menuju ruang lain, Seok Jin kembali melangkah memasuki ruang asing yang terbuka, namun ruangan tersebut masih gelap. Alih-alih, sekilas, ruang dapur juga ikut berantakan, begitu juga dengan ruang makan. Seok Jin menduga bahwa ada penyusup yang telah menyerang orang tua kekasihnya hingga membrutalkan seisi rumah.

Seok Jin telah masuk ke dalam ruang lain yang gelap gulita itu. Tangannya meraba-raba mencari saklar lampu, tetapi ruangan tersebut benar-benar tak mendapatkan cahaya kecil sedikitpun. Dan pada akhirnya, Seok Jin menemukannya dan segera menyalakan lampu ruang tersebut. Alangkah terkejutnya Seok Jin saat ia akhirnya menemukan kekasihnya yang tergeletak di lantai dalam keadaan tubuhnya bersimba darah. Gadis itu tewas dengan darah keluar sangat banyak dari tubuhnya.

“Shin Hye Jung!” teriak Seok Jin dengan ekspresi terkejut hingga berlari menghampiri gadis bernama Shin Hye Jung itu. Seok Jin terperangah setelah Hye Jung ditemukan tewas dibunuh. Entah siapa yang membunuhnya, mengingatkan Seok Jin juga melihat orang tua Hye Jung dibunuh juga. Perlahan air mata Seok Jin mengalir saat Hye Jung akhirnya tewas dibunuh orang misterius.

“Mengapa… mengapa kamu… jadi begini, Hye Jung-ah?” bahkan Seok Jin tak percaya bahwa darahnya menempel di tangannya. Darah segar yang menyeruak hingga lelaki itu harus menahan bau darah itu. “Si… siapa yang… siapa yang membunuhmu, Hye Jung-ah? Eoh?” Seok Jin tak bisa menahan tangisnya setelah melihat samar-samar wajah Hye Jung yang pucat dan memutih.

“Kamu tidak bisa meninggalkanku seperti ini, Hye Jung-ah? Aku sedang menggarap sebuah lagu untukmu karena kamu juga adalah penggemarku. Aku mohon jangan pergi dariku. Masih banyak hal yang harus kulakukan untukmu juga, terutama masa depan kita kelak. Aku mohon, Hye Jung-ah…”

Seok Jin akhirnya menangis histeris dengan memeluk erat tubuh Hye Jung yang bersimba darah itu. Suasana sedih dan tragis kala Seok Jin sedang merayakan hari ulang tahunnya dan memikirkan secara matang tentang masa depannya nanti. Masih ada hal yang harus Seok Jin lakukan, demi membuat Hye Jung bahagia dan mengawetkan hubungan mereka. Akan tetapi, Tuhan berkehendak lain dengan mencabut nyawa Hye Jung dalam kondisi mengenaskan. Entah siapa yang membunuhnya, tetapi Seok Jin benar-benar tak bisa merelakan keadaan itu. Terlebih lagi hari ini adalah hari ulang tahun.

Tiba-tiba, datanglah sosok berjaket serba hitam dengan mulut ditutupi masker senada, layaknya seperti Alan Walker – seorang DJ terkenal di Amerika. Ia melangkah sedikit demi sedikit dan memandang Seok Jin yang tengah memeluk Hye Jung penuh duka. Tangannya menggenggam pisau yang penuh darah dan menodai lantai putih bersih. Sosok itu tersenyum penuh kemenangan dan menjatuhkan pisau itu, memekakan telinga Seok Jin hingga lelaki itu memutarkan pelan tubuhnya ke belakang. Memandang nanar sosok berjaket hitam itu, juga matanya yang tak tertutup apapun. Seok Jin segera menahan amarahnya sebelum sosok misterius itu kembali meraih pisau yang terjatuh di lantai.

“Apa yang kamu…”

BUGH!

Belum selesai sosok misterius itu berbicara, tanpa ba-bi-bu Seok Jin segera menonjok wajah sosok berjaket hitam hingga pada akhirnya jaket pelindung kepalanya terlepas dengan sendirinya. Menunjukkan surai rambut cokelatnya yang lebat, tetapi tidak untuk masker hitam. Tubuhnya terhuyung ke belakang dan hampir mengenai meja yang di belakangnya. Ia meringis hingga Seok Jin kembali memukul wajahnya hingga sosok misterius itu tersungkur ke lantai. Seok Jin benar-benar emosi, akhirnya. Tanpa menerima ampunan dari sosok misterius itu, Seok Jin terus menghajar wajah sosok misterius hingga akhirnya tersungkur lemah.

“Apa yang telah kamu perbuat terhadap orang yang tak bersalah?! Apakah kamu tahu bahwa hari ini adalah hari aku harus mentraktir kekasihku?!” hardik Seok Jin sembari mencengkeram kerah jaket hitam sosok berjaket hitam itu. Yang direspon hanya tertawa penuh kemenangan sembari melepaskan masker yang dia kenakan. Menunjukkan wajah yang tak asing di mata Seok Jin. Keadaan kian berubah setelah Seok Jin mengetahui sosok berpakaian serba hitam yang telah membunuh seisi rumah dengan perasaan tak bersalah. Setelah melepaskan masker, munculah niat jahat untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik.

Sosok itu bernama Kim Tae Hyung, adik kandung Seok Jin.

“Tahukah hyung bahwa aku ingin merusak rencana hyung untuk kedepan? Lihatlah di sekitar hyung. Aku telah membunuhnya, bahkan aku telah melecehkan dia sebelum pisau itu ada di tanganku.” Ungkap Tae Hyung sedikit tersenyum licik sebelum Seok Jin kembali memukul wajah sang adik.

“Percuma hyung memukul wajahku seperti ini. Tak ada gunanya hyung memukul wajah orang lain. Pantas saja hyung terkenal jika sikap tersembunyi hyung saja tak tertangkap kamera.”

“Dasar iblis! Persetan dengan perkataanmu yang omong kosong!”

“Maka dari itu aku memiliki kesempatan untuk membuat hyung jera!”

Seok Jin kembali memukul wajah Tae Hyung hingga sudut bibirnya mengeluarkan banyak darah segar. Tae Hyung sedikit meringis kesakitan, tetapi hatinya tak pernah seperti sudut bibirnya.

“Karena hyung sangat terkenal dan aku merasa terpojok, aku merasa sakit hati! Jika hyung lebih memilih aku daripada uang hyung hasil jerit payah hyung bekerja, aku sudah cukup bersyukur. Bahkan hyung masih memikirkanku saja aku masih tetap bersyukur! Keundae,” perkataan Tae Hyung terhenti saat air mata membasahi pipinya, “Hyung tak pernah menganggapku ada jika kita selalu bepergian kemana-mana, bahkan penggemar setiamu selalu memanggilmu untuk menjadi daya tarik mereka. Lalu aku? Hyung lebih mementingkan penggemar daripada aku!” Tae Hyung akhirnya menangis setelah mengakhiri perkataannya, membuat kepalan Seok Jin kian melemah dan cukup tersadar.

“Aku hanya berharap hyung memerhatikanku sedikit saja daripada penggemar hyung dan karir hyung. Aku tak suka jika orang lain tak menganggapku ada, apalagi membuangku. Ini sungguh sakit hati, hyung. Apa salahku sehingga agensi hyung melirik hyung untuk debut sebagai vokalis band? Mereka hanya mengandalkan ketampanan hyung daripada bakat hyung…”

“Persetan dengan perkataanmu!” Seok Jin kembali menonjok wajah Tae Hyung tanpa ampunan. “Lantas, jika kamu iri dengan kesuksesanku dalam mendapatkan uang, mengapa engkau malah berakhir membunuh orang lain?! Apa jangan-jangan… kamu yang membunuh nenek kita?!”

“Omong kosong!” Tae Hyung membalas pukulan Seok Jin, tepat di sudut bibir tebalnya hingga mengeluarkan sedikit darah segar. “Aku bukanlah pembunuh nenek kita! Jangan asal tuduh jika tanpa bukti!”

“Buktinya?! Kamu membunuh orang lain di sekitarku, terutama rumah ini! Apakah bukti ini belum cukup?!”

“Buktinya adalah hyung!” Tae Hyung kembali menonjok wajah Seok Jin hingga kembali tersungkur ke lantai putih. Sementara yang memukul bangkit dari kesakitan yang amat pedih, kemudian mengalihkan pandangan ke pintu yang terbuka.

“Hyung tak akan pernah tahu apa yang sebenarnya nenek kita terjadi? Apakah hyung tak pernah tahu juga bahwa akulah yang membunuh nenek kita?” sementara yang mendengar pertanyaan Tae Hyung hanya meringis kesakitan, kemudian memandang Tae Hyung penuh kebencian.

“Nenek kita… terlalu memerhatikan hyung dariku. Bahkan hyung dianggap anak kandung oleh nenek kita, sementara aku dianggap anak sampah di keluarga Kim. Apakah ini terlalu menyakitkan? Hyung tak pernah tahu bagaimana rasanya aku terus dikucilkan dari Keluarga Kim, sementara hyung sendiri tak pernah peka terhadap perasaanku yang tersembunyi. Hyung hanya mementingkan kehidupan hyung sendiri daripada aku. Dan hyung justru tampak ingin menyingkirkanku dari keluarga. Memangnya apa salahku selama ini?!”

Seok Jin memandang Tae Hyung penuh kekalahan. Dirinya, yang dulu, ternyata terlalu egois dan mementingkan dirinya sendiri dan keluarga daripada Tae Hyung. Keegoisannya yang selalu melekat dan mendarah daging di tubuhnya. Namun, Seok Jin tak pernah peka dan kritis terhadap perasaan Tae Hyung yang selalu dikucilkan di keluarga Kim. Bahkan, sejak kecil, Tae Hyung kecil terus menangis di pojokan kamarnya. Dan yang mengetahui perasaan Tae Hyung hanyalah Tuhan, bukan Seok Jin.

“Aku mulai membenci hyung hari ini,” Tae Hyung akhirnya bangkit sempurna dari lantai, memandang kembali Seok Jin penuh kebencian, “Dan aku masih benar-benar membenci hyung sejak kita kecil. Apakah aku benar-benar membenci hyung? Iya, aku masih membenci hyung, sangat.” Lanjutnya dengan perkataan yang tajam dan pedas, penuh sinis.

Tanpa berpikir panjang, Tae Hyung segera melangkah pergi dari kamar Hye Jung, meninggalkan Hye Jung yang tersungkur di lantai penuh darah. Sementara Seok Jin mulai sadar dengan keegoisannya. Alih-alih pandangannya tertuju kepada Hye Jung yang tewas di tempat, menodai lantai putih yang mulai kering. Seok Jin mulai menunduk, merenungi kesalahan yang telah ia lakukan terhadap Tae Hyung hingga menyakiti hatinya. Kemudian, terdapat pisau yang telah dinodai darah akibat Tae Hyung membunuh orang di rumah hingga tewas.

“Apakah aku memang segois yang Tae Hyung pikirkan?” tanya Seok Jin sedikit frustasi. Dirinya mulai menangis penuh sesal. Kembali menangis dan teringat neneknya yang harus pergi jauh dan tak kunjung kembali. Sungguh hari yang menyesal karena hari ini adalah hari ulang tahunnya. Tetapi, justru keadaan semakin kacau saja. Apakah Seok Jin akan memperbaiki keadaannya yang rusak? Mungkin tidak bisa karena semuanya berasal dari keegoisan Seok Jin.

Jemarinya tergerak pelan, merogoh sesuatu dari saku jaketnya. Iya, Seok Jin tengah mengambil ponsel dan menekan nomor singkat dengan cepat. Setelah itu, Seok Jin mendekatkan ponselnya ke telinga kanannya. Air mata tak pernah terhenti saat seseorang mengangkat telepon Seok Jin. Dengan berat hati dan pasrah, lelaki bersurai hitam itu mengeluarkan perkataannya. “Saya ingin menyerahkan diri.” Ucapnya yang pada akhirnya menangis pasrah, membuat yang diteleponnya itu bertanya penuh kebingungan.

“Saya… telah membunuh banyak orang, terutama nenek saya.” Ujar Seok Jin sedikit terisak hingga tak sengaja ia menjatuhkan ponselnya dan mulai menangis sesegukan. Memandang kembali wajah cantik Hye Jung yang kini berganti silih menjadi sangat pucat, seperti kekurangan darah. Seok Jin tak memiliki jalan lain selain menyerahkan diri, meskipun dia bukan pelakunya. Tetapi, ini semua merupakan kado terindah untuk Tae Hyung sebelum natal, bahkan sebelum ulang tahunnya juga. Permintaan maaf adalah kadonya. Biar Seok Jin saja yang dihukum, bukan Tae Hyung.

Di sisi lain, Tae Hyung melangkah pelan keluar dari rumah. Menunduk tanpa memerhatikan setiap jalan hingga dirinya menabrak seseorang dihadapannya. Tae Hyung mendongak pelan dan memandang seseorang yang tengah berdiri tegap dihadapan Tae Hyung. Mengenakan pakaian seragam, dengan adanya lambang yang dijahit di lengan kekarnya, Tae Hyung terdiam mematung. Yang dihadapannya adalah seorang polisi.

Tae Hyung tak mengetahui hal ini mungkin akan terjadi dengannya. Wajahnya tampak amburadul setelah membunuh orang tua Hye Jung dan anak dari mereka sendiri. Dia sudah menduga bahwa Seok Jin yang melaporkan kasus ini sebagai pembalasan dendam selanjutnya. Sebentar lagi hidupnya akan berakhir di penjara. Tae Hyung sudah menduga hal ini akan terjadi selanjutnya.

“Permisi, anak muda. Kami datang kesini,” sudah cukup Tae Hyung mendengar perkataan dari pihak kepolisian. Hidupnya benar-benar telah berakhir sampai disini, “Kami datang kesini untuk menangkap seorang pria bernama Kim Seok Jin. Apakah anda tahu dimana dia sekarang?”

Tae Hyung tertegun saat polisi bertubuh gemuk itu melontarkan satu pertanyaan. Mengapa Seok Jin hyung yang ditangkap? Batin Seok Jin penuh keheranan. Dia pikir, hidupnya akan berakhir di penjara serta disiksa para narapidana. Dia juga pikir, Seok Jin akan membencinya karena telah membunuh kekasihnya yang tercinta, juga calon mertuanya dan nenek. Dia juga pikir, setelah dibebaskan dari penjara, Seok Jin menganggap Tae Hyung hanya orang asing. Akan tetapi… mengapa harus Seok Jin hyung?

“Dia…” Tae Hyung cukup terbata-bata untuk menjawab pertanyaan, entah harus bagaimana perasaannya setelah ini. Jari telunjuk kanannya menunjuk ke arah pintu depan yang terbuka itu. Jemarinya bergemetaran seolah dirinya dilindungi, walaupun takut kejadian tersebut terulang kembali.

Setelah polisi melangkah masuk ke dalam rumah, bersamaan dengan para polisi lainnya, Tae Hyung mulai terduduk lemas di hamparan rumput. Ingin rasanya dirinya segera melindungi Seok Jin, tetapi ini sudah terlanjur karena ini merupakan jalan terbaik untuk Seok Jin, terutama hari ini adalah hari ulang tahunnya. Apa yang harus Tae Hyung perbuat setelah ini? Tidak ada.

“Hyung,” ucap Tae Hyung cukup lirih, bibirnya bergemetaran, “Aku benar-benar membutuhkanmu sekarang.” Lanjutnya kembali menangis lirih penuh sakit. Menangisi dirinya yang penuh bersalah. Berharap bukti bahwa Seok Jin membunuhnya, semuanya salah.

***

25 Desember 2016…

Seok Jin akhirnya melangkah keluar dari gedung tahanan, ditemani seorang sipir bertubuh gemuk berotot. Memandang langit indah disertai turunnya salju yang menghujani kota Seoul. Bersyukur karena ia akhirnya kembali hidup bahagia dengan sendirinya. Dapat kembali menulis lirik lagu yang tertunda akibat kasus pembunuhan. Juga banyak sekali penggemar, yang dengan setiap menunggu idol-nya untuk bebas dari penjara dan memulai kembali hidupnya yang berantakan. Terlebih lagi, kini dia hidup bahagia setelah dipenjarakan.

Sebelum dibebaskan, polisi telah menemukan fakta bahwa Seok Jin bukanlah pelaku pembunuhan, tetapi mereka tak melanjutkan kasus. Entah apa yang terjadi dengan penghentian kasus pembunuhan. Mungkin polisi tak menemukan bukti yang akurat dan membuktikan bahwa Seok Jin memang bersalah. Mungkin saja bukti tersebut telah musnah karena bukti dapat memperkuat kebenaran. Akan tetapi, Seok Jin akan selalu ingat bahwa Tae Hyung adalah pelaku yang sesungguhnya.

Sekarang, entah apa mungkin nanti, Seok Jin tak menemukan Tae Hyung di apartemennya. Dan semua barang milik sang adik kandungnya itu, justru sudah tidak ada di apartemen. Seok Jin mulai menduga bahwa Tae Hyung akan pergi terlalu jauh untuk mengubah kembali kehidupannya yang berantakan akibat masa lalu dan sekarang. Seok Jin tetap tak melihat batang hidung Tae Hyung sekarang. Dimana Tae Hyung sekarang?

Tiba-tiba, di depan pintu kamar, Seok Jin menemukan sebuah sticky note berukuran sedang menempel utuh. Terdapat tulisan tangan Tae Hyung yang indah dan terbaca di mata Seok Jin. Lelaki bersurai hitam itu segera melepaskan kertas yang menempel itu, kemudian membacanya pelan hingga mata Seok Jin kembali berkaca-kaca. Perasaannya kembali dilanda penyesalan, bahkan setelah dibebaskan dari penjara.

Kim Tae Hyung. Dugaan Seok Jin benar bahwa Tae Hyung akan pergi terlalu jauh untuk hidup bahagia sendirian disana. Tokyo, tempat Tae Hyung hidup bahagia dan menata kembali kehidupannya yang suram dan menganggap semuanya menjadi masa lalu. Sementara Seok Jin membekap mulutnya pelan karena sosok adik kandungnya benar-benar pergi, meninggalkannya sendirian dalam rasa sedih dan duka. Membiarkan Seok Jin hidup dengan sendirinya, Tae Hyung lebih memilih kabur dari Korea.

Tangan Seok Jin kembali merogoh saku celananya, mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Kembali menekan beberapa nomor yang dia tuju, kemudian mendekatkan ponsel tersebut ke telinganya. Seok Jin tengah mencoba menghubungi Tae Hyung. Berharap adik kandungnya itu mengangkat teleponnya.

Nomor yang anda tuju sedang sibuk. Silakan kirimkan pesan suara anda.

“Tae Hyung-ah,” ucap Seok Jin sedikit sesegukan, “Selamat hari Natal. Hyung merindukanmu. Dan juga, maafkan atas keegoisan hyung.” ujarnya menahan tangis.

END

#HappyJINday

4 Desember 2016

22.13 WIB

Huaaa…. buat FF ini lama banget yak? Bagaimana setelah membaca FF ini? Gak dapet feelkah? Ya udh deh aku minta maaf ya karena konsentrasiku terganggu juga sama UAS besok.

Advertisements

3 thoughts on “[Special FF Freelance] White Christmas ( present for Jin’s birthday )

  1. Sedih saya baca ceritanya.. 😭😭😭, Taehyung baliklah ke kakakmu.. Huhuhu..

    Aku tunggu ceritanya yang lain ya kak.. Hwaiting ..!!!!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s