[FF Freelance] Deeply Love, Everlasting Love

Deeply Love, Everlasting Love

Nama Author      : deergalaxy0620

Cast                     : Oh Jong Seok a.k.a Eddy ( JJCC )

Alliana Han ( OC )

Josanna Han ( OC )

Genre                   : Romance, Hurt, Fluff

Rating                  : PG-15

 

Alliana’s P.O.V.

Cinta itu tidak memandang usia. Benar, kan? Cinta itu tak dapat dipaksakan. Benar juga, kan? Selama hidupku, aku tidak pernah menyukai seseorang. Tidak, bukan tidak pernah, melainkan menyukai seseorang yang hanya sebatas teman. Jangankan menyukai seseorang, untuk mengungkapkan perasaanku terhadap seseorang saja sudah membuat bibirku dikunci. Tetapi, batin menyuruhku untuk pantang menyerah. Dalam artian aku berjuang untuk mendapatkan hatinya.

Namun setelah melakukan segala cara agar dia mengetahui perasaanku, tetap saja aku tidak mampu mengutarakan segala perasaanku terhadapnya. Bagaimana tidak? Aku hanya seorang gadis biasa yang dekat dengan seorang lelaki hanya saat keperluan saja. Tidak lebih. Teman-temanku saja mendorongku untuk menyerah karena seorang gadis tidak pantas mengungkapkan perasaan terhadap seorang lelaki yang aku sukai. Oh tidak! Aku tidak menyukai pernyataan mereka yang cukup sinis. Tidak. Tidak akan!

Biar kuceritakan segalanya. Dia memiliki banyak sekali penggemar karena ketampanannya. Bukan hanya ketampanannya, melainkan dia mampu meluluhkan hati para gadis. Namun sebenarnya dia sangat dingin terhadap gadis yang membencinya. Dalam artian, dia menolak semua perasaan gadis, kecuali seorang gadis yang merupakan tipe idealnya. Aku tidak tahu siapa dia, bahkan ingin sekali aku mengorek identitasnya. Bukan karena aku hendak membandingkan dengan para wanita yang telah mengutarakan perasaan terhadapnya, tetapi untuk mengetahui apa yang membuat pria tampan seperti dia menolak perasaan para wanita.

Meskipun begitu, tetap saja dia memiliki banyak sekali penggemar. Bahkan adik tertingkatku saja selalu curhat padaku bahwa dia sangat tampan, setampan aktor Korea. Aku hanya dapat tertawa karena pendapatku sependapat dengannya. Itulah yang membuatku menyukainya. Sayangnya, aku hanyalah gadis pengecut. Mengapa? Jangankan menyukai, mengutarakan perasaan saja sangat sulit. Lebih sulit daripada pelajaran Matematika yang membuat seluruh murid sakit kepala.

Tapi, aku bukan gadis yang bertekuk lutut. Aku akan berusaha untuk membuatnya menjadi milikku. Seumur hidupku, aku akan membuatnya menyukaiku. Tidak peduli bagaimana strategiku. Jika ingin melihat strategiku, jangan sungkan untuk membantuku.

End of P.O.V.

N Seoul Tower…

Roof Terrace

Alliana menggenggam sebuah kunci dan gembok yang telah ternodai dengan tulisan tangannya menggunakan spidol hitam kecil. Namanya tercantum di dalam gembok merah-putih itu. Bukan hanya namanya saja, dia juga menorehkan sebuah julukan untuk seorang pria yang dia sukai. Sebut saja namanya “Mr. Loverboy.” Sungguh lucu baginya hingga dirinya tertawa kecil. Alasan gadis bersurai cokelat panjang sepunggung itu memberikan julukan tersebut karena pria itu sangat romantis dan banyak sekali gadis yang mengaguminya. Bibirnya yang sungguh seksi dengan sinar matanya yang mampu meluluhkan hati para wanita. Badannya juga cukup berotot karena sering latihan dan tingginya hampir menyentuh tinggi badan pria jangkung. Yang terakhir adalah dia sangat gentleman.

Namun sayang sekali, ada kabar angin yang cukup menggemparkan di kalangan para gadis idaman. Bahwa ternyata dia memiliki perasaan yang lebih dari sekadar teman. Cukup membuat Alliana sedikit kecewa. Hatinya berharap bahwa gadis yang dia sukai adalah dirinya. Akan tetapi, teman-temannya menganggap dia terlalu mengkhayal dan semuanya hanya mimpi. Bagaikan para penggemar yang terlalu mengharapkan untuk dapat berkencan dengan para anggota boyband Korea yang tampan. Sungguh menyakitkan, namun dia membalas cibiran teman-temannya dengan tersenyum.

Disinilah, tempat Alliana mengharapkan sesuatu yang akan terwujud suatu saat nanti. Gembok yang ternodai spidol hitam dengan menorehkan namanya dan nama seseorang yang dia sukai. Berharap suatu hari nanti mereka dapat berkencan. Hal yang konyol sehingga gadis bertubuh pendek itu hanya mengukir senyuman pahitnya. Tangannya tergerak mengunci gembok di gantungan dan diantara seribu gembok lainnya. Dengan segera dia menautkan tangannya dengan membuat sebuah harapan.

“Aku mohon padamu. Buatlah aku berkencan dengannya,” pinta Alliana dengan lembut dengan memejamkan matanya. Doa akan terkabulkan jika dia memiliki usaha. Dan disinilah juga dia memohon agar doanya segera dikabulkan. Tempat tertinggi dan tempat terkabulnya doa suatu hari nanti.

***

Universitas Yonsei…

Seorang pria bersurai merah kecokelatan itu melangkahkan kakinya menuju deretan loker abu-abu yang menjulang ke atas. Tangannya merogoh mengeluarkan kunci loker bernomor 707, lalu menautkan kunci tersebut ke loker yang bernomor sama. Saat dia membuka loker, tiba-tiba ada banyak sekali surat yang mengumpul di dalam lokernya hingga beberapa surat lainnya terjatuh di atas kakinya. Ekspresinya sungguh lucu dengan membelakkan matanya dan mulutnya sedikit terbuka. Semua orang memandangnya penuh keheranan. Ada yang berpandangan bahwa surat tersebut berasal dari kalangan gadis di seluruh universitas karena rata-rata warna amplop mereka adalah pink.

Pandangan pria itu teralihkan kepada lokernya yang menyisakan sebuah sticky note yang menempel di dinding lokernya. Pria berbibir tebal seksi itu meraih kertas tersebut dan membaca isi pesan singkat tersebut. Isi pesan tersebut cukup simple, namun mampu membuat jantungnya berdegup kencang.

I like you. I wanna be your boyfriend.” cukup tercengang dengan isi pesan tersebut. Singkat, namun mampu mengutarakan perasaan untuknya. Dia mengernyitkan dahinya dan berpikir siapa yang menuliskan pesan tersebut.

Dari kejauhan, Alliana tersenyum dengan menggigit kuat bibirnya. Hatinya menggebu-gebu, bahkan jantungnya berdegup sangat kencang. Ada ribuan kupu-kupu menggelitiknya. Memandang seorang pria yang memasang wajah penasaran. Dia bingung, bahkan dia salah tingkah. Dia memandang ke arah sekitarnya – untuk menemukan pengirimnya, namun dia tidak menemukan siapapun disana, kecuali Alliana. Alliana segera kabur menuju kelas agar tidak tertangkap dengan mata elang seorang pria bertubuh tinggi itu. Meninggalkannya yang masih merasa bingung dan terkesan penasaran. Sayangnya, dia mendengar langkahan kaki Alliana yang cepat. Pria berbibir seksi dan tebal itu tersenyum smirk dengan melangkahkan kakinya menemui keberadaan Alliana.

Di dalam kelas, Alliana tersenyum lebar seolah dia sudah jatuh cinta. Mengirimkan pesan berupa sticky note saja sudah cukup membuatnya senang. Sementara orang lain memandangnya aneh dan bingung. Tidak peduli dia mendengar cibiran mereka. Gila, sinting, dan idiot. Lontaran cibiran merekalah yang membuat Alliana cuek. Seandainya jika mereka berada di posisi Alliana? Mereka pasti menggunakan segala cara yang kotor untuk mendapatkan hati seorang pria idamannya, juga membuang usaha terbaik mereka dengan usaha yang begitu licik. Tentu saja mereka gagal untuk menarik perhatian seorang pria tampan.

Tiba-tiba, pria yang mendapatkan banyak sekali surat itu, datang lagi dan memandang Alliana dari jauh. Melihat tatapan pria itu, gadis bersurai cokelat panjang sepunggung itu membenarkan ekspresinya menjadi pendiam dan pura-pura membaca buku. Tatapannya mengunci kepada deretan kalimat dan bibirnya tergerak pelan membaca buku tentang ilmu kedokteran. Akan tetapi, pria berperawakan tinggi itu berjalan menghampiri Alliana, membuat jantung sang gadis itu berdetak.

“Katakan saja jika kamu menyukaiku,” pria itu menggodanya sembari meraih buku yang dibaca Alliana. Gadis itu mendecak tak percaya dengan memutarkan bola matanya.

“Permisi, tuan tampan. Sepertinya anda terlalu optimis. Apakah anda memiliki bukti bahwa aku menyukai anda? Bahkan orang seperti anda terlalu pede jika anda memiliki banyak sekali penggemar di kalangan sini,” Alliana segera bangkit dari kursi, lalu memandang wajah seorang pria dengan menyipitkan matanya. Tangan pria berbibir tebal dan seksi itu merogoh dan mengeluarkan sebuah kertas tempel yang dia simpan sejak tadi.

“Sticky note ini,” pria berkulit cukup putih itu menunjukkan sticky note yang diberikan Alliana, “bahkan tulisan tangan ini, sama persis dengan tulisan tanganmu. Bagaimana tidak? tulisan tanganmu sangat berbeda dengan tulisan tangan yang lainnya.” lanjutnya sembari menempelkan kembali sticky note ke dahi lebar Alliana, membuat sang gadis itu melepaskan kertas tersebut, lalu menempelkan kembali ke rambut merah kecokelatan pria itu.

“Apakah kamu menyukaiku? Katakan saja jika kamu menyukaiku. Tidak masalah jika seorang wanita mengutarakan perasaan terhadap seorang pria. Tetapi, ini cukup aneh.” pria bermata cukup lebar itu melirik ke atas dengan berpikir.

“Siapa juga aku menyukaimu? Kamu tidak usah terlalu percaya diri…”

“Kalau begitu, untuk membuktikan bahwa kamu memang tidak menyukaiku, temui aku di Terrace Rooftop jam delapan malam nanti. Aku tunggu kamu disana,” Alliana membelakkan matanya saat mendengar perkataan pria bertubuh tegap itu. Gadis bermata sipit itu sedikit melontarkan kata umpatan dengan lirih.

“Mengapa? Tidak suka? Kalau begitu temui aku…”

“Baiklah baiklah. Aku akan menemuimu nanti. Jam berapa? Jam delapan malam? Araseo, aku akan bertemu denganmu. Akan tetapi, aku memiliki syarat untukmu,”

“Syarat? Apa syaratnya?”

“Berikan sebuah bukti yang nyata bahwa aku memang menyukaimu. Tidak hanya kertas tempel yang tidak berguna ini, melainkan segalanya yang kamu miliki.”

“Jika memang terbukti bahwa kamu menyukaiku?”

Alliana tertegun dengan pertanyaan terakhir yang terlontar dari bibir seksi dan tebal pria itu. Merasakan jantungnya kembali berdegup kencang. Darah mendesir dan membuat pikirannya semakin kacau. Tentu dia tak dapat berkutip lagi. Sedikit menimbang-nimbang jika pria itu mendapatkan buktinya secara nyata.

“Tenang saja, aku juga tidak berharap bahwa itu kamu,” pria dihadapannya itu pergi meninggalkannya. Bibirnya membeku dan tubuhnya menegang. Tangannya mengepal kuat dan dirinya semakin gila dengan pertanyaan terakhir yang terlontar dari bibir pria bertubuh tegap itu. Tanpa sengaja Alliana melontarkan kembali umpatannya untuk pria itu. Perasaannya sangat kesal sekaligus menggerutu. Namun dibalik perasaannya itu, jantungnya kembali berpacu lebih kencang sehingga sebenarnya dia berpura-pura kesal sekaligus gerutu. Terukir senyumnya yang manis, lalu memejamkan matanya pelan.

Di luar kelas, pria itu melengkungkan sedikit bibirnya, kemudian menyandarkan tubuhnya ke dinding. Perlahan senyuman tersebut melebar hingga menampakkan deretan gigi putihnya. Dia berpikir apakah Alliana benar-benar menyukainya. Sayangnya, dia tidak memiliki perasaan yang sama dengannya. Yang ada hanya menemukan beberapa kode dan semua berasal dari Alliana. Kode yang sungguh mudah ditebak tanpa menimbang terlebih dahulu, yakni sticky note. Terasa lebih mudah menebaknya karena dia mengenal tulisan tangan Alliana yang tampak bagus dan rapih.

Sebelumnya, mereka saling tak mengenal satu sama lain. Alliana yang dia tahu hanyalah kutu buku dan pendiam, akan tetapi dia sangat cerewet. Dia tak memiliki teman karena tak ingin mendengar saran dari teman-temannya yang terkesan menyakitkan. Mereka beranggapan bahwa Alliana hanya bermain dengan seorang pria. Bahkan, lontaran yang cukup sinis telah membuat gadis itu tetap bersikukuh untuk mendapatkan hatinya. Ada alasan tersembunyi mengapa mereka selalu berharap agar Alliana tak dapat berkencan dengannya, yakni pihak ketiga.

“Namaku Oh Jong Seok. panggil saja aku Eddy. Aku hanya seorang pria yang tak mengerti perasaan wanita,” pria bernama Eddy itu memperkenalkan diri untuk dirinya sendiri. Senyumnya tak pernah pudar dari bibirnya. Tatapannya sedikit mengelap.

“Aku mengenalmu lebih dari sekadar teman asing.” ujarnya sembari meninggalkan kelas Alliana menuju suatu tempat yang tak pernah diketahui orang lain. Tangannya tergerak membuang sticky note ke tempat sampah sekilas.

***

Eddy melangkahkan kakinya dengan memandang etalase yang mengelilingi ruangan. Tatapannya tertuju kepada sebuah foto kecil yang tampak sangat mirip dengan Alliana. Matanya, hidungnya, bibirnya, semuanya sama persis dengan gadis itu. Senyumannya tak pernah pudar, bagaikan seorang bidadari yang tak pernah berhenti memancarkan sinarnya dengan senyuman. Kulitnya yang putih mampu membuat mata Eddy cukup silau. Kecantikannya melebihi wanita yang lain di seluruh dunia. Anggaplah dia sangat cantik seperti aktris Kim Tae Hee.

Langkahan Eddy terhenti dan kini tubuhnya menghadap ke sebuah etalase. Tidak hanya sebuah foto kecil, melainkan ada pot kecil dan surat. Tangannya tergerak membuka pintu etalase tersebut, lalu meraih surat yang sedikit kusut. Atas nama Josanna Han untuk Eddy. Nama mereka tercantum di bagian depan amplop. Tulisan tangannya ditulis Josanna dan surat ini untuk Eddy. Dia membuka suratnya, lalu membacanya yang cukup membuat hatinya sangat miris.

Eddy-ya,
Aku berharap kamu membaca surat ini. Surat yang mampu mendorong perasaanmu dariku. Surat ini merupakan satu harapan dariku. Aku berharap kamu mengabulkan permintaanku, meskipun ini permintaan yang kecil. Walaupun kecil, ini akan mengubah hidupmu. Tak perlu menyesal untuk hidup.
Alliana menyukaimu saat kami menduduki kuliah pertama kali. Kamu tahu? Saking dia menyukaimu, dia tak pernah berhenti mengirimmu kertas tempel di dalam lokermu. Dia tak mampu mengutarakan perasaannya melalui bibir manisnya. Bibirnya selalu kelu karena beginilah seorang gadis dari karakter Alliana. Dia memang pendiam karena teman-temannya menjauhinya setelah mengetahui perasaannya secara tidak langsung. Menurut mereka, Alliana tak pantas menjadi kekasihmu suatu hari nanti. Aku merasa sangat marah kepada mereka karena telah membuat Alliana cukup sakit hati. Mereka selalu memihakku, namun aku menolak mereka dan aku hanya memihak di sisi Alliana.
Kendati pun begitu, dia sangat kuat dan pantang menyerah untuk mendapatkan hatimu. Dia sangat layak untuk menjadi kekasihmu. Namun, satu hal yang kuketahui darimu adalah bahwa aku merasa tidak ikhlas dengan apa yang dilakukan Alliana. Dia telah terlanjur cinta denganmu, bahkan dia semakin membuatku kecewa. Sungguh aneh, tapi nyata, bukan? Perlahan dia selalu memojokku agar aku tidak dapat bertemu dengannya. Sungguh ironi karena dia menganggap bahwa kamu adalah miliknya. Telingaku terasa terbakar mendengar imajinasinya yang terlalu berkhayal.
Kau tahu? Aku lebih dari sekadar teman. Aku juga lebih dari sekadar cinta. Sebuah cinta yang kulabuhkan untukmu. Namun, kamu menolak perasaanku karena kamu menyukai wanita lain selain aku. Kupikir kamu menyukai Alliana sehingga kamu menolak perasaanku yang kupendam selama enam tahun. Jadi, aku mengutarakan perasaan ini melalui surat ini. Surat yang kutuliskan dengan tinta hitam beserta air mata yang telah mengering di permukaan kertas.
Aku akan pergi jauh dari sini. Bukan ke surga, melainkan aku akan pergi kembali ke Tokyo. Orangtuaku merindukanku sehingga aku harus bertemu dengan mereka. Dan surat ini, aku berharap kamu selalu mengingat apa yang kuceritakan padamu. Pesan dariku, jika kamu benar-benar menyukai Alliana, jagalah dia. Jangan sampai kamu menyakitinya, juga jangan merusak tulang rusuknya jika kamu benar-benar mencintainya. Dia gadis yang tepat untukmu. Aku menjamin itu.
Selamat tinggal, Eddy-ah. Aku akan mendoakanmu agar bahagia di sisi Alliana.
Your secret admirer
Josanna Han

Setelah membaca surat perpisahan perlahan, Eddy tak sengaja menjatuhkan surat itu. Napasnya sedikit tersendat dan tanpa sengaja air mata membasahi pipinya. Tak pernah ia terpikir jika Josanna Han – kembarannya Alliana – ternyata menyukainya juga. Bahkan dia memendam perasaannya selama enam tahun terakhir. Dia sangat cantik sehingga membuat hati Eddy terpikat olehnya. Sayangnya, dia tak menyukai Josanna karena dia juga menyukai gadis lain. Bukan Alliana, melainkan gadis yang benar-benar dia sukai.

Eddy sedikit menyesal karena tak membalas perasaan Josanna yang sudah sangat lama dia pendam. Perlahan tubuh pria berperawakan tinggi itu terjatuh ke lantai dan kembali memandang foto gadis di dalam etalase itu. Dia sangat manis bagi Eddy. Sayangnya, dia telah mati dan hanya meninggalkan sepucuk surat yang tertinggal di dalam etalase itu. Sepucuk surat yang telah kusut dan sedikit lusuh. Perasaan bingung terlukis di wajah Eddy. Bingung harus bagaimana selain meminta maaf dan menyesal.

“Maafkan aku, Josanna. Maaf jika aku menolak perasaanmu yang telah lama kamu pendam. Mengapa aku begitu bodoh menolakmu? Jika waktu dapat berputar, aku akan menerima perasaanmu,” Eddy menyesal disela-sela tangisnya. Tangannya tergerak kembali meraih kertas, lalu meremas kuat benda lunak tersebut. Tangannya yang menggenggam kertas tersebut tergerak menuju hatinya yang tersayat.

“Bagaimana aku harus menyatakan perasaanku terhadap Alliana jika semuanya kembali terulang? Aku memang lelaki yang bodoh. Mengapa aku begitu menyakitimu hingga kamu pergi meninggalkanku?” tangannya tergerak memukul kepalanya sendiri. Begitu bodohnya hingga dia melukai dirinya sendiri. Andai semuanya terulang dari awal. Eddy akan menerima perasaan Josanna. Namun sangat sulit jika ternyata Alliana juga menyukainya. Sulit untuk menentukan siapa gadis yang paling tepat untuknya.

Tiba-tiba, dia mendengar derapan kaki yang semakin mendekat. Dia juga merasakan ada orang lain yang ikut terduduk dan menyejajarkan tubuhnya. Tangannya tergerak mengelus pelan helaian surai merah kecokelatannya, membuat tangisannya terhenti sejenak. Kepalanya tergerak mendongak sedikit ke atas dan memandang seseorang yang tak pernah ia duga. Sungguh nyata. Dia dapat melihat seseorang yang sudah lama tak berjumpa sua.

“Mengapa kamu menangis, bodoh? Kamu tampak lebih bodoh menangis daripada mengutarakan perasaanmu terhadap orang lain. Apa yang kamu tangisi? Diriku yang telah mati dan hidup tenang di surga?” Eddy hanya melongo dan air mata kembali membasahi pipinya.

“Aku tahu kamu menyesal karena menolak perasaanku. Hatimu telah tercabik-cabik. Aku telah mengetahui penyesalanmu. Namun, tidak salah jika masih ada Alliana. Dia sungguh baik untukmu. Dia lebih baik dariku. Jadi, jangan menyesal sebelum waktunya. Jika kamu memiliki perasaan terhadap Alliana, jangan sungkan kamu mengungkapkannya. Dia juga menyukaimu setelahku,” dia adalah Josanna, kembaran Alliana. Dia tersenyum manis kepada Eddy. Senyuman yang lebih manis, seperti Kim Tae Hee.

“Ini semua sudah berakhir. Aku juga menyesal mengapa aku merasa kecewa dengan Alliana. Dia sudah seperti adikku sendiri, meskipun kami adalah kembar. Namun, tenang di surga membuatku sadar bahwa perasaanku terhadapmu sangat sulit dan mau tak mau aku harus rela melepaskanmu. Dan disinilah kamu menemuiku di ruang pengumpulan abu.” jelasnya dan Eddy hanya memandangnya sedikit tak percaya. Dia tampak seperti memandang Josanna secara nyata. Dia tidak berbohong.

“Jangan menangis kembali. Jika kamu menangis, kamu adalah pengecut. Lebih pengecut dari perasaan Alliana yang tak tersampaikan. Jika kamu berhenti menangis, hatimu akan tenang dan perasaanku juga tenang. Alliana pasti tetap menyukaimu.” seperti yang Josanna katakan, Eddy berhenti menangis dengan mengusap kasar air matanya.

“Kalau begitu, aku pergi dulu. Aku mau tidur tenang. Jangan pernah merindukanku. Aku lebih tenang disana.” Josanna hendak bangkit, lalu pergi meninggalkan Eddy. Langkahannya cukup pelan karena ada sebuah cahaya yang akan membawanya kembali ke sisinya. Dia berjalan memasuki cahaya itu, lalu menghilang cepat.

Di sisi lain, kini Eddy tak dapat memandang Josanna. Dia sudah menjadi hantu yang telah tenang di surga. Yang dia lihat hanyalah bayangan yang nyata, namun sesungguhnya tak dapat disentuh. Josanna merambah tubuh Eddy hanya di udara saja. Padahal pria berperawakan tinggi itu dapat memandang gadis itu secara nyata. Terlihat nyata di dunia.

Kini, Eddy memandang abu. Abu yang perlahan memudar setelah dia bertemu dengannya. Abu yang juga sudah semakin tenang di surga. Tidur tenang disana dan hanya melihatnya dari jauh. Dalam hatinya berharap agar Eddy lebih bahagia bersama Alliana. Sepercik harapan tak pernah pupus. Harapan dari Josanna sebelum dan setelah kematiannya. Itupun juga merupakan harapan terakhir untuk tuhan.

***

N Seoul Tower…

Roof Terrace

Jam 20.00 KST…

Alliana melangkahkan kakinya dengan memandang sejuta gembok yang masih menggantung. Lampu berpijar pada benda menggantung tersebut. Sejuta harapan yang tak pernah luput dari doa, kecuali jika satu orang melepaskan gembok yang masih menggantung. Dalam artian, orang telah membenci kekasihnya selamanya sehingga dapat melepaskan benda mungil tersebut. Jika perlu, orang tersebut boleh menyimpannya selama napas masih berhembus, raga masih bernyawa, dan cinta masih berlabuh. Warna-warni gembok yang menghias dengan beraneka ragam tulisan tangan seseorang.

Inilah yang dia tunggu. Eddy berjalan pelan dengan memandang Alliana dari jauh. Datang dengan tangan hampa – tidak dapat menemukan bukti yang nyata. Memandang tubuh Alliana yang langsing dan badannya yang pendek. Tatapannya menyiratkan bahwa dia tak memiliki bukti yang nyata. Langkahannya terhenti saat Alliana membalikkan tubuhnya. Kini mereka saling bertatapan. Udara menyapa antara mereka. Saling berjua, walau hanya sedikit berjauhan.

“Kukira kamu akan terlambat. Ternyata dugaanku benar,” Alliana membuka suaranya. Di mata Eddy, gadis itu terlihat cantik dengan gaun yang panjang hanya sebatas betis. Warnanya juga tidak terlalu mencolok, bahkan tidak terlalu norak untuk gadis pendek seperti Alliana Han.

“Aku sedang menunggu sebuah bukti bahwa aku menyukaimu. Apakah kamu memiliki bukti?” jantung Eddy mendesir saat gadis bertubuh pendek itu bertanya dengan melipatkan tangannya di dada. Hening. Dia tak menjawab dan hanya menunduk.

“Apakah kamu benar-benar tidak memiliki bukti?” Alliana kembali bertanya dengan ekspresi gembira sekaligus tak percaya. Eddy kembali tak menjawab. Bibirnya kelu untuk mengatakan sekarang. Sebenarnya, dia tak memedulikan bukti, selagi dia memiliki bukti yang lebih baik dari perkataan Alliana.

“Sudah kukatakan aku tidak menyukaimu. Dengan kepercayaanmu yang terlalu tinggi, sayangnya kepercayaanmu telah jatuh. Lain kali kamu tak usah terlalu optimis. Untuk apa aku menyukaimu? Tidak ada gunanya.” Alliana mencerocos dengan membalikkan tubuhnya. Memandang langit gelap yang dihiasi bulan dan bintang. Gadis itu tengah berjalan mengelilingi sejuta gembok yang menggantung. Menikmati suasananya yang mendadak bahagia setelah Eddy tidak menemukan bukti yang nyata.

Tetapi, Eddy pantang menyerah. Dirinya sedikit tercengang saat ada sesuatu diantara sejuta gembok. Dengan langkah yang cepat, dia segera menemukan gembok. Siapa tahu dia menemukan gembok Alliana yang menggantung. Tak peduli gadis itu berseru untuk berhenti. Eddy tetap bersikukuh untuk menemukan sesuatu diantara sejuta gembok yang masih menggantung. Memeriksa satu per satu gembok orang lain dan Alliana hanya memandang pria itu dengan ketus. Menghentakkan kakinya agar dia segera berhenti. Namun pria berbibir tebal dan seksi itu tak menggubris. Tangannya terus bergerak menemukan gembok tersebut.

Selang satu jam kemudian, akhirnya Eddy menemukan gembok milik Alliana. Terbukti dengan adanya nama gadis itu dan nama julukan orang lain. Eddy tersenyum puas dan memutarkan tubuhnya menghadap Alliana. Sementara gadis itu mematung setelah dia menemukan benda menggantung itu. Sungguh tak percaya seorang pria seperti Eddy begitu teliti menemukan gembok. Seolah-olah dia sangat teliti memeriksa tubuh seseorang yang telah mati. Gembok tersebut masih menggantung diantara sekian banyak gembok lainnya.

“Aku menemukan satu bukti bahwa kamu menyukaiku. Lalu, siapa Mr. Loverboy? Itu adalah julukanku yang diberikan teman-temanku. Apakah kamu masih menyangkal bahwa kamu tidak menyukaiku?” tubuh Alliana seketika menegang. Jantungnya kembali berdegup dan kali ini berpacu lebih cepat. Tangannya sedikit bergemetaran.

“Masihkah kamu menyangkal bahwa kamu tidak menyukaiku?” Eddy kembali bertanya dengan memandang Alliana cukup yakin.

“Kamu masih menyangkal?” pria bersurai merah kecokelatan itu memandang Alliana tak percaya karena gadis itu tak pernah membuka mulutnya.

“Kalau begitu, untuk menghibur hatimu yang cukup kacau karena satu bukti ini, aku akan mengajakmu pergi ke suatu tempat. Kita akan berbagi momen dan kamu dapat bercerita alasan kamu menyukaiku. Bukankah ini terlalu simpel? Tentu saja ini sangat simpel,” Alliana memandang wajah Eddy sedikit tajam. Batinnya menggerutu.

“Ayo kita pergi.” ajak pria bertubuh tinggi itu dengan melangkahkan kakinya sembari meraih tangan Alliana, lalu menariknya untuk pergi bersama. Alliana tersontak kaget saat Eddy menarik tangannya dan membawa ke suatu tempat yang akan menjadi malam yang indah baginya.

***

Mereka duduk di suatu tempat dengan ruangan terkecil. Ruangan tersebut berjalan menggantung di udara. Alliana memandang kota yang sungguh kecil. Melihat lampu yang menyinari kota. Sungguh indah baginya. Sayangnya, sebenarnya dia pobia ketinggian. Namun, Eddy dengan percaya dirinya menemani Alliana agar gadis itu tidak terjatuh. Memandang wajahnya yang sungguh cantik dan memesona.

Disinilah, Eddy harus berbagi momen untuk Alliana, yang ternyata mereka berada di kereta gantung. Tujuannya agar Alliana mengakui perasaannya terhadap Eddy. Udaranya sangat dingin, mengingat sebentar lagi salju akan turun. Kereta gantung terus melaju di udara, namun wajah Alliana cukup pucat. Dirinya merasa khawatir jika kendaraan tersebut terjatuh ke permukaan tanah.

“Jangan takut, selama masih ada aku,” Eddy benar-benar percaya diri agar membuat Alliana mengakui perasaannya. Sayangnya, gadis tersebut tak menggubris perkataan Eddy. Dia cuek dan tetap merasa ketakutan terhadap ketinggian. Tiba-tiba kereta gantung yang mereka tumpangi mendadak berhenti dan kini mereka masih berada di dalam.

Alliana terkejut dengan kereta gantung yang berhenti menggantung di udara. Menyeramkan baginya karena takut kereta gantung tersebut terjatuh ke permukaan tanah. Bulu kuduknya bergidik dan dia benar-benar ketakutan. Eddy segera berpindah posisi duduk dan dia duduk di samping Alliana. Mencoba untuk memeluk gadis itu dari belakang agar dia tidak takut. Sayangnya, gadis itu menolak dengan menyikut tangan Eddy untuk menjauh darinya.

“Aku tidak takut,” gadis bersurai cokelat panjang sepunggung itu berbohong. Eddy tertawa kecil dan dirinya tetap memeluk gadis itu dari belakang. Memeluk lebih erat agar dia tidak takut. Suasana menjadi hening saat Alliana merasa hangat dipelukan Eddy. Jantungnya lagi-lagi berdegup kencang. Pikirannya menggebu-gebu dan akan menjadi kacau.

“Bagaimana perasaanmu saat Josanna meninggal dunia? Apakah kamu mengetahui kematiannya?” Eddy bergumam di dekat telinga Alliana.

“Kamu merasa sakit hati setelah mendengar kabar Josanna meninggal dunia. Tidak hanya kamu, melainkan aku juga turut berduka cita. Namun bodohnya aku, dia menyukaiku juga. Bahkan, dia terlebih dahulu menyatakan perasaan terhadapku daripada dirimu. Sayangnya, aku menolak perasaannya karena ada seorang gadis yang lebih baik darinya. Sudah lama aku memendam perasaan ini. Cukup lama hingga sebuah kabar berkata bahwa Josanna meninggal dunia. Aku merasa bodoh dan bertanya ‘mengapa aku menolak perasaannya?’ Aku benar-benar bodoh hingga aku merasa gila, seolah aku melihat abu secara nyata. Namun, aku juga mendengar tangisanmu yang histeris dan tersedu-sedu setelah kabar duka tersiar dimana-mana. Kita sama-sama menangis, sama-sama tidak ingin kehilangan dia, dan juga sama-sama ingin hidup bersamanya. Tetapi kenyataannya, tuhan memanggilnya untuk pergi ke surga. Hidup tenang disana dan menikmati indahnya hidup di surga.”

Alliana cukup tersentuh dengan kisah Eddy tentang kembarannya, Josanna. Hatinya cukup sakit mengenang kematiannya. Terpikir bagaimana dia meninggal dalam keadaan lebih tragis. Meninggalkan dirinya yang juga ditinggal orangtua mereka yang ikut meninggal dunia. Dalam artian, Alliana adalah anak yatim piatu bersama Josanna. Namun, setelah kematian orangtua mereka, Josanna pergi meninggalkan Alliana dan pria yang dia sukai, yakni Eddy. Meninggalkan kesan yang mendalam sekaligus duka yang lebih mendalam daripada lubang hitam.

Akan tetapi, Josanna ternyata juga menyukai Eddy. Ini membuat hati Alliana lebih sakit daripada kematian Josanna. Harapannya sempat pupus. Mengapa dari dulu dia tidak pernah mengetahui bahwa Josanna menyukai Eddy? Ini cukup menyakitkan, bahkan air mata mengalir di pipi mulus Alliana. Pasalnya dia tidak tahu bahwa Josanna juga menyukai Eddy.

Perlahan dia melepaskan pelukan Eddy, lalu memutarkan tubuhnya menghadap pria di belakangnya. Menatap tajam kepadanya dan sedikit meringis karena ada yang mengganjal dan menyayat di hatinya. Eddy merasa bingung dengan sikap Alliana yang mendadak berubah. Apakah ada yang salah dengan kisahnya yang seharusnya memilukan?

“Mengapa kamu baru menceritakan ini sebelumnya? Bahkan, mengenai perasaan Josanna terhadapmu. Mengapa kamu…”

“Aku menolaknya, Alliana-ya,” Eddy menyela perkataan Alliana cepat, “menolak dalam artian aku tidak menyukainya. Dia bukan wanita idealku, meskipun dia lebih cantik dari wanita lain. Jangan salah paham dulu,”

“Oh iya?! Jika dia lebih cantik dari wanita lain, mengapa kamu tidak mengajaknya untuk berkencan agar dia lebih bahagia?! Jika kalian berkencan, hatiku lebih sakit! Dengan begitu, aku dapat melupakanmu dengan cara meninggalkanmu agar kamu bahagia bersamanya! Lalu, mengapa kamu menolaknya?! Apakah karena kamu menyukai gadis lain selain dia?! Kamu sungguh bodoh! Orang sepertimu benar-benar bodoh dan tak pernah berpikir panjang dalam memutuskan dua pilihan!” Eddy mendesah pelan karena dia tidak mengerti Alliana mendadak menjadi marah dan kecewa.

“Alliana…”

“Lalu, bagaimana dengan aku?! Aku memang menyukaimu! Bahkan, mereka semua menganggap aku terlalu tak pantas untuk mendapatkan hatimu! Aku ingin sekali menjadi diriku yang sebenarnya dan mengabaikan perkataan mereka yang sungguh menyakitkan! Membuktikan bahwa cintaku terhadapmu sangat nyata dan tulus! Dan dengan sebuah gembok yang aku gantungkan sejak tadi, sebagai bukti yang nyata bahwa aku menyukaimu! Namun…” ucapan Alliana terhenti saat merasakan air matanya kembali mengalir lebih deras, “aku adalah gadis pengecut yang tidak bisa mengutarakan perasaanku padamu. Sungguh aneh jika perempuan terlebih dahulu menyatakan perasaanku padamu. Jika aku mengutarakan perasaanku ini padamu, aku merasa takut kamu akan menjauh dan tak pernah muncul dihadapanku lagi. Kita memang teman terasing, namun salahkah aku jika aku lebih dekat denganmu? Bukan teman dekat biasa, lebih dari teman dekat saja aku menginginkan itu. Aku benar-benar pengecut.” jelasnya dengan tangisannya yang mulai pecah. Membiarkan air mata membasahi gaun terbawahnya yang basah. Dia menangis sedikit histeris dan dia menunduk lebih dalam.

Eddy mungkin merasa bersalah. Membiarkan gadis di hadapannya menangis. Perlahan tangannya tergerak menangkup wajah Alliana untuk menatapnya. Gadis itu menghentikan tangisannya, tetapi tatapannya justru lebih tajam. Tangannya saling mengepal kuat. Namun, Eddy memiliki sejuta tenaga agar gadis itu tetap menatapnya. Firasat mengatakan bahwa Alliana akan memukulnya

“Apakah aku yang membuatmu menangis sekarang?” tanyanya dan kali ini perkataannya sungguh dingin. Alliana kembali menangis dengan memejamkan matanya. Mengapa pria yang dihadapannya mendadak menjadi dingin? Dia tidak suka pria berhati dingin.

“Mengapa kamu menangis? Josanna tidak suka kamu menangis,” Eddy tidak tahu harus berbuat apa agar gadis di depannya berhenti menangis. Kali ini perkataannya sungguh mendesis. Alliana tetap saja menangis. Eddy mencoba untuk membuat gadis di depannya berhenti menangis.

“Kamu tahu? Gadis yang kusukai bukan dia, bahkan bukan orang lain. Kamu adalah gadis yang tepat untukku. Kamu sudah mendekati tipe idealku dengan sikap pendiammu dan kutu bukumu. Aku menyukai seorang wanita yang selalu membaca buku dan pendiam. Aku menyadari kecantikanmu yang sekarang lebih baik dari Josanna. Tubuh pendekmu saja sudah membuatku gemas. Tetapi,” Eddy mendekatkan sedikit wajahnya ke Alliana, hanya beberapa senti saja sudah membuat tangisnya semakin mereda, “aku benci jika dirimu menangis. Wanita yang menangis adalah hal yang paling kubenci di seluruh dunia. Aku akan menganggap bahwa kamu adalah yang terburuk jika kamu menangis. Aku benci wanita menangis, meskipun aku juga pernah menangis. Bahkan, hal kecil yang kau permasalahkan saja tetap saja aku membenci tangisanmu.” lanjutnya dengan lirih. Sungguh sedikit dingin, namun sukses membuat Alliana berhenti menangis. Benar-benar dia berhenti menangis. Dapat menatap manik mata Eddy yang semakin mendekat. Dahi mereka saling menempel satu sama lain. Alliana dapat mendengar degupan jantung Eddy yang berpacu lebih cepat. Tatapannya sungguh menyentrik, lalu menjalar ke seluruh tubuhnya dan pembuluh nadi.

“Jika aku menjadi pacarmu, maukah kamu bersedia untuk menemaniku hingga akhir? Karena sebenarnya aku tidak bisa jauh darimu. Aku hanya menginginkan kehadiranmu yang dapat membuat hatiku menggebu-gebu,” Eddy tersenyum dan membiarkan gadis itu kembali tertegun.

“Jika aku menjadi pacarmu, apakah kamu tidak akan menyakiti perasaanku?” Alliana bertanya balik.

“Jika aku menyakiti perasaanmu, tuhan akan menghukumku. Aku berdoa seperti itu kepada tuhan agar aku menjadi kekasihmu,” jawab Eddy dengan tersenyum. Perkataannya sungguh seksi sehingga hati Alliana bergetar.

“Bolehkah aku memberikan satu kebahagiaan untukmu?” lagi-lagi pria berkulit cukup putih itu bertanya. Senyumnya semakin melebar.

“Apa itu?” Alliana merasa penasaran dengan menatap manik mata Eddy yang bersinar. Gadis itu mendengar jantung Eddy kembali memompa lebih kencang. Dia ternyata memiliki perasaan lebih dari sekadar menyukai, melainkan cinta. Sebuah cinta yang berhasil berlabuh di hatinya.

Alliana sedikit membelakkan matanya saat ada benda lunak menempel di bibirnya. Itu bibir Eddy. Hanya sekadar menempel, namun cukup membuat pipi Alliana memerah. Jantungnya memompa lebih cepat dari sebelumnya. Merasakan kupu-kupu menggelitik perutnya.

Bibir Eddy tergerak melumat bibir Alliana. Lumatan tersebut terkesan lembut dan pelan. Gadis bertubuh pendek itu memejamkan matanya dan membalas lumatan di bibir Eddy. Saling menyalurkan rasa cinta satu sama lain. Jantung mereka saling memompa lebih kencang. Tangan Alliana tergerak menyisir rambut merah kecokelatan Eddy. Tidak hanya menyisir, melainkan meremas rambutnya. Sementara tangan pria itu menekan tengkuk Alliana untuk memperdalam ciuman mereka. Kepala mereka tergerak berlawanan arah untuk mendapatkan pasokan oksigen. Mereka tak pernah melepaskan tautan mereka karena mereka saling mencintai.

Ciuman tersebut perlahan-lahan menjadi ciuman yang menuntut dan terkesan kasar. Bahkan tubuh Alliana terdorong ke belakang dan terhimpit dengan tubuh Eddy ke dinding kereta gantung. Memangkas jarak antara mereka karena ruangannya cukup sempit di kereta gantung. Ciuman tersebut menjadi ciuman yang terpanas. Eddy melumat, menghisap, dan mengulum bibir Alliana karena bibirnya membuatnya kecanduan. Tak lupa dia menggigit kecil bibir Alliana hingga dia mendesah tertahan. Mendapatkan kesempatan untuk membelitkan lidahnya. Kini lidah mereka saling bertautan.

Di sela-sela ciuman terpanas mereka, tiba-tiba kereta gantung mendadak berjalan hingga mereka tak sengaja melepaskan ciuman. Sama-sama saling menghirup napas sebanyak-banyaknya karena mereka telah berciuman terlalu lama. Mereka lupa untuk menghentikan ciuman tersebut karena pasokan oksigen mereka mendekati 0,01%. Setelah mendapatkan oksigen, mereka tertawa kecil dengan saling bertatapan.

“Sepertinya aku terlalu agresif karena bibirmu begitu candu,” goda Eddy hingga Alliana melayangkan pukulan kecil di kepala pria itu.

“Mari kita lakukan ini setelah kita menikah,” balasnya sedikit ketus, lalu membenarkan posisinya yang sedikit merosot, juga membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan.

“Bagaimana jika kita satu minggu kemudian kita menikah?” Alliana cukup terkejut dengan pertanyaan Eddy yang terkesan melamar.

“Hei! Itu terlalu cepat!”

“Lebih cepat, lebih baik,”

“Mengapa kamu ingin menikahiku secepatnya?”

“Aku ingin sekali memiliki seorang anak kecil,”

“Kita ini belum lulus dari bangku perkuliahan, namun kamu ingin sekali menikah?!”

“Bukankah lebih baik jika kita menikah, lalu membuat anak?”

“Dasar genit!” Alliana mendorong kuat Eddy hingga tubuhnya terbentur ke dinding. Dia meringis kesakitan, sementara gadis bertubuh pendek itu tertawa. Eddy sungguh lucu, bahkan lebih lucu dari sebelumnya.

Appoo~” Eddy mengeluarkan aegyo-nya di depan Alliana dan sukses membuat gadis itu tertawa senang. Mereka pun akhirnya saling berdiam diri di kereta gantung. Sayangnya, Eddy merasakan sakit di sekujur tubuhnya akibat didorong gadis yang sekarang menjadi kekasihnya. Dia mengumpat dan berjanji akan membalas dendam kepada gadis itu. Akan tetapi, Alliana tidak menggubris umpatan yang terlontar dari bibir Eddy.

“Jika kamu sekali lagi melontarkan umpatan tersebut, aku akan membuangmu dari sini,” ancaman lucu tersebut sukses membuat Eddy kembali diam. Dia berdehem pelan, lalu memandang langit gelap lewat jendela kecil. Hatinya berdebar-debar saat melirik sejenak wajah Alliana dari samping. Sungguh cantik.

***

Mereka segera turun dari kereta gantung. Kaki Alliana sedikit tersandung, namun dengan cepat Eddy membantunya agar gadis yang dia cintai tidak terjatuh. Dia cukup bersyukur karena pria itu melindunginya secepat itu. Seorang penjaga kereta gantung hanya tersenyum senang karena Eddy dan Alliana terlihat seperti pasangan kekasih yang saling mencintai. Mendengar perkataan sang penjaga kereta gantung, Alliana tersipu malu dan hanya menunduk. Lalu, mereka saling berjalan meninggalkan kereta gantung yang terparkir.

Alliana merasa bersyukur karena dirinya telah menjadi kekasih Eddy. Doanya telah terkabulkan dan berharap hubungannya dengan Eddy tetap berlanjut hingga mereka menikah. Bukan sampai mereka menikah, melainkan tuhan memisahkan mereka di hari tua nanti. Baginya, Eddy benar-benar seorang pria sejati yang dapat meluluhkan hati para wanita. Bukan untuk wanita lain, melainkan untuk Alliana juga.

Begitu juga dengan Eddy. Dia dapat mengabulkan permintaan Josanna melalui sepucuk suratnya. Tidak hanya mengabulkan permintaan, melainkan dia juga menyukai Alliana. Meskipun ada kesalahpahaman dan hampir menimbulkan pertengkaran di dalam kereta gantung, Eddy berhasil menenangkan hati Alliana yang telah memorak-porandakkan perasaannya. Tanpa gadis seperti Alliana, Eddy mungkin saja akan mati dan menyusul Josanna untuk hidup bahagia disana. Meninggalkan rasa sakit yang kembali melanda di hati Alianna. Namun, Eddy juga cukup menyesal karena menolak perasaan Josanna. Jika waktu dapat berputar kembali, tentu dia akan membalas perasaan gadis yang telah mati itu. Sayangnya, semuanya berakhir tragis yang membuat hati Eddy dan Alliana sakit.

Akan tetapi, tuhan berhasil memberikan solusi agar mereka saling mencintai. Hati Eddy tergerak untuk mencintai Alliana. Baginya, tidak ada wanita yang lebih baik selain Alliana. Jika ada orang lain yang hendak menyakiti hatinya, Eddy tidak segan-segan akan mengancamnya untuk tidak mendekati Alliana. Dia sudah seperti bidadari baginya. Bidadari yang tidak boleh menyakitinya secara tragis. Jika semuanya terjadi, Eddy akan hidup lebih tragis dari menyakiti Alliana.

Aku mencintaimu, Alliana Han. Batin Eddy sembari merengkuh tubuh Alliana, lalu mencium sekilas bibir gadis itu. Mereka saling tersenyum satu sama lain, lalu melanjutkan langkahan mereka meninggalkan tempa teromantis itu – kereta gantung. Pergi menuju rumah mereka masing-masing agar esoknya mereka kembali melakukan aktivitas sebagai anak kuliahan di Universitas Yonsei.

END

Advertisements

One thought on “[FF Freelance] Deeply Love, Everlasting Love

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s