[FF Chaptered] When a Man Loves Part 6

waml 1Author                 : deergalaxy0620

Genre                   : Romance, Hurt, School-Life (a little bit)

Cast                     : Oh Jong Seok a.k.a Eddy ( JJCC )

Park Seo Yeol ( OC )

Song Se Hin ( OC )

Park Chan Yeol ( Seo Yeol’s brother ) ( EXO )

Wu Yi Fan a.k.a Kris

Oh Hae Ryung ( OC )

Ryu Ha Yeon ( OC ) as Seo Yeol’s close-friend

Lee Hwan Hee as Ha Yeon’s boyfriend ( UP10TION )

Rating                  : PG-15

Length                 : Chaptered

Disclaimer           : All the story is MINE. Jika ada kesamaan dalam alur cerita, mohon maaf.

 

 

“Park Seo Yeol-ssi.” Panggil seorang lelaki yang melangkah pelan di belakang Seo Yeol. Sementara yang dipanggilnya segera memutarkan tubuhnya ke belakang dan menatap manik mata lelaki tampan berjas itu. Namun, Seo Yeol tak menimbulkan reaksi apapun selain diam dan datar.

“Maukah kamu pulang bersamaku? Chan Yeol menyuruhku untuk menjemputmu ke apartemen agar segera istirahat dan belajar.” Ujar seseorang yang kembali tak menimbulkan reaksi apapun dari Seo Yeol. Dan lelaki yang Seo Yeol hadapi sekarang adalah…

***

Eddy segera membuka pintu mobil supirnya dan berlari memasuki halaman sekolah Seo Yeol. Dia melihat beberapa murid yang masih mengikuti pelajaran tambahan hingga malam. Ada yang tengah berdiskusi bersama teman-temannya, ada juga yang tengah makan cemilan bersama. Tak hanya itu, murid laki-laki tengah menjahili teman perempuan mereka dengan merebut buku catatan pribadi, kemudian saling kejar satu sama lain dengan tawa sekaligus ejekan. Itulah dari pandangan Eddy, tetapi dia tak menemukan satu objek, yakni seorang gadis bernama Park Seo Yeol. Bukankah seharusnya gadis itu bersama mereka, terutama teman perempuan. Yang Eddy kenal dari sisi sikap Seo Yeol adalah dia gadis yang mudah bergaul dengan teman-temannya dan baik hati. Dan biasanya dia menghabiskan waktu seharian di sekolah untuk belajar. Begitulah yang dilakukan Seo Yeol.

Akhirnya, Eddy terpaksa bertanya kepada salah seorang teman dekat Seo Yeol. Eddy bisa mengira-ngira siapa yang memang merupakan teman dekat Seo Yeol. Tak mungkin gadis sebaik Seo Yeol dijauhi teman-teman lainnya, kecuali jika ada suatu kelemahan yang berdampak besar bagi orang lain. Eddy mendekati seorang gadis bersurai cokelat sebahu yang tengah belajar bersama teman-teman dekatnya, terutama Ha Yeon dan Hwan Hee.

“Permisi, bolehkah saya bertanya sesuatu kepada kalian?” tanya Eddy dengan sopan dan ramah, seperti yang dilakukan orangtua murid. Mereka pun mengangguk mantap.

“Apakah kalian tahu dimana murid bernama Park Seo Yeol? Saya datang kesini untuk menjemputnya atas perintah Park Chan Yeol.” Eddy langsung melontarkan satu pertanyaan kepada mereka, terutama Ha Yeon dan Hwan Hee yang langsung tahu keberadaan Seo Yeol.

“Dia sudah pulang terlebih dahulu karena ada yang merasa terganggu dengan mentalnya.” Jawab Hwan Hee yang seharusnya dijawab Ha Yeon.

“Benarkah? Ba… bagaimana ini bisa… terjadi?” Eddy terkejut dengan jawaban dari Hwan Hee. Sementara yang ditanya malah diam dan sedikit menunduk.

“Kami tidak tahu apa yang terjadi dengan Seo Yeol. Dia tidak memiliki riwayat penyakit jiwa maupun mental. Itu karena dia hanya merasa terganggu saja. Tetapi kami benar-benar tidak tahu bagaimana bisa terjadi.” Ha Yeon menjelaskan dengan nada khawatir sekaligus cemas. Eddy menggigit pelan bibirnya sembari berpikir keras. Siapa orang yang membuat Seo Yeol menjadi gadis gila seperti ini?

“Kalau boleh tahu, apakah ada orang yang menjemputnya ke apartemen?” sekali lagi Eddy bertanya sebelum lelaki itu segera mencari tahu keberadaan Seo Yeol.

“Kami pikir dia pulang sendiri karena dia ingin mencari udara segar sekaligus menenangkan diri. Aku tidak tahu apakah dia memang pulang sendiri atau dijemput orang lain yang mungkin dia kenal.” Jawab Hwan Hee tenang hingga akhirnya Eddy menyerah. Dia telah kehilangan Seo Yeol sekarang.

“Baiklah, kalau begitu saya permisi terlebih dahulu. Terima kasih banyak.” Eddy segera melangkah meninggalkan Ha Yeon dan Hwan Hee beserta teman-temannya dengan sopan. Meninggalkan kesan yang membingungkan karena Seo Yeol sudah tidak ada di sekolah. Biasanya gadis itu selalu pulang sendirian tanpa ada yang menemaninya, kecuali jika ada teman pulang yang jalannya searah dengan jalan pulang temannya.

Saat melangkah keluar dari gerbang sekolah, Eddy segera mengirimkan pesan singkat kepada Chan Yeol. Memberitahu bahwa Seo Yeol sudah pulang terlebih dahulu sebelum dirinya tiba. Sekaligus Eddy bertanya kepada Chan Yeol apakah Seo Yeol sudah ada bersamanya atau tidak. Berharap gadis itu pulang dengan selamat menuju sisi Chan Yeol. Namun, penjelasan yang keluar dari mulut Ha Yeon membawa tanda tanya besar di luar kepala Eddy. Sebelum Seo Yeol pulang, apa yang terjadi dengan gadis itu? Pikir Eddy saat ia segera memasukkan kembali ponselnya ke saku jas. Kakinya melangkah menuju mobil sedan hitam yang terparkir tak jauh dari sekolah Seo Yeol. Kemudian, Eddy segera membuka pintu supir dan masuk ke dalam mobil tersebut.

Sebelum Eddy menghidupkan mesin, tiba-tiba ponselnya bergetar. Itu pasti balasan dari Chan Yeol karena sebelumnya Eddy mengirimnya pesan singkat. Dan alangkah terkejutnya Eddy saat ia membaca isi pesan balasan dari Chan Yeol.

From : Chan Yeol Park

Seo Yeol sedang tidak bersamaku, hyung. Aku pikir hyung sudah menjemputnya.

“Seo Yeol-ssi, dimana anda sekarang?” tanya Eddy dengan menaruh ponselnya kasar ke kursi penumpang yang disampingnya. Saat Eddy segera menjalankan mobilnya, tiba-tiba memoar lain melabuh ke pikirannya. Apakah mungkin… Seo Yeol dijemput Yi Fan dan pergi ke suatu tempat yang tak mereka ketahui? Batin Eddy yang akhirnya ia teringat saat dirinya berdebat dengan Yi Fan di taman bersama Seo Yeol.

“Aish, mengapa pikiranku melambat pada saat itu?” gerutu Eddy yang akhirnya terpaksa mencari keberadaan Seo Yeol hingga ketemu. Tak peduli apakah Chan Yeol akan menyuruhnya kembali atau tidak. Eddy malah tak peduli karena dirinya bukan pengawal Chan Yeol. Toh, Chan Yeol hanya menyuruh Eddy untuk menjemput Seo Yeol saja jika memang pada kenyataannya Eddy juga menyukai Seo Yeol.

***

Seo Yeol akhirnya berdiri di tepian Sungai Han bersama Yi Fan. Memandang langit biru yang dikelilingi Burung Merpati yang terbang bebas di langit. Mereka bernyanyi sekaligus mencari mangsa untuk makan mereka. Tak hanya burung bersayap putih itu, melainkan awan telah menemani langit terang yang akan berganti silih menjadi senja. Matahari tak pernah lelah menyinari dunia, walau sebentar lagi waktunya fajar.

Mata hazel Seo Yeol tak pernah lepas dari langit karena ia enggan untuk bertatapan dengan Yi Fan, meskipun lelaki itu sudah menatapnya dari samping. Hati Seo Yeol masih memendam rasa benci sekaligus emosi yang ingin meluap. Mengapa Yi Fan yang menjemputnya dan membawanya ke suatu tempat yang tenang? Seo Yeol bisa melakukannya sendiri tanpa seseorang yang justru menjatuhkannya ke lubang hitam.

“Seo Yeol-ah.” panggil Yi Fan disusul dengan helaan napas dari mulut lelaki bersurai hitam. Sayangnya Seo Yeol tak menanggapi panggilan tersebut.

“Aku tahu kamu masih membenciku karena akhirnya kamu mengetahuinya. Kamu boleh menamparku, membenciku, bahkan menghukumku dengan sadis dan kejam. Itu semua karena kesalahanku dan keteledoranku hingga hatimu tercabik-cabik karenaku. Tetapi, disaat ada seorang lelaki yang hendak merebutmu dariku, aku tak akan pernah memaafkannya.” Penjelasan tersebut malah ditanggapi sinis Seo Yeol. Gadis itu tersenyum penuh tak percaya.

“Jadi, maksud anda jika ada orang lain yang menyukaiku, saya segera menyingkirnya dari kehidupan saya? Bagaimana jika aku yang menyukainya? Lucu sekali anda menjelaskan semua penjelasan busukmu padaku, padahal anda sendiri menyukai wanita lain dariku.” Jawab Seo Yeol cukup sinis dan mampu membuat Yi Fan malu karena kesalahannya.

“Jika anda memang kenyataannya masih mencintai saya, wanita lain tak ada yang merebut anda dari saya. Apakah anda pikir setelah anda masih mencintai saya, meskipun anda dinodai wanita lain, semuanya akan berjalan lancar? Sudah saya katakan kepada anda bahwa saya sudah tak lagi mencintai anda jika bukan karena wanita itu. Jika anda berpikir bahwa saya akan membunuh selingkuhan anda, tak apa karena saya tak akan berani membunuhnya dengan tangan saya sendiri. Itu adalah hukuman karena dia telah menghancurkan kehidupan saya.” Sudah jelas yang dikatakan Seo Yeol barusan, namun Yi Fan tampaknya masih bersikeras untuk tetap mencintai Seo Yeol.

“Berikan saya kesempatan kedua, Seo Yeol-ah.”

“Tak ada kesempatan kedua karena anda telah mengingkari kesempatan anda. Kesempatan manakah yang kemungkinan akan kembali menghilang dari anda? Sudah pasti anda kembali menikungku, kan?”

“Itu bukan seperti yang anda pikirkan.”

“Omong kosong dengan kata-kata anda sekarang!”

Bukan Seo Yeol yang menjawab, melainkan seseorang yang melangkah menghampiri mereka. Yi Fan segera menoleh ke samping dan mendapati Eddy yang akhirnya menemukan Seo Yeol. Sementara lelaki bersurai cokelat itu melirik Seo Yeol yang akhirnya mereka saling bertatapan. Namun, tidak untuk Yi Fan yang segera menarik bahu Seo Yeol dan memeluk gadis itu erat. Seo Yeol meronta untuk melepaskan pelukan itu, tetapi Yi Fan mengeratkan pelukan tersebut.

“Lepaskan pelukan itu atau saya akan melaporkan ini kepada selingkuhanmu.” Eddy setengah mengancam agar Yi Fan mau menuruti perkataan Eddy.

“Laporkan saja! Aku tak takut dengan ancamanmu selama kamu tak merebut Seo Yeol dariku.” Balas Yi Fan dengan berani sembari mengeratkan pelukan Seo Yeol hingga dada gadis itu terasa sesak. Eddy langsung saja memotret adegan tersebut dan mengirimkan hasil itu kepada selingkuhan Yi Fan, yakni Hae Ryung.

“Aku sudah mengirimkannya. Sekarang, apa maumu?” tanya Eddy yang kembali melangkah mendekati bekas sepasang kekasih yang hendak menyatukan kembali cinta mereka. Yi Fan malah merenggangkan pelukan Seo Yeol dengan ekspresi khawatir sekaligus cemas.

“Apakah kamu benar-benar…”

“Kenapa? Mengapa kamu malah jadi takut sekarang? Apakah kamu tahu bahwa aku memotret kalian dan mengirimkan hasil foto tersebut kepada selingkuhanmu?” tak hanya Yi Fan yang merasa khawatir dengan apa yang dilakukan Eddy sebelumnya, melainkan Seo Yeol sendiri yang baru saja menyembuhkan penyakit mentalnya yang tak sadar itu. Gadis itu merasa tak percaya dengan apa yang dilakukan Eddy sejak tadi.

“Sebentar lagi, selingkuhanmu akan membencimu hari ini. Tetapi, tidak untuk Seo Yeol. Dia akan aman sekarang.” Ujar Eddy dengan yakin, tetapi tidak untuk Seo Yeol. Jika memang Eddy memotret adegan pelukan mereka, Hae Ryung pasti menyalahkan mereka berdua dan segera menghabisi diantara mereka.

Sementara Seo Yeol segera melangkah pelan menghampiri Eddy, kemudian meraih tangan lelaki itu pelan. Raut wajah gadis bersurai hitam itu benar-benar ketakutan dan penuh meminta. Eddy akan siap melakukan apa saja, demi Seo Yeol, meskipun lelaki itu sebenarnya sedikit tak tertarik dengan Seo Yeol.

“Ahjussi,” panggil Seo Yeol penuh cemas. Eddy benar-benar dengan senang hati menuruti keinginan Seo Yeol dan melupakan Yi Fan yang memendam emosinya. “Hapus foto yang anda kirim kepada orang yang anda tuju sekarang.” Perintah gadis itu pelan.

“Aku akan menghapusnya, Seo Yeol-ssi. Kamu akan aman sekarang.” Ujar Eddy dengan membalas tangan Seo Yeol yang menggenggamnya. Genggaman yang penuh kelembutan dan kehangatan, membuat hati Yi Fan terbakar cemburu.

“Jangan pernah menyentuh Seo Yeol atau aku akan membunuhmu, Oh Jong Seok-ssi!” hardik Yi Fan yang akhirnya mengeluarkan semua emosinya, tetapi Eddy malah mengabaikannya.

“Katakan bahwa sebenarnya kamu tak lagi mencintai Yi Fan, Seo Yeol-ssi.” Gumam Eddy yang akhirnya meyakinkan hati Seo Yeol untuk mendengarkan lirihan lelaki itu dan menggenggam tangan lelaki itu lebih erat.

“Selama anda telah menghapus foto sejak tadi.” Balas Seo Yeol yang langsung saja melepaskan tangan Eddy, kemudian melangkah pergi meninggalkan Yi Fan dari kejauhan. Sementara Eddy tersenyum penuh kemenangan kepada Yi Fan. Senyuman yang mampu mengalahkan musuh terbarunya itu. Kemudian, Eddy segera menyusul Seo Yeol dan meninggalkan Yi Fan yang tak mampu berbuat apa-apa selain menghentikan aksi Eddy yang selalu melapor. Namun, semuanya berakhir Yi Fan berteriak setelah Eddy menjauh darinya. Teriakan yang mampu meredamkan emosinya dan akan mendapatkan kekuatan penuh untuk menyingkirkan Eddy dari Seo Yeol.

“Seo Yeol-ah, lihat saja nanti. Aku akan membawamu kembali kepadaku. Tak peduli seberapa kasar kepadamu. Aku tak akan menyerah kepadamu, Seo Yeol-ah. Asalkan kamu jangan pernah merasa nyaman dengan lelaki lain.” ucap Yi Fan yang akhirnya menitikkan air matanya karena kehilangan Seo Yeol. Dia berubah menjadi lelaki yang lemah dan penuh kecemasan.

***

Setelah pergi meninggalkan tepi Sungai Han, Eddy segera membawa Seo Yeol menuju tempat yang lebih layak dari tempat sebelumnya. Tetapi, lelaki itu tak langsung saja menanyakan kepada Seo Yeol tentang sikapnya yang mendadak berubah, seperti yang diceritakan Ha Yeon dan Hwan Hee. Khawatir jika Seo Yeol kembali berteriak histeris dan penuh ketakutan. Akan lebih baik jika Eddy tak segera mencari tahu terlebih dahulu sebelum ia mengetahui itu dari orang lain hingga Seo Yeol mau menceritakan semuanya.

“Ahjussi,” panggil Seo Yeol yang akhirnya menjadi gadis yang tenang seperti sebelumnya, “Terima kasih anda telah mencari saya. Bagaimana anda tahu saya berada di dekat Sungai Han?” tanyanya yang perlahan-lahan intonasinya melembut. Eddy cukup bersyukur sekaligus lega mendengarnya.

“Dugaan saya lebih tajam dari perkiraan. Saya pikir anda sudah pulang sendiri tanpa ada yang menjemput. Jadi, saya menduga bahwa anda pulang bersama lelaki itu.” jawab Eddy yang hanya terfokus kedepan dengan menyetir. Seo Yeol pun mengangguk pelan sembari menunduk.

“Chan Yeol yang menyuruh saya untuk menjemput anda.” Tambah Eddy dengan senyum kecilnya sembari melirik Seo Yeol sekilas.

“Kemanakah kita pergi setelah ini?” tanya Seo Yeol tenang.

“Saya harus membawa anda menuju kantor perusahaan agar anda dapat pulang bersama Chan Yeol.” jawab Eddy sembari memelankan lajuan mobilnya karena di depan mata terdapat kemacetan.

“Tetapi, saya ingin pulang bersama anda.” Ujar Seo Yeol yang kemudian ponsel Eddy berdering tanda pesan masuk. Eddy segera membuka isi pesan tersebut yang ternyata pesan masuk dari Chan Yeol.

From : Chan Yeol Park

Jika hyung benar-benar menyukai Seo Yeol, jangan dulu pulang ke perusahaan. Berikan dia waktu luang sebelum mungkin hyung tak bisa melihatnya kembali.

“Tolong biarkan saya luangkan waktu bersama anda. Jebal.” Eddy hanya menelan permintaan Seo Yeol dan mengiyakan saja permintaan gadis itu. Chan Yeol sudah tampak seperti memberikan izin untuk selalu disamping Seo Yeol. Tetapi Eddy masih tak bisa melupakan Se Hin, mantan kekasihnya yang kini berhubungan mesra dengan Chan Yeol.

Arasseo. Katakan kepada saya dimana anda ingin pergi.” ujar Eddy penuh pasrah.

***

Eurwangni Beach…

Mobil yang dikendarai Eddy dan ditumpangi Seo Yeol akhirnya berhenti di tengah hamparan pasir pantai. Belum sempat Eddy mematikan mesin mobil, tiba-tiba saja Seo Yeol segera turun dari mobil dan berlari bebas menghampiri tepi pantai. Eddy yang sejenak memerhatikan Seo Yeol hanya terpaku melalui kaca depan mobil. Seo Yeol tampak senang dengan pantai tersebut dan seperti jiwa dan mentalnya telah pulih total. Bahkan gadis itu berteriak kegirangan menghadap matahari yang hendak turun dari langit, berganti silih menjadi langit senja.

Eddy segera turun dari mobilnya dan melepaskan jas hitam dari tubuhnya, menampakkan kemeja putih dan lengannya yang cukup sempit. Melangkah pelan menghampiri Seo Yeol, walau angin menghalangnya untuk berjalan satu langkah saja. Matanya tertuju kepada matahari yang mulai memancarkan sinar terakhirnya sebelum akhirnya langit berubah menjadi hitam. Angin selalu menusuk tubuh Eddy dan meniup poninya yang dia biarkan tergerai hampir menutupi matanya.

Sedangkan Seo Yeol hanya berdiri dengan senyuman yang melebar. Melupakan segala kejadian beberapa waktu sejak tadi, bahkan sejak kemarin. Selama Eddy berada di sisinya, meskipun hanya bertemu di malam hari saja, namun akhirnya ia bertemu sebelum malam tiba. Jantungnya selalu berdegup kencang setiap Eddy berada di matanya. Hatinya terasa hangat disaat lelaki itu seperti melindunginya. Andai waktu dapat berputar, mereka seharusnya bertemu setiap hari, kecuali hari sibuk.

“Anda begitu girang saat mengunjungi tempat ini.” Tiba-tiba Eddy sudah berada di samping Seo Yeol dengan tangan kanan menggenggam jas hitam.

“Tempat ini dapat menyembuhkan jiwaku, bahkan sebelum aku mengubah pikiranku terhadap Yi Fan ahjussi.” Balas Seo Yeol sembari melirik sekilas wajah Eddy dari samping. Benar-benar tampan dimata Seo Yeol, walau sebenarnya Yi Fan lebih tampan.

“Benarkah?”

“Anda tak akan memercayai terhadap perkataan saya jika anda tak mengikuti kata hati saya.” Jawaban tersebut terasa menarik hati Eddy sehingga membuat lelaki itu ikut merasa nyaman dengan gadis disampingnya. Serta bibir tebal milik lelaki itu ikut tersenyum dengan menampakkan sedikit gigi putihnya.

“Selain pantai, apa yang membuat anda merasa nyaman dan menyembuhkan jiwa anda?” tanya Eddy sembari ikut menyaksikan matahari terbenam. Seo Yeol segera menimbang sebelum ia menjawab.

“Menurut anda? Seorang lelaki yang saya sukai sekarang, apakah itu akan membuat saya merasa nyaman?” gadis bersurai hitam itu balik bertanya, membuat banyak tanda tanya di atas kepala Eddy.

I don’t know. As long as he makes you fell comfortable at his side, you will come to feel the same way.” Jawab Eddy dengan ucapan bahasa Inggris yang kental dan fasih. Eddy memang dibesarkan di luar negeri, yakni California. Namun saat remaja, lelaki itu pindah ke Seoul karena keinginannya untuk beradaptasi tentu saja. Dan tak tanggung juga Seo Yeol dikenal sebagai gadis paling cerdas di sekolahnya sehingga ia paham maksud dari perkataan Eddy, meskipun beberapa orang lebih jenius darinya.

“Dan anda pasti tak ingin menjauh dari lelaki tersebut. Seorang lelaki yang anda sukai akhir-akhir ini. Saya tak akan menanyakan orang itu kepada anda karena mungkin anda tertarik dengan lelaki yang dapat membuatnya merasa nyaman di sisi anda. Sementara saya harus menemukan wanita pengganti mantan kekasih saya, tetapi pekerjaan adalah hal prioritas utama bagi saya untuk membangun kembali kehidupan saya yang hampir mendekati kehancuran. Jika bukan karena kesalahpahaman yang hampir berujung kehancuran, saya mungkin harus mencari cara agar saya tak lagi disalahkan.” Eddy menjelaskan yang membuat Seo Yeol merasa tersentuh. Entah bagaimana jantungnya berdegup lebih kencang karena dia bisa melihat sosok lelaki yang tangguh seperti Eddy. Alangkah bahagianya gadis itu disaat lelaki disampingnya itu secara terbuka berbagi cerita.

“Setelah orangtua saya meninggal dunia bersama saat saya lulus sekolah menengah atas, saya merasa sulit untuk hidup sendiri. Saya merasa iri dengan orang-orang yang masih memiliki orangtua, entah itu ayah maupun ibu. Dan sebelum orangtua saya meninggal, mereka berpesan kepada saya bahwa hidup itu harus melalui banyak rintangan. Itu semua karena tuhan menguji kita betapa sulitnya hidup kita yang berlika-liku. Saya sempat menangis tersedu saat mendengar kabar duka hingga ke telinga saya. Mereka dipulangkah ke California untuk dimakamkan disana dan kini hanya saya yang hidup sendirian disini. Entah bagaimana bisa sosok seorang wanita yang lebih muda dua tahun dari saya menemukan saya di tempat abu. Dia mengajak saya untuk hidup bersama orangtuanya dan layaknya saya adalah kakak tirinya. Barulah setelah itu, saya kembali hidup tanpa sendirian hingga sekarang.”

Seo Yeol merasakan Eddy hampir menangis terisak setelah menceritakan kehidupannya semasa muda hingga sekarang. Ada rasa iba sekaligus kasihan dari Seo Yeol. Dirinya juga harus hidup bersama Chan Yeol setelah mereka kehilangan orangtua. Dan bagi orang lain, orangtua sangat berarti karena mengajarkan bagaimana caranya untuk beradaptasi dengan orang lain, menjauhi segala larangan, dan masih banyak lagi.

“Saya sama sulitnya dengan anda. Saya dan Chan Yeol oppa hidup sebatang kara sejak saya kecil. Orangtua kami telah tiada dan kami tak tahu bagaimana untuk melanjutkan hidup. Hingga suatu hari, sebelum paman saya pulang ke Tokyo, beliau membelikan kami apartemen mewah. Kami pikir itu hanya untuk tinggal menetap bersama paman, namun ternyata tempat itu hanya untuk kami berdua, yakni aku dan Chan Yeol oppa. Kami tahu bahwa kita adalah anak yatim piatu sehingga sulit membuat saya harus berpikir tentang masa depan. Jika bukan ibu kami yang mengajarkan arti kehidupan di dunia, saya mungkin akan menjadi musuh di dunia. Saya bersyukur hidup saya lebih berarti jika Yi Fan ahjussi masih di sisiku. Dan sekarang…”

“Kalian mematahkan hubungan asmara kalian?” Eddy segera menyela perkataan Seo Yeol yang belum terselesaikan.

“Anda benar,” ujar Seo Yeol mantap, “Kami segera berpisah, namun Yi Fan ahjussi masih bersikukuh untuk tetap di sisi saya disaat saya tak lagi membutuhkan dia. Hidup saya tak lebih berarti lagi karena hubungan gelap Yi Fan ahjussi dengan wanita lain. Saya menganggapnya hanya bagian dari masa laluku dan mencoba untuk melupakan memoar yang masih melekat di pikiranku.” Lanjutnya yang tiba-tiba memutarkan tubuhnya ke kanan, menatap wajah Eddy dari samping. Ingin sekali Seo Yeol melihat wajah Eddy secara menyeluruh. Namun justru lelaki itu masih terfokus kepada matahari yang hampir mendekati terbenam. Langit senja mulai berubah sebelum waktu malam telah tiba.

“Ahjussi,” ucap Seo Yeol yang membuat Eddy refleks mengarahkan pandangannya ke samping. Lelaki itu menatap gadis dihadapannya. “Saya ingin memberikan sebuah hadiah kepada anda.” Lanjutnya cukup lembut. Perkataannya membuat hati Eddy kian membeku.

“Selama saya masih ada disini, katakan kepada saya, Seo Yeol-ssi.” Balasnya.

“Sebelum saya memberikan sebuah hadiah untuk anda, saya ingin mengatakan kepada anda bahwa… saya akan pergi ke Los Angeles setelah pengumuman kelulusan. Mungkin terasa berat bagi saya untuk tak bisa bertemu dengan anda. Entah apakah Chan Yeol oppa telah mendaftarkan saya ke salah satu universitas di Los Angeles atau tidak. Dia telah mengatakan ini kepada saya sebelum menjelang ujian nasional dan dia akan menjanjikan itu.”

Entah bagaimana itu bisa terjadi, Eddy merasakan hatinya terasa sedikit sakit dan tak tahu dia harus berkata apa. Seo Yeol memang bukan berarti untuk Eddy, tetapi berdiri di sisinya akan membuat gadis itu bahagia, selama musuh sekelilingnya akhirnya menyerah. Dan Eddy dapat merasakan lehernya terasa sedikit berat. Seo Yeol memeluk lehernya, meskipun tinggi badannya cukup mungil.

“Saya ingin menaruh kebahagiaan kepada anda sebelum saya pergi. Saya meminta tolong kepada anda untuk mengingat ini.”

CUP!

Tubuh Eddy seketika mematung saat Seo Yeol berhasil menempelkan bibir ranumnya ke bibirnya. Hanya sekadar menempel saja, tetapi sudah cukup membuat jantung Eddy berpacu lebih cepat. Matanya ikut membeku melihat bibir Seo Yeol menempel di bibirnya. Dan akhirnya, gadis itu melepaskan ciuman tersebut dan tersenyum kecil.

Sementara yang diciumnya malah tak merespon. Pikirannya seketika melambat, mengingat Seo Yeol bukan siapa-siapa bagi Eddy. Bibirnya telah ternoda karena Seo Yeol. Dan untungnya, Eddy tak memiliki ciuman pertama karena lelaki itu tak pernah menaruh ciuman kepada Se Hin. Hanya sekadar mencium dahinya saja, namun tak pernah sekalipun Eddy menempelkan bibirnya ke bibir Se Hin. Bukan karena takut, melainkan Eddy telah mengetahui hubungan gelap Se Hin dengan seseorang yang ternyata adalah kakak kandung Seo Yeol.

“Tolong anda harus ingat ini,” ucap Seo Yeol saat gadis itu menjauhkan wajahnya dari Eddy, “About kiss.” Gumamnya yang akhirnya Eddy sadar.

“Apakah anda… menyukai saya akhir-akhir ini?” tanya lelaki bersurai cokelat itu, yang kemudian dijawab Seo Yeol dengan anggukan kuat. Entah bahagia atau tidak, Eddy telah mengetahui perasaan Seo Yeol. Setelah mencoba untuk melupakan Yi Fan, kali ini gadis itu harus melupakan kenangan yang pernah ia miliki. Ciuman. Satu kata yang harus Eddy ingat dan mengetahui bahwa Seo Yeol menyukainya daripada mencintai Yi Fan, namun pada akhirnya perasaannya hancur.

“Seo… Seo Yeol-ssi.” Eddy tak mampu berkata apapun setelah ciuman tadi menyengatkan hatinya. Tak hanya menyengatkan, melainkan mampu mengusir segala kenangan bersama Se Hin, meski hanya sekadar menempel.

“Selama anda menyukai saya, saya akan melakukan apapun untuk anda.”

Dan pada akhirnya keinginan Seo Yeol terpenuhi. Matanya mulai terpejam setelah Eddy akhirnya melumat pelan bibir gadis dihadapannya. Memeluk pinggang ramping Seo Yeol dan memperdalam ciuman di bawah langit senja. Eddy tak hanya melumat bibir atas Seo Yeol, melainkan tak pernah lupa untuk melumat bibir bawah Seo Yeol. Ciuman lembut yang dapat menjadi saksi bahwa cinta diantara mereka akan menjadi kekal abadi, bahkan sebelum perpisahan akan memisahkan mereka.

Seo Yeol dengan senantiasa membalas lumatan tersebut dengan memeluk tengkuk Eddy lebih erat. Memeluknya lebih dalam agar ciuman mereka lebih dalam dari sebelumnya. Merasakan kupu-kupu mengelitik perut Seo Yeol karena sensasi ciuman tersebut. Eddy benar-benar menciumnya dengan baik hingga lelaki itu tak pernah berhenti mencium Seo Yeol, bahkan melumatnya saja gadis itu rela. Tak hanya sekadar melumat, melainkan mereka menggerakkan kepala mereka dengan berlawanan arah untuk mendapatkan pasokan oksigen.

Bagaimana saya bisa mencintai anda, Seo Yeol-ssi? Batin Eddy yang tiba-tiba saja ia melepaskan bibirnya dari bibir Seo Yeol. Kemudian memeluk tubuh gadis itu lebih dalam agar mendapatkan kehangatan yang lebih terasa di tubuh Eddy. Tanpa terasa ia melepaskan jas hitam dari tangannya, demi dapat memeluk tubuh Seo Yeol. Sementara gadis itu segera membalas pelukan itu dengan membenamkan wajahnya di dada bidang Eddy yang masih tertutupi kemeja putih polos. Membiarkan gadis itu memeluk Eddy lebih dalam agar hatinya lebih tenang dan tegar.

Apakah anda sedang menghipnotis saya? Batin Eddy kembali tetap memeluk Seo Yeol lebih dalam.

***

Malam telah tiba dan ini saatnya Eddy dan Seo Yeol untuk pulang menuju apartemen masing-masing. Sebelum Eddy menjalankan mobilnya, meninggalkan area pantai, ia melirik sejenak Seo Yeol yang tiba-tiba saja tertidur. Wajah cantik dan polosnya membuat hati Eddy kembali berdegup kencang. Lelaki itu menghela napas pelan dan segera menyelimuti gadis disampingnya itu dengan jas hitam. Kembali menampakkan kemeja putih polos yang melekat di tubuh Eddy. Ini semua agar Seo Yeol dapat tidur tenang setelah dirinya melupakan semua kenangan buruk.

Saat Eddy segera menghidupkan mesin mobil, tiba-tiba saja bibirnya terasa hangat dan sedikit memerah karena dampak mereka berciuman. Membuat lelaki bersurai cokelat itu meraba pelan bibirnya. Kehangatan di bibirnya itu tak pernah pudar karena ciuman. Jika bukan karena Seo Yeol yang memulai sentuhan di bibirnya, Eddy tak akan bisa merasakan ciuman tersebut. Memang pada kenyataannya dia tak pernah sedikitpun memberikan ciuman kepada Se Hin. Sudah lama lelaki itu memendam benci kepada wanita tersebut jika bukan karena tuduhan palsu yang nyaris dipecat dari pekerjaan.

Kini Eddy mengerti makna dibalik ciuman dan sentuhan. Lelaki itu tersenyum dan penuh bersyukur. Meskipun Seo Yeol bukan siapa-siapa dan berarti bagi Eddy, sudah cukup membuat hatinya pulih dari kesedihan yang mendalam. Setidaknya selama Seo Yeol berada di sisi Eddy, lelaki itu tak pernah lupa untuk bersyukur. Gadis itu sudah membuatnya gila, bahkan pikirannya melambat.

Tak perlu lama-lama untuk memikirkan ciuman tersebut. Eddy segera menjalankan mobilnya menuju apartemen Seo Yeol dan dirinya. Chan Yeol pasti sudah menunggu kepulangan Seo Yeol. Tetapi Eddy tak peduli kekhawatiran kakak kandung Seo Yeol tersebut.

To be continued…

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s