[BTS 3rd Anniversary Edition] Young Forever ( Oneshoot FF )

Young Forever

deergalaxy0620 | Slice of Life, Sad, Hurt | Bangtan Boys Member | G | Oneshoot

Fanfiksi ini tidak berdasarkan kenyataannya kepada Bangtan Boys, tetapi terinspirasi untuk mengenang kematian dua anggota Ladies’ Code, yakni EunB dan Rise beberapa tahun yang lalu.

 

12 Juni 2016…

 

Seorang lelaki tengah tertidur dengan telinga dipasang earphone hitam-putih. Tertidur sembari mendengar lagu balada yang keras dan hampir memecahkan gendang telinga. Lelaki bersurai hitam itu menggerakkan pelan kakinya, mengikuti alunan lagu balada yang sedih dan dapat menghibur hatinya. Mengaburkan semua masalah kalut yang mengubur di pikiran. Ketenangan selalu mengiringnya dan membiarkan hal tersebut terlarut menjadi mimpi yang indah.

Tiba-tiba, benda yang menempel di telinga lelaki itu dilepas seorang lelaki berkulit putih itu. Ekspresinya datar dan terduduk di samping lelaki bertubuh jangkung itu yang tengah tertidur pulas. Min Yoon Gi, lelaki bersurai abu-abu itu memandang teman dekatnya yang ingin mendamaikan hatinya. Hatinya ikut merasakan setelah teman dekatnya itu mendapatkan masalah kecil yang berubah menjadi besar. Dan Yoon Gi bingung harus bagaimana cara menyelesaikannya.

Kim Nam Joon, lelaki yang tengah tidur pulas itu masih saja memejamkan matanya, bahkan saat Yoon Gi melepaskan earphone miliknya. Tak ingin bangun dari mimpinya jika ada seseorang yang memintanya untuk bangun.

“Nam Joon-ah,” Yoon Gi memberanikan diri untuk menggoyangkan tubuh Nam Joon hingga lelaki bersurai hitam itu bangun, “Bangun, lalu sarapan. Bukankah kamu pernah berkata bahwa kamu akan mentraktir kita makan?” tanyanya sedikit manja. Tetap saja Nam Joon tak membukakan matanya.

“Aku akan menyeretmu ke rumah sakit jiwa karena kamu tak menghiraukan aku.” Karena ancaman Yoon Gi yang sedikit becanda, akhirnya Nam Joon membuka matanya dan menatap wajah sayu dan kecil seorang Min Yoon Gi.

Arasseo, hyung.” ucap Nam Joon setengah sadar.

“Apakah kamu masih marah kepada Ho Seok?” Yoon Gi bertanya kepada Nam Joon dengan membawa nama Jung Ho Seok itu. Iya, Nam Joon dan Ho Seok memiliki masalah yang awalnya kecil berubah menjadi besar. Dan yang ditanya malah terdiam dengan beranjak dari tempat tidurnya. Yoon Gi masih menunggu jawaban dari Nam Joon saat lelaki itu melangkah memasuki kamar mandi untuk membasuh wajah.

“Nam Joon-ah,” Yoon Gi kembali memanggil karena pertanyaannya selalu diabaikan Nam Joon, “Apakah kamu masih marah kepada Ho Seok? Dia benar-benar tak sengaja, Nam Joon-ah.” lanjutnya saat Nam Joon hendak menyikat giginya. Nam Joon memang mendengar pertanyaan Yoon Gi, tetapi ia malah mengabaikannya.

“Dia benar-benar tak sengaja, Nam Joon-ah. Kejadian sejak tadi murni salahnya karena dia tak bisa menjaga mulutnya sendiri. Apakah kamu mendengarku, huh? Aku tak suka diabaikan jika aku berbicara denganmu.” Yoon Gi mulai mengotot dan menuntut Nam Joon untuk menjawab. Ini membuat lelaki berjangkung itu menahan kekesalannya karena Yoon Gi merasa tak sabar.

“Bisakah kamu untuk tidak berbicara denganku selagi aku berada di kamar mandi?” Nam Joon bertanya dengan mendumal.

“Aku hanya bertanya saja…”

“Nam Joon-ah! Yoon Gi-ya! Sarapannya sudah siap!” belum selesai Yoon Gi berkata, tiba-tiba saja teman tertuanya – Kim Seok Jin – berteriak untuk sarapan. Yoon Gi menahan kekesalannya dengan berpamit kepada Nam Joon. Sementara lelaki berjangkung itu hanya sibuk menyikat gigi saja dan menjawab pamitan Yoon Gi.

***

“Ho Seok hyung,” Kim Tae Hyung, teman sekamar Jung Ho Seok dan Park Ji Min, membangunkan Ho Seok yang tengah tidur dengan menutupi wajahnya dengan bantal.

“Sebentar lagi, Tae Hyung-ah.” balas Ho Seok yang suaranya tampak berat, tak seperti biasanya yang menunjukkan ekspresi cerianya.

“Jangan sebentar saja. Sarapan kita nanti sudah dingin.” Tae Hyung mulai mengomel hingga akhirnya Ho Seok menyerah dan menyingkirkan bantal tersebut dari jangkauannya.

Arraseo, Tae Hyung-ah.” ucap Ho Seok sedikit menahan kesalnya.

Omo, hyung habis menangis?” Tae Hyung merasa sangat terkejut saat melihat mata Ho Seok tampak membengkak. Tampak setelah lelaki itu menangis.

Aniya, hanya semalam saja aku menangis.” ucap Ho Seok setengah mengantuk.

“Bagaimana kita akan ditraktir Nam Joon hyung jika matamu membengkak seperti ini?” Tae Hyung mulai khawatir dan mencari cara agar mata bengkak Ho Sek tak dilihat orang lain.

“Tak apa. Nanti aku akan mengenakan kacamata hitam. Anggap saja aku sedang tak ingin terkena sinar matahari.” Ho Seok berujar dengan perasaan yang menyelekit. Tae Hyung tetap saja merasa khawatir. Pasalnya Ho Seok dan Nam Joon habis bertengkar semalam.

“Baiklah, pergi untuk membasuh wajah dan kita harus sarapan. Nam Joon hyung akan mentraktir kita makan.” Tae Hyung langsung beranjak dari tempat tidur Ho Seok dan keluar menuju ruang makan untuk sarapan bersama teman-teman serumahnya. Sementara Ho Seok masih terduduk di ranjangnya dan tak ingin bertemu dengan Nam Joon hanya karena masalah semalam.

***

Setelah semuanya sarapan, mandi, dan berpakaian, sesuai dengan janji Nam Joon, akhirnya teman-temannya ditraktir makan *lagi*. Seok Jin merasa senang dan perutnya terus menahan lapar, padahal tadi pagi sudah sarapan banyak dan sekarang ia ingin makan kembali. Di mobil, mereka disibukkan dengan berbagai aktivitas masing-masing. Jeon Jung Kook dan Tae Hyung asyik bermain game di ponsel mereka, Yoon Gi sedang berpikir untuk menulis lirik lagu karyanya sendiri, Park Ji Min tengah mendengar lagu melalui speaker mobil dengan lagu-lagu dari Nam Joon. Sementara Seok Jin tengah tersenyum senang dengan duduk di antara Ji Min dan Yoon Gi.

Beda hal dengan Ho Seok yang mengenakan kacamata hitam untuk menutupi matanya yang membengkak. Ia melihat langit cerah melewati jendela mobil belakang, duduk bersebelahan dengan Tae Hyung dan Jung Kook. Sementara Nam Joon, yang duduk di sebelah supir, hanya memandang fokus ke depan dengan mengenakan topi yang hampir menutupi matanya. Memang dia merasa senang karena menepat janji teman-temannya untuk mentraktir, tetapi ia tak bisa berinteraksi langsung dengan Ho Seok karena permasalahan semalam.

“Nam Joon hyung,” tiba-tiba, dari belakang, Ji Min memanggil, “Kalau bisa, jangan pesan makan terlalu banyak. Khusus untuk Seok Jin hyung saja yang selalu makan, tetapi badannya tak pernah gemuk.” Ujarnya seraya setengah mengejek Seok Jin.

“Memangnya dirimu? Jika kamu makan terlalu banyak, justru otot di perutmu menghilang.” Seok Jin membalas ejekan yang membuat Ji Min mulai menutup mulutnya. Sementara Nam Joon hanya tersenyum tipis karena hatinya masih merasa gundah.

“Biarpun otot perutku menghilang karena banyak makan, aku bisa berolahraga kembali. Bagaimana denganmu? Apakah kamu ingin berolahraga?” Ji Min kembali mengejek Seok Jin.

“Bukankah kamu tak ingin olahraga? Kamu selalu saja menyerah jika kami mengajakmu olahraga.” Seok Jin dapat mengelak hingga mereka sedikit berdebat. Nam Joon menyukai mereka yang selalu beradu mulut dengan candaan yang hampir mendekati keterlaluan.

“Nam Joon-ah, kamu akan mentraktir kami makan apa…” belum selesai Seok Jin bertanya, tiba-tiba…..

BRAAKK!!!!

CIIITTT!!!!!

BRAAKK!!!!

JDEERR!!!!

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Entah apa yang terjadi sebenarnya. Mobil van yang ditumpangi Nam Joon dan teman-temannya, tiba-tiba mengalami kecelakaan besar. Ini terjadi saat mobil lain tak sengaja menabrak mobil mereka dari samping. Dan mobil van mereka mengalami kerusakan yang sangat signifikan. Sementara yang menabrak mereka pun hanya mengalami kerusakan bagian depan mobil saja. Ada banyak sekali saksi yang menyaksikan kecelakaan tersebut, mengingat mereka adalah boyband yang bernama Bangtan Boys – grup yang berhasil membuat nama mereka semakin dikenal seluruh dunia. Para ARMY – sebutan untuk penggemar Bangtan Boys – menangis histeris saat mengetahui mobil idol mereka mengalami kecelakaan beruntun.

Beberapa polisi langsung saja terjun ke lapangan saat orang yang menabrak mobil Bangtan Boys keluar dalam keadaan mabuk. Lelaki bertubuh gemuk itu menyadari kesalahan besarnya dan langsung ditangkap polisi untuk segera diperiksa. Sementara beberapa polisi lainnya mencoba untuk membantu Bangtan Boys untuk keluar dari mobil van mereka. Tetapi sayangnya, mobil mereka ditabrak dalam keadaan terbalik.

Nam Joon perlahan membukakan matanya dan tubuhnya merasa terjepit oleh tubuh supirnya. Lelaki berjangkung itu ingin segera bebas dari kecelakaan maut tersebut, sayangnya tubuh supir sangat berat dan gemuk. Ada satu cara agar Nam Joon dapat bebas dari mobil van yang hancur, yakni atap kaca mobil.

Telinganya dapat menangkap suara histeris ARMY. Nam Joon tertegun dengan jeritan histeris penggemarnya disertai dengan tangisan akibat insiden kecelakaan tersebut. Lelaki itu malah menitikkan air matanya sembari menahan ringisan akibat bagian kakinya terluka dan tak bisa bergerak.

Yeorobun,” panggil Nam Joon menahan tangisnya saat mencoba untuk bebas dari tubuh gemuk supir mereka, “Apakah kalian baik-baik saja?” tanyanya, namun terasa hening. Apakah mereka semua telah tewas? Mustahil bagi Nam Joon karena mereka seharusnya masih dalam keadaan membaik tanpa ada yang tewas. Nam Joon tak menyukai orang yang terlebih dahulu mati sebelum mereka lebih sukses.

“Seok Jin hyung! Yoon Gi hyung!” sahut Nam Joon sembari melihat ke arah belakangnya. Seok Jin dan Yoon Gi tak sadar di tempat dan justru tubuh mereka mengeluarkan banyak darah. Nam Joon kemudian melihat ke arah Ji Min yang ikut tak sadar dengan darah keluar lebih banyak dari Seok Jin dan Yoon Gi.

“Nam… Nam Joon-ah,” tiba-tiba, Nam Joon menangkap sayup-sayup memanggil namanya. Suaranya terasa tak asing di telinganya, “Nam Joon-ah, apakah kamu baik-baik saja?” itu Ho Seok! Nam Joon mengenal suara Ho Seok yang terdengar parau.

“Aku… aku disini, Ho Seok-ah,” bukankah mereka masih bertengkar kecil semalam? Mengapa Nam Joon dan Ho Seok malah saling membuka pembicaraan?

“Tae Hyung-ah… Jung Kook-ah…” suara Ho Seok bergetar saat teman terdekatnya, Tae Hyung dan Jung Kook, tak sadarkan diri dengan darah mengucur dari kepala mereka. Nam Joon tak tahu harus berbuat apa, terlebih lima anggota lainnya masih tak sadarkan diri.

“Ka… kalian…”

PRANG!

Belum selesai Nam Joon berbicara, tiba-tiba atap kaca mobil mereka pecah dan datanglah beberapa dokter yang sedang menggaet beberapa brangkar menuju mobil van mereka. Nam Joon bersyukur karena ada yang dapat menyelematkan mereka. Saat atap mobil mereka pecah, dengan segera Nam Joon keluar dari mobil dengan darah mengucur dari dahinya dan menahan rasa sakit yang luar biasa di kakinya. Terpaksa berjalan dalam keadaan pincang, tubuh Nam Joon tersungkur karena menahan rasa sakit tersebut.

Mata Nam Joon menangkap tubuh Tae Hyung yang telah digeret menuju ambulans, disusul dengan Jung Kook yang tidurnya tampak seperti anak kecil. Nam Joon tak mungkin jika anggota lain ada yang tewas terlebih dahulu. Dan beberapa ARMY menangis kencang saat Tae Hyung dan Jung Kook dilarikan menuju rumah sakit terdekat dengan luka sangat parah. Membuat hati Nam Joon ikut sakit parah setelah dua anggota termuda itu masih tak sadarkan diri.

Setelah Ho Seok berhasil keluar dari mobil van, ia berjalan menghampiri Nam Joon dan duduk bersimpuh dengan air mata yang menetes ke pipi. Dengan lukanya yang sangat banyak di wajahnya, Ho Seok tak kuasa menahan tangisnya saat ia segera memeluk Nam Joon. Takut leader grup itu ikut tewas secara tragis.

“Tae Hyung dan Jung Kook telah tewas, Nam Joon-ah. Aku mendengar percakapan dari dokter secara tak sengaja dan mereka berhenti menggunakan alat monitor.” Tangisan Ho Seok membuat Nam Joon merasa terkejut dan tak percaya. Melirik sejenak para ARMY yang ikut menangis histeris saat dua anggota termuda di grup – Tae Hyung dan Jung Kook – masuk ke dalam ambulans.

“Sementara supir kita juga tewas. Lalu, tiga anggota kita yang tersisa belum diketahui apakah mereka sudah tewas atau tidak.” Ho Seok mencoba untuk menghentikan tangisnya, namun apa daya jika keadaan telah diselimuti duka. Sayangnya Nam Joon tak menghiraukan perkataan Ho Seok, lantaran bibirnya kelu dan sukar untuk berkata kembali.

Tae Hyung, anggota Bangtan Boys yang memiliki sikap idiot dan periang itu, akhirnya telah menutup usianya selang beberapa menit setelah kecelakaan maut yang merenggung nyawa Bangtan Boys. Kemudian, disusul dengan Jung Kook – anggota termuda Bangtan Boys yang memiliki segalanya dalam bidang apapun dan anggota yang wajib dirawat – mengikuti jejak Tae Hyung untuk pergi ke surga dan hidup dengan tenang selamanya. Sementara tiga anggota lainnya – Seok Jin, Ji Min, dan Yoon Gi – masih belum diketahui apakah mereka telah tewas atau tidak. Dan yang masih memiliki sisa usia hanyalah Nam Joon dan Ho Seok.

“Aku merasa bersalah kepada mereka.” Tangis Ho Seok mulai meledak saat Nam Joon ikut menangis dan turut berduka cita. Pandangannya tertuju kepada Seok Jin yang digeret menggunakan brangkar. Nam Joon melihat sekilas wajah Seok Jin yang memiliki banyak luka di bagian pipinya dan matanya terbuka sedikit. Seok Jin tampak seperti dia setengah sadar dan jemarinya bergerak sedikit. Nam Joon ingin berteriak, tetapi ARMY sudah terlebih dahulu meneriaki nama Seok Jin dengan tangisan mereka yang histeris.

“Kamu… kamu…” Nam Joon mulai membuka mulutnya kepada Ho Seok, “Kamu jangan mati, demi Bangtan dan ARMY. Selain Jung Kook, hanya kamu yang paling penting di Bangtan.” Gumamnya yang akhirnya Ho Seok menangis di pelukan Nam Joon.

“Maafkan aku jika aku memiliki banyak salah kepadamu, terutama semalam kita bertengkar kecil yang dampaknya semakin besar.” Ho Seok mengeluarkan kata penyesalannya ke telinga Nam Joon dan kemudian mereka menangis bersama. Terlebih Nam Joon telah kehilangan anggota Bangtan yang paling penting, yakni Jung Kook.

Selama masih ada Ho Seok, Nam Joon tetap saja merasa sakit hati, lantaran Jung Kook telah pergi untuk selamanya dan menemani Tae Hyung. Nam Joon merasa tak percaya bahwa tuhan telah mencabut nyawa dua anggota termuda. Mengapa tidak dirinya saja yang nyawanya dicabut? Mengapa harus Tae Hyung dan Jung Kook yang tewas? Nam Joon merasa tak adil dengan keputusan tuhan, tetapi dia tak bisa mengelak dan membantah jika keputusan itu datang secara tiba-tiba.

Kim Tae Hyung dan Jeon Jung Kook, anggota termuda Bangtan Boys, telah tutup usia pada tanggal 12 Juni 2016 pukul 09.00 KST. Tolong hubungi kedua orangtua mereka.

***

Malam harinya, Nam Joon dan Ho Seok terduduk lemas di brangkar mereka. Wajah lelah dan sembab mereka masih tampak jelas. Betapa hancur dan sakitnya hati Nam Joon setelah Tae Hyung dan Jung Kook diketahui telah tewas. Bahkan ia melihat orangtua mereka berdatangan menuju rumah sakit. Mereka menangis histeris setelah mengetahui nyawa anak mereka telah direnggut, bahkan ayah kandung Tae Hyung meminta pertanggungjawaban kepada orang yang telah merenggut nyawa Tae Hyung. Beruntungnya Nam Joon karena dirinya tak disalahkan, juga tak menyalahkan supir mereka. Entah keajaiban apa yang mendatang secara tiba-tiba. Sementara pelaku kecelakaan mobil Bangtan Boys sedang diinterogasi polisi karena sang pelaku tertangkap menyetir dalam keadaan mabuk berat dan tak sengaja menabrak mobil van idol.

Mata Nam Joon dan Ho Seok menangkap tiga anggota yang tersisa, yakni Seok Jin, Yoon Gi, dan Ji Min. Tubuh mereka telah dibalut perban, tetapi mereka masih tak sadar juga. Ho Seok terlebih dahulu menangis tertahan karena takut teman teranehnya, Ji Min, ikut tewas bersama Tae Hyung dan Jung Kook. Sementara Nam Joon merasa khawatir dengan kondisi Seok Jin dan Yoon Gi. Seok Jin memang anggota tertua di Bangtan Boys, tetapi ia terlihat seperti seorang ibu di grup. Sementara Yoon Gi memeran peran penting dalam membuat lirik dan mengomposisi lagu. Dan Ji Min memegang peran penting dalam hal koreografi, meskipun Ho Seok adalah guru koreografi Bangtan Boys karena selalu memerhatikan anggotanya yang tengah latihan menari.

Hingga jam 00.00 KST, tepat perayaan hari jadi Bangtan Boys yang ketiga, Nam Joon dan Ho Seok tak ingin tidur dengan menjelajah mimpi. Mereka lebih memilih untuk memerhatikan kondisi ketiga anggota yang tersisa. Nam Joon ingin sekali melangkah menghampiri ketiga anggota tersebut, namun kakinya mengalami cedera parah. Sementara Ho Seok mengalami cedera di punggungnya sehingga lelaki itu hanya menyandarkan tubuhnya saja.

“Seok Jin hyung sangat baik kepada kami,” Ho Seok membuka suaranya yang membuyarkan lamunan Nam Joon, “Dia sangat tahu bagaimana cara merawat kami. Dia memang sangat buruk dalam menari, tetapi sikap keibuannya selalu menonjol dari diri dia. Akan terasa menyesal jika Bangtan Boys tanpa Seok Jin hyung.” lanjutnya yang menunjukkan wajah sayunya. Nam Joon malah tak membuka suaranya karena tenggorokannya menyelekit.

“Yoon Gi hyung, kami menyayangimu karena kamu sudah membuatkan kami musik. Jika tanpamu, apa jadinya Bangtan? Kami menyukai wajah manismu.” Ho Seok kembali membuka suaranya kepada Yoon Gi. Sementara yang didengarnya justru mematung dengan mata tertutup rapat.

“Ji Min-ah,” tiba-tiba Nam Joon membuka suara, meski tenggorokannya semakin sakit, “You got no jam, man. Tetapi tarianmu sungguh menakjubkan.” Ujarnya sembari menahan rasa sakit di tenggorokannya. Ho Seok mengangguk setuju dengan senyumnya yang melemah. Dan tiba-tiba…

PIIIIIIIIIIIIPPPPPPPPPP………

Lagi-lagi Nam Joon dan Ho Seok kembali kehilangan salah satu anggota Bangtan Boys, yakni Min Yoon Gi. Ho Seok yang hendak menahan tangisnya, kini kembali histeris saat mengetahui Yoon Gi telah tutup usia. Sementara Nam Joon ingin mengeluarkan suara, tetapi tetap saja tenggorokan telah merenggutnya.

Matanya teralihkan menuju beberapa dokter yang berlari menghampiri tubuh Yoon Gi. Dokter wanita segera mematikan alat monitor, kemudian melihat ke arah jam dinding yang tertera dari kejauhan. Dokter tersebut meminta kepada salah seorang dokter lainnya untuk menghubungi orangtua Yoon Gi.

Min Yoon Gi, anggota Bangtan Boys, telah tutup usia pada tanggal 13 Juni 2016 pukul 00.10 KST. Segera hubungi orangtuanya. Nam Joon tak percaya bahwa Yoon Gi lebih memilih untuk hidup tenang dan damai di surga, menyusul Tae Hyung dan Jung Kook. Sementara Ho Seok kembali menangis histeris dan langsung dibuat tenang dokter di sampingnya. Membiarkan lelaki bersurai cokelat itu menangis dipelukan dokter pria.

Nam Joon menangkap sosok Seok Jin yang tiba-tiba mengeluarkan air mata dari matanya yang tertutup. Apakah Seok Jin akan sadar beberapat saat lagi? Nam Joon hanya berharap dalam doanya agar dua anggota tersisa segera sadar dari koma, meski harapan sebelumnya telah pupus. Mengedarkan kembali pandangannya tertuju kepada sosok Yoon Gi yang telah ditutupi kain putih untuk segera dibawakan menuju kamar mayat.

Tiga jam kemudian…

Ho Seok akhirnya menghentikan tangisnya dan selalu menemani Nam Joon untuk memerhatikan dua anggota yang tersisa, yakni Seok Jin dan Ji Min. Dan tiba-tiba, jemari Seok Jin tergerak pelan dan matanya terbuka pelan. Memandang sedikit Nam Joon dan Ho Seok yang masih terduduk lemas di brangkar. Dan pada akhirnya, mata Seok Jin telah terbuka dengan sempurna. Nam Joon ternganga dengan ekspresi setengah tak percaya bahwa anggota tertuanya telah sadar dalam keadaan selamat. Dalam hati Nam Joon, ia berterima kepada tuhan karena tak segera mencabut nyawa Seok Jin.

Namun, tiba-tiba, lagi-lagi mereka kembali kehilangan Ji Min. Dan tuhan telah mencabut nyawa Ji Min disaat Seok Jin telah sadar. Nam Joon kembali merasa sakit hati setelah Ji Min akhirnya telah tutup usia. Ho Seok segera menahan tangisnya karena memang ini sudah takdirnya untuk membuat hidup Ji Min semakin tenang. Sementara Seok Jin melirik ke arah Ji Min dan mulai menitikkan air matanya. Ji Min telah damai dan tenang di surga.

Park Ji Min, anggota Bangtan Boys, telah tutup usia pada tanggal 13 Juni 2016 pukul 03.15 KST. Segera hubungi orangtuanya. Membiarkan tubuh Ji Min ditutupi kain putih dan kembali digeret menuju ruang mayat. Seok Ji baru saja hendak membuka suara, tetapi tenggorokannya sama sakitnya dengan Nam Joon. Air mata tak dapat lagi membendung dan membiarkan air mata kembali mengalir deras dan membasahi pipinya yang telah dibalut perban putih. Sementara Nam Joon akhirnya pasrah atas keputusan tuhan dalam mencabut nyawa seseorang. Membiarkan malaikat kecil di Bangtan Boys itu tenang dan damai.

Tae Hyung-ah, Jung Kook-ah, Yoon Gi hyung dan Ji Min-ah, selamat jalan. Terima kasih telah membesarkan nama Bangtan Boys dan membanggakan ARMY. Batin Nam Joon yang akhirnya menitikkan air matanya.

***

Pukul 12.30 KST…

Para ARMY, orangtua sang korban, dan ketiga anggota Bangtan Boys yang tersisa sedang berkumpul di pemakaman untuk mengenang kematian empat anggota Bangtan Boys yang telah tewas. Seok Jin yang duduk di kursi roda ikut berbelasungkawa atas kematian empat anggota yang telah membantu Nam Joon untuk membesarkan nama Bangtan. Sementara Ho Seok hanya menahan tangisnya dan membiarkan air mata kembali membanjiri pipinya yang paling banyak dibalut perban. Sementara Nam Joon yang terpaksa duduk di kursi roda hanya menatap empat kuburan yang saling bersebelahan.

Mendengar tangisan para ARMY dan orangtua korban yang telah dinyatakan tewas. Tak hanya mereka, melainkan para staf Big Hit, manager Bangtan Boys, dan beberapa idol lain ikut mengunjungi pemakaman. Mata Nam Joon tak pernah lepas dari empat anggota Bangtan Boys yang telah meninggal itu, yakni Ji Min, Jung Kook, Tae Hyung dan Yoon Gi. Dan Seok Jin menangis histeris karena dirinya tak tahu jika Jung Kook, Tae Hyung, dan Yoon Gi terlebih dahulu telah tutup usia sebelum dirinya selamat dari kematian. Mengaku dirinya terpukul atas kematian anggota Bangtan Boys yang dia cintai dan sayangi, terutama Jung Kook – golden maknae di Bangtan Boys.

Setelah prosesi pemakaman telah berakhir, Nam Joon, Ho Seok dan Seok Jin tak ingin pergi dari pemakaman. Justru mereka menyadari bahwa hari ini adalah hari jadi Bangtan Boys yang ketiga. Hari yang seharusnya saling berpesta bersama ARMY dan makan bersama, tetapi tuhan malah berkehendak lain. Justru hari ini merupakan hari yang tragis bagi Bangtan Boys dan ARMY.

“Mengapa hari ini sangat berbeda dengan beberapa tahun yang lalu?” Ho Seok membuka pembicaraan sembari menengadah sedikit ke langit cerah. Merasakan tahun ini adalah tahun yang paling berbeda dari beberapa tahun yang lalu.

“Kamu benar, Ho Seok-ah,” Seok Jin setuju sembari mengangguk lemah, “Hari ini tampak berbeda drastis. Tidak ada Ji Min, Yoon Gi, Jung Kook dan Tae Hyung. Mereka semua telah tenang dan bahagia di surga.” Ujarnya sembari duduk bersimpuh di samping kuburan Tae Hyung. Memandang foto Tae Hyung yang tersenyum bahagia. Nam Joon menghela napas panjang dengan pasrah dan menerima lapang dada.

“Jika bukan karena kecelakaan beberapa hari yang lalu, aku seharusnya dapat mentraktir kalian makan.” Nam Joon ternyata masih ingat bahwa ia seharusnya mentraktir anggota untuk makan, apalagi Seok Jin dikenal anggota yang memiliki porsi makan yang banyak.

“Ternyata kamu masih ingat juga, Nam Joon-ah.” Ho Seok hampir tertawa tak percaya. Seok Jin hanya tersenyum saja dengan perasaan yang kembali mengiris hatinya.

“Setelah ini, apa yang harus kita lakukan?” tanya Seok Jin dengan hening menyelimuti diantaranya. Nam Joon dan Ho Seok tak tahu apa yang harus mereka lakukan setelah ini.

“Mungkin… kita direhabilitasi karena ada banyak sekali guncangan yang melekat di tubuh kita.” Jawab Nam Joon dengan mengedikkan sedikit bahunya.

“Kamu benar, Nam Joon-ah,” Ho Seok berkata sedikit, “Aku adalah anggota yang paling sering menangis, apalagi mengenai situasi sekarang.” Lanjutnya.

“Kita telah kehilangan teman sekamar, terutama kamu, Ho Seok-ah,” Seok Jin membalas sembari melirik Ho Seok dari belakang, “Dua teman sejolimu telah hidup tenang disana dan mereka juga teman sekamarmu.” Lanjutnya yang disertai anggukan lemah Ho Seok. Sementara Nam Joon merasa kesepian tanpa Jung Kook, teman sekamarnya. Lagu apa saja yang Nam Joon putarkan melalui speaker kamar, Jung Kook merasa senang karena Nam Joon memiliki selera musik yang bagus.

“Kalian berempat yang hidup tenang di surga,” Nam Joon sedikit menyahut kepada empat kuburan yang hidup tenang di surga, “Jangan bertengkar disana. Kalian harus akur dan dapat bertemu dengan bidadari surga yang akan menemani hari kalian. Aku akan mengurusi mereka berdua yang masih hidup. Jadi, jangan khawatirkan aku. Aku pasti membuat kalian bahagia dan tersenyum.” Lanjutnya yang tiba-tiba saja air matanya kembali mengalir. Nam Joon ingin sekali menangis setelah empat anggota telah tiada di dunia.

“Jangan pernah melupakan hari jadi kita yang ketiga.” Ho Seok melanjutkan perkataan Nam Joon.

“Bukankah kita ini young forever, tetapi kalian malah lebih dahulu tewas.” Seok Jin berkata dengan menitikkan air matanya yang penuh ketulusan dan kesabaran. Nam Joon malah menangis histeris setelah mendengar kata terakhir Seok Jin. Memang benar dugaan Seok Jin.

Bukankah Bangtan Boys ini young forever, tetapi malah tewas terlebih dahulu.

“Bolehkah kami pamit terlebih dahulu? Kami akan mengurus grup kami dengan baik. Jadi, jangan sedih disana.” Kata terakhir keluar dari mulut Nam Joon sebelum ia, bersama Seok Jin dan Ho Seok, pergi meninggalkan area pemakaman yang dikelilingi rumput. Khawatir manager mereka menunggu di depan saking sedih dan sakitnya mereka setelah ditinggal empat anggota yang tewas.

Nam Joon, Seok Jin, dan Ho Seok akhirnya pergi meninggalkan pemakaman untuk segera direhabilitasi sekaligus penyembuhan total. Entah apakah Bangtan Boys masih ada atau justru sudah tak ada lagi di dunia. Selama Nam Joon masih hidup, dia pasti dapat membangkitkan kembali grup yang telah ditinggal empat anggota yang telah tewas itu. Berharap seluruh dunia dapat mengenal dan mendukung kembali keputusan Bangtan Boys, meski hanya tiga anggota yang tersisa.

Karena Bangtan Boys selamanya young forever.

END

#3YearsWithBTS

Ck1dGJqUkAA-QIC

 

Ck1dHiFVAAAcDer

Ck1dIhOUUAAzOKB

Advertisements

One thought on “[BTS 3rd Anniversary Edition] Young Forever ( Oneshoot FF )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s