[BTS 3rd Anniversary Edition] Suneung Problem ( Ficlet FF )

suneung problem

deergalaxy0620 | School-Life | Kim Tae Hyung a.k.a V, Park Ji Min | G | Ficlet

 

Bagi Kim Tae Hyung, Suneung – Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri di Korea – sungguh mematikan nyawanya. Bagaimana tidak jika dia harus menjawab pertanyaan dari sekian banyaknya pertanyaan. Terasa mematikan dan hampir saja membuat Tae Hyung tewas di tempat. Belajar mati-matian di sekolah membuatnya tak bisa bebas untuk berlibur ke suatu tempat. Dari pagi hingga malam dia belajar dan tetap saja otak tak bisa menerima ilmu yang dia pelajari.

“Bagaimana belajarmu, Nak?” pertanyaan itu keluar dari mulut seorang wanita paruh baya, yang tak lain adalah ibu kandung Tae Hyung. Saat itu, mereka berada di rumah dan Tae Hyung belajar dengan ditemani kopi yang memiliki kadar caffeine yang tinggi.

“Eomma lihat saja apakah saya belajar dengan baik atau tidak.” Tae Hyung memang sedang lelah jika sudah disuruh untuk belajar agar meraih perguruan tinggi yang dia inginkan.

“Tak apa. Mengapa kamu tak istirahat saja?” bagi Tae Hyung, istirahat terlalu sering membuatnya menjadi malas untuk membuka buku, lalu mengisi jumlah soal yang harus dia kerjakan.

“Eomma datang kesini untuk membawakan kudapan kecil untukmu.” Tae Hyung melirik kimbab yang kini berada di atas meja belajarnya. Iya, ibunya membawakan makanan tersebut agar Tae Hyung bisa istirahat sejenak.

“Tidurlah yang cukup, Nak. Apakah kamu tak tahu bahwa gurumu selalu menegurmu karena tertidur di kelas?” Tae Hyung memang tipikal anak yang tertidur di kelas saking lelah dan mengantuknya ia karena selalu belajar mati-matian.

Arasseo, eomma.” Jawab lelaki bersurai cokelat itu dengan intonasinya yang berat.

“Istirahat terlebih dahulu, kemudian belajar. Jika seperti ini terus, nanti kamu…”

“Eomma yang tercantik dan terimut, aku tahu istirahat sangat penting untuk tubuhku. Tetapi, jika aku terus-menerus untuk istirahat, aku akan menjadi anak yang pemalas.” Tae Hyung menyela perkataan Nyonya Kim – ibu kandung Tae Hyung – dengan ramah dan penuh sopan. Dia hampir saja mengeluarkan ocehan berkalimat panjang yang keluar dari bibir tebalnya. Merasa anaknya sudah mengerti, akhirnya Nyonya Kim keluar dengan menutup pintu kamar pelan dan hati-hati agar anaknya dapat tenang belajar.

Bolehkah aku tak ingin mengikuti ujian yang mematikan ini? batin Tae Hyung penuh jengkel dan keluhan sembari mencomot satu kimbab ke mulutnya. Hatinya sangat jengkel dan batinnya terus mengoceh. Matanya terus menangkap deretan soal yang kemungkinan keluar saat ujian berlangsung.

***

Keesokan harinya, Tae Hyung menghabiskan waktunya buat belajar di kelas. Tak peduli jika teman-temannya sedang mengobrol, terutama para gadis yang berteriak heboh setelah melihat poster bergambarkan idol. Justru Tae Hyung hanya mengenakan earphone dan mulai mengerjakan soal. Dia sangat sibuk dengan mengerjakan soal, demi perguruan tinggi yang ia inginkan.

Tiba-tiba, salah satu teman sebangku Tae Hyung, Park Ji Min, melangkah duduk di samping Tae Hyung dan melepaskan benda yang menempel di telinga sahabatnya. Ini membuat Tae Hyung mendengus kesal dan menghentikan kegiatannya yang sibuk dengan belajar. Ji Min tersenyum dengan mata sipitnya yang hampir tak terlihat.

“Tumben kamu sedang belajar?” Ji Min melihat buku kumpulan soal yang di dekat Tae Hyung, kemudian meraih buku tersebut dan membolak-balik lembaran soal.

“Bagaimana dengan dirimu? Kapan kamu harus belajar?” tanya Tae Hyung dengan menunjukkan sedikit senyumannya.

“Mungkin nanti malam. Aku harus membeli buku kumpulan soal agar otakku segera terbang menuju surga.” Jawab Ji Min dengan sedikit mengeluh.

“Aku hampir mati dengan kumpulan soal itu,” Tae Hyung segera meraih buku kumpulan soalnya itu, “Setebal buku ilmuwan yang dimiliki profesor. Dan aku harus mengerjakan semua soal ini?” tanyanya sembari membanting pelan buku tersebut.

Oh man, santai saja. Mengapa kamu tak luangkan waktu sebentar untuk menghibur?” tanya Ji Min dengan memukul pelan lengan Tae Hyung.

“Tak ada waktu lagi untuk belajar, Ji Min-ah. Pikirkan saja ujian yang telah merenggut jiwaku sampai aku menjadi orang gila yang meringkuk di rumah sakit jiwa.” Tae Hyung sudah bersabar menghadapi semuanya dan dia benar-benar ingin meloloskan diri dari ujian perguruan tinggi. Ji Min justru tersenyum kecil saat sahabat karibnya itu belajar.

“Kamu benar-benar anak yang rajin, Kim Tae Hyung. Biasanya kamu selalu bermain dengan perempuan dengan kata-kata gombal manis itu.” goda Ji Min yang kemudian Tae Hyung abaikan. Tetapi lelaki itu tersenyum kecil mendengar perkataan Ji Min, sahabatnya.

“Kamu itu anak pintar. Jadi, bisakah kamu menjadi mentorku?” Tae Hyung sukses membuat Ji Min mematung sejenak. Siapa sangka jika murid yang paling pintar di sekolah adalah Ji Min? Dia selalu saja meraih juara satu setiap dia mengikuti lomba. Ji Min sama jeniusnya dengan teman mereka yang lain, Kim Nam Joon dan Min Yoon Gi.

“Ma… ma… maaf sekali….”

“Jangan pura-pura sok sibuk, Ji Min. Kamu tak pernah membantu sahabatmu dalam kesusahan? Apakah kamu senang jika aku, Kim Tae Hyung, ini tak lulus masuk perguruan tinggi?” Tae Hyung langsung memukul pelan kepala Ji Min karena mengeluh sahabatnya tak pernah membantunya untuk belajar.

“Ba… baiklah. Aku akan membantumu.” Ucap Ji Min setengah pasrah. Kemudian, Ji Min juga ikut bergabung dengan Tae Hyung untuk belajar. Mereka pun sedang berdiskusi saat teman-teman yang lainnya itu mengobrol. Tak peduli jika Tae Hyung merasa terganggu dengan kondisi kelasnya yang tak kondusif selama Ji Min selalu ada untuknya. Ji Min sudah resmi menjadi mentor Tae Hyung untuk persiapan ujian perguruan tinggi.

END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s