[BTS 3rd Anniversary Edition] Medicine Like Hope ( Ficlet FF )

medicine of hope

deergalaxy0620 | Slice of Life | Jung Ho Seok a.k.a J-Hope, Kim Tae Hyung a.k.a V | PG-15 | Ficlet

 

Jung Ho Seok mengobrak-abrik isi lemari yang di atas wastafel. Menemukan sesuatu yang dapat membuatnya tenang dan hidup damai di dunia yang penuh kekejaman dan kemungkaran. Tak hentinya lelaki itu membuang semua isi barang di lemari tersebut, kecuali ia menemukan satu benda yang berhasil ia temukan, yakni obat anti depresan. Ho Seok tersenyum sayu saat ia menemukan obat tersebut.

Tangannya tergerak memutarkan tutup wadah obat tersebut dan mengeluarkan seluruh isi wadah tersebut. Ho Seok tak menemukan segelas air putih, tetapi tiba-tiba saja beberapa obat tersebut tumpah dan terhanyut ke wastafel yang dibanjiri air. Lelaki itu tak ingin beberapa obat di tangannya itu tumpah begitu saja. Menyisakan beberapa butir obat di tangannya. Bersyukur ia tak menumpahkan sisa butir obat di tangannya. Dengan segera, lelaki itu memakan butiran obat di tangannya dan meminumnya dengan air wastafel. Tak peduli seberapa jijik air tersebut.

Ho Seok akhirnya menemukan ketenangan setelah meminum obat itu. Ia dapat melewati kekejaman yang ia terima dari beberapa kriminal. Ia benci hidup yang penuh dengan tragedi dan ia selalu disalahkan. Salahkan orang kriminal yang menyeretnya ke dalam kehidupan yang menjadi tragis. Mengapa harus Ho Seok yang disalahkan? Mereka tak pernah berpikir sedikitpun untuk sadar. Heol. Ho Seok yang harus menerima cobaan yang berat, bukan para kriminal.

***

Di sebuah tempat, dimana tiba-tiba Ho Seok terbaring di sebuah tempat yang tak asing baginya. Perlahan lelaki itu membuka matanya dan menatap langit-langit atap putih. Mengedarkan pandangannya ke sekiling tempat dan ruangan tersebut serba putih. Ho Seok terkejut saat ia kini berada di rumah sakit. Bukankah ia masih di penjara dengan meminum obat anti depresan? Ho Seok merasa semuanya hanyalah mimpi dan kenyataannya ia berada di rumah sakit.

Pandangannya teralihkan menuju seorang lelaki yang berjalan menghampirinya. Ho Seok tahu siapa lelaki itu dan ia menyadari bahwa Kim Tae Hyung, teman dekat Ho Seok, sedang duduk di sampingnya.

“Apa yang sedang kamu lakukan dengan obat tersebut?” tanya Tae Hyung sedikit jutek kepada Ho Seok. Bukannya iba, malah lelaki berbibir tebal itu bertanya dengan sedikit jutek.

“Aku ingin menemukan ketenangan, Tae Hyung-ah.” jawab Ho Seok sedikit berat.

“Ketenangan? Dengan memakan banyak dosis obat anti depresan? Apakah kamu sudah gila?” Tae Hyung menatap Ho Seok penuh sinis karena teman dekatnya itu nekat mencoba bunuh diri.

“Mengapa kamu malah bertanya seperti itu?” Ho Seok berbalik bertanya.

“Justru bunuh diri itu tak ada gunanya. Hanya membuang sisa hidupmu saja. Menikah dengan wanita saja kamu belum.” Jawab Tae Hyung.

“Biarkan aku mencari ketenangan dan lebih baik kamu diam.”

“Mwo? Apakah kamu ingin mencari keributan disini?” Ho Seok mulai tertegun saat Tae Hyung hendak marah kepadanya. Bibirnya mengatup dan ia tak bisa berbicara pada saat itu.

“Dengarkan aku baik-baik. Bunuh diri itu tak ada gunanya dengan kehidupanmu. Sampai kapanpun kamu nekat bunuh diri, benar-benar membuang sisa hidupmu saja. Lihat orang tuamu yang telah bersusah payah membesarkanmu. Apakah kamu tak mensyukuri hasil jerit payah orang tuamu? Jangan hanya hidupmu sangat sengsara, kamu malah nekat meminum semua dosis obat. Itu malah membuat susah orang tuamu yang selalu membesarkanmu agar kamu menjadi anak yang sukses. Lagipula, itu semua salahmu mengapa kamu malah membunuh ayah kandungmu sendiri.” Ho Seok ingin menutup telinganya yang telah berbusa akibat ocehan panjang-lebar seorang Kim Tae Hyung.

“Untung sekarang polisi telah membebaskanmu karena masa tahananmu telah habis. Tetapi, ibumu pasti kecewa padamu, hyung. Setelah apa yang telah kamu perbuat terhadap ayahmu sendiri, kamu harus menerima karma yang ada.” Lanjut Tae Hyung sembari menghela napas panjang. Ho Seok akhirnya tertegun dengan perkataan teman dekatnya itu.

Mianhae, Tae Hyung-ah.” ucap Ho Seok penuh sesal.

“Obat yang menjadi ketenanganmu adalah obat seperti julukan namamu. Kamu pernah berkata padaku, kan bahwa kamu ingin menjadi orang yang memenuhi harapan orang lain? Itu sebabnya bos kami menyebutmu J-Hope. Karena dari nama julukanmu saja, kamu akan menjadi orang yang penuh berharap.” Tae Hyung melanjutkan kembali perkataannya dengan melebarkan sedikit senyumnya. “Jadi, jangan mudah menyerah dan jadilah menjadi dirimu sendiri. Aku merindukan kekonyolanmu yang hampir mendekati orang tak waras.” Ujarnya yang akhirnya Ho Seok tersenyum lebar.

“Baiklah, aku akan kerja keras.” ucap Ho Seok yang menimbulkan senyuman Tae Hyung semakin melebar.

“Setelah ini, aku traktir kamu makan. Kamu mau pesan apa saja aku yang membayar. Dan aku sudah menyediakan tahu putih goreng karena kamu telah dibebaskan dari penjara.” Tae Hyung menyodorkan tahu putih goreng untuk Ho Seok.

“Aku lapar. Terima kasih, Tae Hyung-ah.” Ho Seok berucap sembari mencomot pelan tahu tersebut.

“Aku tahu kamu sedang lapar. Jadi, aku membawamu makanan.” Tae Hyung mengacak pelan surai Ho Seok penuh gemas. Mereka pun akhirnya makan bersama, meski sebenarnya pengunjung tak boleh membawa makan dari luar. Namun, ini semua demi Ho Seok karena lelaki itu telah dibebaskan dari penjara, tempat yang membuat hidupnya menjadi sengsara.

END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s