[BTS 3rd Anniversary Edition] Last Apology From Me ( Ficlet FF )

LAFM

deergalaxy0620 | Family, Hurt, Slice of Life | Jeon Jung Kook, Jeon Jung Mi ( OC ) | PG-15 | Drabble to Ficlet

 

Jeon Jung Kook dan kakak kandungnya, Jeon Jung Mi, tengah bertengkar adu mulut di ruang keluarga. Mereka bahkan saling berperang dengan pikiran yang penuh egois dan tak ingin menyerah. Entah apa yang mereka perdebatkan hingga seisi rumah mereka penuh dengan kandang macan akibat pertengkaran adu mulut. Jung Kook berdebat dengan informal disaat Jung Min memarahi adik kandungnya itu dengan bahasa formal. Mereka tak pernah akur sejak Jung Kook memasuki kelas satu SMA. Saat itu, orang tua mereka telah bercerai dan lebih memilih untuk hidup sendirian tanpa anak. Hal ini menjadi perdebatan karena Jung Kook senantiasa ingin dekat dengan ibu mereka, tetapi Jung Mi selalu merebut keinginan Jung Kook agar selalu dekat dengan ibu mereka. Sementara ayah mereka? Biarkan ayah mereka yang telah bermain bersama wanita-wanita yang lebih cantik dari ibu mereka karena mereka tak ingin mendekati ayah dan takut sikap setannya telah merasuki ke dalam hati mereka.

Merasa Jung Mi tak ingin mengalah, Jung Kook dengan sengaja memecahkan akuarium kecil berbentuk lingkaran itu. Jung Mi berteriak histeris saat Jung Kook mulai memorak-porandakkan isi rumah mereka. Suasana di rumah mendadak hening saat Jung Kook meredamkan amarahnya.

“Aku tak suka jika orang lain mengikuti keinginanku yang lebih tinggi! Jika noona mengikuti keinginanku untuk dekat dengan ibu kita, lebih baik anda tak perlu mengikuti keinginanku karena semua keinginanku telah anda rebut!” bentak Jung Kook dengan emosinya yang meninggi.

“Mwo?! Merebut keinginanmu?! Pikirkan orang tua kita telah bersusah payah mencari uang untuk mendidik kita dan membayar biaya pendidikanmu! Bersyukur jika kamu ditempatkan di sekolah yang penuh dengan para calon idol!” hardik Jung Mi dengan intonasinya yang bergetar.

“Tetapi apa kenyataannya?! Jika bukan karena anda, orang tuaku pasti setuju jika aku menjadi seorang idol! Tetapi, mereka malah mendukung anda untuk menjadi seorang penyanyi rock yang selalu naik-turun panggung dan pindah terus dari kota ke kota! Bukankah malah menyakitkan?!” Jung Kook bertanya seolah ia tengah frustasi dan penuh depresi berat. Ia menitikkan air matanya saat kakinya tak sengaja menginjak serpihan kaca dari pecahan akuarium. Menahan rasa sakit di kakinya sama dengan menahan rasa sakit di hatinya akibat keinginannya untuk menjadi seorang idol ditolak keras orang tuanya.

“Idol dengan penyanyi rock itu sangat berbeda! Memangnya salah jika aku mengejar karirku sebagai seorang penyanyi?! Justru kamu yang salah karena keinginanmu menjadi seorang idol!”

“Mengapa anda malah menyalahkanku?! Justru ini semua salah anda karena anda telah merusak keinginanku hingga aku harus mencari uang di jalan, seperti orang mengemis di jalan setiap hari tanpa istirahat! Lalu, bagaimana dengan anda?! Anda selalu merayu orang tua kita untuk membelikanmu ponsel baru, mobil baru, tempat tidur baru dan bla bla bla!” Jung Kook akhirnya menangis dan terduduk di atas hamparan pecahan kaca akuarium. Tak peduli jika bokongnya juga ikut berdarah. Justru baginya sangat baik untuk meredamkan amarahnya.

“Jika bukan anda saja, keinginanku pasti dikabulkan. Sudah tiga tahun keinginanku selamanya tak dikabulkan dan memang murni semuanya salah anda! Aku sangat membenci anda yang telah merusak keinginanku! Aku benar-benar membencimu!” Jung Kook menangis histeris sembari menahan pedih bokongnya yang mengeluarkan banyak sekali darah. Jung Mi sadar bahwa adiknya sangat banyak terluka di tubuhnya. Kakinya, bokongnya, dan hatinya, bahkan pikirannya juga ikut terluka.

“Ini… ini bukan seperti yang aku maksud, Jung Kook-ah…”

“Sebelum anda tak menyalahkan diri anda, pikirkan baik-baik apa yang telah anda perbuat terhadap orang tua kita! Memangnya aku adalah anak pungut mereka sehingga aku selalu mendapatkan perlakuan yang tak adil?!”

“JEON JUNG KOOK!” teriak Jung Mi karena pertanyaan Jung Kook yang malah memperburuk keadaan.

“Jangan bertanya dengan pertanyaan yang tak pantas!”

“Jika begitu, aku sudah cukup umur dan aku boleh, kan berkata seperti itu?! Itu keinginanku saat aku telah menginjak usia 19 tahun! Bagaimana dengan anda?! Justru anda hanya berkata ‘jadi orang jangan sok kalem’ dengan gaya angkuh dan sombongnya anda dihadapan orang tua kita! Apakah anda sudah merasa puas adik kandungmu ini diperlakukan tak adil?!” Jung Mi tak dapat berkomentar selain hanya memanaskan pikirannya. Jung Kook sudah keterlaluan! Jung Kook hanya tertawa penuh remeh dengan bangkit dan menahan rasa sakit di bokongnya.

“Baiklah. Lihat saja nanti siapa yang menang. Jika diantara kita menang, pergilah bersama ibu kita. Jika diantara kita kalah, minta maaflah padaku dan pergilah dari silsilah keluarga kita!” Jung Kook mengeluarkan sebuah syarat kepada Jung Mi.

“Dan sebagai permintaan maaf terakhir dariku, anda tak boleh lagi menyebut namaku dan menganggapku adik kandung anda karena aku telah membenci anda. Wanita yang egois sepertimu tak akan mendapatkan kehidupan yang layak seperti orang di kota.” Jung Kook langsung melangkah pergi meninggalkan Jung Mi menuju kamarnya. Pintu kamar lelaki bersurai hitam pun dibanting hingga menimbulkan ketegangan dalam diri Jung Mi. Wanita itu tak pernah menyangka bahwa Jung Kook memang anak sekeras itu, terlebih lagi dia adalah anak terakhir dari keluarga Jeon.

***

Hari berganti hari dan bulan berganti bulan, tetapi Jung Kook masih meringkuk di kamarnya, melainkan dia hanya menghabiskan waktunya di balkon yang menghubungkan kamarnya. Memandang langit cerah yang masih bertolak belakang dengan sikapnya. Hatinya teriris akibat pertengkaran hebat beberapa bulan yang lalu. Untuk makan saja dia tak ingin melangkah keluar menuju dapur, melainkan meminta kepada pembantunya untuk membawakan makan. Jung Kook masih tak ingin bersahabat dengan kakak kandungnya, Jung Mi.

Pintu kamarnya diketuk seseorang. Jung Kook pikir bahwa pembantunya mengantarkan sarapan yang cukup sederhana. Ternyata Jung Mi datang ke kamar Jung Kook dengan membawakan sarapan yang sama dari kemarin. Jung Kook tak segera menoleh ke belakang, melainkan hanya memandang matahari yang terus menanjak ke langit.

“Jung Kook-ah,” Jung Mi memanggil Jung Kook dengan intonasi yang berbeda dari sebelumnya. Biasanya jika mereka sedang bertengkar hebat, Jung Mi menyahut Jung Kook dengan perkataan yang angkuh dan sombong. Dan Jung Kook mengabaikan panggilan tersebut.

“Aku datang kesini untuk…”

“Pergi sebelum aku akan menyeret anda ke kandang macan.” Jung Kook ternyata masih bermusuhan dengan Jung Mi. Perkataan itu membuat wanita itu terkejut dan memandang Jung Kook dari jauh.

“Sampai kapan kita akan terus berdamai?”

“Siapa yang memulai perdebatan ini siapa. Mengapa malah anda yang bertanya?”

“Aku ingin meminta maaf padamu dan kita harus berdamai.”

Jung Kook tertegun dengan perkataan terakhir Jung Mi saat telinganya mendengar sayup-sayup langkahan kaki sang kakak. Tubuhnya tiba-tiba terasa panas saat Jung Mi sudah berada di sampingnya. Ingin rasanya Jung Kook segera menghindari Jung Mi sebelum mereka kembali berdebat.

“Ibu kita menginginkan kita untuk pulang dan berdamai. Beliau menginginkan kita, bukan diantara kita. Ibu tak ingin melihat kamu terus menderita akibat pertengkaran kita beberapa bulan yang lalu. Aku tahu kamu marah padaku karena ketidakadilan ini dalam keluarga. Jadi, lebih baik pulang karena ibu kita sedang menunggu.” Jung Kook mulai menitikkan air matanya saat Jung Mi mengatakan hal lain. Tentu saja Jung Kook merindukan ibu, meskipun masih ada rasa dendam di hatinya.  Hatinya menjadi luluh seketika jika bukan Jung Mi yang memulai pembicaraan.

“Ibu kita benar-benar sedang menunggu kita, Jung Kook-ah. Aku tak berbohong padamu.” Ujar Jung Mi melanjutkan perkataannya. Jung Kook malah tertawa kecil saat sadar air matanya mengalir lebih deras.

“Anda sedang becanda padaku. Semua perkataanmu hanya menjadikanku permainan saja, kan? Sudahlah, anda jangan bersikap baik padaku.”

“Aku benar-benar serius, Jung Kook-ah,” sepertinya intonasi Jung Mi bergetar saat Jung Kook merasa tak percaya dengan perkataannya, “Aku benar-benar mengatakan fakta padamu, Jung Kook-ah.” lanjutnya yang kemudian Jung Kook tertegun. Tubuhnya ikut bergemetaran jika Jung Mi mengatakan hal yang sebenarnya. Wanita itu benar-benar serius dalam berbicara. Jadi Jung Kook tak bisa membantah kembali.

“Bersiap-siaplah untuk bertemu dengan ibu kita, Jung Kook-ah.” Jung Kook benar-benar tak bisa membantah dan hanya menangis saja setelah memikirkan nasib ibu mereka. Penyesalan selalu datang di akhir bagi Jung Kook. Lelaki itu menangis penuh sakit saat Jung Mi akhirnya memeluknya erat. Membiarkan kehangatan pelukan kakak-adik bertahan lama sampai kapanpun.

Jung Kook menyesal atas perkataannya yang kasar dan tak sopan, mengingat sebenarnya Jung Mi adalah kakak yang baik. Jika waktu dapat berputar kembali, Jung Kook dapat dilahirkan kembali sebagai lelaki yang berbakti, bukan malah menjadi seekor macan saja. Jika saja bukan Jung Mi yang menenangkan, Jung Kook mungkin terus bersikap sangar terhadap orang tuanya. Membayangkan bagaimana rasanya ibu mereka melahirkan dengan susah payah dan membesarkan mereka dengan susah payah pula. Sementara ayahnya malah pergi berkencan dengan wanita lain, bukan mencari nafkah.

Kajja, ibu kita sedang menunggu kita.” Tenang Jung Mi yang akhirnya dibalas dengan anggukan kepala Jung Kook. Mereka pun segera bergegas untuk bertemu dengan ibu mereka yang tercinta. Dan Jung Kook harus bersikap baik di depan ibunya sebelum ia harus bertengkar kembali dengan Jung Mi. Jika hal ini terulang kembali, Jung Kook tak bisa memaafkan dirinya yang sudah keterlaluan menjadi anak yang keras dan selalu bertengkar. Dan untuk hari ini, Jung Kook benar-benar harus berubah menjadi anak yang berbakti.

END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s