[BTS 3rd Anniversary Edition] Dear Rose ( Ficlet FF )

dear rose

deergalaxy0620 | Romance, School-Life | Park Ji Min, Rose Kim ( OC ) | PG-17 | Ficlet

 

Dance Classroom…

 

Park Ji Min tengah menggerakkan tubuhnya dengan tatapannya yang tajam dan fokus ke pantulan cermin yang mengelilingi dinding. Dengan alunan musik yang enerjik dan menyentrik, dengan lagu andalan favoritnya, Bangtan Boys – Dope, Ji Min tak takut dengan rasa sakit yang menyerang di tulang sendinya. Menari merupakan hal yang menyenangkan dan dapat menghibur pikirannya yang cukup kalut itu. Mengenakan kaus putih yang hampir menonjolkan badannya yang berotot dan celana panjang yang ternyata celana seragam sekolah.

Saat pulang sekolah, Ji Min melihat seorang gadis yang tengah mengobrol bersama lelaki lain. Gadis itu bernama Rose Kim dan lelaki lain itu adalah Jung Ho Seok, kakak kelas Ji Min. Mereka mengobrol dengan tatapan yang intens dan serius. Ji Min yakin bahwa Rose tengah berselingkuh karena tatapannya sungguh serius dan mendalam. Terutama Ho Seok adalah saingan Ji Min dalam hal menari sekaligus guru koreografi untuk Ji Min. Sakit hati yang menyerang di hati Ji Min membuatnya tak ingin menjadikan Ho Seok sebagai guru koreografinya.

Membayangkan gadis itu bersama Ho Seok, Ji Min tak sengaja terjatuh karena tergelincir dengan keringat yang menetesnya. Ji Min baru merasakan sakit di tulang sendinya. Pikirannya saja terus membayangkan gadis bersurai cokelat dengan wajahnya yang blasteran Korea-Amerika, membuat sakit di sekujur tubuh Ji Min semakin menjadi. Ji Min menahan air matanya yang menetes di pipinya sekaligus keringat yang mengucur hingga ke pipinya. Pikirannya terus berkelabut tentang gadis itu.

“Ya ampun, Ji Min-ah!” seorang gadis, yang tak lain adalah Rose, terkejut saat ia membuka pintu kelas menari dan mendapati Ji Min yang tengah meringis kesakitan. Gadis itu berlari dengan nada khawatir.

“Apakah kamu baik-baik saja?” tanya Rose sembari membopong tubuh Ji Min ke arah matras yang tak jauh dari jangkauan mereka. Membaringkan pelan tubuh Ji Min, kemudian membiarkan lelaki itu beristirahat sejenak.

“Mengapa kamu latihan menari disaat cederamu hampir sembuh?” baru kali ini Rose mengkhawatirkan Ji Min. Biasanya gadis itu lebih mengkhawatirkan Ho Seok daripada Ji Min. Dan Ji Min sadar bahwa Rose seharusnya tak perlu khawatir dengannya.

“Aku tak apa-apa, Rose-ya.” Ucap Ji Min sembari menghapus air matanya.

“Mengapa kamu menangis? Apakah kakimu terasa sakit?” Rose melihat keadaan kaki Ji Min yang kian sedikit membengkak. Ji Min hanya tertegun tak menanggapi pertanyaan yang keluar dari bibir Rose.

“Lihatlah. Kakimu kembali membengkak. Sudah kukatakan padamu untuk tidak latihan menari terlebih dahulu! Dan sekarang, lihatlah penyebab kamu terus menari!” Ji Min merasa lelah jika gadis itu selalu mengocehinya.

“Sejak kapan kamu menjadi perhatian padaku?” tanya Ji Min.

“Ma… maaf? Bukankah teman saling membantu?” Rose kembali bertanya.

“Sejak kapan kamu menyebut kita ini teman? Mengapa kamu malah menganggap aku ini temanmu?” Ji Min kembali diiris pisau setelah Rose menyebut kata ‘teman’. “Sampai kapan aku mengakhiri hubungan kita sebagai friendzone? Aku…”

“Bukan sekadar teman saja, Ji Min-ah,” Rose menyela perkataan Ji Min dengan senyumnya yang indah, “Aku mengerti perasaanmu, Ji Min-ah. Aku tahu kamu menyukaiku dan pasti kamu menginginkanku, kan? Aku juga mengerti perasaanmu setelah aku didekati lelaki lain selain kamu? Tetapi, jangan terlalu berharap terlebih dahulu karena aku belum memberikan jawaban padamu…”

“Kapan kamu memberikan jawaban padaku? Kamu terus saja mendekati Ho Seok sunbae dan melakukan kontak mata secara serius dan mendalam, layaknya kalian adalah sepasang kekasih di adegan drama. Apakah kamu masih membantah?” Ji Min menyela perkataan Rose dengan emosi yang hampir meninggi.

“Ji… Ji Min-ah… kamu…”

“Mengapa? Mengapa kamu selalu tak segera memberikan jawaban padaku? Aku hampir mati rasa jika aku selalu menunggu jawabanmu.”

“Itu bukan seperti yang kamu katakan, Ji Min-ah. Biarkan aku menjelaskan semuanya padamu.” Rose menghela napas panjang dan ikut membaringkan diri di atas matras bersama Ji Min. Membiarkan lelaki itu terasa hangat di samping Rose.

“Aku dan Ho Seok sunbae, kami direncanakan untuk menjadi kakak-adik tiri. Ibuku menikah lagi dengan ayah Ho Seok sunbae dan kami berdiskusi mengenai hal ini. Aku disuruh pindah rumah menuju rumah Ho Seok sunbae agar aku selalu dekat dengannya. Awalnya Ho Seok sunbae menolak, tetapi ini semua sudah ditetapkan dan diputuskan oleh ayahnya sendiri. Dan juga, banyak sekali rumor beredar bahwa aku dan Ho Seok sunbae berkencan hingga mereka selalu mengaitkanku dengannya. Ho Seok sunbae mengerti bahwa kamu menyukaiku dan dia selalu menjaga perasaanmu. Kalian berdua memang saingan dalam hal menari, tetapi Ho Seok sunbae tak mungkin merebut hatiku karena dia sudah menganggap aku adalah adik tirinya.  Dia benar-benar menganggapku adik tirinya. Jadi, jangan salah paham terlebih dahulu padaku dan aku akan memberikan jawaban padamu.” Rose segera menghadapkan tubuhnya ke samping, memandang wajah Ji Min dari samping.

“Aku juga menyukaimu lebih dari kata menyukaimu. Saking hebatnya kamu dalam hal menari, aku terlanjur mencintaimu, Park Ji Min,” ucap Rose dengan kata-katanya yang menyentuh telinga Ji Min, membuat lelaki itu mematung, “Aku ingin berkencan denganmu bukan dalam dunia fantasi, melainkan dunia nyata dan menghapus semua rumor yang beredar di sekolah.” Lanjutnya kembali yang akhirnya Ji Min tersenyum. Rose membalas senyuman Ji Min dan kemudian memberikan ciuman singkat ke bibir Ji Min. Rose menyukai hal itu.

“Jangan menggodaku, Rose-ya,” Ji Min hampir tertawa karena ciuman hangat tersebut, “Atau aku yang akan menggodamu.” Ujarnya sembari meraup bibir Rose hingga dirinya berada di atas gadis itu. Melumatnya kasar hingga menimbulkan ciuman yang sensasional. Ji Min tak bisa menahan hasratnya untuk mencium Rose hingga tanpa sadar jemarinya bergerak melepaskan kancing rompi seragam yang dikenakan Rose. Akhirnya, mereka melepaskan ciuman tersebut dan mereka saling bertatapan lebih intens.

“Mari kita lakukan di rumah. Aku tak mau diketahui kepala sekolah.” Bisik Ji Min yang kemudian segera beranjak menuju ruang ganti pakaian untuk mengenakan kembali pakaian sekolahnya. Rose hanya tersenyum senang saat Ji Min mengedarkan ciuman yang panas itu, membuat tubuh gadis itu ikut tersengat.

“Aku menunggumu di luar. Jangan terlalu lama disana!” sahut Rose sembari melangkah keluar dari ruang latihan menari.

“Aku sudah siap!” balas Ji Min sembari melangkah keluar dari ruang latihan menari. Membiarkan pintu tersebut dikunci petugas sekolah dan menghampiri Rose yang tengah melangkah pelan menuju halaman sekolah. Ji Min sudah tak bersabar lagi untuk berkencan dengan Rose dan melupakan pikirannya yang kalut beberapa tempo yang lalu.

END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s