[FF Oneshoot] Sadistically Your Heart

13e86cd4feea5813cddb228a4133d210

Author                 : DeerGalaxy0620

Genre                   : Romance, Hurt

Cast                     : Henry Prince Mak a.k.a Prince Mak

                               Harsley Ahn Syi ( OC )

Rating                  : PG-17 ( with violence word and scene )

Length                 : Oneshoot

Summary             : Prince Mak tak menyukai Harsley jika wanita itu selalu mengurusi tugasnya daripada cinta.

Henry Prince Mak menguap lebar saat jemarinya mengetik sesuatu dengan cepat. Mata sipitnya itu hampir memudar dan digantikan dengan ekspresi mengantuk. Sebuah tugas yang harus dia selesaikan sebelum esok dihukum sang profesor. Sebuah ilmuwan yang dia rangkaikan dan telah dia teliti lebih dalam, namun semuanya terasa melelahkan. Jika esok dia gagal menyelesaikan tugas tersebut, maka profesor tak sungkan untuk memberinya sebuah hukuman. Ini membuat Prince Mak mengeluh kesal karena profesor telah memberinya sebuah tugas yang telah dia kerjakan hampir satu tahun. Sungguh mengesalkan.

Tiba-tiba, datang seorang wanita dengan membawakan sebuah buku yang berhalaman tebal. Prince Mak sudah dapat mengetahui siapa sosok wanita itu. Seorang wanita yang memiliki tinggi badan yang cukup tinggi, bersurai hitam-kekuningan, dan pakaiannya pun hitam-putih. Dia adalah Harsley Ahn Syi, kekasih Prince Mak yang dingin dan tegas. Karena sikaptegas dan dinginnya itu, Prince Mak selalu memanggilnya dengan sebutan ‘profesor’. Tak tanggung-tanggung Harsley selalu membawa buku tebal agar tugas Prince Mak telah terselesaikan.

Harsley sebenarnya adalah wanita yang memiliki hati yang mendalam dengan sikap tegas dan dinginnya itu sebagai alasan dia mencintai Prince Mak. Wanita itu berasal dari keluarga yang memiliki kekayaan yang serba biasa. Hobinya selalu membaca buku, meneliti, pergi ke luar kota untuk melaksanakan tugasnya dan belajar cara menjadi public speaking. Justru hobinya selalu membuat Prince Mak jenuh dan sebal. Wanita itu selalu saja menolak untuk pergi berkencan hanya satu kali saja.

“Kamu sudah melupakan buku tebal ini. Bagaimana tugasmu tak terselesaikan hingga sekarang?” tanya Harsley sembari membanting pelan buku tebal tersebut, menggetarkan lembaran tugas Prince Mak yang kian berhamburan. Dasar wanita menyebalkan! Gerutu Prince Mak.

“Profesormu bakal marah jika kamu telah melupakan satu buku ini karena buku ini sangat penting untuk menemukan referensi. Apakah kamu mau dirimu mengulang satu semester bersama calon junior kita?” Harsley tiada hentinya mengoceh dengan melontarkan sederet kalimat yang menjenuhkan suasana di perpustakaan, membuat Prince Mak berhenti mengetik dan melirik sejenak Harsley di sampingnya.

“Mengapa kamu selalu mengurusi tugasku? Seharusnya kamu dapat mengurusi dirimu sendiri, bukan mengurusi tugasku,”

“Ini semua agar kamu dapat menyelesaikan tugasmu esok.” Prince Mak menyeringai sembari ia bangkit dari kursinya, kemudian berdiri berhadapan dengan Harsley. Pria itu tak suka diperlakukan seperti karyawan yang memiliki tugas yang paling padat. Setidaknya Harsley membutuhkan waktu luang untuk menyelesaikan tugas Prince Mak.

“Justru segala ocehanmulah yang menghambat pelaksaan tugasku. Apakah kamu memiliki kebiasaan mengoceh kepada orang lain? Aku merasa lelah atas ocehanmu yang selalu membuatku menunda tugasku.” Prince Mak berkata dengan menahan kekesalannya.

“Mengapa pikiranmu malah berkebalikan dengan pikiranku? Justru berharap untuk berkencan dengankulah yang membuat tugasmu tertunda, bukan karena ocehanku. Bukankah seharusnya kamu mengurusi hobimu yang jauh lebih sibuk dariku?” perkataan yang terlontar dari mulut Prince Mak justru menimbulkan kemarahan dari diri Harsley.

“Mengapa kamu malah menyalahkanku atas penundaan tugasmu?! Apakah kamu tak pernah berpikir dengan logikamu jika akulah yang mengganggu tugasmu?! Lagipula, aku memang tipe wanita yang selalu mengoceh kepada orang lain. Dan orang lain malah menerima perkataanku dengan baik dan hormat. Lantas, mengapa dirimu bukanlah orang lain?!” tanya Harsley yang menimbulkan sedikit pertengkaran mulut dari mulut.

“Apa gunanya kamu mengocehku dengan mengeluarkan segala perkataan yang jeniusmu, namun justru membuatku kesal dan sakit kepala?! Yang ada hanyalah kamu membuatku kesal dan menggerutu padamu!”

“Dasar pria tak tahu diri!” Harsley mulai membentak Prince Mak dengan perkataan yang cukup sarkas, “yang ada di benakmu malah menyalahkan orang lain yang telah jerit payah untuk mengocehmu, demi masa depan! Jika kamu tak menginginkan wanita yang memiliki banyak bicara, mengapa kamu malah berkencan denganku?! Apa gunanya kamu berkencan denganku jika kamu justru membenci segala ocehanku?! Kamu sungguh pria yang tak memiliki hati nurani! Hanya memanfaatkan wanita untuk berkencan saja, bukan untuk menasihati saja!”

Saat Harsley hendak melangkah keluar dari perpustakaan, dengan segera Prince Mak menarik tangan Harsley, kemudian tubuhnya terdorong ke belakang dan membentur rak buku. Harsley meringis kesakitan saat Prince Mak mulai mencengkeram kuat bahunya, ditambah lagi punggungnya yang dibentur kekasihnya itu sehingga menambah rasa sakit di punggung. Harsley dapat menatap manik orang yang dihadapannya dengan tajam dan cukup bengis. Prince Mak sangat mengerikan.

“Mengapa kamu begitu kasar padaku?!” tanya Harsley dengan mengumpulkan sedikit keberanian.

“Kamu bilang apa? Pria tidak berguna? Sesarkaskah perkataanmu hingga kamu merasa dirimu paling hebat di dunia?! Kamu cukup mengagumkan dengan IQ tertinggi di kampus dan dapat meraih penghargaan wanita paling jenius di kampus negeri ini. Sejeniuskah dirimu hingga kamu berani-beraninya mengatakan pria tak berguna?!” Prince Mak selalu merubah intonasi nadanya, bahkan pria itu tak tanggung-tanggung membentak Harsley hingga wanita itu harus diam.

“Jika itu memang benar, untuk apa kamu menjadikanku sebagai kekasihmu?! Yang aku miliki hanyalah seorang pria yang brengsek dan tak berguna sepertimu! Jika waktu dapat berputar, sudah pasti aku menolakmu secara mentah-mentah!” Prince Mak akhirnya tertegun dengan segala perkataan Harsley, namun uap amarahnya masih mendidih di ubun kepalanya. Perkataan Harsley sungguh membuatnya kembali meninggikan emosinya.

“Lagipula, seharusnya kamu bersyukur karena memiliki seorang kekasih yang jenius dan penyayang, bukan justru menjadikan kekasihmu sebagai perusak tugasmu! Haha! Kamu sungguh luar biasa, Henry. Menjadikan kekasihmu sebagai perusak tugasmu, padahal sebenarnya kamu tak berniat untuk menyelesaikan tugasmu. Justru kamu menginginkanku untuk berkencan hingga kamu menunda tugasmu yang hampir satu tahun belum kelar.” Kali ini Harsley menukas hingga Prince Mak benar-benar diam akibat perkataannya tersebut.

“Lagipula, mengapa kamu tidak putus saja padaku? Tak ada gunanya bagiku untuk berkencan dengan seorang pria yang sok belagak seolah tak ada tugas yang kamu…” belum selesai Harsley berkata kembali, tiba-tiba saja Prince Mak meraup bibir ranum Harsley dengan kasar, bahkan wanita itu merintih sembari mencoba untuk mendorong tubuh pria dihadapannya itu. Sayang, tenaga Prince Mak lebih kuat dari keberanian Harsley yang sedikit dia dapatkan.

Harsley meronta-ronta saat Prince Mak melesakkan lidahnya ke bibir Harsley, mencoba untuk beradu lidah. Tetapi, wanita itu selalu menolaknya hingga akhirnya ia berhasil mendorong tubuh Prince Mak hingga pagutan mereka terlepas. Harsley segera mengambil napasnya sebelum lelaki itu kembali meraup bibirnya lebih ganas dari sebelumnya. Ini bukan atas dasar cinta, melainkan atas dasar nafsu yang membara di hatinya. Kekuatan Prince Mak jauh lebih kuat dari sebelumnya hingga Harsley menyerah dan pasrah dengan apa yang kekasihnya itu lakukan. Berharap ada satu keajaiban sebelum jemari Prince Mak melepaskan kancing kemeja Harsley satu per satu.

“Hen… Henry! Lepaskan!” akhirnya, Harsley kembali mengumpulkan kekuatannya dan segera mendorong Prince Mak menjauh. Tubuh Harsley perlahan merosot ke bawah akibat ulah kekasihnya yang ternyata garang dan bengis. Wanita itu menangis dengan kemejanya yang setengah terbuka dan menampakkan dua gundukan indah dibalik tank top hitamnya.

“Bagaimana? Apakah kamu masih mengatakanku pria yang tak berguna?!” Prince Mak justru tak memikirkan perasaan Harsley yang kian berubah menjadi wanita yang paling lemah di dunia.

“Mengapa kamu diam saja?! Jangan pura-pura menangis dan menjawablah! Apakah aku masih dianggap tak berguna?!”

“Justru anda lebih tak berguna dari pria lain!” Harsley membentak Prince Mak dengan isakan tangisnya yang kian meledak. “kamu sudah cukup bengis dari pria lain! Kamu hanya memberahikan nafsu saja tanpa dasar cinta! Kamu sungguh sangar! Aku benci padamu!” isaknya yang akhirnya tangisnya kian melemah. Prince Mak segera mengatur napasnya sebelum ia segera membenarkan kemeja Harsley yang setengah terbuka akibatnya. Sayangnya, Harsley menepis tangan Prince Mak seolah takut pria itu hendak melakukannya lebih.

“Jangan berani mendekat atau aku akan melaporkan ini kepada profesormu!” ancam Harsley dengan bentakan yang keras, padahal perpustakaan dilarang berbicara keras. Dan untung saja tidak ada penjaga perpustakaan di tengah malam yang gulita ini. Wanita itu hanya menangis tersedu-sedu sembari memegang bibirnya yang telah membengkak akibat ciuman Prince Mak yang kasar dan menuntut. Perlahan-lahan, Harsley segera bangkit dan mulai menatap lelaki dihadapannya penuh kebencian.

“Aku sadar dan menyesal kali ini, Harsley…”

I hate you, Prince Mak!” cukup pedas ucapan Harsley sebelum wanita itu meninggalkan perpustakaan untuk menenangkan diri. Prince Mak menggigit bibirnya, mengusap kasar surai hitamnya itu, dan memasang ekspresi frustasi. Memandang sekitar perpustakaan yang gulita dan memiliki sedikit pencahayaan. Lelaki itu mengalihkan pandangannya tertuju ke laptopnya.

Dia harus segera menyelesaikan tugas ilmiah, atau profesornya mungkin akan menghukumnya. Jika bukan karena Harsley, mungkin Prince Mak tidak akan kena oceh. Sekarang wanita itu menangis penuh kebencian. Memang ini merupakan suatu hal yang membuat Prince Mak senang dan bangga, tetapi melukai harga diri wanita tidaklah baik, seperti seorang anak yang melukai harga diri ibu. Prince Mak tahu dirinya bersalah, namun wanita seperti Harsley seharusnya tak perlu ikut campur dengan tugasnya. Jika bukan karena cinta, mungkin Prince Mak dapat menyelesaikan tugasnya dengan cepat. Harsley adalah kekasihnya dan seharusnya wanita itu memberikan semangat untuk menyelesaikan tugasnya, bukan malah mengocehinya panjang-lebar, seperti kereta api.

Baiklah, Prince Mak merasa bersalah. Ia bersalah karena sikapnya yang bengis terhadap Harsley. Kini, wanita itu membencinya dan mungkin wanita itu akan bersama lelaki lainnya. Prince Mak tak suka kekasihnya didekati pria lain. Jadi, apa keputusan terakhir Prince Mak? Mungkin dia akan menyelesaikan tugasnya terlebih dahulu daripada berurusan dengan Harsley. Tetapi kemungkinan untuk meminta maaf kepada Harsley sungguh kecil. Dan jika ini terjadi, Prince Mak mungkin telah jatuh ke lubang hitam dan terkena sebuah karma.

***

Esoknya, profesor mengecek tugas ilmiah yang dibuat Prince Mak. Beliau tampak serius sembari meneliti hasil tugas mahasiswa dihadapannya. Perlahan-lahan, bibir profesor terangkat dan membentuk senyuman. Tangannya yang memegang tugas ilmiah Prince Mak, beliau menaruhnya pelan dan tak ada tanda coret di atasnya. Prince Mak hanya terdiam memikirkan kejadian semalam bersama Harsley. Tak ada ide untuk membuat hati wanita bersurai hitam-kekuningan itu luluh dan mau memaafkannya. Pikirannya sedikit kacau lantaran Harsley kini membencinya.

Sepuluh menit kemudian, Prince Mak melangkah keluar dari ruang profesor dengan tegang. Saat pria itu menutup pintu pelan, tiba-tiba ia setengah berteriak dengan hati penuh senyuman. Tugas ilmiahnya akhirnya diterima baik profesor. Jika tugas ilmiahnya telah sukses, Prince Mak diperbolehkan untuk menghadiri acara wisuda satu bulan kemudian. Dengan begitu, Prince Mak dapat menemukan pekerjaan yang layak, yakni seorang ahli filsafat.

Saat lelaki itu melangkah menuju parkir mobil, tiba-tiba Harsley berjalan melewatinya. Kehadiran wanita itu tentu saja Prince Mak mengetahuinya. Dengan segera, pria itu berlari menghampiri Harsley dan berdiri dihadapan wanita itu. Sayangnya, Harsley enggan untuk menatap wajah oriental dan blasteran Prince Mak. Justru wanita itu kembali melangkah, meski Prince Mak selalu menghalangi jalannya.

“Lebih baik kamu pergi atau aku akan melaporkan perilakumu…”

“Aku mencarimu untuk meminta maaf,” ungkap Prince Mak sebelum Harsley hendak melanjutkan perkataannya, “aku tahu sikapku sangat kasar terhadapmu sehingga kamu membenciku. Dan aku tahu ini semua salahku sehingga kamu mungkin membenciku selamanya dan tak pernah menganggapku sebagai kekasihmu. Jadi, aku datang kesini untuk meminta maaf padamu.” Lanjutnya yang kemudian tak diterima Harsley. Justru wanita itu kembali melangkah menuju suatu tempat yang mungkin dapat menyibukkan diri dengan tugas, tanpa Prince Mak. Harsley tetap melangkah, bahkan Prince Mak berteriak saja tetap wanita itu melangkah.

“Soal sikapku semalam, aku sadar bahwa sebenarnya kamu benar.” Tiba-tiba, Harsley menghentikan langkahannya. Prince Mak tengah mengaku atas sikapnya sekarang. Harsley mematung saat Prince Mak kembali melangkah menghampirinya. Dan kini, pria itu berdiri dihadapan dengan Harsley.

“Aku sadar bahwa wanita yang suka mengoceh itu sebenarnya menyadarkan orang lain. Dan aku sadar bahwa sebenarnya…”

“Aku mengocehimu karena sebenarnya aku tak mau kamu dihukum profesor,” Harlsey menyela perkataan Prince Mak cepat, “aku tak suka jika dirimu selalu kena hukuman profesor. Apakah kamu tidak tahu bahwa usia profesor sudah mulai mendekati akhir hidup? Profesor lebih menyayangi kita daripada tugas kita. Profesor selalu memerhatikan hasil kerja keras kita melalui tugas. Itu sebabnya mengapa aku selalu mengocehimu untuk segera menyelesaikan tugas ilmiahmu.” Lanjutnya yang kini Prince Mak yang tertegun. Matanya sedikit berbinar-binar.

“Wanita yang selalu mengoceh itu sebenarnya adalah wanita yang cintanya lebih dalam dari yang kamu duga. Aku menggerutumu karena aku mencintaimu, aku mengomelimu karena aku mencintaimu, aku memarahimu bukan karena aku membencimu, melainkan aku mencintaimu. Dan memang aku membencimu karena sikapmu, tetapi… aku… tidak bisa memendam rasa benci ini lebih dalam dan dari yang kamu duga. Apakah kamu tak pernah tahu bahwa sebenarnya aku benci untuk meluapkan amarahku terhadap orang lain? Aku membenci diriku yang pemarah karena… aku bingung… aku bingung untuk meredamkan amarah ini. Jika orang tersebut memancingku untuk marah, aku mungkin akan marah kepada orang lain untuk selamanya.” perkataannya yang panjang-lebar itu, kembali membuat Prince Mak teringat semalam saat ia bertengkar adu mulut bersama Harsley, bahkan ciuman yang ia torehkan ke bibir Harsley adalah hasil paksaan, bukan cinta. Tiba-tiba saja sebulir air mata menetes di pipi putih pucat lelaki bersurai hitam itu. Dirinya memang selalu berbuat kasar, tetapi ia juga bingung untuk membuat Harsley meredamkan amarahnya.

“Prince, mengapa kamu malah menangis?” dan Prince Mak mulai sadar bahwa sejak tadi Harsley menyeka air matanya lembut, tidak selembut ciuman kasar. Prince Mak hampir tak percaya bahwa wanita sesempurna, seperti Harsley, seharusnya ia pertahankan hingga jenjang pernikahan. Tak peduli bagaimana caranya untuk memertahankan kekasihnya.

“Anggaplah pertengkaran adu mulut kita sebagai bayangan masa lalu. Dan terkadang, masa lalu dapat dilupakan seseorang jika itu menyakitkan. Jadi, anggaplah ini merupakan masa lalu kita dan awal dari pertemuan kita.” Harsley mulai melengkungkan sudut bibir ranumnya, tetapi Prince Mak justru menangis tersedu-sedu. Menangis karena takut kehilangan wanita tercintanya. Menangis karena dirinya bersalah atas sikap kasarnya itu. Dan menangis karena ia tak mampu meredamkan amarah seseorang.

Dan tiba-tiba saja, tubuh Harsley menegang saat bibirnya kembali disentuh bibir Prince Mak. Iya, pria itu menciumnya lembut tanpa ada unsur paksaan. Tentu saja Harsley merindukan ciuman ini. Wanita itu hendak membalas ciuman Prince Mak dan tak sengaja tangannya melingkar ke punggung Prince Mak, lantas memeluknya untuk memperdalam ciuman. Sementara Prince Mak menarik tengkuk Harsley, lantas tiba-tiba saja lidah mereka saling beradu. Ciuman panas pun terjadi hingga tak sadar Prince Mak mendorong pelan tubuh Harsley. Untungnya, tidak ada mahasiswa yang melihat ciuman intim tersebut karena sibuk dengan urusan pribadi masing-masing.

Harsley merintih kesakitan saat tubuhnya kini berada di atas Prince Mak, lantaran mereka menjatuhkan diri di tanah yang berpasir. Prince Mak tak hentinya ia menguasai bibir Harsley sembari lidah mereka saling bertautan. Tak hentinya mereka saling berciuman intim di tempat umum karena bibir ranum Harsley seperti permen yang tak ingin segera habis dari mulut. Prince Mak benar-benar membuat akal kekasihnya itu mengabur dan menghilang dalam sekejap.

Akhirnya, Harsley segera menjauhkan bibir Prince Mak dari bibirnya karena pasokan oksigen semakin menipis. Justru Prince Mak tertawa puas karena ia berhasil mengalahkan Harsley dalam hal berciuman.

“Mengapa kita melakukan ini disini?” bodohnya Prince Mak hingga Harsley menjitakkan kepala kekasihnya itu dengan kesal.

“Apakah kamu pikir kita sepasang suami-istri?” tanya Harsley cukup ketus.

“Tentu saja kita ini sepasang suami-istri,” jawab Prince Mak penuh candaan sembari bangkit dari tanah, disusul dengan Harsley. “jika kita kelak sudah menikah, kita adalah sepasang suami-istri.” Ujarnya.

“Dan ciuman tadi, seharusnya dilakukan untuk orang menikah, bukan untuk orang yang agresif dan pikiran kotor sepertimu,” Harsley kembali menjitak kepala Prince Mak hingga lelaki itu meringis kesakitan.

“Mengapa? Sakit? Ini adalah hukumanmu karena kamu telah berbuat kasar terhadap seorang wanita.” Harsley segera memukul Prince Mak dan pria itu tertawa penuh kesakitan.

“Harsley! Ini sakit!” Prince Mak berusaha menghindar, namun pukulan Harsley tampak seperti petinju. Terlalu sakit untuk dipukuli.

“Tak apa jika kamu kesakitan karena ini bentuk hukuman untukmu.” Harsley tampak tak peduli dengan Prince Mak hingga tanpa sadar lelaki itu berhasil memeluk tubuhnya yang cukup tinggi itu.

“Memelukmu dapat membuatmu tak dapat memukulku.” Ejek Prince Mak sebelum Harsley mendorong kekasihnya itu kuat, kemudian kembali melayangkan pukulan di sekujur tubuh Prince Mak. Tak peduli apakah lelaki itu akan sakit di kemudian hari atau tidak. Yang terpenting adalah Harsley memberinya hukuman.

“Jika kejadian ini terulang kembali, mungkin aku tak akan memaafkanmu selamanya.” Harsley akhirnya menghentikan pukulannya saat Prince Mak kembali tersungkur ke tanah. Mereka pun kembali saling bertatapan sembari melontarkan senyuman manis dan indah mereka.

“Jika kejadian ini terulang kembali, mungkin aku akan mati terlebih dahulu darimu.” Akhir Prince Mak hingga membuat Harsley hampir tersipu malu. Wanita itu kemudian berjongkok, lalu memeluk tubuh Prince Mak hangat dan erat. Terasa nyaman untuk memeluk Prince Mak dan Harsley tak ingin melepaskannya. Berharap suatu kejadian semalam takkan terulang kembali hingga ajal menjemputnya.

END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s