[FF Oneshoot] Empty Sorrow

empty sorrowAuthor      : deergalaxy0620

Twitter      : @DeerGalaxy0620

Genre       : Romance, Sad

Cast         : Oh Jong Seok a.k.a Eddy ( JJCC )

                 Bae Joo Hyun a.k.a Irene ( Red Velvet )

Rating       : PG-15

Length      : Oneshoot

Disclaimer  : All the story is MINE!

Summary   : Eddy pikir ia dapat membahagiakan hidup Irene dengan pernikahan. Namun ternyata…

Eddy termenung di pinggir kolam di malam hari. Bunga menggenang di dasar air kolam. Sementara pria itu, hanya memandang langit gelap yang bertaburan bintang. Bulan senantiasa menemani bintang. Namun, Eddy menyendiri. Dengan ekspresinya yang beraneka ragam, seperti depresi, kecewa, marah, kesal campur aduk. Keningnya mengerut dengan jemari kanannya tergerak memijat. Perasaannya sungguh kalut. Dia enggan untuk mengingat apa yang terjadi hingga dia telah memorak-porandakkan pikirannya. Hanya mengenakan kemeja putih, dibalut dasi hitam melingkar di area lehernya, dan celana dasar hitam.

Apa yang dibenak Eddy, sungguh membuatnya lebih kalut. Sebuah ingatan, yang terjadi sejak tadi pagi, mampu membuat hatinya disayat pisau. Wanita itu… dia pergi meninggalkan Eddy. Meninggalkan sejuta kenangan, sejuta hati, dan sejuta cinta. Dan kini, dia benar-benar melangkah jauh dari Eddy. Lebih ironinya lagi, mereka akan segera menikah! Semuanya telah diatur orangtua mereka. Kapan mereka akan menikah, dimana mereka akan menikah, apa yang akan dipersiapkan untuk menikah dan lain-lain. Orangtua sekaligus calon suami-istri telah menyiapkan segalanya untuk menikah, lalu hidup bahagia di rumah baru mereka.

Akan tetapi, semuanya telah menjadi sirna. Wanita itu, entah apa yang terjadi dengan Eddy, pergi meninggalkan semuanya yang menjadi jerit payah mereka sekaligus orangtua. Padahal mereka benar-benar siap untuk menikah. Dan pasalnya, mereka akan menikah sejak tadi pagi. Kini, pernikahan mereka telah dibatalkan. Siapa lagi jika bukan karena wanita itu?

“Omong kosong,” dua kata yang dilontarkan dari bibir Eddy, dengan sedikit seringaian, “semuanya benar-benar omong kosong.” lanjutnya disertai dengan tawa kecilnya yang benar-benar membohongi perasaannya. Dia segera berdiri, lalu memutarkan sedikit tubuhnya ke arah kolam yang telah digenangi bunga. Tampak cantik dimata Eddy, namun tampak hampa di hatinya.

“Bolehkah aku mengucapkan selamat tinggal yang kosong ini?” tanya Eddy dengan tersenyum manisnya. Dia berbicara seolah-olah bunga itu benda hidup, yang dapat mendengar, juga merasakan. Kemudian, Eddy kembali memutarkan tubuhnya ke dinding putih. Warna itulah yang seharusnya dapat mewakili perasaan bahagianya. Kini, yang dia tatap sekarang adalah putih yang ternoda. Dan yang dia maksud adalah perasaannya yang sudah tak dapat ditolong lagi.

“Selamat tinggal, Irene Bae… ralat. Irene Oh.” Ucap Eddy dengan memejamkan matanya. Dia segera tidur hari ini. Menjelajahi mimpinya yang indah dan penuh kebahagiaan. Semuanya akan terasa indah esok. Namun…

BYUR!!

Semuanya kembali bohong. Semuanya tak nyata di pikiran Eddy. Dia menghempaskan tubuhnya ke kolam dan membiarkan tubuhnya menjadi patung. Membiarkan juga dia tak bisa bernapas. Toh, dia tak bisa berenang pada kenyataannya. Entah apa yang terjadi setelah ini. Antara ditolong atau dibawa ke alam kubur. Semuanya tergantung pada pilihan Eddy. Dan berharap pilihannya dapat membawanya ke suatu ketenangan.

***

“Eddy-ah! Chagiya!” Irene membangunkan Eddy dari kejauhan, dengan tangan memegang segelas susu cokelat hangat. Dia tersenyum saat pria itu terbangun dari tidurnya yang nyenyak. Matanya mengerjap pelan, memandang wanita itu berdiri di ambang pintu kamarnya. Perlahan Eddy mengukir senyumnya.

“Kamu harus bangun. Bukankah kita harus berangkat untuk menyiapkan pernikahan kita nanti?” Eddy dapat memandang Irene berjalan ke arahnya, lalu duduk di tepi ranjang putih polos. Irene menyodorkan segelas susu cokelat hangat, yang belum dia sesap.

“Aku hampir lupa,” ujar Eddy dengan menepuk pelan keningnya, lalu menerima sodoran dari Irene. Gelas tersebut tampak mengagumkan di mata Eddy, dengan ukiran namanya dan nama wanita dihadapannya. “gomawo, chagiya,” ucapnya sebelum pria itu menyesapkan susu cokelat hangatnya. Irene memandang kekasihnya dengan gemas, bahkan tangannya bergerak mengusap pelan rambut Eddy yang cukup lebat. Bagaikan seorang ibu menyayangi anaknya. Mereka tampak serasi, bukan?

Daebak,” Irene bergumam setelah Eddy menghabiskan susu cokelat dari gelasnya, “apakah karena aku membuatkanmu susu cokelat ini, kamu dapat menghabiskan minuman itu dalam sekejap?” tanyanya penuh kekaguman. Eddy menjauhkan gelasnya dari bibirnya, lalu menjilat sisa susu cokelat yang masih menempel di bibir bawahnya.

“Apakah kamu menambahkan cinta di dalam larutan ini?” tanya Eddy cukup nakal. Irene hanya tertawa kecil, lalu mencubit gemas pipi Eddy sekilas.

“Itu semua karena aku memberikan kasih sayang padamu, chagiya,” jawab Irene sembari melepaskan cubitan dari pipi Eddy.

“Benarkah? Mengapa aku begitu tidak peka terhadapmu?” Eddy hanya mengada-ada saja hingga Irene menjitak pelan puncak kepala Eddy. Wanita itu mempoutkan sedikit bibirnya.

“Aku hanya becanda, Irene-ah,” ujar pria itu sembari memeluk Irene.

“Aku tahu,” ucap Irene sembari melepaskan pelukan, “sekarang waktunya kamu harus mandi. Aku tidak suka jika kamu malas mandi.” lanjutnya sembari mendorong pelan tubuh Eddy hingga dia hampir terjatuh dari ranjang.

“Iya iya, aku akan mandi. Tetapi jangan mendorongku seperti ini,” Eddy mulai menggerutu dengan kesal.

“Aku tunggu di luar rumah. Jangan terlambat,” ujar Irene saat Eddy menaruh gelas tersebut di meja nakas.

Arasseo, eomma.” ejek Eddy dengan memeletkan lidahnya, lalu beranjak menuju kamar mandi, yang jaraknya hanya dekat dengan pintu kamarnya. Irene memandangnya dengan kesal karena Eddy benar-benar menjengkelkan.

“Jika kamu terlambat keluar dari sini,” kata Irene, “aku tidak akan segan-segan menendangmu keluar dari sini!” lanjutnya saat Eddy mulai melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Irene mendengar sayup-sayup air shower mendesis pelan.

Jika dipikir-pikir, Eddy cukup tampan. Tinggi badannya juga sudah cukup di atas rata-rata. Sayangnya, dia memiliki tulang yang cukup besar sehingga tubuhnya tampak gemuk. Meski demikian, Irene menyukai bibir Eddy yang tampak seksi dan candu. Bisepnya juga cukup kekar, meskipun tubuhnya gemuk.

Tetapi, apa yang menjadi kesempurnaan bagi Eddy, Irene dapat meraba kekurangan dari kekasihnya. Sesuatu yang membuat wanita itu harus menjauh darinya. Namun, hatinya tetap mencintainya. Saking cintanya kepada kekasihnya, hingga dia rela berkorban melakukan segalanya demi dia, Irene tak dapat melepaskan Eddy begitu saja. Jika kondisi ini memaksakan, Eddy akan terluka. Dan Irenelah yang menjadi perusak kebahagiaan Eddy.

Pernikahan inilah yang akan menyatukan kasih sayang mereka. Yang hendak menginginkan pernikahan bukanlah Eddy maupun Irene, melainkan orangtua mereka yang tidak keberatan membiarkan anak mereka menikah. Orangtua mereka juga setuju jika Eddy dan Irene memiliki kecocokan hingga mereka mulai berkencan. Eddy juga mencintai Irene, begitu juga sebaliknya. Dengan pernikahan, orangtua berharap Eddy dapat menjaga Irene, terutama tulang rusuknya yang telah dinantikan calon suami.

Dan lagi-lagi, Irene merasakan kebimbangan sekaligus kekhawatiran setelah dia menikah dengan Eddy suatu saat nanti. Ada sesuatu yang membuatnya benar-benar harus menjauh dan tak akan kembali. Sesuatu juga yang menyulitkan keadaan. Orangtuanya juga merasa tak keberatan jika Irene menikah dengan Eddy. Sayangnya Irene tak pernah memberitahu kepada orangtua bahwa ada sesuatu yang mendesak. Membiarkan dia memendam perasaannya di lubuk hatinya.

***

Eddy duduk manis di kursinya. Pandangannya mengunci pada tirai yang menutupi pandangan di belakangnya. Tampak juga seorang wanita berpakaian serba hitam, yang menunggu pandangan lainnya dibalik tirai. Ini sudah cukup lama untuk menunggunya, bahkan ada hawa yang membuatnya tak sabar untuk menantikannya.

Tiba-tiba, wanita berpakaian serba hitam tadi menyingkap tirainya, lalu tampak Irene yang terlihat sangat cantik, dengan dibalut gaun pengantin wanita yang terurai ke bawah. Wanita itu tersenyum hingga Eddy membelakkan matanya. Dia belum pernah melihat wanita, seperti Irene, lebih cantik dari sebelumnya. Dan baru hari ini, Eddy menyadari bahwa Irene tampak cantik.

“Bagaimana? Apakah ini tampak cocok untukku?” Irene bertanya sembari mengibas pelan bagian bawah gaun pengantinnya. Eddy mengacungkan dua jempol dengan senyuman lebarnya. Matanya berbinar-binar.

“Saya mau memesan gaun pengantin seperti ini saja,” ujar Irene kepada wanita berpakaian serba hitam itu.

“Anda tampak cantik hari ini. Tentu saja kamu harus memilih ini,” balas wanita itu dengan ramah. Dengan segera beliau menutup tirai kembali agar Irene segera berganti pakaian. Eddy senantiasa menunggunya dengan ditemani musik klasik. Tak pernah ia bayangkan betapa cantiknya Irene saat resepsi pernikahan suatu saat nanti. Dia sudah lama menanti itu dan dia tak akan melewatkannya.

Setelah memesan gaun pengantin, Irene mengajak Eddy untuk berkencan karena pria itu juga telah membeli cincin pasangan beberapa silam. Tampaknya Irene benar-benar tak ingin kehilangan Eddy, meskipun sesuatu yang mendesaknya hingga mau tak mau harus menjauh. Sesuatu yang tak ingin membuat kekasihnya itu sakit hati. Irene akan menduganya jika saat hari pernikahan nanti, dia mungkin akan menjauh dari Eddy. Menjauh hingga meninggalkan sejuta kasih sayang, yang telah dia berikan untuk calon suaminya.

Tetapi tidak untuk Eddy. Pria itu benar-benar menyayangi Irene. Dan baru hari ini, pria itu menyadari calon istrinya tampak lebih cantik dan anggun saat mengenakan gaun pengantin. Jika ditambah polesan riasan, maka dia bagaikan bidadari di surga. Eddy benar-benar beruntung memiliki calon istri yang berlatar belakang keluarga sederhana, tetapi tampak menawan setiap hari. Dan dialah yang berhasil memikat hati Eddy.

“Aku ingin berkencan denganmu,” pinta Irene dengan menyandarkan kepalanya di bahu kanan Eddy. Tentu saja pria itu menuruti permintaan calon istrinya.

“Tetapi aku ingin di rumahmu, terutama di kolam yang digenangi bunga. Aku menyukainya,” Eddy hanya tersenyum senang saat Irene melanjutkan permintaannya.

“Tentu saja. Permintaanmu telah kukabulkan, calon istriku.” ucap Eddy dengan menggenggam tangan Irene lembut. Tampak hangat di tangan Irene. Ini membuat Eddy merasa nyaman di sisi Irene.

“Bukankah biasanya kamu tidak mengabulkan permintaanku?” tiba-tiba Irene bertanya dengan sedikit ketus dan memanyunkan sedikit bibirnya.

“Benarkah? Kapan?” Eddy pura-pura bertanya.

“Saat perayaan hari kencan kita yang kedua tahun. Saat itu, kamu tidak mengabulkan permintaanku,” jawab Irene menghentikan langkahannya, disusul dengan Eddy.

“Benarkah aku tidak mengabulkan permintaanmu?”

“Sekali lagi, jika kamu bertanya seperti ini lagi, aku akan meninggalkanmu disini!” omel Irene dengan tangannya siap menghantam wajah Eddy.

“He he he, jangan cemberut, chagiya,” Irene seketika berubah saat Eddy berkata dengan nada imutnya. Bahkan pria itu memeluk Irene hingga wanita itu hampir tak bisa bernapas.

“Sebentar lagi, kita akan menikah. Jadi, jangan seperti ini lagi,” Eddy melanjutkan perkataannya disela-sela mereka berpelukan. Irene kembali menemukan kehangatan dibalik pelukan ini. Saking hangatnya, dia tak ingin melepaskannya.

“Maafkan aku, chagiya,” ucap Irene, “aku hanya becanda saja. Jangan dianggap serius.” Lanjutnya dengan mengeratkan pelukan hangat ini.

“Ha ha ha, aku juga hanya becanda saja,” Eddy tertawa kecil sembari merenggangkan pelukan dari Irene. Mereka pun saling bertatapan, lalu melanjutkan langkahan mereka menuju rumah impian mereka, yakni rumah Eddy.

Ada sesuatu yang membuat Irene ingin berkencan di rumah Eddy. Selain mewah, ada kolam yang digenangi bunga sehingga mengapik keindahan. Dan Irene selalu menginginkan kencan di kolam bersama Eddy. Itulah permintaan Irene yang sebenarnya saat merayakan hari kencan mereka yang kedua tahun. Saat itu juga Eddy mendapatkan hadiah berupa rumah mewah dari beberapa orang kenalannya di luar negeri. Harga rumahnya hampir selangit dan hanya orang kaya yang dapat membeli rumah mewah Eddy.

Sayangnya, Irene benar-benar masih merasakan desakan yang terpaksa harus meninggalkan Eddy. Sesuatu yang membuatnya benar-benar menjauh dari kekasihnya. Tetapi Irene tak mampu melawan rasa desakan di hatinya hingga secara tiba-tiba perasaannya sangat miris. Melirik sejenak wajah Eddy saja cukup membuat batinnya menjerit. Batinnya juga berkata bahwa dia meminta maaf kepada Eddy karena membuatnya mendesak.

***

Malam harinya, Eddy dan Irene menikmati pemandangan hanya di dasar kolam. Duduk di pinggir kolam, dengan kaki terendam di kolam hanya sebatas pergelangan kaki. Gerak-gerik kaki mereka, seolah mereka sedang belajar berenang, mampu membuat Irene cukup senang. Dia tertawa senang setelah Eddy bermain-main air hingga mengenai kaki wanita di sampingnya. Tak sengaja bunga tersangkut di dekat kaki putih Irene. Bunga tersebut hanya menampakkan kelopak. Cukup cantik hingga Irene segera meraih kelopak merah muda itu.

Sayangnya, tangannya yang cukup pendek tak mampu meraihnya hingga dia hampir terjebur ke dalam kolam tersebut. Untungnya, Eddy segera membantu Irene agar wanita tersebut tidak terjebur. Irene hampir terkejut saat itu. Wajahnya hampir memucat setelah melihat kedalaman kolam. Cukup dalam hingga tubuhnya cukup bergemetaran. Eddy dapat memandang wajah Irene dari samping. Dia tahu apa yang membuat wanita itu takut, yakni dia pobia air.

Untuk mengatasi pobia tersebut, Eddy segera mengingsut tubuh Irene ke lantai, yang sedikit menjauh dari kolam. Wanita bersurai hitam itu, mulai tidak merasakan ketakutan yang membara lagi. Dia duduk dengan kaki selonjor, sementara Eddy pergi membawa handuk lebar merah muda itu, lalu menyelimuti bagian kaki Irene agar wanita itu tidak menggigil. Lalu, Eddy segera membaringkan tubuhnya, sisi bagian badan di bawah, di samping Irene tanpa bantal maupun alas lainnya. Irene tidak ingin duduk di pinggir kolam, takut jika dirinya terjebur ke kolam.

“Sebenarnya,” Eddy mulai membuka pembicaraan, “aku juga memiliki pobia terhadap air, apalagi jika kedalaman kolam ini benar-benar dalam.” Lanjutnya dengan tersenyum kecil. Irene mulai mendengar kisah Eddy, yang hampir sama dengannya.

“Awalnya, cita-citaku menjadi seorang perenang, bahkan aku ingin sekali berenang. Orangtuaku mendukung apa cita-citaku. Jadi, aku harus mempelajari seluk-beluk tentang berenang. Sayangnya,” Eddy menghentikan perkataannya dengan memandang dasar kolam yang digenangi bunga, “saat aku menjeburkan diri ke kolam, aku merasa ketakutan, bahkan aku tidak ingat cara berenang dengan baik. Aku terus menggerakkan tubuhku agar dapat naik ke permukaan, tetapi kolam di tempat rekreasi sangat dalam hingga aku tak dapat bergerak kembali. Aku nyaris tenggelam hingga aku tak dapat berhembus kembali. Tetapi, untungnya, ayahku menyelam dan menyelamatkan aku yang nyaris tenggelam. Air kolam nyaris berhasil mematikan tubuhku. Untungnya juga, ibuku telah memberiku napas buatan agar aku dapat mengeluarkan air kolam dari seluruh organ dalamku. Akhirnya, aku selamat. Dan saat itu, aku tidak ingin mendekati kolam itu lagi. Hanya duduk di pinggir kolam saja sudah membuatku tenang.” Irene tertegun dengan cerita Eddy yang panjang-lebar. Ternyata, pria itu juga memiliki pobia air, seperti Irene. Irene berpikir, jika Eddy memiliki pobia air, mengapa di rumahnya terdapat kolam?

“Tetapi, mengapa kamu memiliki kolam?”

“Itu hanya sebuah ketidaksengajaan dari teman-teman kenalanku yang tinggal di luar Korea. Mereka lupa bahwa aku pobia air dan tidak ingin memiliki kolam. Jadi, aku hanya sekadar duduk di pinggir kolam saja,”

Irene mengangguk pelan, mengerti apa yang diceritakan Eddy sejak tadi. Tak pernah wanita itu terpikir bahwa Eddy benar-benar pobia terhadap air, bahkan mendengar ceritanya saja dia tersentuh. Juga tak pernah dia bayangkan bagaimana Eddy akan terjebur ke kolam, tetapi dia tak bisa berenang. Yang cukup ironi adalah pria itu hampir tewas tenggelam. Untungnya, nyawanya diselamatkan orangtuanya. Jika tidak, nyawanya benar-benar melayang ke udara dan tak dapat hidup kembali.

Tiba-tiba, Eddy mengubah posisinya menjadi duduk, lalu beringsut mendekati Irene dan memandang wajahnya yang tampak cantik itu. Matanya yang cukup sipit dan senyumannya yang lebar, memancarkan sinar kecantikannya. Surai rambut hitamnya yang dibiarkan tergerai sepunggung, yang membuat Eddy tersenyum tipis. Wanita seperti Irene, jangan membiarkan dia tewas, seperti Eddy yang hampir tewas tenggelam.

“Kau membuatku tergila-gila denganmu,” Eddy berujar dengan memandang Irene lebih lekat. Jantungnya berdegup kencang saat pria itu mendekati sedikit wajahnya.

“Aku juga dibuat gila olehmu,” balas Irene dengan senyum manisnya.

Mereka saling bertatapan dengan mengalirnya aliran listrik, dari mata ke mata dan dari hati ke hati. Irene segera mengalungkan tangannya ke leher Eddy hingga dahi mereka saling menempel. Dengan sejenak Eddy memejamkan matanya dengan bernapas tak karuan. Irene dapat merasakan sayup-sayup napas pria itu menyapu wajahnya. Wanita itu tahu apa yang Eddy pikirkan. Dia menginginkan cinta yang lebih dalam. Tangannya melingkar di pinggang ramping Irene hingga wanita itu sedikit terjengat dengan sentuhan tersebut.

Irene memejamkan matanya perlahan saat Eddy menyentuh bibirnya, dengan pelan dan hati-hati. Jantungnya hampir merosot ke dasar perut saat pria itu mulai menggerakkan bibirnya di bibir Irene, melumatnya perlahan tanpa didasari hawa nafsu. Ada yang lebih hangat di tubuh Irene saat dia berciuman dengan Eddy. Hatinya mulai tersengat listrik, bahkan merambat ke pikirannya hingga wanita itu membalas ciumannya. Menekan tengkuk Eddy hingga ciuman mereka semakin dalam. Sungguh romantis dan lembut ciuman yang diedarkan Eddy.

***

Satu minggu kemudian…

Wedding’s Day…

Eddy sedang mengobrol bersama teman-teman kenalannya, yang berasal dari luar Korea. Mereka bahkan bersenda gurau dengan menggunakan bahasa Inggris. Mereka saling kenal saat Eddy dibesarkan di California, kampung halamannya di Amerika Serikat. Hampir rata-rata teman-temannya adalah wanita. Namun, para wanita, yang merupakan teman kenalan Eddy, telah memiliki pasangan masing-masing. Meski demikian, mereka berhasil memperkuat rasa persahabatan mereka hingga sekarang. Eddy tidak kesepian saat berada di Korea. Melainkan ada salah seorang teman kenalannya, yang dilahirkan di Seoul.

Ponsel Eddy berdering secara tiba-tiba. Dengan segera, pria itu merogoh saku celananya, lalu memandang layar ponselnya yang menyala sekaligus berdering. Irene meneleponnya! Eddy tersenyum lebar. Dengan sopan, ia pergi sejenak untuk menjawab panggilan dari calon istrinya itu. Jempol kanannya tergerak ke arah kiri, menjawab panggilan tersebut. Tangan kanannya tergerak mendekatkan ponselnya ke telinganya.

Yeoboseyo, chagiya,” ucap Eddy dengan bahagianya.

“…”

“Iya, ini saya sendiri calon suaminya. Ada apa?” Eddy masih mengukir senyum kebahagiannya itu, sembari melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sudah hampir mendekati jam sembilan pagi.

“…”

“A… apa?” entah apa yang terjadi dengan Eddy, ekspresinya mendadak berubah saat sang penelepon memberikan kabar yang tak menyenangkan.

“…”

“Ba… baiklah… aku akan segera mencarinya,” dengan segera, Eddy menjauhkan ponselnya dari telinganya. Tubuhnya nyaris terguncang setelah dia mendapatkan kabar yang tak menyenangkan dari sang penelepon itu. Pandangannya kosong dan lurus ke depan, memandang beberapa tamu yang datang dengan pakaian formal mereka. Eddy menggeleng pelan dengan tatapan tak percaya.

“Tidak mungkin… aku segera mencarinya,” Eddy segera berlari meninggalkan gedung pernikahannya sembari merenggut dasinya. Dia celingak-celinguk, mencari keberadaan Irene, calon istrinya itu. Merasa dia tak muncul di hadapannya, Eddy segera menelepon Irene, sayangnya ponselnya tidak aktif. Eddy, dengan pantang menyerahnya, tetap bersikukuh menelepon Irene, tetapi hasilnya nihil. Jika dia menelepon kembali, tetap saja ponselnya tidak aktif.

Eddy benar-benar terguncang sekarang. Kabar seperti apa yang dia dapatkan, dia benar-benar tak percaya hal ini akan terjadi. Air mata tak dapat membendung dan cairan bening tersebut menetes ke pipinya. Entah apa yang membuatnya merasakan sakit yang lebih mendalam. Bahkan hatinya teriris pisau, lalu musuh lainnya memorak-porandakkan perasaannya. Jantungnya sempat terhenti sejenak, bahkan Eddy hampir linglung apa yang akan dia lakukan selanjutnya.

Dan kabar dari sang penelepon mengatakan bahwa Irene menghilang dari toko rias, untuk menghadiri acara pernikahannya. Kabar tersebut mampu mengguncangkan tubuh Eddy hingga pria itu hampir terjatuh. Untungnya, tangannya menggenggam gagang di sampingnya. Entah apa yang terjadi dengan Irene hingga dia kabur dan menghilang dari toko rias. Dan lebih ironinya lagi, wanita itu membatalkan pernikahannya dengan Eddy! Padahal pria itu mencintainya hingga napasnya sempat terhenti. Paras cantik Irene saat mengenakan gaun pengantin, kini menjadi hampa di pikiran Eddy.

***

Malam harinya, setelah Eddy menjeburkan diri ke kolam tanpa pergerakan apapun, orangtua Eddy dan Irene segera berlari menuju halaman belakang. Mereka dapat menangkap dengan jelas Eddy mulai berhenti bergerak. Pria itu telah memejamkan matanya tepat sebelum ia menjeburkan diri ke kolam, yang digenangi bunga itu. Tubuhnya tampak lemas, seolah-olah nyawanya telah melayang ke atas. Dalam hatinya, ia mengatakan selamat tinggal kepada dunia. Mungkin dia lebih memilih untuk pergi ke surga, untuk menikmati kehidupan lebih baik disana.

Sayangnya, Tuan Oh – ayah kandung Eddy – berhasil menyelamatkan nyawa anaknya. Wajah Eddy tampak sangat pucat, bahkan bibirnya membiru. Kulitnya juga tampak sedikit keriput. Dia pasti merasa kedinginan setelah berlama-lama menenggelamkan diri di kolam. Tuan Oh, bukannya meminta kepada Nyonya Oh – ibu kandung Eddy – menyelamatkan nyawa anak mereka, justru membopong tubuh Eddy hingga ke atas brankar. Eddy akan dilarikan ke rumah sakit, bukan diselamatkan orangtuanya. Sementara orangtua Irene menelepon Irene untuk mengunjungi Rumah Sakit Mirae, tempat Eddy akan dirawat disana. Kondisi Eddy hampir mendekati sekarat, bahkan belum ada tanda-tanda jemarinya tergerak – segera sadar dari koma.

Dalam benaknya, Eddy membayangkan bagaimana dia mencintai Irene hingga mereka akan melangsungkan pernikahan mereka. Berciuman dengan wanita itu adalah hal yang membuatnya merasa nyaman di sisinya. Irene juga sangat cocok menjadi ibu rumah tangga yang baik untuk mematuhi perintah calon suaminya, Eddy. Mereka juga saling mencintai, bahkan Irene menginginkan lebih dekat dengan Eddy. Tubuh kekarnya mampu menghangatkan tubuh Irene dengan pelukan romantis.

Sekarang, ini bukan saatnya untuk melanjutkan kebahagiaan Eddy, melainkan berjalan menuju kesedihan. Irene kabur dari ruang riasnya tepat saat acara pernikahan resmi segera dimulai. Hal ini berhasil membuat Eddy sakit hati. Pria itu nekat sekali bunuh diri dengan menjeburkan diri ke kolam, padahal dia tak bisa berenang dan pobia air. Namun, inilah jalan satu-satunya menemukan kebahagiaan disana. Balas meninggalkan Irene dengan sejuta kasih sayang, sejuta keindahan, dan sejuta cinta. Mengucapkan selamat tinggal saja sudah cukup membuatnya akan tenang. Teruntuk Irene, calon istrinya, yang kini bukanlah calon istri, melainkan mantan.

***

Sesampainya di Rumah Sakit Mirae, Irene beranjak dari tempat duduknya saat tubuh Eddy telah sampai. Dalam keadaan pucat di seluruh tubuh, Irene hampir tersungkur ke lantai. Dia merasa sangat terkejut setelah Eddy tampak lebih pucat dari sebelumnya. Wanita itu menduga bahwa pria itu mencoba untuk bunuh diri dalam waktu yang lama.

Disusul dengan orangtua mereka yang ikut berjalan mengikuti para dokter yang membawa Eddy ke ruang gawat darurat. Tiba-tiba, Nyonya Oh menghentikan langkahnya, lalu beralih menatap Irene dari jauh. Sorotan mata wanita paruh baya itu seakan-akan beliau mulai membenci seseorang yang nyaris merenggut nyawa seseorang. Sementara Tuan Oh dan orangtua Irene ikut menghentikan langkah mereka saat Eddy telah dibawa ke ruang gawat darurat. Mereka semua beralih menatap Nyonya Oh dan Irene, yang telah lama tidak bersua.

“Dasar anak pembunuh!” tukas Nyonya Oh dengan hardiknya dan mendorong Irene hingga tubuhnya tersungkur ke lantai. Lalu, terjadilah keributan yang cukup menegangkan. Nyonya Oh hendak menjambak kasar rambut Irene. Untungnya, suasana di rumah sakit sangat sepi. Tuan Oh segera melerai, namun Nyonya Oh memberontak, seakan-akan hendak membunuh Irene.

“Jika kamu tidak kabur dari acara pernikahan, anak saya tidak akan seperti ini! Kamu benar-benar seorang pembunuh!” tubuh Irene mulai bergemetaran, bahkan dia tak sanggup lagi untuk bangkit. Tiba-tiba saja Nyonya Oh kembali mendorongnya hingga punggungnya menubruk ke kursi panjang.

Yeobo, tenanglah. Jangan membuat keributan disini,” Tuan Oh, dengan sekuat tenaganya, menarik Nyonya Oh menjauh dari Irene agar tidak terjadi keributan yang semakin menjadi.

“Suamiku,” Nyonya Oh akhirnya berhenti memberontak, “anak saya bagaimana?! Aku tidak ingin kehilangannya! Dialah anak kita satu-satunya! Kamu jangan pernah menghentikan saya!”

“Lantas apa yang kamu lakukan?! Membunuh balik Irene?!”

“Tentu saja! Dia pantas diberi hukuman!”

“Sudah berhenti!”

Tiba-tiba, Tuan Bae – ayah kandung Irene – berseru dengan marah. Lalu berjalan menghampiri orangtua Eddy dan Irene dengan sedikit cepat. Suasana menjadi hening seketika saat Irene mulai bangkit dari lantai. Wanita itu mulai menangis, bahkan menatap wajah Nyonya Oh saja sudah membuatnya semakin takut. Tubuhnya semakin bergemetaran, bahkan dia hampir kehilangan keseimbangan. Untungnya Tuan Bae, dengan cepat, membantu anaknya dengan menggenggam bahunya.

“Anda jangan salah paham padaku. Aku yakin, anak anda selamat dari insiden bunuh diri…”

“Tidak usah sok perhatian terhadap anak saya! Jelas-jelas dia bunuh diri! Lantas, apakah kamu merasa bahagia jika anak saya berbuat seperti ini?!”

“Aku bukannya tidak bahagia kepada anak saya, tetapi… aku… aku…”

“Tidak usah basa-basi jika kamu berbicara! Jelas-jelas ini semua salahmu! Seorang calon istri yang mencoba membuat anak saya bunuh diri!”

“Aku juga mencoba membuatnya bahagia, eommonim! Tetapi satu hal yang membuatku menjauh darinya, aku tidak dapat menjelaskan segalanya kepada anda! Aku hanya membuatnya bahagia!”

“Jika kamu membuatnya bahagia, mengapa dia menjadi seperti ini?!” tiba-tiba, Nyonya Bae – ibu kandung Irene – bertanya dengan tegas, “justru membalikkan keadaan Eddy. Seandainya kamu melangsungkan pernikahan dengan Eddy, dia tak perlu lagi memorak-porandak keadaaan.” Lanjutnya dengan suara hampir pecah.

“Aku benar-benar membuatnya bahagia, eomma…”

Sebelum Irene melanjutkan perkataannya, salah seorang dokter keluar dengan ekspresi sulit ditebak. Semua beralih kepada pria berjas putih itu. Irene hendak berlari, tetapi dicegah Nyonya Oh dengan kasar. Menganggap bahwa Irene harus bertanggung jawab dengan Eddy.

“Selamat, anak anda berhasil kami selamatkan. Dia telah sadar sekarang,” dokter itu berkata dengan senyuman. Lalu, pergi meninggalkan ruang gawat darurat. Mendengar kabar tersebut, Irene tersenyum bahagia. Sementara Keluarga Eddy juga ikut bahagia, tetapi Nyonya Oh tetap saja mulai membenci Irene, wanita yang menjadi penyebab Eddy bunuh diri, dengan menjeburkan diri di kolam dalam waktu yang lama.

Irene mulai berlari menuju ruang gawat darurat, tetapi tetap saja Nyonya Oh mencegah wanita itu. Khawatir jika dia mulai membuat keadaan semakin buruk. Bisa saja Eddy kembali memorak-porandakkan perasaannya setelah Irene meninggalkan acara pernikahan. Sayangnya, Keluarga Irene membiarkan anak mereka menjenguk Eddy terlebih dahulu, begitu juga dengan Tuan Oh.

“Biarkanlah dia menjenguknya,” Tuan Oh mengizinkan. Nyonya Oh tak dapat berbuat lagi selain mengikhlaskan Irene untuk menjenguk Eddy. Beliau mengangguk dan membiarkan wanita itu melangkahkan kakinya menuju ruang gawat darurat.

Akhirnya, Irene berjalan menuju ruang gawat darurat, dengan tertatih. Dalam benaknya, tak pernah ia bayangkan bagaimana Eddy menaruh perhatian terhadapnya, memberikan kasih sayang padanya, dan menyelipkan sedikit momen yang mereka taruhkan. Pria itu benar-benar menyayangi Irene, hingga dia mati pun tetap Irene menjadi miliknya. Dan dia tak menyesal jika ada yang mencintai wanita cantik, seperti Irene. Siapa sangka jika Eddy tak pernah beralih kepada wanita lain selain Irene. Tetap dia adalah wanita yang berhasil memikat hati Eddy.

Sayangnya, semuanya terasa kosong setelah dikabarkan Eddy bunuh diri, dengan menjeburkan diri ke kolam dalam waktu yang lama. Irene merasa dirinya menjadi penyebabnya. Jika waktu dapat berputar kembali, wanita itu akan menghadiri acara pernikahan. Lalu, hidup bahagia dengan Eddy. Mereka akan hidup bahagia dengan membangun dan mempertahankan keharmonisan keluarga, hingga tuhan memisahkan.

Tetapi, ini hanyalah sebuah seandainya. Irene menyesal, seperti pepatah mengatakan bahwa penyesalan berujung di akhir. Dan inilah akhir kenyataan Irene. Ada sebuah alasan mengapa wanita itu menjauh dari Eddy hingga wanita itu tidak menghadiri resepsi pernikahan. Alasan tersebut sangat sukar Irene ungkapkan, bahkan jika dia ungkapkan kepada Eddy. Dan semuanya akan menjadi kacau jika wanita itu mengungkapkan alasannya.

Alasannya adalah kepergian adik kandung Irene. Penyebabnya selalu mengarah kepada Eddy, karena dia dekat dengan sang adik termuda itu. Dan Irene baru mengetahui kejadian itu dari teman-teman terdekat adiknya, bahwa Eddy-lah penyebab adik kandung Irene pergi. Dalam artian, pergi menuju surga yang penuh kenikmatan.

***

Sesampainya Irene di ruang gawat darurat, dia melihat sosok pria yang hanya terbaring di brankar. Pakaiannya sama seperti saat dia menjeburkan diri ke kolam. Siapa lagi jika bukan Eddy. Irene merasa miris saat tubuh pria itu sedikit pucat dan bibirnya sedikit membiru. Wanita itu mengaku bersalah karena membuat kekasihnya itu mengakhiri hidupnya. Pria itu sedang istirahat dengan mata terpejam. Irene tak sanggup membangunkan Eddy karena dia sedang ingin tenang. Namun Irene juga tak ingin terjadi kembali.

Kehadiran Irene membuat Eddy membuka matanya, lalu tatapannya melurus kepada wanita itu. Sayangnya, Eddy tidak terkejut dengan sosok Irene. Dia menganggap bahwa Irene hanyalah ilusi saja, juga menganggap bahwa wanita itu telah pergi dari kehidupannya. Namun kenyataannya, Eddy dapat merasakan tangannya hangat dengan sentuhan Irene. Iya, wanita itu berjalan menghampirinya sejak tadi. Memandang manik mata Irene yang berkaca-kaca. Eddy tahu apa yang ada di benak Irene. Wanita itu benar-benar menyesal.

“Syukurlah kamu masih hidup,” tangis Irene haru dengan mengecup pelan punggung tangan Eddy. Sayangnya, Eddy tak merespon perkataan wanita itu.

“Maafkan aku jika aku telah membuatmu seperti ini. Aku hanya membuatmu bahagia saja tanpaku. Dan aku benar-benar membuatmu bahagia saja, bukan malah membuat perasaanmu menjadi kacau. Sesungguhnya, aku juga mencintaimu. Lebih dari sekadar mencintaimu. Dan aku tidak berniat meninggalkanmu. Tetapi…” Irene mulai menangis sebelum dia melanjutkan sederet perkataannya, “keadaanlah yang membuatku harus menjauh darimu. Ada hal yang membuatku harus menjauh darimu.” ujarnya lirih dan sebulir air mata menetes ke pipinya, lalu membasahi punggung tangan Eddy yang tampak sedikit mengeriput. Pria itu pasti merasa menderita hingga hidupnya seperti ini.

“Mengapa kamu harus meninggalkanku?” Eddy mulai bertanya dengan parau.

“Maafkan aku, Eddy oppa. Aku benar-benar minta maaf,” perkataan Irene malah menggantung.

“Katakan padaku, maka aku akan mengubah keadaanku ini,” pinta Eddy. Irene mulai tertegun dengan perkataan Eddy. Apakah wanita itu akan mengungkapkan alasannya, akan membuat perasaan Eddy semakin kacau, atau malah ada penyelesaian di antara mereka. Pilihannya tergantung dengan jalan cerita Irene.

“Mengapa kamu… melakukan ini kepada adikku?” Irene bertanya balik. Eddy mengerutkan dahinya – bingung dengan pertanyaan yang terlontar dari bibir tipis wanita dihadapannya.

“Apa maksudmu?”

“Teman-temannya mengatakan bahwa adikku meninggal karenamu. Semuanya terasa jelas, bahkan mereka memiliki bukti kepadaku.” Eddy tertegun, mencoba mencerna perkataan Irene yang benar-benar tak mengerti.

“Mengapa kamu benar-benar meninggalkan adikku? Kamu meninggalkan adikku yang juga pobia terhadap air! Dan kamu malah membiarkan dia tenggelam begitu saja?!” Irene malah meninggikan intonasi suaranya. Deru napasnya tak beraturan, bahkan wanita itu tak sanggup menahan tangisnya.

“Kamu benar-benar tega! Jadi, begini alasan kamu mencintaiku?! Kamu meninggalkan adikku yang tewas tenggelam tanpa perasaan! Semua teman-temannya melihat kejadian itu! Dan kamu masih tak mau mengaku juga?!”

“Irene Bae!”

Kali ini, Irene mulai diam setelah Eddy berteriak, memaksakan suara parau menghalanginya. Pria itu kali ini membentak Irene dengan menyebutkan namanya. Dan ini cukup membuat wanita itu tertegun. Dan terlebihnya lagi, Irene belum pernah melihat ekspresi Eddy yang marah, bahkan kecewa. Wajah tampannya berubah haluan menjadi seorang pria yang begitu menyeramkan.

“Apa yang kamu ketahui tentangku? Apakah kamu akan menganggap bahwa aku adalah anak pembunuh?! Aku hanya meninggalkannya sementara untuk membeli es krim karena dia yang mau, bukan malah tega membunuhnya! Aku, juga seorang saksi mata, melihat adikmu itu berjalan sendirian ke danau, bahkan dia sudah ditelan danau! Apakah kamu juga tak pernah tahu bahwa aku juga pobia air?! Jika aku juga ikut tewas disana, apa yang harus kau lakukan?!” Eddy tak berhentinya ia berceloteh, dengan nada marah. Irene masih tertegun.

“Kau yang bodoh!” balas Irene dengan marah juga, “ini juga salahmu! Seharusnya kamu meminta kepada orang lain untuk menolong adikku, bukan malah diam saja!” kali ini Eddy yang tertegun. Tubuhnya kembali bergemetaran, bahkan jemarinya ikut bergemetaran. Perkataan Irene ada benarnya jika dipikir-pikir.

“Kau pria yang bodoh! Bahkan mencari bantuan orang lain saja tak pernah! Jadi, beginikah kamu mencintaiku?! Menggantikan posisi adikku yang tewas tenggelam?! Aku benar-benar kecewa denganmu, Eddy oppa!” Irene segera membalikkan tubuhnya dengan ekspresi kecewa. Tangannya mengepal kuat dan air mata mengalir semakin deras. Wanita itu kembali menangis terisak-isak. Hatinya juga terasa sakit, bahkan terlalu sakit jika Eddy diketahui sebagai pembunuh.

“Irene-ah,” pria bersurai merah-kecokelatan itu menyahut nama Irene, “Bae Irene!” orang yang dipanggilnya itu, justru hanya pergi tanpa mendengar panggilan tersebut. Mendorong kuat pintu darurat tersebut dan hanya pergi tanpa mendengar panggilan dari orangtuanya, bahkan orangtua Eddy bertanya-tanya. Justru Irene hanya pergi dengan perasaan duka yang mendalam atas kematian adik kandungnya.

***

Orangtua mana yang tak tahu tentang berita tersebut? Tuan Oh telah mengetahui alasan Irene membatalkan pernikahannya tersebut. Ini bukanlah sekadar berita yang tak menyenangkan. Bahkan, Tuan Oh hanya duduk terpaku dihadapan Eddy saat pria itu menceritakan semuanya, termasuk mendiang adik kandung Irene.

“Aku telah membunuhnya,” sontak saja Tuan Oh membelakkan sedikit matanya. Eddy hanya bisa menunduk pasrah. Dibentak mungkin, dihajar habis-habisan mungkin. Mata hazel-nya melirik sekilas tangan Tuan Oh yang siap mengepal.

“Aku tak sengaja membunuhnya, appa. Aku benar-benar tak sengaja membunuhnya…”

“Bahkan kamu berkata tak sengaja membunuhnya saja tetap kamu sudah membuatnya kecewa. Apakah kamu harus menanggung segala kesalahanmu yang sudah lama terjadi?” Tuan Oh menyela dengan menahan amarah yang memuncak.

“Aku tidak tahu bahwa adik Irene tak bisa berenang dan aku hanya meninggalkannya sejenak untuk membeli es krim karena dia menginginkannya. Aku tak berniat meninggalkannya sendirian begitu saja untuk memenuhi permintaannya…” Eddy masih ingin menjelaskan sesuatu kepada ayah kandungnya, namun sayangnya beliau hanya mengangkat tangan kanan – memberi isyarat untuk diam.

“Apa yang akan kamu lakukan setelah ini?” tanya Tuan Oh cukup tegas. Eddy tertegun setelahnya, mencoba untuk menimbang setelah perbuatannya yang dianggap teledor.

“Mungkin… aku akan menyerahkan diri kepada polisi.” Jawab Eddy cukup pasrah.

“Apa katamu? Menyerahkan diri?”

“Lalu, apa yang harus aku lakukan setelah perbuatanku ini, appa? Irene telah menganggap aku adalah pembunuh, begitu juga dengan teman-temannya yang memiliki pemikiran yang sama dengannya. Jadi, bisa dianggap aku adalah dalang dari semuanya.”

Tiba-tiba, Nyonya Bae – ibu kandung Irene – datang dengan langkahannya yang pelan menghampiri Eddy dan Tuan Oh. Ekspresinya tak menunjukkan ia terkejut sekaligus marah. Beliau hanya tenang saja dan tetap melangkahkan kakinya. Mata cokelat nyonya itu menatap lurus ke arah Eddy.

“Biarkan saya saja yang berbicara kepadanya.” kata Nyonya Bae tenang, membuat Tuan Oh tak bisa berkata kembali. Beliau segera bangkit dari kursinya dan segera membungkuk sebagai tanda penghormatan. Kemudian, Tuan Oh melangkah pergi dari ruang gawat darurat dengan mengusap kasar rambut uban beliau. Sementara Eddy masih menunduk, meski Nyonya Bae bersikap tenang terhadapnya.

Disaat itulah, Nyonya Bae dapat bertemu dengan Eddy, calon suami Irene, yang ternyata telah membunuh adiknya yang meninggalkan begitu saja. Nyonya Bae perlahan menggenggam tangan kanan Eddy yang masih pucat dan cukup memutih. Sayangnya, Eddy masih tak ingin bertatap dengan nyonya dihadapannya secara empat mata. Takut mungkin beliau akan memarahinya. Dan takut mungkin beliau akan menamparnya dan membuat keributan di tempat pasien.

Dan kali ini, Nyonya Bae tetap bersikap tenang seolah tak terjadi apa-apa. Bahkan, beliau sudah mengetahui bahwa Eddy membunuh anak kandungnya – adik kandung Irene. Mungkin beliau mengetahui itu saat Irene hanya melengang pergi tanpa membeberkan penjelasan. Dari sorot mata Irene mengatakan bahwa dia kecewa karena adiknya telah dibunuh Eddy secara sadis. Nyonya Bae dapat menangkap perasaan Irene dari sorot matanya, begitu juga dengan suaminya yang hanya memahami perasaan anak kandungnya itu.

“Saya sudah mendengar berita tersebut, yang kembali mengungkit tentang mendiang anak bungsu saya,” Nyonya Bae yang pertama membuka pembicaraan, sontak Eddy sedikit mendongak. Ia hendak bicara, namun tak sopan jika mendahului orang yang lebih tua darinya sehingga Eddy berhak untuk membungkam.

“Saya tidak tahu lebih jelas apakah kamu memang sengaja meninggalkannya sendirian atau tidak. Jika itu hanya sebuah ketidaksengajaan saja, saya memaklumi hal ini karena anda mungkin tidak tahu apa-apa. Jika itu hanya demi permintaannya saja, saya juga memaklumi karena dia masih kecil,” jelas Nyonya Bae hingga Eddy mengerutkan dahinya. Pria itu bingung dengan pembicaraan beliau sejak tadi.

“Jika kamu bercerita kepadaku, maka aku akan memaafkanmu. Saya juga akan menjelaskan semuanya kepada anak saya…”

Eomonim,” Eddy menyela perkataan Nyonya Bae yang belum terselesaikan, “jika aku boleh bercerita kepada anda, apakah Irene juga akan memaafkanku?” tanyanya.

“Hanya Irene yang berhak apa yang dia akan lakukan setelah kamu mengaku. Maka dari itu, anda berceritalah kepadaku apa yang terjadi dengan anak bungsu saya hingga dia tewas tenggelam.” Jawab Nyonya Bae. Eddy sejenak berpikir apakah dia harus bercerita segalanya atau tidak. Namun, apakah mungkin Irene akan memaafkannya?

“Terbukalah kepadaku, Eddy-ya. Maka, saya dapat menjelaskan kembali kepada Irene dan mempertimbangkan kembali setelahnya.” Ada peluang untuk membuat Irene memaafkan Eddy, namun peluang tersebut terhitung kecil.

***

Mengaku memang lebih baik, meskipun menyakitkan daripada berbohong. Jika orang tersebut berbohong, maka selamanya dia menjadi pembohong untuk memenuhi masa depannya. Ada aturan kapan dia harus berbohong, seperti seorang penjahat yang hendak menculik seseorang. Ada kalanya kita berbohong saat sang penjahat tersebut bertanya keberadaan korban. Dengan membohongi sang penjahat, sang korban dapat hidup dengan selamat.

Berbohong memang membuat seseorang menjadi tenang dan bahagia. Namun, jika ada anjing pelacak yang dapat mendeteksi kebohongan, maka kebohongan tersebut akan membuat seseorang tersakiti dan orang tersebut tak bisa memaafkan orang lain. Orang yang berbohong itu, membutuhkan segala cara agar orang lain dapat memaafkannya. Sayangnya, sangat sulit untuk memaafkan kepada orang yang berbohong.

Dan beruntungnya Eddy, dia dapat menjelaskan kronologi mendiang adik kandung Irene yang tewas tenggelam. Nyonya Bae memercayai penjelasan Eddy, meski sangat sulit untuk menjelaskan lebih lanjut. Namun, mungkin tidak untuk Irene karena kekasihnya itu enggan bercerita. Terasa sulit untuk memaafkan Irene bagi Eddy. Mungkin wanita itu akan meninggalkan Eddy untuk selamanya atau mungkin kembali dalam waktu relatif lama. Semuanya ada di tangan Irene.

Setelah Eddy dapat beristirahat di rumahnya, tiba-tiba sosok wanita muncul di depan pintu kamarnya. Eddy dapat menangkap sosok wanita itu, yang tak lain adalah Irene. Pria itu bertanya-tanya mengapa dia bisa berada di rumahnya, sementara rumah Eddy telah terpasang kode sandi. Apa mungkin ada orang ketiga yang memberitahu kata sandi rumah Eddy? Tidak mungkin karena Eddy tak memiliki penjaga di rumahnya.

“Apa yang kamu lakukan disini?” tanya Eddy cukup datar saat Irene melangkah menghampirinya. Eddy hanya tersenyum kecil saja dan menunduk.

“Tak apa. Jangan khawatirkan…”

“Aku bersalah kepadamu, oppa,” tiba-tiba Irene menyela perkataan Eddy, “ibuku sudah bercerita kepadaku bahwa semua kesalahanmu hanyalah keteledoranmu. Aku hanya menuduhmu bahwa kamu adalah seorang pembunuh. Dan aku telah memercayai perkataan teman-temanku…”

“Ibumu pasti menceritakan ini kepadamu, kan?” Irene mulai tertegun. “jika itu benar, mungkin kamu tak akan memercayaiku lagi.” ujar pria itu sebelum ia melangkah menuju kamarnya.

“Aku memercayainya.” Irene kembali berkata hingga langkahan Eddy terhenti. Dia pikir setelah ini wanita itu akan meninggalkannya.

“Karena beliau adalah ibuku, aku memercayai perkataannya. Lagipula, kamu sudah bercerita kepada ibuku tentang segalanya. Tetapi…” Eddy membalikkan tubuhnya menghadap Irene saat wanita itu kembali menghentikan perkataannya. “aku masih ragu apakah aku harus menerimamu kembali atau tidak. Kamu tahu, kan bahwa sebenarnya saya masih membencimu? Soal itu tadi… aku hanya memercayaimu saja, bukan untuk menghilangkan rasa benciku terhadapmu.” Lanjutnya yang kembali menuai rasa kecewa dari hati Eddy. Lagi-lagi, pria itu harus merasakan dirajam pisau karena ternyata Irene masih membencinya. Apalagi yang membuat wanita itu masih memendam rasa bencinya?

“Apalagi yang membuatmu benci terhadapku?” tanya Eddy yang mulai memendam rasa sakitnya. Mata hazelnya kembali menangkap Irene yang melangkah menghampirinya. Kemudian, wanita itu perlahan berjinjit dan menempelkan bibirnya ke bibir Eddy. Menciumnya sekilas hingga Eddy sedikit merasa terdorong ke belakang. Irene menciumnya, padahal wanita itu membencinya. Pikiran Eddy kian melambat akibat ciuman tersebut.

“Jika kamu berani mendekati Tae Yeon eonnie,” kata Irene, “aku mulai membencimu. Itu sebabnya aku membencimu. Apakah kamu tahu bahwa aku selalu menangis di kamar? Itu karena aku merasa sakit hati setelah kamu berani mendekati Tae Yeon eonnie. Sementang-mentang dia karyawan paling cantik, jadi kamu berani mendekatinya.” Jelasnya yang sukses membuat Eddy menahan tawanya. Pria itu akhirnya tertawa lepas dan Irene mengernyitkan dahinya. Apakah pria itu benar-benar sedang gila? Dia malah tak memikirkan betapa cemburunya Irene saat kekasihnya itu berani mendekati Tae Yeon.

“Aku mendekatinya karena dia sendiri yang mendekatiku, tetapi aku tidak tertarik dengannya. Ini bukan karena kecantikannya, juga bukan karena usianya yang lebih tua dariku. Apakah kamu tidak tahu bahwa sebenarnya dia memiliki suami konglomerat? Jika dia tidak menikah saja, sudah pasti aku segera meraih hatinya.” Sebuah penjelasan, yang keluar dari bibir Eddy, malah semakin membuat Irene kesal dan dongkol. Perlahan tangan wanita itu mengepal kuat, bersiap-siap menghajar wajah Eddy hingga babak belur.

“Semuanya berubah setelah kehadiranmu sebagai karyawan baru. Kupikir kamu adalah wanita yang paling cuek dan dingin di dunia. Ternyata, setelah kita saling kenal, kamu adalah wanita yang mampu menghangatkan suasana dan kamu sangat peduli terhadap orang di sekitarmu. Itulah sebabnya aku memilihmu, Bae Irene.” Eddy kembali menjelaskan yang dapat menghentikan kepalan tangan Irene. Penjelasan pria itu berhasil membuat Irene menyerah dan menurunkan tangannya. Ekspresi wanita itu mendadak menyesal dan menunduk.

“Itulah mengapa aku menyukai pria yang tampan dan romantis. Karena bagiku, pria yang romantis itu pasti dapat menjaga wanita yang dia sayangi, begitu juga denganmu. Aku tidak bisa mengalihkan perhatian pria lain jika itu bukan kamu. Jika tanpamu, aku mungkin direbut banyak pria yang bukan tipeku.”

BLUSH!

Eddy menahan rasa malunya saat Irene mengakui perasaannya, bahkan pipi pria itu memerah karena perasaan Irene yang terbuka untuk diakui. Apa yang dikatakan wanita bersurai hitam itu, membuat Eddy mengulas senyumnya perlahan.

“Jadi,” pria itu berdehem sejenak, “apakah kita akan kembali menikah?” tanyanya.

“Jika itu yang kamu mau, aku memang ingin menikah denganmu.” Jawab Irene.

“Tetapi, tidak untuk esok maupun minggu depan.” Ujar Eddy sebelum wajahnya mendekat ke wajah Irene, membuat wanita itu membelakkan sedikit matanya.

“Lalu, kapan kita akan menikah kembali? Aku tidak suka…”

“Lakukan saja sekarang jika kamu tak suka.” Eddy segera mendaratkan ciumannya ke bibir Irene dengan lembut. Wanita itu hanya mengedip akibat sebuah ciuman yang cukup mendadak. Dengan pelan dan hati-hati, Eddy melepaskan pagutannya, lantas ada yang ingin dia bicarakan kembali.

“Hari ini, anggap saja kita sudah menikah. Untuk secara resminya, bulan depan saja kita telah resmi menikah.” Gumam Eddy dengan menatap mata biru laut Irene.

“Ma… maksudmu apa…” belum selesai Irene bertanya, tiba-tiba saja Eddy kembali mendaratkan ciumannya ke bibir Irene. Namun, ciuman kali ini terasa berbeda dan ciuman tersebut cukup kasar dan menuntut. Eddy bukan sekadar melumat bibir Irene, melainkan menghisap dan menggigit kecil bibir bawah Irene hingga wanita itu terpaksa membuka mulutnya. Lidah mereka saling beradu dan saling melilit satu sama lain. Eddy tak hentinya menyerang bibir Irene sembari memainkan lidah wanita itu.

Sayangnya, tiba-tiba, Eddy melepaskan ciuman panas tersebut dan memandang wajah Irene yang memerah itu. Jemari pria itu perlahan menyingkap rambut Irene ke belakang telinganya. Dan lagi-lagi, Eddy kembali meraup bibir Irene dengan kasar hingga pria itu mendorong wanita itu ke kamarnya. Mereka pun saling berciuman dan mencicipi satu sama lain di sebuah ruang privasi. Dan disana juga mereka saling mendesah satu sama lain dengan akhir yang bahagia. Sebuah malam yang terasa menyenangkan bagi dua insan yang tengah bercumbu. Urusan pernikahan, mereka dapat mengadakan acara tersebut di lain waktu.

END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s