FF Comeback

Comeback

Author        : ryeong12_ID

Twitter       : @DeerGalaxy0620

Genre         : Sad

Cast            : Zhang Yi Xing a.k.a Lay

Rating        : G

Length        : Drabble, tetapi kayaknya lebih mengacu kepada Ficlet deh -___-

Summary    : Lay tidak memiliki seseorang yang dapat curhat bersamanya.

“When you gone and doesn’t comeback, I miss you.”


 

Zhang Yi Xing bermain piano dengan menekan beberapa tuts piano. Perasaannya sangat sedih. Lagu yang ia mainkan sangat emosional dengan sedikit sentuhan rasa kesedihan yang mendalam. Bermain penuh dengan penghayatan. Berharap seseorang dapat mendengar dan melihatnya bermain piano. Kedua matanya terpejam saking seriusnya ia bermain. Suara dentingan piano terdengar ke telinganya. Tidak pernah lupa note piano yang ia mainkan. Lagu yang ia mainkan adalah lagu yang membuatnya sedih sekaligus emosional. Kisah dari lagu sangat rahasia.

Akan tetapi….

DENG!

Konsentrasinya telah pecah tanpa sebab sehingga pria berlesung pipi itu membanting tuts piano dengan keras. Membuka matanya cepat dan wajahnya sangat marah dengan hati yang emosi. Bukan karena lupa note selanjutnya, melainkan ada suatu hal. Kerinduan terhadap sesoranglah yang membuatnya hendak emosi. Ia bangkit dari kursi dan berjalan menuju lemari kaca.

Di dalamnya, terdapat beberapa figura foto yang tertata rapi. Memandang foto bersama seseorang membuatnya menitikkan air matanya. Dia tidak memiliki teman sekarang. Temannya pergi tanpa meninggalkan sepatah kata apapun. Entah kemanakah ia pergi. Dia sangat baik padanya. Hanya mendeskripsikan satu kata, yaitu dewasa.

“Andai saja kamu ada disini,” Yi Xing angkat bicara dengan parau, “kapankah kamu kembali? Apakah kamu sudah tidak merindukanku?” tanyanya dan tanpa sadar air mata menetes di kedua pipinya. Tangan kanannya terangkat menyentuh kaca, seperti ia mengusap pelan foto yang telah diselimuti kaca. Senyumnya begitu merkah. Akan tetapi, senyumnya yang merkah itu perlahan-lahan telah memudar.

Sebuah backsound diputar oleh orang asing yang tak terlihat. Musik yang penuh mellow telah mewakili perasaan Yi Xing. Sedih, kecewa, dan emosi campur aduk. Perasaan saat ia ditinggal oleh teman terdekatnya sendiri. Pergi ke suatu tempat tanpa kembali. Bahkan, sebelum pergi saja tidak meninggalkan pepatah kata apapun.

“Apakah kamu dapat melihat wajahku? Aku ini temanmu. Teman terbaikmu.” Tangisan Yi Xing mulai pecah. Entah berapa lama dia pergi meninggalkannya. Ia merindukan temannya.

“Sekarang,” Yi Xing mengangkat sedikit kepalanya, “aku sudah tidak punya teman. Hanya engkau yang kupunya sekarang. Aku sendirian. Aku benar-benar sendirian. Sudah beberapa waktu kamu tidak kembali. Mengapa kamu begitu jahat?” ujarnya dengan sedikit emosional. Menatap kembali foto bersama temannya justru membuatnya lebih sedih.

Sembari berjalan menuju teras lantai atas. Memandang langit biru yang cerah. Yi Xing menengadahkan kepalanya. Cahaya matahari telah menyilaukan kedua matanya. Air mata tidak pernah berhenti. Membiarkan bias cahaya masuk ke dalam bola matanya. Tidak peduli jika kedua matanya terbakar.

“Aku berharap,” desisnya, “suatu saat nanti, aku akan pergi menjemputmu. Aku akan membuatkan sebuah lagu untukmu. Jadi, kumohon kembalilah kepadaku.” Ujarnya dengan mengukir sedikit senyumnya. Tangan kanannya kembali terangkat, seperti menangkap mimpi. Namun, kali ini beda. Ia ingin menangkap sebuah bayang-bayang yang tak berwujud.

“Datanglah kepadaku. Aku akan turuti semua kemauanmu. Menjadi teman adalah yang terbaik. Kita akan bermain bersama-sama. Apakah kamu mengerti?” Akhir pembicaraan Yi Xing kepada sang matahari. Mengharapkan seorang teman untuk kembali yang kini pergi tanpa mengeluarkan pepatah. Perlahan-lahan, ia menurunkan tangan kanannya dan tidak dapat menangkap bayang-bayang tak berwujud itu. Bayang-bayang sudah pergi meninggalkannya, meninggalkan dengan air mata. Musik backsound tidak pernah jeda. Justru musik itu berganti dengan suara biola yang berdawai. Dan kini, perasaannya kembali sedih, kecewa, amarah, emosi, frustasi campur aduk.

Angin berhembus pelan meniupkan poni Yi Xing. Membiarkan poninya terbawa angin. Biarkanlah dia menghirup udara segar untuk membiarkannya hidup. Menutup kedua matanya dan membiarkan angin menusuk ke raga tubuhnya. Dingin. Tetapi ia tidak memedulikan tubuhnya yang dingin.

Yang ia inginkan adalah teman. Iya, teman. Dia benar-benar membutuhkan teman untuk menemaninya setiap hari. Kemanakah ia pergi? Pergi jauh tanpa menghitung jarak. Apakah dia tidak akan kembali?

“Yi Xing,” tiba-tiba, seseorang menyahut nama Yi Xing dari belakang. Dia berdiri dari jauh tepat di belakang pria berlesung pipi. Senyum kecilnya terukir jelas.

“aku pulang.” Ucapnya dengan senyum manisnya.

Tanpa sadar, kedua mata Yi Xing terbuka cepat dan membalikkan badannya cepat pula. Namun, ia tidak melihat seseorang. Keheningan kembali menyelimutinya. Dia berhalusinasi. Apakah ada seseorang memanggil namanya? Ia mendengar seperti ada yang memanggilnya. Tetapi… dia menghilang kembali.

Air mata kembali menetes. Itu semua hanya mimpi. Yi Xing tidak salah mendengar ada seseorang memanggil namanya. Tetapi, semuanya hampa. Kenyataannya, tidak ada seorang pun yang menyebut namanya. Kesedihan kembali menyelimutinya. Kini, ia harus menunggu seseorang untuk kembali pulang. Piano selalu bermain olehnya dan pintu selalu dipandang olehnya. Tidak ada yang lain selain piano dan pintu.

Rumah yang dia huni adalah rumah temannya. Alasan Yi Xing mengunjungi rumah ini adalah menunggu temannya kembali pulang. Tetapi, kenyataannya dia tidak kembali. Dan Yi Xing tidak akan pergi dari rumah ini hingga temannya kembali. Tidak peduli berapa tahun dia pergi. Dia tetap menunggu. Sampai dia mati, tetapi Yi Xing selalu menunggu untuknya.

Musik backsound telah berhenti dengan tepat. Tidak ada yang mewakili perasaan Yi Xing selain piano. Alat musik itulah yang akan menemani perasaannya. Tidak ada yang lain.

You must comeback. I’ll waiting for you. One week, one month, and one year. I’m always waiting for you, my friend.

END

Biarkan saya melontarkan satu buah pertanyaan untuk kalian. Pasti kalian merasa bingung siapa TEMAN yang Lay rindukan. Dia pergi tanpa meninggalkan beberapa pepatah kata.

Sebenarnya, dalam Fanfiction ini, ada satu orang yang menjadi cast selain Lay. Mau tahu? Jawab saja di komentar sembari kalian mengomentari hasil fanfictionku ini. Ituloh yang menjadi bayang-bayang Lay yang menyebut nama dia.

Advertisements

4 thoughts on “FF Comeback

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s